Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Akidah
  • Manhaj
  • Fikih
  • Akhlak dan Nasihat
  • Keluarga dan Wanita
  • Pendidikan Anak
  • Kisah
No Result
View All Result
  • Akidah
  • Manhaj
  • Fikih
  • Akhlak dan Nasihat
  • Keluarga dan Wanita
  • Pendidikan Anak
  • Kisah
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Beriman kepada Ash Shirath (1)

M. Saifudin Hakim oleh M. Saifudin Hakim
25 September 2015
di Akidah
0
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Pengertian Ash-Shirath
  • Dalil-Dalil Yang Menetapkan Adanya Ash-Shirath
    • Dalil dari Al-Qur’an
    • Dalil dari As-Sunnah
    • Dalil Ijma’
    • Catatan kaki:

Di antara peristiwa menakutkan yang akan kita alami di hari kiamat adalah ketika kita melewati jembatan (shirath) yang dibentangkan di atas neraka jahannam menuju ke surga. Ini adalah salah satu peristiwa yang wajib kita imani, karena telah banyak ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Sudah selayaknya bagi kita untuk berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan kemudahan dalam melewatinya kelak di akhirat. Dalam serial tulisan kali ini, kami akan membahas hal-hal pokok yang berkaitan dengan keimanan kita terhadap ash-shirath tersebut.

Pengertian Ash-Shirath

Secara bahasa, ash-shirath (الصراط) mengandung makna “suatu jalan yang terang”[1]. Menurut istilah syar’i, ash-shirath adalah “jembatan yang dibentangkan di atas punggung (permukaan) neraka jahannam”[2]. Al-Bukhari rahimahullah berkata,

باب الصراط : جسر جهنم 

“Bab (tentang) ash-shirath: Jembatan (di atas) neraka jahannam.” [3]

Oleh karena itu, tidak ada jalan menuju surga kecuali dengan melewati ash-shirath (jembatan) ini.

Donasi Muslimahorid

Dalil-Dalil Yang Menetapkan Adanya Ash-Shirath

Adanya ash-shirath ditetapkan berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ para ulama.

Dalil dari Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

“Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (QS. Maryam [19]: 71)

Para ulama ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna “mendatangi neraka” (الورود) (“al-wuruud”) dalam ayat di atas. Sebagian ulama berpendapat bahwa maknanya adalah “masuk ke dalam neraka”. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Juraij, dan pendapat yang dipilih oleh Al-Qurthubi. [4]

Sebagian ulama yang lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud adalah “lewat (melintas) di atas neraka”. Ini adalah pendapat Qatadah dan juga dipilih oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari. [5]

Adapun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa maknanya yaitu “melintasi jembatan di atas neraka.” [6]

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Ummu Mubasysyir mengabarkan kepadanya, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika berada di sisi Hafshah,

لا يدخل النار إن شاء الله تعالى من أصحاب الشجرة الذين بايعوا تحتها أحد قالت: بلى يا رسول الله، فانتهرها، فقالت حفصة رضي الله عنها: وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا [مريم:71] فقال النبي ﷺ: قد قال الله تعالى: ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا [مريم:72]

“Tidak akan masuk neraka -jika Allah menghendaki- seorang pun dari mereka yang ikut serta berbai’at di bawah pohon.” Hafshah berkata, ”Apakah memang benar seperti itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menegur Hafshah (yang berbicara seperti itu). Lalu Hafshah membacakan ayat,

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا

“Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu.” (QS. Maryam [19]: 71) Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ نُنَجِّى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوا۟ وَّنَذَرُ ٱلظَّٰلِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

“Kemudian kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS. Maryam [19]: 72)” [7].

Dalam hadits yang lain, juga diriwayatkan dari Jarir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أَنَّ عَبْدًا لِحَاطِبٍ جَاءَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْكُو حَاطِبًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَيَدْخُلَنَّ حَاطِبٌ النَّارَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَبْتَ لَا يَدْخُلُهَا فَإِنَّهُ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَةَ

“Sesungguhnya budak Hathib mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengadukan Hathib (yaitu tuannya, pen.). Budak Hathib berkata, ’Wahai Rasulullah, sungguh Hathib pasti akan masuk neraka.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Kamu berdusta, dia tidak akan masuk neraka karena dia pernah ikut serta dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah” [8].

Dalam dua hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menafikan (mengingkari) masuknya para sahabat yang berbai’at di bawah pohon dan juga masuknya Hathib radhiyallahu ‘anhu ke dalam neraka. Maka hal ini menunjukkan bahwa siapa saja yang Allah Ta’ala selamatkan dari neraka, maka mereka tidak akan masuk ke dalam neraka tersebut. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan “al-wuruud” dalam surat Maryam ayat 71 di atas adalah “melintasi ash-shirath (jembatan)”.

Selain itu, tidak ada pertentangan antara “masuk ke dalam neraka” dengan “melintasi ash-shirath” karena ash-shirath adalah jembatan di atas neraka jahannam. Maka siapa saja yang melintasi ash-shirath maka sudah bisa dikatakan bahwa dia masuk ke dalam neraka.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

ولا تنافي بينهما لأن من عبر بالدخول تجوز به عن المرور ووجهه أن المار عليها فوق الصراط في معنى من دخولها

“Tidak ada pertentangan di antara kedua makna tersebut. Karena barangsiapa yang menggunakan istilah ‘masuk’ maka boleh menggunakan istilah ‘lewat/melintas’. Hal ini karena barangsiapa yang melintas di atas neraka (di atas jembatan) sama maknanya dengan ‘masuk neraka’” [9].

