Donasi Web Donasi Web

Lihatlah, Siapa Mahrammu (1)

“Maaf, anda bukan muhrim saya.”

Demikian kata-kata yang meluncur dari lisan seorang wanita ketika seorang laki-laki mengulurkan tangan kepadanya. Laki-laki itu pun menjadi bingung. Apa itu muhrim? Mungkin begitu pertanyaan yang bergayut di pikirannya.

Ada di antara kita yang pernah menghadapi peristiwa seperti ini. Namun ternyata, masih banyak yang keliru membedakan antara muhrim dengan mahram. Sebenarnya kata yang tepat untuk konteks kalimat wanita itu adalah mahram bukan muhrim.

Mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya karena sebab nasab, persusuan dan pernikahan (Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam al-Mughni 6/555). Sedangkan muhrim adalah orang yang sedang melakukan ihram dalam haji atau umrah.

Masalah mahram merupakan salah satu masalah yang penting dalam syari’at Islam. Karena masalah ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan hubungan mu’amalah diantara kaum muslimin, terutama bagi muslimah. Allah Ta’ala telah menetapkan masalah ini sebagai bentuk kasih sayang-Nya juga sebagai wujud dari kesempurnaan agama-Nya yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam.

Pembagian Mahram
Syaikh ‘Abdul ‘Adzim bin Badawi Al-Khalafi (lihat Al-Wajiiz) menyatakan bahwa, seorang wanita haram dinikahi karena tiga sebab, yaitu karena nasab (keturunan), persusuan, dan mushaharah (pernikahan). Oleh karena itu, mahram wanita juga terbagi menjadi tiga macam yaitu mahram karena nasab atau keluarga, persusuan dan pernikahan.

Mahram Karena Nasab
Mahram karena nasab adalah mahram yang berasal dari hubungan darah atau hubungan keluarga.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat An-Nur ayat 31, yang artinya, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara lelaki mereka atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka.”

Para ulama’ tafsir menjelaskan, “Sesungguhnya lelaki yang merupakan mahram bagi wanita adalah yang disebutkan dalam ayat ini, adalah:

1. Ayah
Termasuk dalam kategori bapak yang merupakan mahram bagi wanita adalah kakek, baik kakek dari bapak maupun dari ibu. Juga bapak-bapak mereka ke atas. Adapun bapak angkat, maka dia tidak termasuk mahram bagi wanita. Hal ini berdasarkan pada firman Allah Ta’ ala, yang artinya, “Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu.” (Qs. Al-Ahzab: 4)

2. Anak laki-laki
Termasuk dalam kategori anak laki-laki bagi wanita adalah cucu, baik cucu dari anak laki-laki maupun anak perempuan dan keturunan mereka. Adapun anak angkat, maka dia tidak termasuk mahram berdasarkan pada keterangan di atas.

3. Saudara laki-laki, baik saudara laki-laki kandung maupun saudara sebapak ataupun seibu saja.
Saudara laki-laki tiri yang merupakan anak kandung dari bapak saja atau dari ibu saja termasuk dalam kategori mahram bagi wanita.

4. Keponakan, baik keponakan dari saudara laki-laki maupun perempuan dan anak keturunan mereka.
Kedudukan keponakan dari saudara kandung maupun saudara tiri sama halnya dengan kedudukan anak dari keturunan sendiri. (Lihat Tafsir Qurthubi 12/232-233)

5. Paman, baik paman dari bapak ataupun paman dari ibu.
Syaikh Abdul Karim Zaidan mengatakan dalam Al-Mufashal Fi Ahkamil Mar’ah (3/159), “Tidak disebutkan bahwa paman termasuk mahram dalam ayat ini (QS. An-Nur: 31) karena kedudukan paman sama seperti kedudukan kedua orang tua, bahkan kadang-kadang paman juga disebut sebagai bapak.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu Ibrahim, Ismail dan Ishaq.” (Qs. Al-Baqarah: 133)
Sedangkan Isma’il adalah paman dari putra-putra Ya’qub. Dan bahwasanya paman termasuk mahram adalah pendapat jumhur ulama’.

