Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Fikih Bulan Muharam

Annisa Auraliansa oleh Annisa Auraliansa
22 Juni 2026
di Al-Qur'an, Fikih, Hadis
0
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Bulan Muharam termasuk bulan-bulan haram
  • Keutamaan berpuasa sunah di bulan Muharam
  • Keutamaan puasa Asyura

Bulan Muharam merupakan bulan yang mulia. Allah Jalla wa ‘Ala menisbatkan bulan tersebut kepada diri-Nya. Disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أفضَلُ الصِّيامِ بَعدَ رَمَضانَ شَهرُ اللهِ المُحَرَّمُ

“Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadan adalah puasa di bulan Allah al–Muharam.” (HR. Muslim no. 1163)

Penisbatan bulan Muharam kepada Allah menunjukkan keutamaan dan keagungannya. Karena tidaklah Allah Ta’ala menisbatkan sesuatu dari makhluk-Nya kepada diri-Nya kecuali disebabkan oleh keistimewaannya. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَارُ

Donasi Muslimah.or.id

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (QS. Al-Qashash: 68)

Hal ini sebagaimana penyebutan Baitullah (Rumah Allah) bagi Kakbah dan Naqatullah (Unta Allah) bagi unta betina Nabi Shalih ‘alaihissalam.

Disebabkan agungnya bulan ini, hendaknya kita mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengannya. Di antaranya:

Bulan Muharam termasuk bulan-bulan haram

Yaitu bulan-bulan ketika Allah mengharamkan peperangan terjadi di dalamnya serta kesalahan dan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan tersebut lebih berat dan besar nilainya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman di dalam Al-Quran,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِعِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ  فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Bulan-bulan haram yang dimaksudkan pada ayat di atas adalah Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab.

Qatadah rahimahullah berkata tentang firman-Nya (yang artinya), “Maka janganlah kamu menganiaya diri dalam bulan yang empat itu”; bahwa perbuatan aniaya di bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya dari kezaliman yang dilakukan di bulan selainnya. Meskipun kezaliman dalam setiap keadaan adalah besar, tetapi Allah membesarkan sebagian urusan-Nya sesuai dengan yang Dia kehendaki.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4: 204-205)

Patut diketahui bahwa perbuatan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan haram itu adalah lebih besar ukurannya di sisi Allah dibandingkan pada bulan-bulan lainnya. Namun, dosa tersebut tidak dilipatgandakan secara jumlah. Hak ini karena Allah Ta’ala berfirman,

مَن جَآءَ بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰٓ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-An’am: 160)

Dan sebagaimana perbuatan maksiat pada bulan-bulan haram diperberat nilainya, maka demikian pula dengan amal kebaikan.

Berdasarkan hal ini, juga dapat kita ketahui bahwa nilai suatu dosa akan menjadi lebih berat jika dilakukan pada bulan haram dan di tanah haram (Mekah dan Madinah). Sebagaimana ketaatan yang dilakukan pada bulan haram dan di tanah haram lebih besar nilainya dibandingkan dengan selainnya.

Dan Allah Ta’ala telah mengisyaratkan kondisi seperti ini dalam firman-Nya,

يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ مَن يَأْتِ مِنكُنَّ بِفَٰحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ يُضَٰعَفْ لَهَا ٱلْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا

“Hai istri-istri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 30)

Para ulama mengatakan bahwa bulan yang paling utama dari keempat bulan haram adalah bulan Muharam. Wahb bin Jarir meriwayatkan dari Qurah bin Khalid dari Hasan, ia berkata,

إن الله افتتح السنة بشهر حرام وختمها بشهر حرام فليس شهر في السنة بعد شهر رمضان أعظم عند الله من المحرم وكان يسمى شهر الله الأصم من شدة تحريمه

“Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan haram dan menutupnya dengan bulan haram. Sehingga tidak ada bulan dalam setahun yang lebih agung di sisi Allah setelah bulan Ramadan, kecuali bulan Muharam. Bulan ini disebut juga Syahrullahil Asham dikarenakan saking tingginya nilai kesuciannya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 34)

Keutamaan berpuasa sunah di bulan Muharam

Dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunah di bulan Muharam. Sebagaimana disebutkan pada hadis yang telah lalu, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أفضَلُ الصِّيامِ بَعدَ رَمَضانَ شَهرُ اللهِ المُحَرَّمُ

“Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadan adalah puasa di bulan Allah Al–Muharam.” (HR. Muslim no. 1163)

Memperbanyak puasa sunah pada bulan ini dapat dilakukan setiap hari ataupun pada sebagian harinya saja.

Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa kecuali di bulan Syakban, para ulama menanggapi masalah ini dengan mengatakan bahwa puasa sunah itu ada dua macam:

Pertama: Puasa sunah mutlak. Puasa sunah mutlak yang paling utama untuk dilakukan adalah pada bulan-bulan haram, terutama bulan Muharam.

Kedua: Puasa sunah yang mengiringi puasa Ramadan, baik sebelum maupun sesudah Ramadan. Puasa sunah seperti ini bukan termasuk puasa sunah mutlak, tetapi ia mengikuti puasa Ramadan. Seperti berpuasa di bulan Syakban dan puasa enam hari di bulan Syawal.