Dalil dari As-Sunnah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah potongan hadits yang panjang tentang kondisi pada hari kiamat,

وَيُضْرَبُ الصِّرَأطُ بَيْنَ ظَهْرَي جَهَنَّمَ فَأَكُونُ أنَا وَأُمَّتِيْ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَلاَ يَـَتكَلََّمُ يَوْمَئِذٍ إِلاَّ الرُسُلُ وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ

“ … dan dibentangkanlah ash-shirath di antara kedua punggung neraka jahannam. Maka aku dan umatku adalah yang pertama kali melintasinya. Tidak ada seorang pun yang berbicara ketika itu kecuali para rasul. Ucapan para rasul ketika itu adalah,’ Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah’ … “ [10].

Dalil Ijma’

Dari Abu Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Abu Hatim, beliau berkata, ”Aku bertanya kepada bapakku dan Abu Zur’ah tentang madzhab ahlus sunnah dalam pokok-pokok agama, dan apa yang mereka ketahui dari para ulama di berbagai penjuru negeri dan apa yang mereka berdua yakini tentang hal itu? Maka keduanya menjawab, ‘Kami menjumpai ulama dari berbagai negeri, baik negeri Hijaz, Iraq, Syam, dan negeri Yaman, maka di antara madzhab mereka: … dan ash-shirath adalah haq (benar adanya)” [11].

Ibnu Abi Zamanin rahimahullah berkata,

وأهل السنة يؤمنون بالصراط , وأن الناس يمرون عليها يوم القيامة على قدر أعمالهم

”Ahlus sunnah beriman kepada ash-shirath, dan sesungguhnya manusia akan melintasinya pada hari kiamat sesuai dengan amal perbuatan mereka” [12].

Abu ‘Utsman Isma’il Ash-Shabuni rahimahullah berkata,

ويؤمن أهل الدين والسنة بالبعث يعد الموت .. والمفام الهائل من الصراط , والميزان

”Ahli agama dan ahlus sunnah beriman adanya hari kebangkitan setelah mati … dan kondisi yang menakutkan berupa ‘ash-shirath’, dan (beriman kepada) ‘al-mizan’ (timbangan).” [13] [14].

[Bersambung]

***

Diselesaikan menjelang maghrib, Sint-Jobskade Rotterdam NL, Sabtu 4 Dzulhijah 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

___

Catatan kaki:

[1] Maqayiis Al-Lughah 3/349, karya Ibnu Faris.

[2] Lihat Majmu’ Al-Fataawa, 3/146 dan Fathul Baari, 13/425.

[3] Shahih Al-Bukhari, 8/117.

[4] Lihat Jami’ul Bayaan, 9/142 karya Ath-Thabari dan At-Tadzkirah bi Ahwaalil Mauta wa Umuuril Akhirah, 2/762.

[5] Jami’ul Bayaan, 9/144 karya Ath-Thabari.

[6] Lihat Majmu’ Al-Fataawa, 4/279.

[7] HR. Muslim no. 2496.

[8] HR. Muslim no. 2495.

[9] Fathul Baari, 3/124.

[10] HR. Bukhari no. 806.

[11] Diriwayatkan oleh Al-Laalika’i dalam Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlus Sunnah, 2/197-198.

[12] Ushuulus Sunnah, hal. 168.

[13] ‘Aqidatus Salaf Ash-Haabul Hadits, hal. 75.

[14] Diterjemahkan dan disarikan dari kitab Al-Imaan bimaa Ba’dal Maut: Masaail wa Dalaail, karya Ahmad bin Muhammad bin Shadiq An-Najar, Daar An-Nashihah, Madinah KSA, cetakan pertama, tahun 1434, hal. 231-235.

Artikel Muslimah.or.id

[serialposts]

ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
M. Saifudin Hakim

M. Saifudin Hakim

- Alumnus Ma'had Al-'Ilmi, Yogyakarta. - Alumnus Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta. - Alumnus Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. - Saat ini sedang belajar di Unayzah, Saudi Arabia.

Artikel Terkait

Bukti Cinta Nabi

Cinta Nabi Butuh Bukti

oleh Ari Wahyudi
18 Oktober 2024
0

Bismillah. Saudaraku yang dirahmati Allah, seorang muslim membangun agamanya di atas ilmu dan keyakinan. Dan di antara perkara yang paling...

3 Perkara Penting Dalam Niat

oleh Muhammad Sanusin
18 Agustus 2014
1

Kita beribadah karena Allah, lalu apakah kita mengharapkan dengan ibadah kita mendapatkan balasan dunia atau akhirat?

Keutamaan Mempelajari Nama dan Sifat Allah (1)

oleh Deni Putri Kusumawati
30 Oktober 2020
0

Jika seseorang menyibukkan diri dalam mempelajari nama dan sifat Allah, maka ia telah sadar dengan maksud diciptakannya manusia.

Artikel Selanjutnya

Beriman Kepada Ash Shirath (2)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Rumah Tahfidz Ashabul Kahfi

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Akidah
  • Manhaj
  • Fikih
  • Akhlak dan Nasihat
  • Keluarga dan Wanita
  • Pendidikan Anak
  • Kisah

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.