Ilmu, Amal, Dakwah, dan Sabar (1)

Surat ini telah mencukupi bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan iman, amal shalih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu.

4121 0

Surat Al-‘Ashr: Surat yang Ringkas, Namun Penuh Makna

Allah Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3)

Surat Al-‘Ashr merupakan sebuah surat dalam Al-Qur’an yang banyak dihafal oleh kaum muslimin karena pendek dan mudah diingat. Sayangnya, sedikit di antara kaum muslimin yang memahami kandungan isinya dengan baik. Meskipun pendek, surat ini memiliki kandungan makna yang sangat banyak. Oleh karena itu, Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, ”Seandainya Allah tidak menurunkan suatu hujjah (argumen) kepada manusia kecuali surat ini, niscaya surat ini telah mencukupi untuk mereka.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Asy-Syafi’i adalah bahwa surat ini telah mencukupi bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan iman, amal shalih, berdakwah kepada Allah,  dan bersabar atas semua itu. Tidaklah beliau memaksudkan bahwa surat ini mencukupi bagi manusia dalam menjelaskan seluruh syari’at Islam.(Syarh Tsalaatsatul Ushuul, hal. 20).

Di dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan sebab-sebab kebahagiaan dan sebab-sebab kebinasaan.  Oleh karena itu, di hari kiamat kelak, manusia tidak boleh berkata, “Saya tidak mengetahui sebab-sebab kebahagiaan dan sebab-sebab kebinasaan”, karena mereka telah membaca surat ini di dunia. Adapun sebab kebahagiaan adalah seseorang harus memiliki keempat hal berikut ini, yaitu ilmu, amal, dakwah, dan bersabar di jalannya. Oleh karena itu, tegaklah hujjah dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya dengan surat yang pendek dan ringkas ini. Seluruh isi Al Qur’an dan As-Sunnah pada hakikatnya adalah penjabaran keempat masalah tersebut. Surat ini menerangkan sebab-sebab kebahagiaan secara global, sedangkan perinciannya dijelaskan oleh dalil-dalil dari ayat Al Qur’an yang lain dan juga dalil-dalil dari As-Sunnah.

Iman Tidak Akan Sempurna Tanpa Ilmu

Dalam surat ini Allah Ta’ala menjelaskan bahwa seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Contoh kerugian yang dimaksud adalah keadaan manusia yang merugi di dunia dan di akhirat, tidak didapatkannya kenikmatan, serta berhak untuk dimasukkan ke dalam neraka (Lihat Taisiir Karimir Rahmaan, hal. 934). Kemudian, Allah Ta’ala mengecualikan hamba-Nya yang memenuhi empat sifat yang Allah jelaskan.

Yang pertama, hamba yang beriman kepada Allah Ta’ala. Keimanan ini tidak akan terwujud tanpa ilmu, karena keimanan merupakan cabang dari ilmu. Dan keimanan tersebut tidak akan sempurna jika tanpa didasari oleh ilmu.  (Lihat Taisiir Karimir Rahmaan, hal. 934).

Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Seorang muslim wajib (fardhu ‘ain) untuk mempelajari setiap ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mukallaf (orang yang sudah mendapat beban syariat) dalam masalah-masalah agamanya, seperti ilmu tentang pokok-pokok keimanan dan syari’at-syari’at Islam, ilmu tentang hal-hal yang wajib dia jauhi berupa hal-hal yang diharamkan, ilmu tentang apa yang dia butuhkan dalam mu’amalah, dan lain sebagainya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

Imam Ahmad rahimahullah berkata,Wajib hukumnya untuk menuntut ilmu yang dengan ilmu itu seseorang dapat menegakkan agamanya.” Beliau ditanya,”Seperti apa misalnya?” Beliau menjawab,”Sesuatu yang wajib dia ketahui, seperti yang berkaitan dengan shalat, puasa, dan masalah-masalah lainnya.” (Al-Furu’ li Ibni Muflih, 1/525. Dikutip dari Hushuulul Ma’mul, hal. 12).  

Maka, merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim untuk mempelajari hal-hal yang wajib dia lakukan dalam agamanya, seperti ilmu yang berkaitan dengan akidah, ibadah, dan muamalah. Dia juga harus bertanya kepada para ulama dan tidak boleh berpaling dari wahyu yang telah Allah Ta’ala turunkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Intinya, dia wajib tunduk kepada kebenaran karena inilah sifat seorang mukmin yang benar.

