Baca artikel sebelumnya: 10 Kaidah dalam Beribadah (Bag. 1)
Syarat diterimanya suatu ibadah: Ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menetapkan dua syarat diterimanya suatu ibadah yang dikerjakan oleh seorang hamba, yaitu jika ibadah tersebut dilakukan ikhlas, tulus hanya mengharapkan wajah dan keridaan Allah serta sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika salah satu dari dua syarat ini tidak terpenuhi, maka ibadah tersebut tertolak di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Dua syarat inilah yang terkandung dalam kalimat syahadat,
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمد رسول الله
(Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah)
Kalimat la Ilaha illallah terkandung padanya tauhid al-mursil (pengesaan terhadap Yang Mengutus), yaitu kita beribadah hanya mengharapkan wajah Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Dan pada kalimat Muhammad Rasulullah, terkandung di dalamnya tauhid al-mursal (pengesaan terhadap yang diutus), maknanya kita tidak beribadah, kecuali sesuai dengan petunjuk dan tata cara yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَىَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوْ لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Dalam ayat yang lain, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وجهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 112)
Dua hal yang berlawanan dengan dua syarat diterimanya ibadah di atas adalah syirik dan bid’ah. Siapapun yang beribadah kepada Allah dan tidak mengikhlaskan ibadah tersebut hanya untuk Allah, maka ia telah terjatuh kepada kesyirikan. Dan barangsiapa yang beribadah kepada Allah, tidak dengan tata cara yang dicontohkan atau ditunjukkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah berbuat bid’ah.
Berkenaan dengan syirik, sahabat Abu Umamah al-Bahiliy radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadis dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
“Allah tidak menerima suatu amal kecuali yang ikhlas dan tidak mengharapkan kecuali wajah–Nya.” (HR. An-Nasa’i no. 3140)
Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala,
أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملاً أشرك فيه معي غيري تركته وشركه
“Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan, namun menyekutukan Aku di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya itu.” (HR. Muslim no. 2985)
Dan lawan dari mutaba’ah (mengikuti petunjuk Nabi) adalah bid’ah. Dan bid’ah dalam agama ini sangatlah dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu,
وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap bid’ah (perkara yang diada-adakan) adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)
Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
من عمل عملًا ليس عليه أمرِنا فهو رَدٌّ
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Maka, jika seseorang beribadah dengan ibadah yang tidak ada contoh dan petunjuknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ibadah tersebut akan tertolak meskipun niatnya baik. Perhatikan kisah yang diriwayatkan oleh sahabat al-Barra bin Azib berikut, “Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan suatu salat (salat Idul Adha), lalu beliau bersabda,
مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا فَلَا يَذْبَحْ حَتَّى يَنْصَرِفَ
“Barangsiapa yang mengerjakan salat seperti salat kami ini dan menghadap kiblat seperti cara kami menghadap kiblat kami, maka janganlah ia menyembelih (hewan kurban) sebelum selesai salat.”
Kemudian Abu Burdah bin Niyar bangun lalu berujar, ‘Ya Rasulullah, sayang sekali aku terlanjur mengerjakannya.’
Beliau bersabda,
هُوَ شَيْءٌ عَجَّلْتَهُ
“Itu adalah sesuatu yang kamu terburu-buru mengerjakannya.”
Abu Burdah berkata, ‘Namun aku masih mempunyai seekor lagi yang masih muda, dan ia lebih baik daripada yang terlalu tua. Apakah boleh aku menyembelihnya (sebagai kurban)?’ Beliau bersabda,
نَعَمْ ثُمَّ لَا تَجْزِي عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ
“Ya. Kemudian hal ini tidak boleh dilakukan oleh seorang pun sesudah dirimu.” (HR. Bukhari no. 5563)
Baca juga: Apa Itu Ibadah?
Pembagian ibadah berdasarkan tinjauannya
Jika ditinjau berdasarkan tempatnya, maka ibadah terbagi menjadi dua: ibadah dzahir dan ibadah batin. Dan hendaklah perhatian terhadap ibadah batin lebih besar dibandingkan ibadah dzahir.
