Beriman Kepada Ash Shirath (3)

Umat yang pertama kali akan melintasi shirath adalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

3055 0

Siapakah yang Akan Melintasi “Ash-Shirath”?

Umat yang pertama kali akan melintasi shirath adalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ، فَأَكُونُ أَنَا وَأُمَّتِي أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُهَا

Dan dibentangkanlah shirath di antara dua punggung neraka jahannam. Maka aku dan umatku yang pertama kali melintasinya.” [1]

Kondisi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melintasi shirath akan sesuai dengan amal perbuatan mereka masing-masing, dan juga sesuai dengan sikap ittiba’ (mengikuti sunnah atau petunjuk) mereka terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa yang konsisten berjalan di atas jalan yang abstrak, yaitu berjalan di atas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di dunia, maka Allah Ta’ala mudahkan dan teguhkan dia ketika berjalan di atas jalan (atau jembatan) yang konkret, yaitu shirath ketika di akhirat. Sebaliknya, barangsiapa yang berpaling dari jalan yang abstrak, yaitu dengan menyimpang dan berpaling dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan tergelincir dari jalan yang konkret, yaitu shirath, dengan diambil atau disambar oleh besi-besi pengait yang ada pada shirath tersebut. Dan Allah Ta’ala tidaklah mendzalimi hamba-Nya sedikit pun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَتُرْسَلُ الْأَمَانَةُ وَالرَّحِمُ، فَتَقُومَانِ جَنَبَتَيِ الصِّرَاطِ يَمِينًا وَشِمَالًا، فَيَمُرُّ أَوَّلُكُمْ كَالْبَرْقِ ” قَالَ: قُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَيُّ شَيْءٍ كَمَرِّ الْبَرْقِ؟ قَالَ: ” أَلَمْ تَرَوْا إِلَى الْبَرْقِ كَيْفَ يَمُرُّ وَيَرْجِعُ فِي طَرْفَةِ عَيْنٍ؟ ثُمَّ كَمَرِّ الرِّيحِ، ثُمَّ كَمَرِّ الطَّيْرِ، وَشَدِّ الرِّجَالِ، تَجْرِي بِهِمْ أَعْمَالُهُمْ وَنَبِيُّكُمْ قَائِمٌ عَلَى الصِّرَاطِ يَقُولُ: رَبِّ سَلِّمْ سَلِّمْ، حَتَّى تَعْجِزَ أَعْمَالُ الْعِبَادِ، حَتَّى يَجِيءَ الرَّجُلُ فَلَا يَسْتَطِيعُ السَّيْرَ إِلَّا زَحْفًا “، قَالَ: «وَفِي حَافَتَيِ الصِّرَاطِ كَلَالِيبُ مُعَلَّقَةٌ مَأْمُورَةٌ بِأَخْذِ مَنِ اُمِرَتْ بِهِ، فَمَخْدُوشٌ نَاجٍ، وَمَكْدُوسٌ فِي النَّارِ»

Lalu diutuslah amanah dan rahim (tali persaudaraan), keduanya berdiri di samping kiri dan kanan shirath tersebut. Orang yang pertama melewatinya seperti kilat. Aku bertanya, “Dengan bapak dan ibuku (aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab , “Tidakkah kalian pernah melihat kilat, bagaimanakah kilat lewat (datang) dalam sekejap mata? Kemudian ada yang melewatinya seperti angin, kemudian seperti burung, dan seperti kuda yang berlari kencang. Mereka melintas sesuai dengan amal perbuatan mereka. Ketika itu, Nabi kalian berdiri di atas shirath sambil berkata, “Ya Allah, selamatkanlah! Selamatkanlah! Sampai (giliran) para hamba yang lemah amalnya, sehingga datanglah orang tersebut lalu dia tidak bisa melewatinya kecuali dengan merangkak. Beliau bersabda (lagi), “Di kedua sisi shirath terdapat besi pengait yang bergantungan untuk menyambar siapa saja yang diperintahkan untuk disambar. Maka ada yang terpeleset namun selamat dan ada pula yang terjungkir ke dalam neraka. [2]

Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المُؤْمِنُ عَلَيْهَا كَالطَّرْفِ وَكَالْبَرْقِ وَكَالرِّيحِ، وَكَأَجَاوِيدِ الخَيْلِ وَالرِّكَابِ، فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ، وَنَاجٍ مَخْدُوشٌ، وَمَكْدُوسٌ فِي نَارِ جَهَنَّمَ، حَتَّى يَمُرَّ آخِرُهُمْ يُسْحَبُ سَحْبًا

Orang mukmin (berada) di atasnya (shirath). Ada yang secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda yang amat kencang berlari, dan ada yang secepat pengendara. Maka ada yang selamat setelah terpeleset dan ada pula yang dilemparkan ke dalam neraka. Mereka yang paling terakhir merangkak secara perlahan. [3]

Dan perlu diketahui bahwa orang-orang musyrik tidaklah melewati shirath. Mereka akan jatuh ke dalam neraka sebelum shirath dibentangkan. Hal ini ditunjukkan oleh sebuah hadits yang panjang berikut ini.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ نَاسًا فِي زَمَنِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَعَمْ» قَالَ: «هَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الشَّمْسِ بِالظَّهِيرَةِ صَحْوًا لَيْسَ مَعَهَا سَحَابٌ؟ وَهَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ صَحْوًا لَيْسَ فِيهَا سَحَابٌ؟» قَالُوا: لَا يَا رَسُولَ اللهِ،

Dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, sesunnguhnya manusia pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,”Wahai Rasulullah, apakah kami melihat Rabb kami pada hari kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Ya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Apakah kalian kesulitan (berdesak-desakan) ketika melihat matahari di siang hari yang tidak ada awan? Apakah kalian kesulitan (berdesak-desakan) ketika melihat bulan di malam purnama yang tidak ada awan?” Mereka (para sahabat) menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah.”

قَالَ: ” مَا تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا كَمَا تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ أَحَدِهِمَا، إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ لِيَتَّبِعْ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتْ تَعْبُدُ، فَلَا يَبْقَى أَحَدٌ كَانَ يَعْبُدُ غَيْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ مِنَ الْأَصْنَامِ وَالْأَنْصَابِ إِلَّا يَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ مِنْ بَرٍّ وَفَاجِرٍ وَغُبَّرِ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَيُدْعَى الْيَهُودُ، فَيُقَالُ لَهُمْ: مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ؟ قَالُوا: كُنَّا نَعْبُدُ عُزَيْرَ ابْنَ اللهِ، فَيُقَالُ: كَذَبْتُمْ مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنْ صَاحِبَةٍ وَلَا وَلَدٍ، فَمَاذَا تَبْغُونَ؟ قَالُوا: عَطِشْنَا يَا رَبَّنَا، فَاسْقِنَا، فَيُشَارُ إِلَيْهِمْ أَلَا تَرِدُونَ؟ فَيُحْشَرُونَ إِلَى النَّارِ كَأَنَّهَا سَرَابٌ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا، فَيَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ،

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,”Kalian tidaklah kesulitan ketika melihat Allah Ta’ala pada hari kiamat, sebagaimana kalian tidak kesulitan ketika melihat keduanya (matahari dan bulan purnama). Pada hari kiamat, ada seseorang yang berteriak, ‘Hendaklah setiap umat mengikuti apa yang dahulu disembahnya.’ Sehingga tidak ada seorang pun yang menyembah selain Allah Ta’ala, baik menyembah berhala dan patung, melainkan mereka pasti terjerumus ke dalam neraka. Sampai tidak ada yang tersisa sedikit pun, kecuali mereka yang menyembah Allah Ta’ala, baik orang yang baik dan buruk, dan sisa ahli kitab. Maka orang Yahudi dipanggil, kemudian ditanyakan kepada mereka,’Apa yang dahulu kalian sembah?’ Mereka menjawab,’Dahulu kami menyembah Uzair, putera (anak) Allah.’ Dikatakan kepada mereka,’Kalian berdusta, Allah tidak menjadikan (memiliki) istri dan anak. Lalu apa yang kalian inginkan?’ Mereka berkata,’Kami haus wahai Rabb kami, berilah kami minum.’ Lalu mereka diberi isyarat pada sesuatu yang mereka inginkan tersebut. Mereka pun digiring ke neraka, seakan-akan neraka tersebut bagaikan fatamorgana, sebagian memukul sebagian yang lain, lalu mereka terjerumus (jatuh) ke dalam neraka.