Mahram Karena Ar-Radha’
Ar-radha’ah atau persusuan adalah masuknya air susu seorang wanita kepada anak kecil dengan syarat-syarat tertentu (al-Mufashol Fi Ahkamin Nisa’ 6/235).

Sedangkan persusuan yang menjadikan seseorang menjadi mahram adalah sebanyak lima kali persusuan, berdasar pada hadits dari `Aisyah radhiyallahu `anha, beliau berkata, “Termasuk yang di turunkan dalam Al Qur’an bahwa sepuluh kali persusuan dapat mengharamkan (pernikahan) kemudian dihapus dengan lima kali persusuan.” (HR. Muslim 2/1075/1452)

Ini adalah pendapat yang rajih di antara seluruh pendapat para ulama’ (Lihat Nailul Authar 6/749 dan Raudhah Nadiyah 2/175).

Syaikh Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa terdapat dua syarat yang harus dipenuhi sebagai tanda berlakunya mahram ar-radha’ (persusuan) ini, yaitu:

  1. Telah terjadinya proses penyusuan selama lima kali.
  2. Penyusuan terjadi selama masa bayi menyusui yaitu dua tahun sejak kelahirannya. (Lihat Durus wa Fatawal Haramul Makki Syaikh Utsaimin, juz 3 hal. 20)

Hubungan mahram yang berasal dari persusuan telah disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya tentang wanita-wanita yang haram untuk dinikahi, yang artinya, “Juga ibu-ibu yang menyusui kalian serta saudara-saudara kalian dari persusuan.” (Qs. An-Nisa’: 23)

Dan disebutkan juga oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu `anhu, ia berkata, “Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari nasab.” (HR. Bukhari 3/222/ 2645 dan Muslim 2/1068/ 1447)

Dari penjelasan di atas, maka dapat diketahui bahwa mahram bagi wanita dari sebab persusuan adalah seperti mahram dari nasab, yaitu:

1. Bapak persusuan (suami ibu susu).
Termasuk mahram juga kakek persusuan yaitu bapak dari bapak atau ibu persusuan, juga bapak-bapak mereka ke atas.¬†Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Sesungguhnya Aflah saudara laki-laki Abi Qu’ais meminta izin untuk menemuiku setelah turun ayat hijab, maka saya berkata, “Demi Allah, saya tidak akan memberi izin kepadamu sebelum saya minta izin kepada Rasulullah, karena yang menyusuiku bukan saudara Abi Qu’ais, akan tetapi yang menyusuiku adalah istri Abi Qu’ais. Maka tatkala Rasulullah datang, saya berkata,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya lelaki tersebut bukanlah yang menyusuiku, akan tetapi yang menyusuiku adalah saudara istrinya. Maka Rasulullah bersabda, “Izinkan baginya, karena dia adalah pamanmu.” (HR. Bukhari: 4796 dan Muslim: 1445)

2. Anak laki-laki dari ibu susu.
Termasuk anak susu adalah cucu dari anak susu baik laki-laki maupun perempuan. Juga anak keturunan mereka.

3. Saudara laki-laki sepersusuan.
Baik dia saudara susu kandung, sebapak maupun cuma seibu.

4. Keponakan persusuan (anak saudara persusuan).
Baik anak saudara persusuan laki-laki maupun perempuan, juga keturunan mereka.

5. Paman persusuan (saudara laki-laki bapak atau ibu susu).
(Lihat al-Mufashol 3/160)

Mahrom Karena Mushaharah
Mushaharah berasal dari kata ash-Shihr. Imam Ibnu Atsir rahimahullah berkata, “Shihr adalah mahram karena pernikahan” (An Nihayah 3/63).

