Perempuan Bekerja Boleh Saja, Asal…

Persoalan wanita bekerja di luar rumah atau yang populer disebut wanita karir memang masih ramai dibicarakan. Ada yang menerima dan ada yang menolak. Bagaimana Islam memandang hal ini?

10450 17

Hukum Istri Bekerja Hukum Istri Meninggalkan Suami Untuk Bekerja Istri Bekerja Menurut Islam Hukum Istri Bekerja Menurut Islam Hukum Wanita Bekerja

Di zaman sekarang ini, semakin banyak wanita keluar dari rumahnya untuk bekerja. Sebagian besar dari mereka bekerja dengan dalih menambah penghasilan karena uang bulanan yang diberikan oleh suaminya tidak mencukupi. Persoalan wanita bekerja di luar rumah atau yang populer disebut wanita karir memang masih ramai dibicarakan. Ada yang menerima dan ada yang menolak. Bagaimana Islam memandang hal ini?

Islam yang Universal

Islam mengatur semua hal, bahkan hal kecil sekalipun, apalagi soal harkat dan martabat wanita. Dalam Islam, wanita sangat dimuliakan. Sebelum datangnya Islam, wanita diperlakukan semena-mena. Pada masa jahiliyah, bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena diapandang bahwa wanita hanya akan menyusahkan.

(وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُٮِٕلَتۡ (٨)بِأَىِّ ذَنۢبٍ۬ قُتِلَتۡ (٩

Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” [Q.s At-Takwir: 8-9]

Dalam masyarakat Yunani, wanita dipandang sebagai barang yang dapat diperjual- belikan. Dalam masyarakat Hindu, bahkan wanita disamakan dengan makhluk jelata yang setingkat dengan kasta hewan. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Islam Memuliakan Wanita

Kemudian Islam datang untuk menempatkan kedudukan wanita pada posisi yang layak, memberikan hak-haknya dengan sempurna tanpa dikurangi sedikitpun. Islam memuliakan kedudukan kaum wanita, baik sebagai ibu, sebagai anak atau saudara perempuan, juga sebagai istri. Pada poin yang terakhir ini, yaitu sebagai istri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan seorang suami untuk menafkahi istrinya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, baik dari segi makanan, pakaian, dan sebagainya. Seorang istri berhak mendapatkan apa-apa yang ia butuhkan dengan cara meminta kepada suaminya dengan cara yang ma’ruf.

Dari ‘Aisyah  radhiyallahu ‘anha, dia menuturkan bahwa Hindun binti ‘Utbah berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang suami yang pelit. Ia tidak memberikan nafkah yang cukup untukku dan anakku, kecuali apa-apa yang aku ambil darinya dengan sembunyi-sembunyi“ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ambillah  harta yang mencukupi dirimu dan anakmu dengan cara yang ma’ruf (baik)” (HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5324), Kitab “an-Nafaqaat”, Bab “Idzaa lam Yunfiqir Rajulu”; Muslim dalam Shahih-nya (no. 1714), Kitab “al-Aqdhiyah”, Bab “Qadhiyah Hind”, dari ‘Aisyah)

Sanggahan Bagi Kaum Feminis

Sayangnya, hak wanita di zaman sekarang ini seringkali “dipaksakan” oleh sebagian kalangan. Beberapa di antaranya yang menamakan diri mereka sebagai feminis (yang katanya memperjuangkan hak wanita), mereka berpendapat bahwa wanita harus sejajar dengan laki-laki, wanita tidak boleh dikekang, dan sebagainya. Padahal hal-hal tersebut malah membuat wanita kehilangan kemuliaannya.

