Definisi puasa
Dalam bahasa Arab, puasa adalah الصَّوْم (ash-Shaum), yang artinya adalah الْإِمْسَاك (al-Imsak) (menahan diri dari sesuatu). Allah Ta’ala berfirman tentang perkataan Maryam,
إنِّيْ نّذَرْتُ لِلرَّحمَانِ صَوْمًا
“Sesungguhnya aku bernazar kepada Ar-Rahman, untuk shaum.” (QS. Maryam: 26)
Yang dimaksud shaum oleh Maryam di sini adalah menahan diri dari berbicara.
Dan secara syar’i, puasa artinya,
إِمْسَاكٌ مَخْصُوْصٌ مِنْ شَخْصٍ مَخْصُوْصٍ فِي وَقْتٍ مَخْصُوْصٍ بِشَرَائِطَ
“Menahan diri yang dikhususkan untuk orang tertentu di waktu yang khusus dengan syarat-syarat tertentu.”
Puasa benar-benar diwajibkan oleh Al-Qur’an dan as-Sunnah dan juga kesepakatan ulama. Allah Ta’ala berfirman,
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Oleh karena itu, siapa saja di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Di dalam hadis yang sahih, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
بُنِيَ اْلإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ
“Islam dibangun atas lima…” (HR. Bukhari no. 8, Muslim no. 114, dan Ahmad no. 6301)
Kemudian disebutkanlah puasa Ramadan, sehingga para ulama bersepakat (ijmak) atas kewajibannya.
Diwajibkannya puasa Ramadan
Syariat puasa Ramadan mulai diwajibkan di bulan Syakban tahun ke-2 Hijriah, yang ini dikhususkan bagi kita -kaum muslimin-, dan puasa ini termasuk yang wajib diketahui setiap muslim tanpa terkecuali (الْمَعْلُوْمُ مِنَ الدِّيْنِ بِالضَّرُوْرُة)
Puasa yang wajib hanya ada di bulan Ramadan, dan puasa ini termasuk rukun Islam yang lima. Siapa pun yang menolak dan membantah syariat ini, maka dia telah kafir.
Pada dasarnya, syariat puasa ini merupakan syariat dari umat-umat terdahulu, hanya saja umat Islam mempunyai kekhususan dan tata cara yang berbeda dengan umat-umat terdahulu. Dasar diwajibkannya puasa ini adalah firman Allah Ta’ala,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Baca Juga: Syarat Dan Rukun Puasa
Tahapan diwajibkannya puasa
Syariat puasa Ramadan diturunkan tidak langsung diwajibkan secara mutlak pada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan dengan beberapa tahapan.
Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam Zadul Ma’ad (2: 29-30) menjelaskan tentang kapan diwajibkannya puasa Ramadan, “Dahulu, puasa diwajibkan di tahun kedua Hijriah, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan beliau melakukan puasa Ramadan 9 kali semasa hidupnya. Awalnya, puasa diwajibkan disertai dengan opsi dengan berpuasa atau dengan memberikan makan setiap harinya satu orang miskin. Kemudian opsi tersebut diubah. Opsi memberikan makan kepada orang miskin hanya diperuntukkan untuk orang tua dan wanita hamil yang tidak mampu berpuasa. Orang tua dan wanita hamil boleh tidak berpuasa dan memberikan makan kepada satu orang miskin di tiap harinya. Diberikan keringanan juga untuk orang sakit dan musafir untuk tidak berpuasa dan meng-qadha-nya di waktu yang lain. Dan juga wanita hamil dan menyusui jika mereka khawatir terhadap dirinya sendiri. Jika mereka khawatir terhadap anaknya, maka mereka tambahkan qadha untuk puasa yang terlewat dan juga memberikan makan orang miskin di tiap harinya. Karena mereka tidak berpuasa bukan karena khawatir dirinya sakit, tapi mereka sehat, maka puasa yang terlewat ditambal dengan memberikan makan orang miskin sebagaimana mereka tidak berpuasa di awal-awal Islam.
Maka, pensyariatan puasa ada tiga tahapan:
Pertama: Wajib, namun dengan pilihan apakah berpuasa atau tidak berpuasa dan memberi makan orang miskin
Kedua: Pilihan tersebut dipersempit lagi (hanya untuk orang dengan kondisi tertentu, misalnya tua renta dan wanita hamil atau menyusui yang tidak mampu berpuasa). Akan tetapi, jika orang yang berpuasa tertidur sebelum waktu berbuka (sebelum terbenamnya matahari), maka haram baginya untuk makan dan minum sampai malam berikutnya. Ketentuan ini akhirnya dihapus pada tahapan ketiga.
Ketiga: Syariat diwajibkannya puasa tetap ada sampai hari kiamat.”
Awal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan berpuasa sebelum diwajibkannya puasa Ramadan, adalah puasa Asyura. Sebagaimana hadis dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan, “Hari Asyura adalah hari dimana orang Quraisy berpuasa di masa jahiliyah. Dan dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di hari itu. Kemudian, ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau berpuasa juga (di hari Asyura). Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan berpuasa di hari tersebut. Kemudian ketika masuk bulan Ramadan, maka orang berpuasa bagi yang ingin berpuasa; dan yang tidak ingin berpuasa, maka tidak berpuasa (namun membayar fidyah, pent.).” (HR. Bukhari no. 3831 dan Muslim no. 1125)
Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk berpuasa di hari Asyura dan memotivasi kami dalam hal tersebut, dan kami melakukannya. Kemudian ketika puasa Ramadan diwajibkan, beliau tidak memerintahkan kami lagi, dan juga tidak melarang kami. Akhirnya, tidak kami lakukan lagi. (HR. Muslim no. 1128)
Adapun puasa Ramadan diwajibkan di tahun kedua Hijriah. Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Karena menyapih jiwa dari kebiasaan dan syahwat adalah perkara yang paling sulit dan berat, maka kewajiban puasa ditangguhkan hingga pertengahan masa Islam setelah hijrah, ketika jiwa-jiwa telah mantap dengan tauhid dan salat, serta terbiasa dengan perintah-perintah Al-Qur’an. Maka manusia diperintahkan untuk berpuasa secara bertahap.” (Zadul Ma’ad 2: 29)
Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa pensyariatan wajibnya puasa Ramadan melalui tiga tahap, maka akan dijelaskan di sini.
[Bersambung]
***
Penulis: Triani Pradinaputri
Artikel Muslimah.or.id