Contohnya, mahram yang disebabkan oleh mushaharah bagi ibu tiri adalah anak suaminya dari istri yang lain (anak tirinya) dan mahram mushaharah bagi menantu perempuan adalah bapak suaminya (bapak mertua), sedangkan bagi ibu istri (ibu mertua) adalah suami putrinya (menantu laki-laki) [Al Mufashshol 3/162].

Hubungan mahram yang berasal dari pernikahan ini disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, yang artinya, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka,atau ayah mereka,atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka.” (Qs. An-Nur: 31)

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu (ibu tiri).” (Qs. An-Nisa’: 22)

“Diharamkan atas kamu (mengawini) … ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, dan istri-istri anak kandungmu (menantu).” (Qs. An-Nisa’: 23)

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat diketahui bahwa orang-orang yang haram dinikahi selama-lamanya karena sebab mushaharah adalah:

1. Ayah mertua (ayah suami)
Mencakup ayah suami atau bapak dari ayah dan ibu suami juga bapak-bapak mereka keatas (Lihat Tafsir As-Sa’di hal: 515, Tafsir Fathul Qodir 4/24 dan Tafsir Qurthubi 12/154).

2. Anak tiri (anak suami dari istri lain)
Termasuk anak tiri adalah cucu tiri baik cucu dari anak tiri laki-laki maupun perempuan, begitu juga keturunan mereka (Lihat Tafsir Qurthubi 12/154 dan 5/75, Tafsir Fathul Qodir 4/24, dan Tafsir Ibnu Katsir 1/413).

3. Ayah tiri (suami ibu tapi bukan bapak kandungnya)
Haramnya pernikahan dengan ayah tiri ini berlaku ketika ibunya telah jima’ dengan ayah tirinya sebelum bercerai. Namun, jika belum terjadi jima’, maka diperbolehkan.
Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seluruh wanita yang pernah dinikahi oleh bapak maupun anakmu, maka dia haram bagimu.” (Tafsir Ath- Thobari 3/318)

4. Menantu laki-Laki (suami putri kandung)
Dan kemahraman ini terjadi sekedar putrinya di akadkan kepada suaminya (Tafsir Ibnu Katsir 1/417).

Ditulis ulang dari artikel Mahrom bagi Wanita (Ahmad Sabiq bin `Abdul Lathif), majalah Al Furqon, Edisi 3/ II, Dzulqa’idah 1423 H, hal 29-31 dengan beberapa tambahan dari penulis.
Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad dan Ummu Asma’ Dewi Anggun Puspita Sari

***

Artikel muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Banner MPD

About Author

67 Comments

  1. Assalamu’alaikum wr wb.
    Bagus sekali ulasannya dan sangat bermanfaat. Saat ini orang seringkali tidak melihat hal2 yang hak dan tidak hak sehingga perlu cara untuk mengingatkan dengan cara yang santun seperti diatas. Saya rasa para pria harus membaca ini agar tidak terlanjur salah dalam memilih pasangan hidup.
    Wasalam

  2. Dian hardjanti

    Assalamualaykum

    Ummu bagaimana hukumnya Bank ASI atau donor ASI apakah boleh ? Dan bagaimana hukum bayi yang kita donorkan ASI tapi tidak menghisap langsung apakah ia juga bisa dimasukkan sbg mahrom krn persusuan ?

    Jazakallah Khoiron atas jawabannya.

  3. ukhti fitri

    kl perempuan n0n islam(kristen,dll).bkn mahram jg yah?

  4. Melihat teman yang bukan muhrimnya di facebook gimana ya ?

  5. ijin copy paste.. syukran

  6. @ wong deso: antum perlu baca lg deh. mahrom, bukan muhrim. lagian kalo ada foto yg berlawanan jenis dan bukan mahrom ya ga usah diliat.
    ana mau tanya nih, kalo bapak mertua ana sudah bercerai dengan ibu mertua apakah masih mahrom bagi ana?

