Ibadah merupakan tujuan dari penciptaan makhluk
Allah Tabaraka wa Ta’ala tidaklah menciptakan setiap makhluk kecuali dengan tujuan yang haq, yaitu supaya mereka beribadah kepada Allah semata.
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman di dalam Al-Quran,
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Jika setiap insan memahami dengan benar hakikat dari penciptaan dirinya, ia akan senantiasa memenuhi waktu-waktunya dengan beribadah kepada Alla Ta’ala. Dan ibadah, tidaklah hanya mencakup amal-amal akhirat seperti mendirikan salat, berpuasa, membaca Al-Quran, dan sebagainya. Definisi dari ibadah adalah lebih luas dari itu. Perkara-perkara duniawi seperti bekerja, beristirahat, makan, dan minum bahkan berolahraga, juga terhitung sebagai ibadah di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala apabila diniatkan untuk membantu mengerjakan ketaatan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Hendaklah setiap muslim menghiasi setiap waktu yang ia lewati dengan ibadah-ibadah yang mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran,
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ * وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب
“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah: 7-8)
Syekh ‘Utsaimin rahimahullah berkata di dalam kitab tafsir beliau, “Jika Anda telah usai dari pekerjaan-pekerjaan Anda, maka sibukkan diri dengan pekerjaan lain. Atau, bersusah payahlah untuk mengerjakan pekerjaan yang lain. Jangan jadikan dunia ini kehilangan Anda. Oleh sebab itu, kehidupan manusia yang berakal adalah kehidupan yang sarat dengan kesungguhan. Setiap kali usai melakukan suatu pekerjaan, ia segera mulai pekerjaan yang lain, dan demikian seterusnya. Karena masa ini akan terus meninggalkan manusia dalam keadaan ia terjaga atau sedang tidur, ketika ia sibuk atau sedang kosong, terus saja berjalan, dan tak seorang pun bisa menahan masa itu. Jika semua manusia bergabung untuk menghentikan matahari hingga siang menjadi lebih panjang, mereka sama sekali tidak akan mampu melakukannya. Tak seorang pun mampu menahan laju masa. Jadi, jadikanlah kehidupan Anda kehidupan dengan penuh kesungguhan.” (Tafsir Juz ‘Amma Syekh ‘Utsaimin, hal. 366)
Salah satu sebab untuk meraih kesungguhan dalam hal ini adalah dengan mengingat kematian. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اذكرِ الموتَ في صلاتِك، فإنَّ الرجلَ إذا ذكر الموتَ في صلاتِه لحريٌّ أن يُحسنَ صلاتَه، وصَلِّ صلاةَ رجلٍ لا يظنُّ أن يُصلِّيَ صلاةً غيرَها، و إياك و كلُّ أمرٍ يُعتذرُ منه
“Ingatlah kematian dalam salatmu, karena apabila seseorang mengingat kematian dalam salatnya, niscaya akan membantunya memperbaiki tata cara salat. Dan salatlah seperti salat seseorang yang merasa tidak bisa melakukan salat selain salat tersebut. Dan hendaklah kamu hati-hati dari setiap perkara yang seseorang selalu meminta ampunan dari perkara tersebut.” (Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no. 2839, karya Al-Albani)
Baca juga: Beramal Ibadah Demi Kebahagiaan Dunia, Berpahalakah?
Ibadah menguntungkan sang hamba, bukan Pencipta
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk beribadah, maka tidaklah manfaat ibadah tersebut kembali untuk-Nya, akan tetapi Allah Maha Kaya dari para hamba dan ibadah mereka.
Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya ‘Azza wa Jalla, bahwa Dia berfirman,
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا زَادَ ذَلِكَ في مُلْكِي شَيْئًا. يَا عِبَادِيْ لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِيْ شَيْئًا
“Wahai hamba-hamba-Ku! Seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin dari kalian, semua seperti hati salah seorang dari kalian yang paling bertakwa, maka semuanya itu tidak akan menambah sedikit pun dari kerajaan-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku! Seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin dari kalian, semua seperti hati salah seorang dari kalian yang paling jahat, maka semuanya itu tidak akan mengurangi sedikit pun dari kerajaan-Ku.” (HR. Muslim no. 2577)
Sesungguhnya manfaat dari ibadah hanyalah kembali kepada diri para hamba itu sendiri. Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran,
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ * مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-57)
Ibadah itu manfaatnya adalah untukmu, wahai hamba Allah. Para ulama berkata,
النَّاسُ كُلُّهُمْ يُرِيدُونَ خَيْرَكَ لِأَنْفُسِهِمْ، إِلَّا اللهَ يُرِيدُ خَيْرَكَ لِنَفْسِكَ
“Setiap orang menginginkan kebaikanmu untuknya, kecuali Allah yang hanya menginginkan kebaikanmu untuk dirimu sendiri.”
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 2 LANJUT KE BAGIAN 3
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
- Kajian 10 Kaidah Penting Dalam Ibadah, Syekh Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindi dan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
- ‘Asyr Qawa’id fil ‘Ibadah, Syekh Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindi.
- Shahih Al-Bukhari (Terjemahan), Pustaka As-Sunnah Jakarta, Cetakan Pertama, April 2010.
- Tafsir Ibnu Katsir (Terjemahan), Pustaka Ibnu Katsir Jakarta, Cetakan Kedelapan, Rabi’ul Awal 1435/ Januari 2014.
- Tafsir Juz ‘Amma (Terjemahan), Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Daul Falah Jakarta, Cetakan Pertama, 2007.




