Faedah Memahami Nama dan Sifat Allah ‘Azza wa Jalla

Memahami nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla yang Mahaindah dan sifat-sifat-Nya yang Mahasempurna merupakan pembahasan yang sangat penting dalam agama Islam, bahkan termasuk bagian paling penting dan utama dalam …

3680 2

Allah Ala Wajala Hakikat Nama Allah Azzawajalla - Ilmu Makrifat Hakikat Jalla Jalaluh Azzawajallah Artinya Aza Wajala Artinya

Memahami nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla yang Mahaindah dan sifat-sifat-Nya yang Mahasempurna merupakan pembahasan yang sangat penting dalam agama Islam, bahkan termasuk bagian paling penting dan utama dalam mewujudkan keimanan yang sempurna kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dikarenakan, memahami nama dan sifat Allah adalah salah satu dari dua jenis tauhid yang menjadi landasan utama iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Sendi utama (kunci pokok) kebahagiaan, keselamatan dan keberuntungan adalah dengan mewujudkan dua jenis tauhid yang merupakan landasan tegaknya iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yang Allah wujudkan dengan mengutus para rasul-Nya. Inilah inti seruan para rasul dari yang pertama sampai yang terakhir.

Pentingnya memahami tauhid asma` wa shifat

Berikut ini beberapa hal penting yang menunjukkan besarnya keutamaan memahami tauhid ini:

1. Memahami tauhid asma` wa shifat adalah ilmu yang paling agung dan paling utama secara mutlak, karena berhubungan langsung dengan Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat yang Mahasempurna.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya keutamaan suatu ilmu mengikuti keutamaan objek yang dipelajarinya. Karena keyakinan akan dalil-dalil dan bukti-bukti keberadaannya, juga karena besarnya kebutuhan dan manfaat untuk memahaminya. Karena itu, tidak diragukan lagi bahwa ilmu tentang Allah ‘Azza wa Jalla, nama, sifat dan perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Perbandingan ilmu ini dengan ilmu-ilmu yang lain adalah seperti perbandingan (kemahasempurnaan) Allah ‘Azza wa Jalla dengan semua objek yang dipelajari (dalam) ilmu-ilmu lainnya.” (Miftahu Daris Sa’adah, 1:86)

Memahami tauhid asma` wa shifat Allah ‘Azza wa Jalla adalah landasan utama semua ilmu yang lain. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan, “Ilmu tentang nama, sifat, dan perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla adalah landasan semua ilmu. Semua ilmu lainnya mengikuti ilmu ini; yang juga dibutuhkan untuk mewujudkan keberadaan ilmu-ilmu lainnya. Dengan demikian, ilmu ini merupakan asal dan landasan bagi setiap ilmu lainnya. Barang siapa yang mengenal Allah ‘Azza wa Jalla maka dia akan mengenal selain-Nya, dan barang siapa yang tidak mengenal-Nya maka lebih lagi dia tidak akan mengenal selain-Nya.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa (lalai) kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr:19)

Renungkan ayat ini, Anda akan menemukan di dalamnya suatu makna yang agung dan mulia, yaitu: barang siapa yang lupa kepada Allah ‘Azza wa Jalla maka Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikannya lupa kepada dirinya sendiri, sehingga dia tidak mengetahui hakikat dan kebaikan-kebaikan untuk dirinya sendiri. Bahkan dia melupakan jalan untuk kebaikan dan keberuntungan bagi dirinya di dunia dan akhira karena dia telah berpaling dari fitrah yang Allah jadikan bagi dirinya, lalu dia lupa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Akhirnya Allah menjadikannya lupa kepada diri dan perilakunya sendiri, juga kepada kesempurnaan, kesucian, dan kebahagiaan dirinya di dunia dan akhirat.

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً

Dan janganlah kamu mengikuti orang yang telah kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta menuruti hawa (nafsu)-nya, dan keadaannya itu melampaui batas.” (QS. Al-Kahfi:28)

Dia lalai mengingat Allah ‘Azza wa Jalla sehingga keadaan dan hatinya pun melampaui batas (menjadi rusak), sehingga dia tidak memperhatikan sedikit pun kebaikan, kesempurnaan, serta kesucian jiwa dan hatinya. Bahkan kondisi hatinya menjadi tak tentu dan kehilangan arah. Keadaannya melampaui batas, merasa kebingungan, serta tidak mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar.

Dengan demikian, ilmu tentang Allah ‘Azza wa Jalla adalah landasan semua ilmu, sekaligus landasan pemahaman seorang hamba terhadap kebahagiaan, kesempurnaan, dan kebaikan (dirinya) di dunia dan akhirat. Ketidak-pahaman terhadap ilmu ini akan mengakibatkan ketidak-pahaman terhadap kebaikan, kesempurnaan, kesucian, dan kebahagiaan diri sendiri. Karena itu, memahami ilmu ini adalah (kunci utama) kebahagiaan seorang hamba, dan ketidak-pahaman tentangnya merupakan sumber (utama) kebinasaannya.” (Miftahu Daris Sa’adah, 1:86)

