Pembahasan tentang ibadah merupakan suatu pembahasan yang penting dan sangat urgent. Karena tidaklah manusia diciptakan oleh Allah Ta’ala kecuali untuk beribadah kepada-Nya semata. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di dalam Al-Qur’an,
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Maka, makna hidup yang sesungguhnya adalah dengan mengabdikan diri menjadi hamba Allah. Jika tidak, raga menjadi kosong dan hampa. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَجِيبُوا۟ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfal: 24)
Berkaitan dengan ibadah, terdapat sepuluh kaidah penting yang hendaknya dipelajari dan dipahami oleh setiap muslim. Sepuluh kaidah tersebut ialah:
Ibadah merupakan suatu perkara yang dicintai oleh Allah dan diperintahkan oleh-Nya, baik perintah tersebut besifat wajib maupun mustahab (sunah)
Poin pertama ini dapat diketahui melalui petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti perintah-perintah yang tercantum di dalam Al-Qur’an ataupun melalui praktek keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (sunah-sunah beliau). Dan setiap ibadah yang tercantum di dalam Al-Qur’an maupun sunah, dapat terbagi menjadi ibadah yang wajib untuk dikerjakan ataupun mustahab (tidak sampai derajat wajib).
Hal ini sangat penting untuk dipahami dengan baik, supaya tidak mudah terjerumus pada perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama. Sesuatu yang disangka sebagai ibadah, padahal sejatinya ia adalah sesuatu yang baru, yang diada-adakan (bid’ah).
Ibadah tidak terealisasi tanpa rasa cinta yang mendalam dan ketundukan yang sempurna
Tidaklah seseorang dikatakan sebagai ‘Abid (hamba), tanpa dua perkara yang telah disebutkan di atas. Yaitu, kecintaan yang mendalam terhadap Allah Rabbul ‘alamin, juga ketundukan serta penghinaan diri yang sempurna di hadapan-Nya. Sebab, ibadah secara bahasa berarti الذل dan اللين yang berarti perendahan dan penghinaan. Ibadah juga disebut طريق معبد yang bermakna jalan yang ditundukkan, maksudnya jalan yang telah biasa dilewati, baik dengan berjalan kaki maupun menggunakan tunggangan / alat transportasi.
Rasa cinta kepada Allah melazimkan kesempurnaan ketaatan kepada-Nya. Tergeraknya anggota badan untuk senantiasa menegakkan ibadah kepada Allah, disebabkan hati yang dipenuhi dengan rasa cinta yang mendalam terhadap Allah Tabaraka wa ta’ala.
Barang siapa yang mencintai sesuatu selain Allah, hingga melalaikannya dari ketaatan kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah terjatuh ke dalam kesyirikan. Hal ini sebagaimana celaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang tersibukkan dengan harta dan perdagangannya hingga melalaikannya dari ketaatan kepada Allah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تعس عبد الدينار والدرهم والقطيفة والخميصة، إنْ أُعطِي رضي، وإن لم يُعطَ لم يرضَ
“Binasalah penyembah dinar, dirham, qathifah (kain lembut tebal), dan khamisah (pakaian mahal). Jika ia diberi, ia rida; dan jika tidak diberi, ia tidak rida.” (HR. Bukhari no. 6435)
[Bersambung]
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
- Kajian 10 Kaidah Penting Dalam Ibadah, Syekh Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindi dan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
- ‘Asyr Qawa’id Fil ‘Ibadah, Syekh Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindi.
- Shahih Al-Bukhari (Terjemahan), Pustaka As-Sunnah Jakarta, Cetakan Pertama, April 2010.
- Tafsir Ibnu Katsir (Terjemahan), Pustaka Ibnu Katsir Jakarta, Cetakan Kedelapan, Rabi’ul Awal 1435/ Januari 2014.
- Tafsir Juz ‘Amma (Terjemahan), Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Darul Falah Jakarta, Cetakan Pertama, 2007.


