Parenting Islami (6): Dampak Kesalihan dan Amal Kedua Orang Tua Terhadap Buah Hatinya

Amal dan kesalihan kedua orang tua memiliki dampak terhadap kesalihan anak-anak mereka, baik di dunia maupun di akhirat

389 0

Amal dan kesalihan kedua orang tua memiliki dampak terhadap kesalihan anak-anak mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Demikian pula amal buruk dan berbagai dosa besar yang dilakukan ayah maupun ibu, memiliki pengaruh buruk pada pendidikan buah hati keduanya. Dampak amal salih atau amal buruk tersebut dapat terjadi pada berbagai bentuk, di antaranya:

  1. Adanya keberkahan pada amal salih tersebut dan pahala dari Allah Ta’ala. Di antara bentuk keberkahan dari amal salih yang dilakukan seorang hamba adalah Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada orang tersebut untuk senantiasa beramal kebaikan dan kemudahan dalam melakukan berbagai ketaatan selanjutnya kepadaNya. Sebaliknya, amal buruk dapat menjadi bencana dan hukuman dari Allah Ta’ala bagi pelakunya.

  2. Boleh jadi balasannya berupa kebaikan yang tergambar pada anak-anak mereka. Namun boleh jadi juga dalam bentuk hukuman yang terlihat pada anak-anak disebabkan amal buruk kedua orang tuanya.

  3. Berupa penjagaan Allah Ta’ala atas anak-anak mereka. Allah Ta’ala yang mengurusi perkara-perkara (kebutuhan) mereka. Allah Ta’ala luaskan rizki mereka dan Allah juga yang senantiasa menjaga kesehatan jasmani anak-anak mereka.

  4. Dampaknya juga dapat berupa penyimpangan anak-anak mereka dari jalan kebenaran.

  5. Berupa berbagai bencana, penyakit dan timbulnya masalah demi masalah.

Oleh sebab itu, hendaklah kedua orang tua memperbanyak amal salih sehingga dampaknya pun akan tercermin pada anak-anak mereka.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

Adapun dinding rumah (yang ditegakkan Khidir -pen) adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan (berupa lembaran emas yang tertulis padanya ilmu) bagi mereka berdua. Ayah kedua anak tersebut adalah seorang yang salih, maka Tuhanmu menghendaki ketika mereka sampai pada masa kedewasaannya kemudian mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu” (QS. Al Kahfi [18]: 82).

Ayat tersebut mengisahkan tentang Nabi Musa dan Khidir alaihimassalam ketika melalui suatu perkampungan. Lalu keduanya pun meminta hak-hak tamu kepada penduduk kampung tersebut. Namun mereka enggan menganggap Nabi Musa dan Khidir ‘alaihimassalam sebagai tamu. Keduanya pun mendapati sebuah tembok yang miring dan hendak roboh. Lalu Khidir pun menegakkannya. Kemudian Nabi Musa alaihissalam berucap kepadanya,

لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu” (QS. Al Kahfi [18]: 77).

Kemudian Khidir pun memberikan alasan perbuatannya kepada Nabi Musa alaihissalam sebagaimana yang tercantum dalam surat Al-Kahfi ayat 82 di atas.

Maka lihatlah bagaimana Allah Ta’ala menjaga harta anak yatim tersebut disebabkan kesalihan orang tuanya.

Apakah kita mengira atau berkeyakinan bahwasanya harta yang dijaga Allah Ta’ala tersebut terkumpul dari harta yang haram? Sekali-kali tidak, sebab di antara konsekuensi dari kesalihan orang tua adalah mereka tidak akan mau mengumpulkan harta kecuali dari sumber yang halal. Demikian pula Allah Ta’ala pun akan menjaga harta tersebut karena diperoleh dengan cara yang halal.

Faidah:

Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir (5: 187) [1] bahwa kedua anak tersebut dijaga karena kesalihan kedua orang tuanya. Namun tidak disebutkan bahwa kedua orang tua (bapak ibu) dari kedua anak inilah yang salih. Sebab telah berlalu penjelasan bahwa yang salih adalah keturuan ke tujuh di atas kedua anak ini (baca: kakek buyut).

