Waktu yang paling berharga bagi seorang muslim adalah waktu yang digunakan untuk beribadah dan mencari keridaan Allah Ta`ala. Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang mayoritas pekerjaan muslim di dalamnya diisi dengan ibadah dan amal saleh. Hal ini memang adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan seorang muslim mengingat bahwa para sahabat dan ulama terdahulu menyibukkan dirinya dengan beribadah di bulan ini dan mengurangi pekerjaan-pekerjaan dunia untuk menggapai rida Allah Ta`ala.
Meskipun demikian, sangat disayangkan ketika kita melihat realita yang ada pada saat ini. Umat Islam cenderung melihat Ramadan hanya sebagai rutinitas. Mereka melihat Ramadan sebagai bulan yang datang sekali dalam setahun, bulan yang di dalamnya diisi dengan kebiasaan-kebiasaan agama, seperti salat, puasa, dan tausiyah. Bahkan lebih mirisnya, ada yang menganggap bulan Ramadan hanya sebagai bulan untuk berburu takjil dan menyiapkan kue serta baju baru untuk lebaran. Banyak dari umat Islam yang kehilangan makna sebenarnya dari Ramadan dan lupa untuk berburu bekal akhirat dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta`ala.
Lantas, bagaimanakah cara untuk membangkitan makna Ramadan sebenarnya di dalam diri kita sehingga kita siap menyambut tamu yang mulia ini? Berikut adalah beberapa kaidah yang diharapkan bisa membangkitkan makna Ramadan di diri kita, biidznillah.
Kaidah pertama: Membangkitkan rasa rindu kepada Allah Ta`ala
Keimanan di hati seorang mukmin bisa bertambah dan bisa berkurang. Dan ketika keimanan ini berkurang, maka hati hendaknya mencari hal-hal yang bisa meningkatkan dan memperbarui keimanan tersebut. Keimanan bertambah dengan ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta`ala dengan hati yang khusyu` dan niat ikhlas untuk menggapai rida Allah Ta`ala. Dan sama halnya ketika kita akan menemui Ramadan, keimanan itu harus kita pupuk dengan mendekatkan diri kepada Allah seraya meminta pertolongan agar Allah menguatkan keimanan kita. Dan sejatinya, seorang hamba tidak bisa melakukan amal kebaikan kecuali atas taufik atau izin dari Allah. Allah melihat besarnya azam (tekad) dan keinginan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam hadis qudsi disebutkan,
إِذَا تَقَرَّبَ العَبْدُ إِلَيَّ شِبْراً تَقَرَبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِذَا تَقَرَبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَبْتُ مِنْهُ بَاعًا،وَإِذَا أَتَانِي يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَة
“Jika seorang hamba mendekat kepadaku sejengkal, maka aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepadaku sehasta, maka aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan jika dia berjalan menujuku, maka Aku akan berlari menujunya.” (HR. Bukhari)
Menuai pertolongan Allah dalam segala hal (termasuk pertolongan dalam beribadah) harus dilandaskan pada tekad untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan kejujuran, dan juga harus dilandaskan pada kepercayaan bahwa Allah akan menjawab dan mendengar doa kita. Allah Ta`ala berfirman,
أُدْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan (doa) kalian.” (QS. Ghafir: 60)
فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ
“Ingatlah Aku, maka aku akan mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Lalu, apakah semua orang yang salat dan membaca Al-Qur`an akan mendapatkan manisnya ibadah? Jawabannya tidak, karena hanya orang-orang yang menunaikan ibadah kepada Allah dengan hati yang tulus dan penuh kerinduan kepada Allah yang akan merasakan manisnya ibadah tersebut. Tidaklah sama orang-orang yang menunaikan salat dengan hati yang tergesa-gesa atau hanya sekedar menggugurkan kewajibannya dengan orang-orang yang berdiri untuk salat dan hatinya penuh dengan kerinduan bertemu dengan Allah Ta`ala. Karena hal ini, salah satu doa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam di salatnya adalah,
وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بِالقَضَاءِ وَبَرْدَ العَيْشِ بَعْدَ المَوْتِ وَلَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقِ إِلَى لِقَائِكَ
Wa as`alukar ridhoo bil qodhooi wa bardal `aisy ba`dal maut wa lazzatan nazhori ilaa wajhika wasy syawqi ilaa liqhooika.
