Tiga Landasan Utama (Bag. 1)

Pada umumnya kita telah mengetahui tentang pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir yang kelak harus kita jawab di alam kubur. Yaitu pertanyaan, Siapakah Rabbmu?; Apakah agamamu?; dan siapakah Nabimu?

67 0

Salah satu akidah ahlus sunah wal jamaah adalah mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya. Dan juga pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir kepada setiap penghuni kubur. Alam kubur adalah taman-taman surga atau kubangan-kubangan api neraka. Yang menentukan pilihan itu adalah berhasil atau tidaknya mereka dalam menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir kepada mereka.

Tiga Pertanyaan Kubur

Pada umumnya kita telah mengetahui tentang pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir yang kelak harus kita jawab di alam kubur. Yaitu pertanyaan, Siapakah Rabbmu?; Apakah agamamu?; dan siapakah Nabimu? Inilah makna ushuul tsalaatsah (tiga landasan utama) yang dimaksudkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, Bahwasannya ushuul tsalaatsah ini bersumber dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada seseorang di dalam kuburnya.” (Syarh Ushuul Tsalaatsah, hal. 34).

Apabila seseorang berhasil menjawab ketiga pertanyaan ini dengan benar, dengan dilandasi oleh Kitabullah, mengimani dan membenarkannya, maka datanglah panggilan dari langit,

أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ

Sungguh benar hamba-Ku itu, berikan kepadanya alas dari surga dan bukakan baginya pintu ke arah surga.” (HR. Abu Dawud no. 4753 dan Ahmad no. 18534, shahih).

Akan tetapi, hamba-Nya yang munafik atau ragu menjawab,

لاَ أَدْرِي، سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ

Saya tidak tahu. Saya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu aku ikut mengatakannya.” (HR. Bukhari no. 1053, 7287 dan Muslim no. 905)

Dalam hadits lain dikatakan,

هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي، فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ كَذَبَ، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ النَّارِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ

Hah, hah, aku tidak tahu. Maka datanglah panggilan dari atas langit, ’Sungguh dia berdusta. Bentangkan baginya alas dari neraka dan bukakan baginya pintu ke neraka.” (HR. Abu Dawud no. 4753, shahih). Sungguh mengerikan!!

Syaikh Shalih Alu Syaikh hafidzahullah menjelaskan bahwa para ulama mengambil hikmah dari perkataan munafik, Saya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu aku ikut mengatakannya, bahwa seseorang tidak boleh ikut-ikutan (taqlid) dalam menjawab ketiga pertanyaan di atas. Ketiga pertanyaan ini bukanlah sekedar pertanyaan hafalan belaka. Karena sesungguhnya seorang mukmin itu terbebas dari taqlid dan dia harus melandasi ilmunya dengan dalil yang benar. Barangsiapa yang konsisten di atas hal tersebut sampai matinya, maka dia adalah seorang mukmin. (Syarh Kitab Tsalaatsatil Ushuul, hal. 19).

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui dan mengenal jawaban dari pertanyaan, Siapakah Robbmu?, Apakah agamamu?, Dan siapakah Nabimu?

Siapakah Rabbmu?

Para ulama menafsirkan pertanyaan,Siapakah Rabbmu (Tuhanmu)? dengan Siapakah ilah/sesembahanmu? Ilah atau sesembahan adalah segala sesuatu yang menjadi tempat bergantungnya hati. Dimana hati merasa cinta, takut, berharap dan bertawakkal kepadanya. Demikian juga ilah adalah segala sesuatu yang ditujukan berbagai bentuk pendekatan diri kepadanya, seperti doa, sujud, kurban, nadzar dan lain-lain.

Karena apabila Rabb yang dimaksud dalam pertanyaan tersebut adalah Dzat Yang mencipta, memberi rizki, menghidupkan atau mematikan, maka niscaya kaum kafir Quraisy pun mampu untuk menjawabnya! Bukankah Allah Taala berfirman,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah,Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab, Allah.’ (QS. Yunus [10]: 31)?!

Kafir Quraisy meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb/Tuhan mereka. Akan tetapi di samping mereka menjadikan Allah sebagai ilah (sesembahan), mereka juga menjadikan ilah yang lain di samping Allah Ta’ala. Oleh karena itu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ تُفْلِحُوا

Wahai manusia, katakanlah, ’Laa ilaaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), niscaya kalian akan beruntung” (HR. Ahmad no. 23151. Dinilai shahih oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth).

Maka mereka pun mengatakan,

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan yang satu saja? Sungguh ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (QS. Shaad [38]: 5)

Inilah sumber kemusyrikan orang-orang kafir, dimana mereka tidak meyakini Alloh sebagai satu-satunya ilah/ sesembahan.

Sehingga bagaimana mungkin seseorang dapat menjawab pertanyaan ini dengan benar di kuburnya, meskipun dia telah menghafalnya di dunia, namun ketika di masa hidupnya dia hobi berdoa ke kubur para wali, memberikan sesajen kepada Nyi Roro Kidul atau menyembelih ayam hitam sebagai persembahan kepada jin untuk meraih kesaktian?! [Bersambung]

***

Disempurnakan pada pagi hari, Rotterdam NL 25 Rajab 1438/22 April 2017
Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?