Wanita berbeda dengan laki-laki dalam hal-hal tertentu, sehingga tidak akan bisa seorang wanita bertindak seperti laki-laki, bebas keluar rumah dan eksis di ranah publik. Sebagai contoh perbedaan laki-laki dan wanita (yang akan berpengaruh dalam pekerjaan yang boleh untuk wanita dan yang tidak) adalah perbedaan fisik. Ini yang pertama. Laki-laki mempunyai fisik yang lebih kuat sehingga mampu menerima tantangan yang keras untuk bekerja di luar rumah, sedangkan wanita dengan kelemah lembutannya diciptakan untuk tetap berada di rumah, mengurusi rumah dan anak-anak mereka. Kedua, perbedaan hormon. Ketiga, perbedaan kondisi fisik dan psikis, di antaranya keadaan wanita yang mudah tersinggung, temperamental, apalagi ketika masa haidh. Keempat, perbedaan susunan otak pria dan wanita. Otak laki-laki jauh lebih unggul daripada otak wanita, sehingga lebih cocok bila laki-laki lebih banyak berada di ranah publik.

Namun, Islam agama yang sempurna tidaklah mengungkung para wanita dan sama sekali tidak membolehkannya keluar rumah. Adakalanya wanita dibutuhkan kehadirannya di luar. Atau mungkin mereka membutuhkan sesuatu yang harus didapat dengan cara keluar dari rumahnya.

Bagaimana Aturan Islam Bila Wanita Harus Keluar Rumah?

Jika wanita mesti keluar rumah untuk bekerja, maka hal-hal berikut yang mesti diperhatikan:

  • Mendapatkan izin dari walinya
    Wali adalah kerabat seorang wanita yang mencakup sisi nasabiyah (garis keturunan, seperti dalam An Nuur:31), sisi sababiyah (tali pernikahan, yaitu suami), sisi ulul arham (kerabat jauh, yaitu saudara laki-laki seibu dan paman kandung dari pihak ibu serta keturunan laki-laki dari keduanya), dan sisi pemimpin (yaitu hakim dalam pernikahan atau yang mempunyai wewenang seperti hakim). Jika wanita tersebut sudah menikah, maka harus mendapat izin dari suaminya.
  • Berpakaian secara syar’i
    Syarat pakaian syar’i yaitu menutup seluruh tubuh selain bagian yang dikecualikan (wajah dan telapak tangan, -ed), tebal dan tidak transparan, longgar dan tidak ketat, tidak berwarna mencolok (yang menggoda), dan tidak memakai wewangian.
  • Aman dari fitnah
    Yang dimaksud aman dari fitnah adalah wanita tersebut sejak menginjakkan kaki keluar rumah sampai kembali lagi ke rumah, mereka terjaga agamanya, kehormatannya, serta kesucian dirinya.Untuk menjaga hal-hal tersebut, Islam memerintahkan wanita yang keluar rumah untuk menghindari khalwat (berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram, tanpa ditemani mahramnya), ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan wanita tanpa dipisahkan oleh tabir), menjaga sikap dan tutur kata (tidak melembutkan suara, menundukkan pandangan, serta berjalan dengan sewajarnya, tidak berlenggak-lenggok).
  • Adanya mahram ketika melakukan safar
    Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya.” [HR. Bukhari dalan Shahihnya (no. 1862), Kitab “Jazaa-ush Shaid”, Bab “Hajjun Nisaa’”; Muslim (no. 1341), Kitab “al-Hajj”, Bab “Safarul Mar-ah ma’a Mahramin ilal hajji wa Ghairihi”, dari Ibnu ‘Abbas]

Pekerjaan yang Cocok bagi Muslimah

Ketika syarat-syarat tersebut telah terpenuhi, maka wanita pun boleh keluar rumah bahkan untuk bekerja. Namun hendaknya dipahami lagi, jenis-jenis pekerjaan seperti apa yang boleh dilakukan oleh wanita, sesuai dengan aturan Islam.