Berdasarkan penafsiran ini dapat diambil faidah bahwa kesalihan orang tua tidak hanya berpengaruh sebatas anak mereka langsung. Namun, dapat saja berpengaruh pada beberapa keturunan di bawahnya. AllahuTa’ala a’lam.

Oleh karena itu, sebagai orang tua, perbaikilah makanan, minuman dan pakaian kita sehingga kita bisa menengadahkan kedua tangan untuk berdoa dengan tangan yang bersih dan jiwa yang suci. Kita berharap bahwa Allah Ta’ala akan mengabulkan doa untuk anak-anak kita, memperbaiki keadaan mereka dan memberikan keberkahan bagimu atas mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

أيُّهَا النَّاسُ ، إنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إلاَّ طَيِّباً ، وإنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِينَ . فقالَ تعالى : { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً } (المؤمنون : 51) ، وقال تعالى : { يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } (البقرة : 172). ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أشْعثَ أغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إلَى السَّمَاءِ : يَا رَبِّ يَا رَبِّ ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، ومَلبسُهُ حرامٌ ، وَغُذِّيَ بالْحَرَامِ ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ؟

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman dengan sesuatu yang (juga) Dia perintahkan untuk para rasul. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً

Wahai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang salih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mukminun [23]: 51)

Allah Ta’ala juga befirman,

يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik-baik dari apa yang Kami berikan kepada kalian.” (QS. Al Baqarah [2]: 172)

Kemudian beliau menyebutkan ada seorang pria yang menjalani perjalanan panjang, dengan rambut kusut dan berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit, ‘Ya Rabbi, Yaa Rabbi Namun makanannya dari yang haram, minumannya dari yang haram, bajunya dari yang haram dan perutnya dikenyangkan dari yang haram [2]. Maka bagamaimana mungkin Allah kabulkan doanya? (HR. Muslim no. 1015)

Apakah layak bagi kita, wahai ayah, mengangkat kedua tangan kita, berdoa kepada Rabb kita untuk kebaikan anak keturunan kita, padahal tangan kita dikotori darah orang-orang yang tidak bersalah, atau dikotori dengan kezhaliman fisik maupun penipuan terhadap orang-orang yang tidak bersalah? Apakah layak kita berdoa dengan bibir yang dikotori oleh makanan yang haram, kedustaan, namimah, ghibah, caci maki terhadap kehormatan orang lain atau bahkan yang lebih parah lisannya dikotori oleh kesyirikan? Apakah kita mengira doa kita yang menggunakan pakaian yang diperoleh dari jalan yang haram dan perut yang dikenyangkan dari hal yang haram akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala?

Wajib bagi kita, wahai ayah dan bunda, untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan beramal salih agar Allah Ta’ala mengabulkan doa kita untuk anak-anak keturunan kita.

Kedua orang tua yang membaca Al Qur’an baik Muawwidzatain (surat AlFalaq dan AnNaas) atau surat yang lainnya, maka malaikat akan turun dengan sebab bacaan Al Qur’an kita dan setan pun lari. Tidak ragu lagi bahwa turunnya malaikat, ketenangan dan rahmat tentu akan memberikan dampak positif pada anak-anak kita dan keselamatan mereka.

Namun jika kita meninggalkan atau enggan membaca Al Qur’an dan lalai dari dzikir, ketika itu pula setan turun, menyerang dan menguasai rumah kita. Rumah yang kosong dari bacaan Al Qur’an, adanya penyanyi dan musik yang diperdengarkan, bergelantungan gambar makhluk yang diharamkan. Tentulah hal yang demikian itu memberikan dampak buruk nyata yang dapat menggerakkan mereka untuk bermaksiat dan menggiring mereka untuk berbuat kerusakan.

***

Disempurnakan menjelang isya, Rotterdam 12 Shafar 1438

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Artikel Muslimah.or.id

____

[1] Cetakan Daar Thayyibah, Riyadh, KSA.

[2] Syaikh Muhammad bin Shalih Al‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa haram yang dimaksud dalam hadits ini mencakup haram secara dzatnya dan cara mendapatkan/mencarinya. (Lihat Syarh Arba’in AnNawawiyah, hal. 166). Contoh haram secara dzat adalah memakan babi sedangkan contoh haram cara mendapatkannya adalah mencari nafkah dengan bekerja di bank ribawi, korupsi dan lain sebagainya.

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?