Sayangkah Orangtuamu Padamu?

Wahai Saudari muslimah, pernahkah lisan kita sibuk mengatakan –tanpa bosan, kata ‘terimakasih’ kepada kedua orangtua kita yang sudah mulai menua di depan kedua mata kita?

1697 0

Manusia Paling Berjasa

Jika ditanyakan kepada diri kita, siapa manusia yang paling berjasa dalam hidup ini? Tentu saja Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah orang yang paling menginginkan kebaikan akhirat bagi setiap umatnya. Adapun manusia yang paling menginginkan kebaikan dunia bagi kita, mereka adalah orangtua kita. Kebaikan yang mereka lakukan untuk kita senantiasa ada sejak kita belum lahir hingga mereka sudah tidak sanggup lagi melakukannya. Kebaikan semacam ini tidak ada manusia lain yang dapat melakukannya sebagaimana orangtua kita lakukan. Inilah salah satu rahmat Allah Ta’ala pada kita yang seringkali kita lupa syukuri setiap harinya.

Wahai Saudari muslimah, pernahkah lisan kita sibuk mengatakan –tanpa bosan, kata ‘terimakasih’ kepada kedua orangtua kita yang sudah mulai menua di depan kedua mata kita? Atas jasa, harta, dan kasih sayang yang mereka berikan tanpa kecuali kepada kita sepanjang hidupnya?.. Wahai saudariku yang dirahmati Allah,

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَشْكُرُ الله مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Sedangkan kita di awal telah sepakat orang yang paling pantas kita syukuri karena keberadaanya di sisi kita setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah orang tua kita. Maka sudahkah kita mengamalkan hadits di atas dengan berterimakasih kepada orang tua kita hari ini?

Kasih Sayang yang Beraneka

Di antara kita banyak yang tidak mau bersyukur dengan nikmat orang tua yang masih hidup dan sehat di sisi kita, menopang segala bentuk kebutuhan kita dan menjadi pendukung kita nomor satu untuk mendapatkan segala macam kebaikan.

Bentuk-bentuk rasa kurang bersyukur itu tanpa kita sadari muncul dalam anggapan bahwa orangtua kita tidak menyayangi kita, merasa kita diabaikan orang tua, merasa mereka sudah tidak peduli lagi kepada kita. Padahal kasih sayang mereka tidak dapat didefinisikan dalam satu bentuk yang general.. seperti dalam drama-drama yang mempersempit persepsi kita tentang kasih sayang orang tua.

Setiap manusia itu memiliki sifat yang berbeda-beda dan dapat berubah-ubah sebagaimana sifat dalam hatinya. Maka bentuk kasih sayang orang tua kita akan sangat spesifik dan unik dibandingkan milik orang tua lainnya. Kita kadang akan sulit memahaminya dan menemukannya, tapi yang paling jelas wahai saudariku, mereka senantiasa menghendaki kebaikan untuk kita. Meskipun definisi kebaikan kita dan mereka tidak selalu sama.

Maka apabila hidayah taufik Allah telah benar menghujam dalam hatimu dan kau mampu merasakannya bergeliat disana, bersabarlah dalam berbakti kepada kedua orang tua kita. Bersabarlah dalam melaksanakan keinginan mereka meski itu menyelesihi keinginan hati dan badan kita. Apabila hal yang mereka inginkan telah memasuki bab kemaksiatan pada-Nya maka ingatkan mereka dengan lembut dan akhlak yang mulia. Sesungguhnya jika akhlak yang mulia itu bisa kita berikan kepada manusia, maka yang paling berhak mendapatkannya adalah orang tua kita.

Mungkin kasih sayang mereka tidak terdengar dari ucapan ‘Ibu menyayangimu nak..’ atau dari tindakan seperti pelukan dari ayahmu sepulang sekolah. Akan tetapi kesamaran zhahir kasih sayang tersebut tak akan menghapus kenyataan bahwa mereka orang paling berjasa dalam kehidupan kita. Tidak akan bisa mengurangi fakta bahwa diantara mereka ada orang yang melahirkan kita ke dunia dengan susah payah, sakit yang luar biasa dan resiko maut yang membayang-bayangi.

Mereka tetaplah penjaga langkah kaki kecil kita hingga tumbuh dewasa, yang menjamin makan dan minum kita agar kita tumbuh besar. Akankah mahluk yang mereka besarkan dengan susah payah ini harus menjadi orang yang tidak tahu terimakasih alih-alih menjadi mahluk pengeluh yang hanya bisa menyakiti hati mereka dengan klaim kita bahwa mereka bukan orang tua yang baik dan tidak bisa memberikan bentuk kasih sayang yang kita syaratkan? Na’udzubillaah min dzaalika..

