fbpx
Donasi Web Donasi Web

Bergaul, Mewarnai atau Terwarnai? Bag. 1

Bergaul, Mewarnai atau Terwarnai? Bag. 1

Bismillahirrahmanirrahim.

Islam adalah agama yang penuh kasih sayang lagi sempurna syariatnya. Semua hal yang kita butuhkan telah diatur dalam agama ini, termasuk batasan dalam pergaulan, juga dalam menetapi jalan kebenaran bersama orang-orang yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119).

Ayat ini adalah salah satu dalil kewajiban untuk hijrah dari keburukan menuju keadaan yang lebih baik. Dan salah satu caranya adalah senantiasa bergaul bersama orang yang beriman, benar, jujur, lagi baik agamanya. Oleh karena itu, jika saat ini berada di lingkungan yang tidak baik, mendatangkan banyak keburukan kepada dunia maupun agama, hendaknya berhijrah atau mencari lingkungan yang lebih baik agar agama kita selamat.

Batasan Bergaul dengan Teman Lama

Saudariku, Allah telah memberikan taufik kepada kita untuk berhijrah dan memulai hidup baru sebagai muslimah yang mencintai ilmu agama dan berusaha mengamalkannya. Langkah selanjutnya adalah membatasi pergaulan dan pandai memilih teman dekat. Saudariku, dalam bergaul seorang muslim seharusnya berbuat baik dan bersabar atas gangguan orang lain yang menimpa kepada kita. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المؤمنُ الذي يخالطُ الناسَ ويَصبرُ على أذاهم خيرٌ منَ الذي لا يُخالطُ الناسَ ولا يصبرُ على أذاهمْ

Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR.Bukhari dalam Adabul Mufrad no.388).

Namun, dalam bergaul ada batasannya, tidak boleh asal bergaul. Pertemanan itu ada dua jenis, pertama adalah teman dekat atau sahabat. Wajib bagi kita mencari atau bersahabat dengan mereka yang mengenal Allah dan takut kepada Allah, semangat menuntut ilmu agama, dan juga bersemangat beramal saleh. Teman jenis kedua adalah teman biasa, dalam hal ini boleh dari berbagai kalangan, bahkan berteman biasa dengan orang yang jauh dari agama atau non-Muslim pun hukum asalnya dibolehkan.

Batasan-batasan bergaul dengan teman lama, di antaranya:

1. Membatasi komunikasi dan pergaulan, tetapi bukan memutuskan hubungan sepenuhnya.

2. Tetap menjaga hubungan baik. Baik di dunia nyata maupun dunia maya. Namun, jika mendatangkan keburukan, semisal di dunia maya banyak menyebarkan kebatilan atau kemaksiatan boleh kita unfollow ataupun menyembunyikan akun mereka.

3. Berhubungan sekadarnya saja. Tidak berlama-lama membersamai, sekadar menyapa, menebar senyum dan senantiasa berakhlak baik kepada mereka.

Jika ditanya, mengapa harus membatasi pergaulan dengan teman lama? Jawabannya ialah, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Seseorang itu sesuai dengan keadaan agama khalil (teman dekat) nya. Maka hendaknya ia memperhatikan siapa teman dekatnya” (HR. Abu Daud no. 4833, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami no.3545).

Karakter jiwa itu akan mencocoki di mana ia bertempat dan jiwa manusia itu lemah. Sehingga, saat permulaan kita berhijrah masih mudah terwarnai oleh keburukan tatkala bersama teman-teman yang buruk. Oleh karena itu, kita harus membatasi pergaulan dengan teman lama, terlebih jika teman lama itu buruk agamanya. Lekas kita mencari teman yang baik. Teman yang mampu mengajak kita kepada Allah dan berteman atas dasar cinta karena Allah.

Tips Agar Tidak Terlihat “Eksklusif” Setelah Hijrah

Saudariku, terkadang setelah berhijrah kita terluput pada beberapa hal yang membuatnya menjadi terlihat “eksklusif”. Berubah menjadi orang yang dingin dan cenderung dianggap buruk dalam pergaulan. Mengapa bisa terjadi? Karena bisa jadi kita salah mengambil langkah berhijrah.

Seharusnya setelah belajar agama menjadikan kita muslimah yang hatinya lebih lapang, tutur katanya lembut, wajahnya lebih ceria, dan selalu menebar kebaikan. Bukan sebaliknya, tidak mau berteman dengan mereka yang belum hijrah dan terlalu menutup diri.

Diantara tips agar tidak terlihat “eksklusif”:

1. Mengkomunikasikan dengan baik. Sampaikan bahwa kita hendak belajar agama Islam lebih dalam, ingin menjadi muslimah yang baik, bersungguh-sungguh belajar dan mengamalkan ajaran agama Islam. Tak lupa sampaikan dengan bahasa yang baik dan tutur kata yang lembut.

2. Jika penampilan kita dirasa ada perubahan, semisal jilbab menjadi lebih lebar, pakaian mengenakan gamis, mengenakan kaus kaki, dan lainnya, bisa dikomunikasikan pula alasannya. Sampaikan bahwa kita ingin menutup aurat dengan baik. Ketika kita telah berpakaian lebih panjang dan longgar, jangan lupa jaga tutur kata menjadi lebih lembut dan wajah yang lebih bersinar memancarkan senyum pada saudari kita.

3. Senantiasa ikuti hijrah kita dengan adab dan akhlak yang semakin baik. Ilmu tanpa adab itu sia-sia. Dalam berhijrah hanya penampilan saja tanpa dibarengi pergaulan yang semakin baik maka itu akan menjadi percuma.

4. Senantiasa membersihkan hati dari noda-noda kemaksiatan dan dosa. Melatih hati agar memahami bahwa kita belajar agama, menjadi muslimah yang menutup aurat dengan baik, mengamalkan agama Islam semaksimal mungkin adalah kewajiban sebagai seorang hamba, bukan agar terlihat eksklusif.

Bersambung, insyaallah

Penulis: Ratna A Arilia Y, Amd

Artikel Muslimah.or.id

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

🔍 Manhaj Adalah, Hukum Berdandan Dalam Islam, Ilmu Itu Cahaya, Nasehat Istri Kepada Suami, Baju Muslim Bercadar, Harga Mahar Seperangkat Alat Sholat, Obat Gatal Di Telapak Tangan, Doa Jimak Istri, Cara Mensucikan Diri Setelah Haid, Dalil Puasa Sya Ban

Donasi masjid al ashri pogung rejo

Donasi Masjid Pogung Dalangan

 

Profil penulis

Leave a Reply