Ilmu, Amal, Dakwah, dan Sabar (2)

Seseorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya

3483 0

Hadits Tentang Berilmu Dulu Baru Berdakwah Dakwah Harus Sabar Dakwah Berilmu Berdakwa Bersabar Berilmu Beramal Dan Berdakwah

Mengamalkan Ilmu

Seseorang tidaklah menuntut ilmu kecuali untuk mengamalkan ilmu tersebut. Maksudnya, seseorang dapat mewujudkan ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi suatu perilaku yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya. Apabila dia berilmu, namun tidak mau beramal, ilmu itu justru akan berbalik mencela dirinya karena ilmu tidak akan bermanfaat kecuali dengan diamalkan. Apabila dia berilmu, tetapi tidak mau beramal, dia akan dilaknat karena dia mengetahui kebenaran, namun meninggalkan kebenaran tersebut. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,”Pelajarilah ilmu. Apabila sudah tahu, amalkanlah!”

Oleh karena itu, betapa indah perkataan Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah,”Seseorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim.” Perkaataan ini mengandung makna yang dalam. Apabila seseorang memiliki ilmu akan tetapi tidak mau mengamalkannya, dia seperti orang yang bodoh. Hal ini karena tidak ada perbedaan antara dia dan orang yang bodoh. Maka, seseorang yang berilmu tidaklah menjadi seorang alim yang sebenarnya sampai dia mengamalkan ilmunya.

Hendaklah seorang muslim mengetahui pentingnya mengamalkan ilmunya. Karena seseorang yang tidak mengamalkan ilmunya, ilmu tersebut akan berbalik menghujat (mencela) dirinya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah dia amalkan; tentang hartanya, darimana dia peroleh dan ke mana dia belanjakan; dan tentang badannya, untuk apa dia gunakan.” (HR. Tirmidzi. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi, no. 2417).

Semua orang yang belajar ilmu syar’i dengan tujuan bukan untuk mengamalkannya, tidak akan mendapat berkah dan pahala ilmu yang sangat agung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita dari tidak mengamalkan ilmu dengan sabdanya,

مثل الذي يعلم الناس الخير وينسى نفسه كمثل السراج يضيء للناس ويحرق نفسه

Perumpamaan orang yang mengajari orang lain kebaikan, tetapi melupakan dirinya sendiri (tidak mengamalkannya), bagaikan lilin yang menerangi manusia sementara dirinya sendiri terbakar.” (HR. Thabrani. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib, no. 131)

Ilmu itu sangat berkaitan dengan amal karena amal adalah buah dari ilmu. Oleh karena itu, ilmu tanpa disertai amal bagaikan pohon yang tidak berbuah. Pohon tersebut tidak ada manfaatnya. Tujuan menuntut ilmu adalah untuk diamalkan. Sebaliknya, orang yang beramal tanpa didasari ilmu, dia justru akan tersesat dan amalnya akan sia-sia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَهْوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan surat Al-Fatihah yang senantiasa kita baca,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah [1]: 6-7).

Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala menyebut orang-orang yang beramal tanpa ilmu sebagai orang yang sesat. Adapun orang-orang yang berilmu, tetapi tidak mau beramal, itulah orang-orang yang dimurkai. Ini adalah dua hal yang harus kita camkan dengan baik.

Berdakwah kepada Allah

Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah Ta’ala, adalah tugas para Rasul dan merupakan jalan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Ketika seseorang telah mengetahui kebenaran, hendaklah dia berusaha menyelamatkan saudara-saudaranya dengan mengajak mereka kepada agama Allah dan menyebarkan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

Bergeraklah perlahan-lahan sehingga kamu tiba di wilayah mereka. Kemudian ajaklah mereka masuk Islam. Beritahulah mereka tentang kewajiban yang harus mereka tunaikan. Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantara dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta yang merah-merah (unta yang paling bagus dan paling mahal).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi kita untuk menyampaikan ilmu yang telah kita miliki kepada masyarakat serta mengajak mereka kepada kebaikan. Ilmu yang kita miliki bukanlah untuk diri kita saja, akan tetapi juga untuk orang-orang selain kita. Sehingga janganlah menyembunyikan ilmu tersebut, apalagi menghalang-halangi orang lain agar jangan sampai mengetahuniya. Akan tetapi, kita harus menyampaikan dan menjelaskan ilmu tersebut kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, (yaitu) ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya.’” (QS. Ali ‘Imran [3]: 187).