Berbakti kepada Orang tua dan Berbakti kepada Allah

Berbakti kepada orang tua dan berbakti kepada Allah bukan hal yang berseberangan. Apabila mereka meminta sesuatu pada kita, maka penunaiannya akan menjadi bentuk pelaksanaan syariat Allah, birrul walidain. Adapun jika permintaan tersebut masuk golongan maksiat pada Allah, maka ini adalah ujian yang Allah berikan, yang apabila kita bisa mengambil langkah bijak dan santun dalam memahamkan dan menuntun mereka pada kebenaran, maka hal ini akan menjadi bentuk pelaksanaan syariat Allah, yaitu berdakwah secara hikmah. Perlu kau tahu diantara orang yang paling berhak atas dakwah mu yang hikmah adalah orang tuamu sendiri sebelum orang lain. Tidakkah kau berterimakasih dengan jasa mereka?

Kumpulkanlah alasan, niat, dan motivasi birrul walidain untuk menyempurnakan semangatmu dalam kuliah sebaik mungkin, agar bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain di bidang kuliahmu, sebagaimana bentuk pengamalan syariat,

Dari Jabir radhiyallau ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (Hadits dihasankan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3289).

Gunakan birrul walidain sebagai pembakar motivasi menghapal Al-Qur’an agar bisa dikumpulkan di surga bersama para hafidz Al-Qur’an dalam pengamalan hadits berikut,

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhuRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Siapa yang tak suka jika pada dirinya terdapat sifat sebaik-baiknya manusia dan sekaligus memberikan syafa’at bagi kedua orang tuamu kelak di akhirat?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُورٍ ضَوْؤُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ وَيُكْسَى وَالِدَيْهِ حُلَّتَانِ لاَتُقَوَّمُ بِهِمَا الدُّنْيَا فَيَقُولَانِ: بِمَا كُسِيْنَا هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ

Barangsiapa yang membaca Al-Qur`an, mempelajarinya dan mengamalkannya kelak pada hari kiamat dikenakan mahkota dari cahaya yang sinar kemilaunya seperti cahaya matahari. Dan bagi kedua orang tuanya masing-masing dikenakan untuknya dua pakaian kebesaran yang tak bisa dinilai dengan dunia. Maka kedua orangtuanya bertanya: ‘ karena apa kami diberi pakaian (kemuliaan) seperti ini?’ Maka dijawab: ‘Karena anak kalian berdua belajar dan menghapal Al-Qur`an’.” (HR. Hakim dalam Mustadrak, 1/568. Dihasankan al-Albany rahimahullah Lihat Ash-Shahihah no. 2914)

Pada akhirnya semua bentuk birrul walidainmu akan kembali kepadamu dalam bentuk pahala yang nilai tukarnya sangat besar di akhirat kelak. Tak pernah ada yang salah dari berbuat baik kepada kedua orangtua bagaimanapun sikap dan sifat mereka, selama mereka masih Islam dan tidak mendurhakai Allah Subhanahu wa ta’ala.

Letak mereka adalah di tempat paling tinggi dan paling utama prioritasnya dalam keberhakan akan akhlak baik kita, kesantunan kita dalam berdakwah, kasih sayang kita dalam berukhuwah.. Maka jangan salah menempatkan mereka sebagai manusia yang paling bisa kau abaikan dari sikap hormatmu. Jangan salah tempatkan mereka sebagai objek kekesalanmu setiap kali kau kecewa dengan sesuatu. Jangan salah tempatkan mereka sebagai yang melulu harus menjadi pelayan kebutuhanmu padahal kau lebih mampu atas peran itu untuk mereka..

Jangan salahkan mereka jika belum bisa menjadi orangtua ideal untukmu, selama kau belum bisa menjadi anak ideal untuk mereka. Dan perlu kau tahu se-ideal apapun seorang anak berusaha dalam berbakti dan memberikan manfaat untuk orangtuanya, itu tidak pernah bisa mengalahkan manfaat yang orangtua berikan pada anak-anak mereka.

Semoga Allah senantiasa memberi kita Taufik-Nya..

————————————-

Referensi:

Penulis: Lungit F. Fauzia

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel www.muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?