“Dan aku memohon kepada-Mu keridaan dalam menerima ketetapan-Mu, dan kesejukan setelah mati, dan kenikmatan memandang wajah-Mu dan kerinduan pada pertemuan-Mu…” (Diriwayatkan oleh An-Nasa`i dengan sanad sahih)
Membangkitkan rasa rindu kepada Allah juga adalah penghancur syubhat (hal-hal yang diragukan) dan syahwat (hawa nafsu) bagi seorang muslim. Oleh karena itu, kita butuh untuk menumbuhkan rasa ini terutama ketika Ramadan akan datang. Dan ada beberapa hal yang bisa membantu membangkitkan rasa rindu kepada Allah, yaitu:
1) Memahami Asmaul husna(Nama-nama Allah) dan sifat-sifat-Nya, serta mentadabburi (merenungi) kalam-Nya (Al-Qur`an) sehingga terbangunlah tekad di hati untuk meraih kemuliaan dari kebesaran-Nya.
2) Merenungi dan memikirkan pemberian Allah Ta`alakepada kita, hamba-Nya. Sesungguhnya hati menyukai kebaikan-kebaikan yang dilakukan seseorang, dan begitu juga ketika kita sadar bahwa pemberian Allah sangatlah banyak bahkan tidak bisa dihitung, maka akan tumbuh rasa cinta dan rindu di hati kita.
3) Membangkitkan rasa penyesalan di hati ketika kita membuang-buang waktu (yang seharusnya digunakan untuk beribadah) pada hal-hal yang tidak bermanfaat.
4) Selalu mengingat keutamaan Al-musabaqaah fii al-khairaat(Berlomba-lomba dalam kebaikan) yang balasannya adalah surga. Allah berfirman,
وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَة مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّة عَرْضُهَا السَّموتُ وَالأَرْضُ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْن
“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disiapkan untuk orang-orang bertakwa.” (QS. Ali-Imran: 133)
Dalam usaha membangkitkan kerinduan kepada Allah, akan kita temui hambatan-hambatan dan godaan-godaan dunia yang membuat kita ragu. Di sinilah mujahadatun nafsi (melawan diri dan hawa nafsu) diperlukan. Kita harus melawan semua godaan dan hal-hal yang melalaikan, baik itu candaan di media sosial atau kesibukan untuk mengikuti trend yang ada atau yang lainnya.
Baca juga: Sejarah Pensyariatan Puasa Ramadan
Kaidah kedua: Mengetahui keutamaan setiap musim dan kesempatan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya untuk memburu pahala di setiap bulan dan musim
Ibnu Rajab rahimahullahu berkata, “Allah Subhaanahu wa Ta`ala telah menjadikan keutamaan bagi sebagian bulan terhadap bulan-bulan lainnya.” Sebagaimana Allah Ta`ala berfirman,
مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّيْنُ القَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Di antaranya empat bulan haram, dan itulah agama yang lurus, maka janganlah menzalimi diri kalian di dalamnya (bulan haram).” (QS. At-Taubah: 36)
Sebagaimana halnya Allah telah menjadikan malam lailatul qadr di Ramadan lebih baik dari seribu bulan, dan ibadah di dalamnya lebih baik dari ibadah selama seribu bulan. Dan seperti itu juga Allah telah bersumpah dengan “Asyri” yang merupakan hari kesepuluh Zulhijah (pendapat yang paling kuat) sebagai siang terbaik dibanding dengan siang-siang lainnya. Hal ini tentu dengan keutamaan yang ada di hari-hari tersebut dan kesempatan bagi seorang muslim untuk memburu bekal akhirat di dalamnya. Dengan mengetahui keutamaan-keutamaan ini, terkhusus keutamaan bulan Ramadan, maka seorang mukmin tidak akan melepaskan Ramadan pergi secara sia-sia. Jika seorang mukmin selalu merutinkan ibadah setiap hari, maka ketika bulan yang mulia ini datang, hendaknya semangat untuk beribadah harus semakin kuat.
