Taat Beragama = Fanatik Beragama ?

Agama Islam memang agama yang sifatnya pertengahan moderat karena yang pertengahan itulah yang paling baik. Jadi, keliru jika mengatakan seseorang yang berpegang teguh pada Islam disebut ekstrim dan tidak moderat

5359 2

Arti Fanatik Fanatik Adalah Fanatik Dalam Islam Fanatik Artinya Definisi Fanatik

Banyak orang bilang, jika ada seorang yang taat menjalankan syariat-Nya itu seringnya mendapatkan predikat “fanatik dalam beragama”. Iya, fanatik itu memang bisa bermakna positif dan juga negatif. Akan tetapi, kesannya fanatik beragama itu bukan lagi bermakna positif, malah justru stigma negatif. Karena yang dimaksud pemberi predikat gratis adalah si “berusaha taat” itu sudah berlebihan atau “saklek” dalam melaksanakan peri kehidupan beragama. Fanatik itu sebenarnya apa sih?

fa.na.tik
[a] teramat kuat kepercayaan (keyakinan) thd ajaran (politik, agama, dsb): tokoh partai itu berada di tengah-tengah pengikutnya yg (sumber: KBBI)

Kalau ada orang yang fanatik warna; fanatik grup band; fanatik brand tertentu dan fanatisme yang lainnya, orang jarang ribut berkomentar. Mereka akan cenderung bisa mentolerir atas nama “kebebasan individu” dan HAM. Akan tetapi, beda halnya jika berpegang teguh menjalankan syariat, yang begini langsung mendapat cap “fanatik” dan itu seringnya akan diributkan. Sobat, mari kita simak kembali ketika Allaah telah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208)

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (Qs. Al-Baqarah: 208)

Seorang pakar ilmu tafsir yang sudah tidak asing lagi di telinga dan penglihatan kita yakni Al-Hafizh Ibnu Katsir menerangkan tentang tafsir ayat di atas,

يقول تعالى آمرًا عباده المؤمنين به المصدّقين برسوله: أنْ يأخذوا بجميع عُرَى الإسلام وشرائعه، والعمل بجميع أوامره، وترك جميع زواجره ما استطاعوا من ذلك.

“Allah Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk beriman kepada-Nya dan membenarkan risalah utusan-Nya agar mereka melaksanakan seluruh kewajiban dan syariat Islam, menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.”

Jadi, ketika ada seseorang yang berjuang keras dalam berpegang teguh menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, itu lebih tepat dikatakan “berusaha taat”/takwa/komitmen/iltizam/istiqamah di atas syariat-Nya. Bukan malah dibilang fanatik yang memiliki konotasi negatif. Justru seharusnya orang-orang yang seperti itu malah didukung atau malah kita bergabung bersama dalam ketaatan, bukan malah dicemooh atau dikatai fanatik; ekstrimis; fundamentalis garis keras; teroris. Bukankah kita juga sama-sama memeluk Islam dan diperintahkan untuk berislam secara kaaffah/keseluruhan?

Taat = fanatik = ekstrim?

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- غَدَاةَ الْعَقَبَةِ وَهُوَ عَلَى نَاقَتِهِ « الْقُطْ لِى حَصًى ». فَلَقَطْتُ لَهُ سَبْعَ حَصَيَاتٍ هُنَّ حَصَى الْخَذْفِ فَجَعَلَ يَنْفُضُهُنَّ فِى كَفِّهِ وَيَقُولُ « أَمْثَالَ هَؤُلاَءِ فَارْمُوا ». ثُمَّ قَالَ « يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِى الدِّينِ ».

dari `Abdullah bin ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, “Pada pagi hari di Jamratul ‘Aqabah ketika itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berada di atas kendaraan, Beliau berkata kepadaku, “Ambillah beberapa buah batu untukku!” Maka aku pun mengambil tujuh buah batu untuk beliau yang akan digunakan melontar jamrah. Kemudian beliau berkata, “Lemparlah dengan batu seperti ini!” kemudian beliau melanjutkan, “Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw (melampaui batas) dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam agama.” (HR. An-Nasaa’i, Ibnu Maajah dan Ahmad).

Istilah ghuluw dalam bahasa arab dinyatakan untuk suatu perbuatan/ucapan/keyakinan yang berlebih-lebihan/melampaui batas dalam beragama. Sejatinya, orang yang berusaha berpegang teguh pada syariat itu bukan orang-orang yang ghuluw lho. Orang-orang yang ghuluw justru -secara garis besar- adalaah:

  • Orang yang melakukan inovasi bentuk ibadah dan landasannya adalah istihsaan [anggapan bahwa sesuatu itu baik menurut logikanya sendiri] -baca : bid’ah- dalam ibadah. Sudah dikasih pedoman dan pakem untuk menjalankan syariat begini dan begitu karena ajaran Islam sudah sempurna ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berpulang kepada pemiliknya, dia malah menambah begini dan begitu.
  • Orang yang mendewakan hawa nafsu; logika; kekayaan; kekuasaan hingga dia menerjang syariat-Nya dalam bentuk apapun juga.
  • Orang yang mengkultuskan individu tertentu dengan diikuti taqlid buta baik itu dari kalangan ‘ulama, kiyai, habaaib, syaikh, wali, ahlul bait hingga menyalahi syariat.
  • Orang yang ber-takalluf (memaksakan diri) dan tasyaddud (memberatkan diri)

Islam adalah agama pertengahan antara ifraath (berlebih-lebihan) dan tafriith (menyepelekan/meremehkan). Antara ghuluw (berlebih-lebihan dan melampaui batas) dan taqshiir (meremehkan/menyepelekan). Allaah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا…

Dan demikian pula Kami jadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan [yang adil dan paling baik/terpilih]…” (QS. Al-Baqarah: 143)

Agama Islam memang agama yang sifatnya pertengahan [moderat] karena yang pertengahan itulah yang paling baik. Jadi, keliru jika mengatakan seseorang yang berpegang teguh pada Islam disebut ekstrim dan tidak moderat, padahal Islam itu sendiri sudah sangat moderat.

Jadi, tempatkan kata moderat dan fanatik itu sesuai porsinya ya teman…

Penulis: Fatihdaya Khoirani

Artikel Muslimah.Or.Id

Pengertian Fanatik Dalam Islam Sikap Fanatik Terhadap Agama Ulama Fanatik Maksud Dari Fanatik Yang Berlebihan Kefanatikan Beragama

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

  • Asep Saeful Hidayat

    Aku juga sama. Waktu itu di sebut sebagai orang fanatik. Terlalu berlebihan dalam agama. Biasa aja, jangan sampai begitu. Katanya

  • Pingback: Taksub dan Fanatik | Catatan Abu Nadrah()