Beberapa pekerjaan yang diperbolehkan bagi wanita, selama syarat-syarat di atas terpenuhi, diantaranya adalah:

  • Dokter, perawat, bidan, dan pekerjaan di bidang pelayanan medis lainnya, misalnya bekam, apoteker, pekerja laboratorium.
    Dokter wanita menangani pasien wanita, anak-anak, dan juga lelaki dewasa. Untuk menangani lelaki dewasa, maka syaratnya adalah dalam keadaan darurat, misalnya saat peperangan, di mana laki-laki lain sibuk berperang, dan juga ketika dokter spesialis laki-laki tidak ditemui di negeri tersebut.Salah satu dalil yang membolehkannya adalah, dari ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz, dia berkata: “Dahulu, kami ikut bersama Nabi. Kami memberi minum dan mengobati yang terluka, serta memulangkan jasad (kaum muslimin) yang tewas ke Madinah.” [Al-Bukhari dalam Shahihnya (no 2882), Kitab “al-Jihaad was Sair”, Bab “Mudaawatun Nisaa’ al-Jarhaa fil Ghazwi”]Dalil lainnya adalah, dari Anas, dia berkata: “Dahulu, apabila Rasulullah pergi berperang, beliau membawa Ummu Sulaim dan beberapa orang wanita Anshar bersamanya. Mereka menuangkan air dan mengobati yang terluka.” [Muslim, ash-Shahiih (no. 181), Kitab “al-Jihaad was Sair”, Bab “Ghazwun Nisaa’ ma’ar Rijaal”]Imam Nawawi menjelaskan hadits di atas, tentang kebolehan wanita memberikan pengobatan hanya kepada mahram dan suami mereka saja. Adapun untuk orang lain, pengobatan dilakukan dengan tidak menyentuh kulit, kecuali pada bagian yang dibutuhkan saja.
  • Di bidang ketentaraan dan kepolisian, hanya dibatasi pada pekerjaan yang dikerjakan oleh kaum wanita, seperti memenjarakan wanita, petugas penggeledah wanita misalnya di daerah perbatasan dan bandara.
  • Di bidang pengajaran (ta’lim), dibolehkan bagi wanita mengajar wanita dewasa dan remaja putri. Untuk mengajar kaum pria, boleh apabila diperlukan, selama tetap menjaga adab-adab, seperti menggunakan hijab dan menjaga suara.
  • Menenun dan menjahit, tentu ini adalah perkerjaan yang dibolehkan dan sangat sesuai dengan fitrah wanita.
  • Di bidang pertanian, dibolehkan wanita menanam, menyemai benih, membajak tanah, memanen, dsb.
  • Di bidang perniagaan, dibolehkan wanita untuk melakukan jual beli. Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa salah satu tanda kiamat adalah maraknya perniagaan hingga kaum wanita membantu suaminya berdagang . Hadits ini tidaklah mengharamkan aktivitas wanita dalam aktivitas perniagaan.
  • Menyembelih dan memotong daging. Meskipun ada pendapat yang membolehkan pekerjaan ini bagi wanita, namun hakikatnya tidak sesuai dengan tabiat wanita karena membuat anggota tubuhnya tersingkap saat bekerja, seperti lengan, dan kaki.
  • Tata rias kecantikan. Tentu saja hal ini diperbolehkan dengan syarat tidak melakukan hal-hal yang dilarang, seperti menyambung rambut, mengikir gigi, menato badan, mencabut alis, juga dilarang pula melihat aurat wanita yang diharamkan. Dilarang menggunakan benda-benda yang membahayakan tubuh, serta haram menceritakan kecantikan wanita yang diriasnya kepada laki-laki lain, termasuk suami si perias sendiri.

Sebaik-Baik Tempat Wanita Adalah Rumah

Dari ulasan di atas, tetaplah sebaik-baik tempat wanita adalah di rumahnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al Ahzab: 33).

Yang dimaksud dengan ayat ini adalah hendaklah wanita berdiam di rumahnya dan tidak keluar kecuali jika ada kebutuhan.