Apabila ditinjau berdasarkan hukum, ibadah terbagi menjadi dua: Ibadah wajib dan mustahab (ibadah sunah/ yang dianjurkan). Ibadah wajib lebih dicintai oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dibandingkan selainnya. Dan ibadah mustahab adalah penyempurna bagi ibadah-ibadah wajib.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ اللهَ جلَّ وعلا يقولُ: مَن عادى لي وليًّا فقد آذاني وما تقرَّب إليَّ عبدي بشيءٍ أحَبَّ إليَّ ممَّا افترَضْتُ عليه وما يزالُ يتقرَّبُ إليَّ بالنَّوافلِ حتَّى أُحِبَّه فإذا أحبَبْتُه كُنْتُ سمعَه الَّذي يسمَعُ به وبصرَه الَّذي يُبصِرُ به ويدَه الَّتي يبطِشُ بها ورِجْلَه الَّتي يمشي بها فإنْ سأَلني عبدي أعطَيْتُه وإنِ استعاذني أعَذْتُه وما تردَدْتُ عن شيءٍ أنا فاعلُه ترَدُّدي عن نفسِ المؤمنِ يكرَهُ الموتَ وأكرَهُ مَساءَتَه
“Sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam hadis Qudsi: Barangsiapa yang memusuhi wali–Ku, maka dia telah mengumumkan perang terhadap–Ku. Sesungguhnya seorang hamba tidaklah mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu pun yang lebih aku cintai dibandingkan perkara yang Aku wajibkan untuknya. Dan tidaklah hamba–Ku mendekatkan dirinya kepada–Ku dengan ibadah sunah, sampai Aku mencintainya. Dan apabila Aku mencintainya, maka Aku mengawasi pendengarannya, yang ia mendengar dengannya. Dan Aku mengawasi penglihatannya, yang ia melihat dengannya. Dan Aku mengawasi kakinya, yang ia melangkah dengannya. Apabila ia memohon kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan permintaannya. Dan apabila ia memohon perlindungan dari–Ku, maka akan Aku berikan perlindungan kepadanya. Tidaklah Aku ragu terhadap suatu perkara yang Aku lakukan, sebagaimana keraguan–Ku untuk mencabut jiwa orang yang beriman, yang ia membenci kematian (yang buruk) dan Aku benci untuk memberikan keburukan kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban no. 347)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن أولَ ما يُحَاسَبُ به العبدُ يومَ القيامةِ الصلاةُ المكتوبةُ فإن أَتَمَّها وإلا قيل انظُروا هل له من تَطَوُّعٍ فإن كان له تَطَوُّعٌ أُكْمِلَتِ الفريضةُ من تَطَوُّعِهِ ثم يُفْعَلُ بسائرِ الأعمالِ المفروضةِ مِثْلُ ذلك
“Sesungguhnya perkara pertama yang dihisab terhadap seorang hamba pada hari kiamat adalah salat wajib. Apabila ia menyempurnakannya, maka ia selamat. Dan jika tidak sempurna, maka dikatakan, ‘Lihatlah, apakah ia memiliki ibadah sunah.’ Kemudian begitulah berlaku pada setiap amal ibadah.” (HR. Asy-Syaukani, 1: 374)
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
- Kajian 10 Kaidah Penting Dalam Ibadah, Syekh Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindi dan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
- ‘Asyr Qawa’id fil ‘Ibadah, Syekh Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindi.
- Shahih al–Bukhari (Terjemahan), Pustaka As-Sunnah Jakarta, Cetakan Pertama, April 2010.
- Tafsir Ibnu Katsir (Terjemahan), Pustaka Ibnu Katsir Jakarta, Cetakan Kedelapan, Rabi’ul Awal 1435/ Januari 2014.
- Tafsir Juz ‘Amma (Terjemahan), Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Darul Falah Jakarta, Cetakan Pertama, 2007.