Inilah perjanjian yang Allah Ta’ala buat bagi para ulama, yaitu agar mereka menjelaskan kepada masyarakat tentang ilmu yang telah Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka. Hal itu untuk menyebarkan kebaikan dan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Dakwah inilah yang merupakan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikutinya. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf [12]: 108).

Realita masyarakat kita sekarang ini menunjukkan bahwa kesyirikan terjadi di mana-mana, bid’ah telah merajalela, dan maksiat telah tersebar sampai ke pelosok-pelosok daerah. Sehingga mereka sangat membutuhkan dakwah kita, dakwah yang menyeru kepada tauhidullah, menjadikan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya sesembahan semata dan tidak menujukan ibadah kepada selain Allah Ta’ala.

Seseorang yang berdakwah harus memiliki ilmu tentang syariat Allah Ta’ala sehingga dakwah yang dilakukannya tegak di atas landasan ilmu dan bashirah (hujjah yang nyata). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah –ketika menjelaskan surat Yusuf ayat ke-108 di atas- berkata bahwa ilmu yang dibutuhkan untuk berdakwah bukanlah ilmu syar’i (ilmu tentang apa yang akan didakwahkan) saja, akan tetapi juga mencakup ilmu tentang keadaan orang-orang yang akan didakwahi dan ilmu tentang metode yang paling tepat dan paling sesuai agar dakwah itu sampai kepada mereka. Inilah di antara bentuk hikmah dalam berdakwah. (Lihat Al-Qoulul Mufiid ‘alaa Kitaabit Tauhiid, 1/82, cet. Daarul ’Aqidah).

Bersabar dalam Dakwah

Masalah ke empat dari empat perkara tersebut adalah bersabar atas gangguan yang dihadapi ketika menyeru ke jalan Allah Ta’ala. Hendaklah seorang da’i (juru dakwah) bersabar atas gangguan yang dia terima dari masyarakat. Karena menyakiti da’i sudah menjadi tabiat manusia kecuali mereka yang telah Allah Ta’ala beri hidayah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا

Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka.” (QS. Al-An’am [6]: 34).

Marilah kita melihat apa yang terjadi pada da’i teladan kita semua, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa banyak halangan dan gangguan yang beliau dapatkan. Orang-orang kafir Quraisy saat itu mengolok-olok beliau dengan sebutan orang gila, dukun, tukang sihir, pendusta, dan lain-lain sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam AlQur’an. Beliau juga dilempari batu sampai berdarah. Beliau juga diancam akan dibunuh. Dalam perang Uhud pun beliau terluka. Akan tetapi, beliau tetap bersabar di atas dakwahnya.

Oleh karena itu, seorang da’i wajib bersabar dalam berdakwah dan tidak menghentikan dakwahnya. Dia harus sabar atas segala penghalang dakwahnya dan sabar terhadap gangguan yang ia dapati. Allah Ta’ala menyebutkan wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman [31]: 17).

Pada akhir tafsir surat Al-‘Ashr ini, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,”Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (dakwah dan sabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan dengan menyempurnakan keempat-empatnya, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar.(Taisiir Karimir Rahmaan, hal. 934).

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk menyempurnakan keempat hal ini sehingga kita dapat memperoleh keuntungan yang besar di dunia ini, dan lebih-lebih di akhirat kelak. Amiin.

***

Selesai disempurnakan menjelang maghrib, Sint-Jobskade Rotterdam NL, Ahad 6 Sya’ban 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Referensi Utama:
  • Hushuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Maktabah Ar-Rusyd Riyadh KSA, cetakan ke dua, tahun 1430.
  • Syarhu Al-Ushuuli Ats-Tsalaatsah, Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan, Daar Al-Imam Ahmad Kairo Mesir, cetakan pertama, tahun 1427.

Anda sedang membaca: " Ilmu, Amal, Dakwah, dan Sabar ", baca lebih lanjut serial dari artikel ini:

Berilmu Beramal Berdakwah Bersabar Berdakwah Tak Harus Selalu Mengamalkan Sabar Tergolong Ilmu Atau Amal

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?