Sehingga jika ada pekerjaan bagi wanita yang bisa dikerjakan di rumah, itu tentu lebih layak dan lebih baik. Dan perlu ditekankan kewajiban mencari nafkah bukanlah jadi tuntutan bagi wanita. Namun prialah yang diharuskan demikian. Inilah yang Allah perintahkan,

Allah Ta’ala berfirman,

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath Tholaq: 7). [ed]

***
Artikel Muslimah.Or.Id
Penulis: Nur Fitri Fatimah
Murajaah: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com)

Referensi Utama:

Wanita Karir, Profesi Wanita di Ruang Publik yang Boleh dan yang Dilarang dalam Fiqih Islam”, karangan Adnan bin Dhaifullah Alu asy-Syawabikah, penerbit: Pustaka Imam Asy’Syafi’i

Hadits Tentang Wanita Bekerja Bolehkah Istri Bekerja Wanita Karir Dalam Islam Hukum Istri Bekerja Dalam Islam Hukum Wanita Bekerja Menurut Islam

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

  • Indah Damayanti

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Tulisan diatas tentang “Perempuan Bekerja Boleh Saja, Asal … ” sangat bermanfaat bagi saya yang saat ini sedang memutuskan untuk berhenti bekerja di perkantoran (aktifitas yang sudah saya lakukan selama 22 tahun). Namun saya masih membutuhkan masukan financial secara rutin mengingat saya masih harus membantu saudara-saudara saya.
    Namun dari sekian macam pekerjaan yang dianjurkan diatas, saya masih harus belajar lagi dari awal.
    Bolehkan saya berkonsultasi secara pribadi ?
    Jazakallahu khairan

    • Silakan Ukhti kirimkan email ke muslimah.or.id@gmail.com

      Wa anti fa jazakillahu khayran.

      “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan jalan keluar baginya. Serta akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)

      Semoga Allah memudahkan jalan Ukhti.

  • saya tertarik dengan artikel ini, namun dari ringkasan itu saya pribadi sangat bertolak belakang dari perbandingan zaman sebelumnya bahwa tidak ada wanita yang dominan untuk bekerja bahkan siang malam untuk mencari nafkah keluarga. Nah dari hal tersebut maka banyak terjadi di zaman sekarang yang tidak di inginkan. Misalkan kecurigaan dan tidak keharmonisan keluarga, dan banyak penyimpangan lainnya. trims

  • Ayuk Fitriyani

    Assalamu’alaikum …
    ana adalah muslimah yang bekerja sebagai medical representative.bekerja harus campur baur di lingkungan luar rumah.apakah boleh hukumnya?
    ana juga memakai pakaian yg syar’i,tp memang pekerjaan saya yg menuntut untuk campur baur dengan lingkungan luar.afwan,
    mohon jawabanya,sukron^-^

    • @ Ayuk Fitriani
      Wa’alaikumussalam,
      Ukhti yang kami hormati, kami nasehatkan pada diri kami dan juga Ukhti agar bertakwa kepada Allah. Tinggalkan perkara yang bisa menjerumuskan kita ke lembah maksiat semata mata karena Allah niscaya Allah akan ganti dengan kehidupan yang lebih baik didunia maupun di akherat. Insyaallah masih banyak pekerjaan yang bebas ikhtilath.Carilah rizqi dengan cara yang Allah ridhoi.

  • sofia

    Assalamualaikum wr wb
    Permisi saya mau bertanya misalnya saya bingung sekali karena saya ingin bekerja untuk keluarga saya, tapi saya tau suami saya sangat menolak keputusan saya untuk bekerja dia bahkan ingin saya menutup semua badan dengan hanya pakaian hitam dan burka …. saya jujur saja sedikit takut komentar dari ortu apalagi saya bekerja ,, tapi katanya baju berwarna asal tidak berwarna emas tidak apa-apa ,, apakah boleh jika jilbab saya menjuntai sampai bawah pantat saja? Namun yang lain tetap tidak membentuk lekuk tubuh ? Terimakasih nb : kerjaan saya manajer marketing
    Mohon jawabannya

    • Wa’alaikumussalam warahmatullah
      Ukhti Sofia, jilbab atau hijab tidak harus berwarna hitam-hitam. Boleh warna apa saja asalkan tidak menarik perhatian lelaki, warna gelap memang lebih utama. Semakin sedikit coraknya juga semakin utama, karena corak-corak juga punya potensi menarik perhatian lelaki. Panjang jilbab juga tidak ada ketentuannya, yang penting jilbab dan seluruh busana yang dipakai tidak ketat dan tidak menampakkan bentuk tubuh.