    • kalo suami anti itu anak kandung dari bapak&ibu mertua yg udah bercerai tadi, ya tetep mahrom dong… CMIIW

  7. habib ulinnuha

    Asslm w w
    terima kasih sudah mau berbagi ilmunya semoga bermanfaat.
    Amin!
    saya ada pertanyaan diantara semua mahram yang telah disebutkan dan dibahas tersebut diatas siapa saja yang dapat/tidak membatalkan wudu kita sebutkan dan jelaskan!
    terimakasih!

  8. ukhti fitri: wanita non-muslim bukan mahrom kita

  9. @ Dian Harjanti
    Sebatas yang saya tahu, mahram karena persusuan tidak hanya bayi menetek secara langsung namun juga bisa lewat donor ASI. Karena yang menjadi sebab adalah air susunya bukan cara penyusuannya. Asal memenuhi syarat penyusuan yang bisa mengakibatkan hubungan mahram, yaitu 5kali penyusuan sempurna(bayi kenyang dan melepas puting dengn sendirinya). Allahu a’lam

  10. @ Fitri
    Ingat definisi mahram adalah laki-laki yang haram menikah dengan kita(jika kita perempuan). Bukan mahram berarti laki-laki yang boleh menikah dengan kita. Lantas wanita kafir?

  11. Ummu Rumman

    # Habib Ulinnuha

    pertanyaan anda, insyaAlloh telah dijawab oleh artikel berikut ini:

    https://muslimah.or.id/fikih/pernak-pernik-seputar-wudhu.html

  12. bapaknya suami kan termasuk mahram, bagaimana kalau kakek dari suami dan saudara laki2 dari suami, apakah termasuk mahram?

    • kakek suami termasuk mahrom,, saudara laki2 (ipar) tidak termasuk mahrom.. CMIIW

  13. @ Idrea
    Sebatas yang saya tahu, kakek suami termasuk mahram bagi kita (istri). Juga kakek suami keatas(bapaknya kakek suami terus keatas) mahram bg kita.
    Saudar suami/ipar bukan mahram, untuk lebih tahu tentang dalil2nya silahkan ukhti baca artikel “siapa mahrammu (2)”. Allahu a’lam.

  14. Subkhan Khadafi

    untuk pertanyaan ukhti fitri…………..kalau yang dimaksud apakah wanita2 non muslimah apakah mahrom bagi laki2 yang masuk dalam kategori tiga sebab menjadi mahrom, maka jawabannya : ya mereka haram dinikahi dan berlaku seluruh hukum mahrom. mudahnya, bila seorang muslim mempunyai adik perempuan nasrani maka mereka berdua mahrom sekalipun berbeda agama.

    untuk pertanyaan neena ummu musa………bapak mertua selamanya menjadi mahrom anti dengan terjadinya akad antara anti dengan anaknya yaitu suami anti. hal ini dijelaskan dalam an nisa 23 disebut dengan halail yaitu istri2. Maka sekalipun suami anti telah meninggal atau anti telah bercerai dengan suami maka bapak mertua tetap mahrom anti. Juga sekalipun telah bercerai dengan ibu mertua karena tidak ada keterkaitan hukum disini.
    sekedar tambahan atas jawaban ummu fatheema tentang donor ASI. sebagaimana yang telah disebutkan di artikel yang mengharamkan adalah lima kali persusuan yang mengenyangkan. maka bila anak tersebut belum sampai 2 th lalu diberi ASI sampai kenyang sebanyak lima kali berturut2 atau terpisah maka menjadikannya anak susuan wanita yang mendonorkan ASInya. Wallaahu a’lam bisshowaab

  15. @ Ustadz Subkhan

    Welcome back ustadz…

  16. ummu baihaqi el fath

    assalamu ‘alaikum

    afwan, ana mau tanya perihal mahram utk bepergian jauh, seperti naik haji atau sekedar umrah. apakah jika ana berangkat tidak dg suami, tetapi dg ibu ana, atau dg saudara perempuan ana, atau teman perempuan ana, atau dg anak perempuan ana. kami masih harus menyertakan mahram laki2?