Perlu diketahui bahwa ilmu syar’i dalam agama Islam ini terbagi menjadi dua macam. Pertama, ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap orang. Seseorang tidak boleh bodoh (tidak mengetahui) tentang ilmu tersebut. Mengapa demikian? Ini karena seseorang tidak akan bisa menegakkan agamanya kecuali dengan ilmu tersebut. Contoh ilmu yang wajib adalah ilmu tentang rukun Islam, yaitu ilmu tentang dua kalimat syahadat, ilmu tentang shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke baitullah. Seorang muslim tidak boleh bodoh tentang ilmu tersebut, dan dia -mau tidak mau- harus mempelajarinya.

Ke dua, ilmu tentang hukum-hukum syariat, yang dibutuhkan umat Islam secara keseluruhan, namun belum tentu dibutuhkan setiap orang. Contohnya adalah ilmu tentang hukum jual beli, hukum wakaf, warisan, wasiat, dan hukum nikah. Ilmu ini tidak wajib dipelajari oleh setiap orang. Apabila sudah ada sejumlah orang yang mempelajarinya, hal itu sudah cukup. Dengan ini, orang-orang yang telah mempelajari ilmu tersebut dapat diminta sebagai tempat bertanya. Namun, apabila tidak ada satu pun orang yang mau mempelajarinya, kaum muslimin seluruhnya berdosa. Ilmu jenis ke dua ini juga mencakup ilmu tentang perincian masalah-masalah fiqih, penelitian perkataan atau pendapat para ulama, serta permahaman terhadap perselisihan pendapat di kalangan mereka.

Adapun ilmu duniawi, apabila ada orang yang tidak mengilmuinya, dia tidak berdosa. Apabila dia mempelajarinya lalu bermanfaat untuk masyarakat umum, dia akan mendapatkan pahala. Oleh karena itu, seandainya manusia meninggal dunia dalam kondisi bodoh terhadap ilmu dunia, dia tidak akan disiksa pada hari kiamat. Akan tetapi, barangsiapa meninggal dunia dalam kondisi bodoh terhadap ilmu syar’i, khususnya ilmu syar’i yang wajib dia pelajari, dia akan ditanya pada hari kiamat. Dia akan ditanya, mengapa dia tidak mau belajar? Mengapa tidak mau bertanya?  

Karena pentingnya ilmu syar’i ini, Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdoa dan meminta ilmu yang bermanfaat kepadaNya. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah,‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thoha [20]: 114).

Allah Ta’ala tidaklah memerintah beliau untuk berdoa meminta tambahan sesuatu kecuali ilmu syar’i. Hal ini hanyalah karena keutamaan ilmu syar’i dan kemuliaannya sehingga Allah Ta’ala meninggikan derajatnya di sisi-Nya.

Betapa pentingnya ilmu ini, sampai-sampai Imam Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab khusus dalam kitab Shahih-nya yang berjudul,

باب الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

“Bab Ilmu sebelum Perkataan dan Perbuatan”.

Kemudian, beliau rahimahullah berdalil dengan firman Allah Ta’ala,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ilmuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad [47]: 19).

Dalam ayat tersebut, ditunjukkan bahwa pengucapan laa ilaaha illallah dan permohonan ampunan merupakan bentuk amal shalih. Namun, sebelumnya Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk berilmu terlebih dahulu (i’lam). Sehingga di dalam ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya agar berilmu terlebih dahulu sebelum beramal.

Yang perlu dicatat, ilmu tersebut haruslah dibangun di atas dalil, yaitu dalil-dalil Al Qur’an dan As-Sunnah. Inilah sumber ilmu yang benar. Adapun perkataan para ulama hanyalah berfungsi untuk menjelaskan perkataan Allah dan Rasul-Nya saja. Bisa jadi perkataan para ulama tersebut ada yang benar, dan ada pula yang kurang tepat. Selain itu, kita juga tidak boleh membangun ilmu atas dasar taqlid (ikut-ikutan) atau fanatik kepada ajaran nenek moyang. [Bersambung]

***

Selesai disempurnakan menjelang maghrib, Sint-Jobskade Rotterdam NL, Ahad 6 Sya’ban 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslimah.or.id

Referensi Utama:
  • Hushuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Maktabah Ar-Rusyd Riyadh KSA, cetakan ke dua, tahun 1430.
  • Syarhu Al-Ushuuli Ats-Tsalaatsah, Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan, Daar Al-Imam Ahmad Kairo Mesir, cetakan pertama, tahun 1427.

Anda sedang membaca: " Ilmu, Amal, Dakwah, dan Sabar ", baca lebih lanjut serial dari artikel ini:

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

Shares