ثُمَّ يُدْعَى النَّصَارَى، فَيُقَالُ لَهُمْ: مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ؟ قَالُوا: كُنَّا نَعْبُدُ الْمَسِيحَ ابْنَ اللهِ، فَيُقَالُ لَهُمْ، كَذَبْتُمْ مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنْ صَاحِبَةٍ وَلَا وَلَدٍ، فَيُقَالُ لَهُمْ: مَاذَا تَبْغُونَ؟ فَيَقُولُونَ: عَطِشْنَا يَا رَبَّنَا، فَاسْقِنَا، قَالَ: فَيُشَارُ إِلَيْهِمْ أَلَا تَرِدُونَ؟ فَيُحْشَرُونَ إِلَى جَهَنَّمَ كَأَنَّهَا سَرَابٌ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا، فَيَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ تَعَالَى مِنْ بَرٍّ وَفَاجِرٍ أَتَاهُمْ رَبُّ الْعَالَمِينَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي أَدْنَى صُورَةٍ مِنَ الَّتِي رَأَوْهُ فِيهَا

Maka orang Nasrani dipanggil, kemudian ditanyakan kepada mereka,’Apa yang dahulu kalian sembah?’ Mereka menjawab,’Dahulu kami menyembah Al-Masih, putera (anak) Allah.’ Dikatakan kepada mereka,’Kalian berdusta, Allah tidak menjadikan (memiliki) istri dan anak. Lalu apa yang kalian inginkan?’ Mereka berkata,’Kami haus wahai Rabb kami, berilah kami minum.’ Lalu mereka diberi isyarat pada sesuatu yang mereka inginkan tersebut. Mereka pun digiring ke neraka, seakan-akan neraka tersebut bagaikan fatamorgana, sebagian memukul sebagian yang lain, lalu mereka terjerumus (jatuh) ke dalam neraka. Hingga tidaklah tersisa melainkan orang yang menyembah Allah Ta’ala, baik orang baik atau orang fajir. Allah Ta’ala lalu mendatangi mereka dalam bentuk yang paling ringan yang dapat mereka lihat.

قَالَ: فَمَا تَنْتَظِرُونَ؟ تَتْبَعُ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتْ تَعْبُدُ، قَالُوا: يَا رَبَّنَا، فَارَقْنَا النَّاسَ فِي الدُّنْيَا أَفْقَرَ مَا كُنَّا إِلَيْهِمْ، وَلَمْ نُصَاحِبْهُمْ، فَيَقُولُ: أَنَا رَبُّكُمْ، فَيَقُولُونَ: نَعُوذُ بِاللهِ مِنْكَ لَا نُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا، حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ لَيَكَادُ أَنْ يَنْقَلِبَ، فَيَقُولُ: هَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ آيَةٌ فَتَعْرِفُونَهُ بِهَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ فَلَا يَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُدُ لِلَّهِ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهِ إِلَّا أَذِنَ اللهُ لَهُ بِالسُّجُودِ، وَلَا يَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُدُ اتِّقَاءً وَرِيَاءً إِلَّا جَعَلَ اللهُ [ص:169] ظَهْرَهُ طَبَقَةً وَاحِدَةً، كُلَّمَا أَرَادَ أَنْ يَسْجُدَ خَرَّ عَلَى قَفَاهُ، ثُمَّ يَرْفَعُونَ رُءُوسَهُمْ وَقَدْ تَحَوَّلَ فِي صُورَتِهِ الَّتِي رَأَوْهُ فِيهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ، فَقَالَ: أَنَا رَبُّكُمْ، فَيَقُولُونَ: أَنْتَ رَبُّنَا، ثُمَّ يُضْرَبُ الْجِسْرُ عَلَى جَهَنَّمَ، وَتَحِلُّ الشَّفَاعَةُ، وَيَقُولُونَ: اللهُمَّ سَلِّمْ، سَلِّمْ “