    syukron..jazakillah khair

  17. @ Ukhtiy Ummu Baihaqy el fath
    Syaikh Ibnu Baz pernah ditanya tentang syarat mahram bagi perempuan. Berikut pernyataan beliau.
    Soal :
    Apakah syarat mahram bagi wanita yang akan menunaikan ibadah haji termasuk syarat wajib ataukah syarat sah?
    Beliau-rahimahullah- menjawab:
    Tidak ada kewajiban bagi seorang wanita baik untuk haji maupun umrah kecuali jika mereka memiliki mahram. Tidak boleh safar tanpa mahram dan ini adalah syarat wajib.

    Syarat wajib berarti Syarat yang wajib dipenuhi sebelum berangkat haji.
    Meski ada ibu, nenek, saudara perempuan kandung, teman perempuan atau bahkan berpuluh-puluh sampai beratus-ratus teman perempuan, tetap mereka bukan mahram bagi anti. Karena yang dimaksud mahram sebagimana dijelaskan dalam artikel diatas, yaitu laki-laki yang haram menikah dengan kita. Sehingga tidak ada kewajiban bagi anti untuk haji kecuali jika ada bapak, suami, saudara laki-laki atau mahram lain yang menemani. Untuk lebih memantapkan hati berikut saya bawakan fatwa Syaikh -rahimahullah-

    Belaiu juga ditanya :
    Apakah seorang perempuan itu bisa dianggap mahram bagi perempuan lainnya ketika safar, dalam hal duduk (maksudnnya hukum khalwat,pen)?
    Jawab :
    Seorang wanita bukanlah mahram bagi wanita lainnya. Hanyalah dikatakan mahram jikalau dia laki-laki yang haram meniklahi wanita tersebut. Seperti bapaknya, saudara laki-lakinya, atau mahram karena sebab yang membolehkan seperti suami, bapaknya suami atau anak laki-laki dari suami. Bisa juga bapak persusuan, saudara laki-laki persusuan dan yang lainnya. Tidak boleh laki-laki berdua-duaan dengan wanita ajnabiyah(wanita bukan mahram)begitupula tidak boleh bersafar dengan mereka.Sabda Nabi shalallahu’alaihi wasallam: “Tidak boleh safar bagi wanita kecuali yang memiliki mahram”. hadits ini disepakati keshahihannya. Juga Sabda beliau shalallahu’alaihi wasallam: “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita ajnabiyah karena yang ketuga adalah syaithan”. Riwayat Ahmad dan lainnya dari ‘Umar radhiallahu’anhu dengan sanad yang shahih.

    Demikian Ukhti semoga Alloh memudahkan kita untuk melaksanakan syariatNya termasuk memudahkan kita berhaji ditemani mahram, amin.

  18. assalamu’alaikum

    Pada point ke 3 mahram karena nasab disebutkan saudara tiri.
    Ini dapat menimbulkan kesalah-pahaman.
    Sepengetahuan saya, yang dimaksud saudara (adik/kakak) tiri adalah persaudaraan karena pernikahan, misalnya seorang duda (A) sudah punya anak menikah dengan janda (B) juga sudah punya anak, maka anak-anak si A menjadi saudara tiri bagi anak-anak si B, dan antara mereka tidak ada hubungan nasab.
    Jadi saudara tiri bukan mahram.

  19. Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh…

    Hore…!
    Ilmu baru…
    Izin CoPas nggeh…
    Huh… ana sebenarnya masih bingung mana yang dikategorikan mahram..
    Thanks, buat artikelnya, ana jadi sedikit mengerti (Alhamdulillah..)
    Jazakumullah..

  20. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
    punten..izin co-past ya ukh..

  21. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,maaf apakah anak laki laki atau perempuan paman juga termasuk mahram?,syukron.