Di bulan yang istimewa ini (Muharam), hendaklah kita bersemangat untuk menjalankan ibadah puasa yang notabene merupakan amalan khusus yang juga dinisbatkan kepada Allah. Sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

‎الصوم لي وأنا أجزي به يدع شهوته واكله وشربه من أجلي

“Puasa itu untuk–Ku dan Aku yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwatnya, makanan, dan minumannya karena diri–Ku” (HR. Muslim no. 1151)

Di antara kaum salaf yang berpuasa terus-menerus selama bulan-bulan haram adalah Ibnu ‘Umar, Hasan al-Bashri, dan selainnya.

Keutamaan puasa Asyura

Secara khusus, sangat dianjurkan bagi seorang muslim untuk berpuasa di bulan Muharam, terutama pada hari Asyura atau pada tanggal 10 Muharam. Karena disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa pada hari Asyura. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يكفر السنة الماضية

“Puasa itu menghapus dosa setahun yang lalu.”

Dalam riwayat yang lain,

وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله

“Dan puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah untuk mengampuni dosa satu tahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 196, 197, 1162)

Berkaitan dengan pensyariatan puasa Asyura, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati empat keadaan:

Keadaan pertama: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakannya di Mekah, namun tidak memerintahkan para sahabat untuk melaksanakannya.

Keadaan kedua: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah dan menyaksikan kaum Yahudi berpuasa di hari Asyura dan mengagungkannya, beliau pun melaksanakan puasa di hari itu dan memerintahkan para sahabat untuk ikut berpuasa. Sampai-sampai para ulama berselisih pendapat, apakah sebelum diwajibkannya puasa Ramadan, puasa hari Asyura tersebut hukumnya wajib ataukah sunah muakkadah (sunah yang ditekankan pelaksanaannya). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan dan memotivasi pelaksanaannya, sampai-sampai kaum muslimin memerintahkan anak-anak mereka yang masih kecil untuk ikut berpuasa pada hari tersebut.

Keadaan ketiga: Ketika diwajibkannya puasa Ramadan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi menekankan para sahabat untuk berpuasa pada hari Asyura. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

فلما نزلت فريضة شهر رمضان كان رمضان هو الذي يصومه فترك يوم عاشوراء فمن شاء صامه ومن شاء أفطره

“Tatkala turun perintah wajibnya berpuasa di bulan Ramadan, Nabi berpuasa di bulan Ramadan dan meninggalkan puasa Asyura. Hal ini menunjukkan siapa yang ingin berpuasa pada hari itu, maka silakan ia berpuasa. Dan barangsiapa yang tidak ingin, maka silahkan ia tidak berpuasa.” (HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no.1125)

Keadaan keempat: Pada akhir hayatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berencana untuk tidak hanya berpuasa pada hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharam, namun juga pada tanggal 9-nya. Hal ini bertujuan untuk menyelisihi Ahli Kitab. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di hari Asyura dan memerintahkannya, para sahabat berkata,

يا رسول الله ، إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى

“Wahai Rasulullah, hari tersebut diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فإذ كان العام المقبل – إن شاء الله – صمنا اليوم التاسع

“Apabila bertemu dengan tahun depan, insyaallah kita akan berpuasa pada hari kesembilan.”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

فلم يأت العام المقبل حتى توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Rasulullah wafat sebelum berjumpa dengan tahun setelahnya.”

Dalam sebuah riwayat,

لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع

“Jika aku masih ada hingga tahun depan, maka aku akan benar-benar puasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim no. 1134)

Maka tingkatan terbaik dalam melaksanakan puasa Asyura adalah berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharam.

Di antara kaum salaf yang tetap berpuasa pada hari Asyura walaupun dalam kondisi safar adalah Ibnu ‘Abbas, Abu Ishak as-Sabi’i dan az-Zuhri. Az-Zuhri berkata,

رمضان له عدة من أيام أخر وعاشوراء يفوت

“Puasa Ramadan dapat diganti di hari yang lain. Sedangkan Asyura, jika hilang, maka ia hilang.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 52)

Demikian beberapa hukum terkait bulan Muharam yang dapat penulis paparkan. Semoga Allah memudahkan kita untuk beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya di bulan yang mulia ini dan semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada kekasih tercinta, Rasulullah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabat beliau, juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan hingga hari kiamat.

Baca juga: ‘Asyura Membuka Kedok Syi’ah

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

 

Referensi:

Kajian Keutamaan Bulan Muharam, Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.

Katsir, Ibnu. Shahih Tafsir Ibnu Katsir. (Terjemahan: Tim Pustaka Ibnu Katsir). Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir.

Al-Hanbali, Ibnu Rajab. Lathaiful Ma’arif. Maktabah Syamilah.

Al-Hanbali, Ibnu Rajab. Lathaiful Ma’arif. (Terjemahan: Yusuf Sidiq). Sukoharjo: Al-Qowam.

ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Annisa Auraliansa

Annisa Auraliansa

Penulis di muslimah.or.id

Artikel Terkait

Beda Israf dan Tabdzir

oleh Ammi Nur Baits, ST., BA.
31 Januari 2019
2

Al-israf: menggunakan harta untuk sesuatu yang benar, namun melebihi batas yang dibenarkan. sedangkan tabdzir, menggunakan harta untuk sesuatu yang tidak...

Muslimah Safar dengan Pesawat Tanpa Mahram

oleh Titi Komalasari
11 September 2018
9

Wajib bagi muslimah untuk bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan tidak bersafar, kecuali bersama mahramnya. Juga menjadi kewajiban walinya...

Hukum Menelan Ludah Atau Dahak Bagi Orang Yang Berpuasa

oleh Muslimah.or.id
18 Juni 2016
0

Apa hukumnya menelan ludah atau dahak bagi orang yang berpuasa?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.