Allah berfirman,’Apa yang kalian tunggu, (padahal) setiap umat mengikuti apa yang mereka sembah?’ Mereka menjawab,’Wahai Rabb kami, kami memisahkan diri dari manusia ketika kami membutuhkan apa yang kami butuhkan kepada mereka, akan tetapi kami tidak berteman kepada mereka.’ Maka Allah berfirman,’Aku adalah Rabb kalian.’ Mereka berkata,’Aku berlindung kepada Allah darimu, kami tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.’ Mereka mengucapkan itu dua atau tiga kali, sampai sebagian mereka hampir berbalik. Allah bertanya,’Apakah di antara kalian dan Dia (Allah) memiliki tanda-tanda yang dapat kalian kenali?’ Mereka mengatakan,’Ya.’ Maka disingkaplah betis-Nya, sehingga tidaklah tersisa orang yang dahulu bersujud kepada Allah dari dalam dirinya (ikhlas) kecuali Allah izinkan baginya untuk bersujud. Dan tidaklah tersisa orang yang sebelumnya bersujud karena riya’, kecuali Allah jadikan punggungnya satu lipatan, setiap kali hendak bersujud, maka dia tersungkur di atas tengkuknya. Kemudian mereka mengangkat kepala mereka dan Allah telah berubah bentuk sebagaimana yang mereka lihat pertama kalinya. Kemudian Allah berfirman, ’Aku adalah Rabb kalian.’ Mereka pun berkata, ’Engkau adalah Rabb kami.’ Kemudian dibentangkan jembatan di atas nereka jahannam, dan berlakulah syafa’at pada hari itu. Mereka pun berkata (berdoa),’Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah … ‘ … [4]

Ibnu Rajab rahimahullah berkata ketika mengomentari hadits di atas,”Hadits ini jelas menunjukkan bahwa siapa saja yang beribadah kepada sesuatu selain Allah Ta’ala, seperti Al-Masih dan Uzair dari golongan ahli kitab, maka mereka akan dikumpulkan bersama orang-orang musyrik lainnya ke dalam neraka sebelum shirath dibentangkan. Para penyembah berhala, pohon, bulan, dan selain itu dari golongan orang-orang musyrik, masing-masing golongan akan mengikuti apa yang dahulu mereka sembah di dunia. Mereka pun dikembalikan ke neraka bersama sesembahannya terlebih dahulu. Hal ini telah ditunjukkan oleh Al Qur’an melalui firman Allah Ta’ala yang menceritakan kondisi Fir’aun,

يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ

Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Dan neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi.’ (QS. Huud [11]: 98)” [5]

Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan renungan, tentang apa yang akan kita semua alami di akhirat kelak. Dan semoga kita termotivasi untuk meningkatkan keimanan dan amal shalih, karena kecepatan dan keselamatan kita dalam melintasi shirath tersebut sesuai dengan kadar keimanan dan amal shalih kita masing-masing. [6] [Selesai]

***

Diselesaikan menjelang maghrib, Sint-Jobskade Rotterdam NL, Senin 6 Dzulhijah 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] HR. Bukhari no. 806.

[2] HR. Muslim no. 195.

[3] HR. Bukhari no. 7439 dan Muslim no. 183.

[4] HR. Muslim no. 183.

[5] At-Takhwiif minan Naar, termasuk bagian dari Majmu’ Rasail Ibnu Rajab, 4/344.

[6] Disarikan dari kitab Al-Imaan bimaa Ba’dal Maut: Masaail wa Dalaail, karya Ahmad bin Muhammad bin Shadiq An-Najar, Daar An-Nashihah, Madinah KSA, cetakan pertama, tahun 1434, hal. 243-247.

Artikel Muslimah.or.id

Anda sedang membaca: " Beriman Kepada Ash Shirath ", baca lebih lanjut serial dari artikel ini:

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

Shares