Benarkah Allah Belum Menakdirkannya untuk Bertaubat?

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang kami ajak untuk bertaubat kepada Allah kemudian dia berkata, ‘Sesungguhnya Allah belum menakdirkan aku untuk bertaubat.’ Ada …

2715 0

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya:

Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang kami ajak untuk bertaubat kepada Allah kemudian dia berkata, ‘Sesungguhnya Allah belum menakdirkan aku untuk bertaubat.’

Ada juga orang lain yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki.’?

Jawaban beliau:

Orang pertama berkata, “Sesungguhnya Allah belum menakdirkan aku untuk bertaubat.”

Dengan sangat mudah kita menjawabnya, “Apakah engkau telah melihat ilmu gaib atau engkau telah mengambil perjanjian dari Allah?”

Jika dia berkata, “Ya,” maka kita katakan, “Kamu telah kafir karena kamu telah mengaku mengetahui ilmu gaib!”

Jika dia berkata, “Tidak,” maka kita katakan, “Kamu kalah! Kamu tidak mengetahui bahwa Allah belum menakdirkan hidayah untukmu maka raihlah hidayah. Sesungguhnya Allah tidak menghalangimu dari hidayah. Bahkan Dia memanggilmu menuju hidayah dan memberimu arahan untuk meraihnya. Dia memperingatkanmu agar menjauhi kesesatan dan melarangmu mengikutinya. Allah tidak berkehendak membiarkan hamba-hamba-Nya berada di dalam kesesatan selama-lamanya.

يُرِيدُ اللّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Allah hendak menerangkan (hukum syariat-Nya) kepadamu, dan menunjukimu jalan-jalan orang yang sebelummu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.’ (QS. An-Nisa’:26)

Oleh sebab itu, bertaubatlah kepada Allah! Sungguh Allah lebih senang dengan taubat-taubatmu daripada seorang lelaki yang kehilangan kendaraannya yang membawa perbekalannya sehingga dia berputus asa karenanya. Kemudian dia tidur di bawah sebatang pohon menuggu kematian. Lalu dia terbangun; ternyata tali kekang untanya terikat di pohon. Selanjutnya dia meraihnya dan berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Dia melakukan kesalahan saking gembira meluap-luap. Dia sebenarnya hendak berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku dan aku adalah hamba-Mu.’”

Adapun orang kedua berkata, “Sesungguhnya Allah memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki.”

(Kita tanggapi dia), “Jika Allah memberi hidayah kepada siapa saja maka ini adalah hujjah untuk membantahmu. Bertaubatlah agar engkau termasuk orang-orang yang dikehendaki Allah mendapat hidayah.”

Hakikatnya, sanggahan orang kedua tadi muncul dari pelaku maksiat untuk mengelak dari hujjah, namun hal ini tidak akan menolongnya di sisi Allah. Allah berfirman,

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ لَوْ شَاء اللّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلاَ آبَاؤُنَا وَلاَ حَرَّمْنَا مِن شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم حَتَّى ذَاقُواْ بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِندَكُم مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِن تَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ أَنتُمْ إَلاَّ تَخْرُصُونَ

Orang-orang yang mempersekutukan Allah akan mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu apa pun.’ Demikian pula orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, ‘Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?’ Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.’” (QS. Al-An`am:148)

(*) Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin, 1:54.

Disalin dari Wasiat Ringkas Bagi Pemuda: Solusi Problematika Muda-Mudi, hlm. 163–166, Penerbit At-Tibyan.

Disertai penyuntingan bahasa oleh Redaksi Muslimah.Or.Id

Artikel Muslimah.Or.Id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

Shares