  • Reni Anggriani

    السلام عليكم ورحمةالله وبركاته
    Sy ingin bertanya bagaimana hukumnya wanita bekerja sbh perawat dan bidan yang mengharuskan memakai celana ketika keluar rumah?

    • @Reni Anggraini
      Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh, pekerjaannya halal, namun tidak boleh memakai celana. Insya Allah hal ini bisa di diskusikan dengan pihak manajemen karena terkait keyakinan dan ajaran agama. Jika mereka bersikeras melarang muslimah memakai busana syar’i, maka insya Allah bumi Allah itu luas.

  • Ya, sebaik2 tempat untuk muslimah adalah di dalam rumah.

  • Pingback: Perempuan Bekerja Boleh Saja, Asal… | Gadiza Boutique()

  • sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita soleha
    dan sebaik tempatnya adalah dirumah..

  • Pingback: IHB Maret Blog Post Challenge | My CMS()

  • Grandia Haqqu

    didalm islam lebih baik wanita dirumah… tetapi seandainya suami kita bekerja keras tetapi kebutuhan tidak mencukupi,,, tidak mungin kita bercerai…kalau niat seorang istri ingin membantu kan gak masalah asalkan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga tetap dijalani… disis lain kita juga merasakan bagaiman suami kita bekerja keras… kadang kita merasakan gmana suami kita capek, lelah kaena bekerja…. walaupun seorang istri juga banyak pekerjaan seperti menguru rumah, masak, menjaga anak,,,tetapi wanita itu pasti memiliki perasaan yang kuat….

  • Fina

    Assalamu’alaikum..
    Bagaimana jika mendapat tawaran pekerjaan dikantor yang mengelolab restoran..dan sebagian nya menjual babi dan bir di restoran tersebut.. bagaimana hukum nya..walaupun tidak bersentuhan langsung dengan barang2 tersebut..trima kasih

    • Sa’id Abu Ukkasyah

      Wa’alaikumus salam, seseorang yang tidak mampu mengingkari kemungkaran, maka tertuntut untuk pergi dari tempat kemungkaran tersebut ketika terjadi kemungkaran tersebut. Carilah pekerjaan lain yg justru mendorong seseorang semakin bertakwa kepada Allah , karena hati kita lemah, butuh adanya lingkungan yang Islami

  • Sa’id Abu Ukkasyah

    Semoga Allah menunjukkan jalan keluar yang paling diridhoi-Nya kepada Anda.
    Berikut beberapa nasehat, semoga bermanfaat:
    1. Yakinilah bahwa Allah Maha Banyak Memberi rezeki dan. barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena ta’at kepada Allah, maka Allah akan menggantinya dg sesuatu yg lebih baik darinya.
    2. Bertawakallah kepada Allah saja dan banyak-banyak memohon pertolongan kepada-Nya serta perbanyak istighfar,bertaubat dan beribadah.
    3. Hadiri majelis-majelis ta’lim Sunnah yang menyebabkan Anda mendapatkan ketenangan dan teman-teman yang bisa menasehati Anda.
    4. Yakinilah bahwa yang terpenting adalah berkah dari rezeki yg kita dapatkan dan bukanlah intinya terletak pada banyaknya rezeki!
    Barokah itu adalah kebaikan yg banyak dan tetap.
    5. Perlu menimbang seluruh sisi maslahat dan kerugian/ bahaya dg cermat, perlu dialog yg lebih, maka datanglah langsung kpd Ustadz Ahlus Sunnah terdekat untuk berdialog scr langsung memecahkan masalah Anda, sehingga diketahui secara lengkap unt pertimbangan maslahat dan mudhorotnya.