Kaidah ketiga: Membiasakan pembaruan tekad dan prioritas
Menjadikan ibadah sebagai prioritas bukan berarti meninggalkan kewajiban-kewajiban dunia. Justru ibadah sebagai prioritas berarti mengutamakan ibadah dibanding hal-hal dunia lainnya, tetapi setelah menunaikan kewajiban dunia. Selain menjadikan ibadah sebagai prioritas, tekad dalam beribadah harus selalu diperbarui dan ditingkatkan setiap harinya. Mengerjakan ibadah atau ketaatan lainnya memang tidak bisa dibilang hal yang mudah. Dan yang harus sama-sama kita ketahui, surga dikelilingi hal-hal yang dibenci oleh jiwa manusia. Hal ini berarti untuk mencapai surga dibutuhkan memaksakan diri terhadap hal-hal yang berat dan cenderung dibenci oleh hati. Dan sebaliknya, neraka dikelilingi hal-hal yang disukai jiwa manusia. Hal ini berarti bahwa maksiat dan hal-hal yang haram cenderung disukai oleh hati. Dan kita harus mengingat firman Allah Ta`ala,
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرُ لَّكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرُّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ
“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik untuk kalian. Dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu buruk untuk kalian. Allah mengetahui dan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Dan ketika kita menjadikan urusan akhirat sebagai prioritas, maka kita pasti tidak akan mau jika seseorang mengungguli kita dalam ibadah atau ketaatan, sebagaimana kita lihat banyak dari manusia yang berusaha menjadi unggul dalam dunianya.
Kaidah keempat: Menghindari teman-teman yang sibuk dengan kesenangan dunia dan mencari teman yang memiliki tekad yang kuat untuk akhiratnya
Coba kita bayangkan ketika kita sedang berkumpul dengan teman-teman, kemudian masuk waktu salat dan kita terbiasa menunaikan salat tepat waktu. Tetapi, ketika melihat yang lain masih sibuk dengan obrolan dan canda tawa, apa yang akan kita lakukan? Mungkin sebagian orang akan merasa malu untuk izin pergi salat dan melanjutkan obrolan dan mungkin sebagian lain biasa saja dan mengajak yang lain untuk menunaikan salat. Tetapi, jika teman-teman itu adalah teman-teman yang tidak biasa menunaikan salat, mereka akan menolak bahkan akan mengejek tentang kebiasaan kita untuk salat tepat waktu. Circle seperti itu lebih banyak memberikan pengaruh negatif. Dan kita bisa saja mengikuti kebiasaan mereka.
Lantas, apakah kita bisa giat beribadah dengan lingkungan seperti itu? Jawabannya, tidak; atau kalau pun bisa, itu akan sulit dilakukan. Teman menjadi salah satu kunci dalam keistikamahan. Teman yang takut kepada Allah dan mengisi waktunya untuk ketaatan tentu akan memberi pengaruh baik kepada kita. Teman semacam ini tidak akan rida ketika kita terjebak dalam kefuturan, dan sebisa mungkin akan berusaha memberikan nasihat agar kita kembali kepada ketaatan. Allah Ta`ala berfirman,
وَاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ
“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali (bertobat) kepada-Ku.” (QS. Luqman: 15)
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Saudara-saudaraku (saudara/teman beriman) lebih aku cintai dari istriku dan anak-anakku, karena keluargaku mengingatkanku pada dunia dan saudara-saudaraku mengingatkanku pada akhirat.”
Baca juga: 5 Hal yang Dapat Dilakukan Wanita Haid untuk Memaksimalkan Ramadan
***
Penulis: Norma Melani Khaira
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Al-Qowaaid Al-Hisaan fii Asroori At-Thoo`ah wa Al-Isti`daad lii Romadhoon, karya Muhammad Ridho bin Ahmad Hamdi.