2. Memahami tauhid asma` wa shifat Allah dengan benar adalah satu-satunya pintu untuk bisa mengenal Allah ‘Azza wa Jalla (ma’rifatullah) dengan pengenalan yang benar, yang merupakan landasan ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Salah satu landasan utama ibadah adalah al-mahabbah (kecintaan) kepada Allah ‘Azza wa Jalla; hal itu tidak mungkin dicapai kecuali dengan mengenal Allah ‘Azza wa Jalla dengan pengenalan yang benar melalui pemahaman terhadap tauhid nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Orang yang tidak memiliki ma’rifatullah (mengenal Allah ‘Azza wa Jalla) dengan benar, tidak mungkin bisa beribadah dengan benar kepada-Nya. (lihat Sabilul Huda war Rasyad, hlm. 401)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barang siapa yang mengenal Allah ‘Azza wa Jalla dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, pasti dia akan mencintai-Nya,” (Madarijus Salikin, 3:17)

Oleh karena itulah, Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan keterkaitan antara ibadah kepada-Nya dan pemahaman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya dalam dua ayat Al-Qur’an:

Ayat pertama:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونً

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat:56)

Ayat kedua:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْماً

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui (memahami) bahwasannya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq:12)

Kedua ayat ini menunjukkan bahwa ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mungkin dapat diwujudkan oleh seorang hamba dengan benar, kecuali setelah dia mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla dengan pemahaman yang benar. (Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim tentang pembahasan penting ini dalam kitab beliau, Miftahu Daris Sa’adah, 1:178)

3. Ketakutan dan ketakwaan yang sebenarnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla hanya bisa dicapai dengan ma’rifatullah (mengenal Allah ‘Azza wa Jalla) dengan cara yang benar, melalui pemahaman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allah).” (QS. Fathir:28)

Dalam hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan paling mengenal-Nya di antara kamu sekalian.” (HR. Al-Bukhari, no. 20; hadits shahih; dari Aisyah)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Arti (ayat di atas): hanyalah orang-orang yang berilmu dan mengenal Allah ‘Azza wa Jalla yang memiliki rasa takut yang sebenarnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena semakin sempurna pemahaman dan pengetahuan (seorang hamba) terhadap Allah ‘Azza wa Jalla – Dzat yang Mahamulia, Mahakuasa, dan Maha Mengetahui, yang memiliki sifat-sifat yang Maha-sempurna dan nama-nama yang Maha-indah – maka ketakutan (hamba tersebut) kepada-Nya semakin besar pula.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3:729)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba terhadap (nama-nama dan sifat-sifat) Allah ‘Azza wa Jalla maka semakin bertambah pula rasa takut dan pengagungannya kepada-Nya. Pengetahuannya ini akan mewariskan perasaan malu, pengagungan, pemuliaaan, merasa selalu diawasi, kecintaan, bertawakal, selalu kembali, serta ridha dan tunduk kepada perintah Allah ‘Azza wa Jalla.” (Raudhatul Muhibbin, hlm. 406)

Syaikh `Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Semakin banyak pengetahuan seseorang terhadap (nama-nama dan sifat-sifat) Allah ‘Azza wa Jalla, rasa takutnya kepada-Nya pun semakin besar. Rasa takut ini menjadikan dirinya (selalu) menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat dan (senantiasa) mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Dzat yang ditakutinya (Allah ‘Azza wa Jalla).” (Taisirul Karîmir Rahman)

4. Memahami tauhid asma` wa shifat Allah ‘Azza wa Jalla dengan benar adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih kenikmatan dan kemuliaan tertinggi di dunia dan akhirat.

Dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)?’ Maka mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka?‘ Maka (pada waktu itu) Allah ‘Azza wa Jalla membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya yang Mahamulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat (wajah) Allah ‘Azza wa Jalla.’

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat berikut,

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُواْ الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah ‘Azza wa Jalla).” (QS. Yunus:26) (HR. Muslim dalam Shahih Muslim, no. 181; dari Shuhaib bin Sinan)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan – dalam kitab beliau ”Ighatsatul Lahafan” (lihat kitab Mawaridul Aman) – bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini (melihat wajah Allah ‘Azza wa Jalla) adalah balasan yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya. Semua ini merupakan buah dari pemahaman yang benar terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafal doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih, “Aku meminta kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti), dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia) .…” (HR. An-Nasa’i dalam As-Sunan, 3:54 dan 3:55; Imam Ahmad dalam Al-Musnad, 4:264; Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, no. 1971; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, no. 1900; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim, disepakati oleh Adz-Dzahabi dan Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah, no. 424)

Maraji’:

  • Madarijus Salikin.
  • Mawaridul Aman.
  • Miftahu Daris Sa’adah.
  • Raudhatul Muhibbin.
  • Sabilul Huda war Rasyad.
  • Tafsir Ibnu Katsir.
  • Taisirul Karimir Rahman.

Penulis : Hayati S. (Ummu Hilmiy)
Muraja’ah : Ustadz Ammi Nur Ba’its

Artikel Muslimah.Or.Id

Artinya Allah Azza Wa Jalla Arti Jalla Jalaluhu Arti Azza Wa Jalla Arti Allah Jalla Jalaluhu Apa Arti Azza Wa Jalla

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?