  22. ijin copas

  23. Abu Faizah:
    jazaakumullohu khoiron, yang kami maksud di sini adalah saudara laki-laki kandung dari ibu yang sama namun ayah yang berbeda atau dari ayah yang sama namun ibu yang berbeda. wallohu Ta’ala a’lam.

  24. bismillah
    bgaimana bila bpak non muslim,apkah termasuk mahram Qt?suami bibi dari ibu/bapak apakah termasuk mahram/bkn?
    terima kasih

  25. @ Ukhti Yuli
    seorang bapak tetap mahram bagi anak perempuannya sekalipum beda agama. Sbgai bahan tambahan baca juga komentar Ust.Khadafi untuk Ummu Musa diatas.

    Suami dari bibi (sauadara perempuan kandung ibu/bapak) bukan mahram.

  26. Ummu Zahra

    Assalamu’alaikum,

    Mohon penjelasan lagi mengenai poin :

    4. Menantu laki-Laki (suami putri kandung)
    Dan kemahraman ini terjadi sekedar putrinya di akadkan kepada suaminya (Tafsir Ibnu Katsir 1/417).

    Jazakumullah khairan.

  27. alhamdulillah sekarang saya jadi ngerti apa itu mahram gan apa itu dan apa itu muhrim,izin share ya,syukran

  28. Assalamu’alaykum, artikel yang sangat bermanfaat, ana izin untuk copy artikelnya ke blog ana, Jazakallah khoiron…

  29. Ass wr wb . . . Aku mau nanya apakah haram hukumnya bila seorang wanita menikah dengan anak dari sepupunya ?

  30. assalaamu ‘alaikum
    af1… ana mw tanya, apakah paman yg tidak se-ibu tapi se-ayah dari ibu merupakan mahram kita juga? syukran bwt infonya… Jzkumullohu khair…

  31. Terima kasih, sangat bermanfaat.

  32. Nur Hilda Aziz

    Assalamualaikum, mohon izin utk copy.

  33. assalamualaikum..
    afwan ingin bertanya.. ketika seorang akhwat berpergian dalm kondisi hingga ke luar pulau…
    dan kendaraan yang ad untuk mengantarnya adalah ojek, apakah hukumnya? bagaimana jika diberikan pembatas antara si akhwat dengan pengendara? jazakillah khoir, d nantikan jawabnnya..

    • @ Naylaa
      Wa’alaikumussalam,
      Yang menjadi keharusan bagi akhwat tersebut adalah bepergian dengan mahramnya sehingga jika terjadi masalah seperti ini bisa disiasati. Contohnya dengan menyewa 2 ojek sementara dua tukang ojek tersebut berboncengan adapun si akhwat bisa berboncengan dengan mahramnya. Sehingga tidak akan ada masalah lagi.

  34. saya pngen tanya kalau kakak ipar gmana??

  35. Assalamu’alaykum wa rahmatu llahi wa barakatuh,
    Izin copas.

    Ana mau nnya, bagaimana hukum nya mengadopsi anak terus bayi tsb di beri asi? Karna ingin mempunyai anak lelaki pertama dan wanita tsb melahirkan anak perempuan? mohon penjelasannya..

    Di tunggu.

  36. ayu alfa nabela nf

    assalamu’alaikum wr.wb
    saya hendak bertanya..
    bagaimana ketika ada seorang lelaki mengulurkan tangan untuk bersalaman, kemudian kita mengatakan “bukan muhrim”. dia malah mengatakan kita sombong..
    apa yang kita lakukan ???

    • @ Ayu Alfa
      Wa’alaikumussalam,
      Pengertian sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan oranglain. Adapun menolak berjabat tangan dengan non mahram maka itu bukan termasuk sombong tapi justru satu bentuk ketataan kepada Allah dan RasulNya. Sampaiakan apa yang bisa Anda jelaskan kepadanya sesuai kemampuan yang Anda miliki namun jika tidak biarkan saja.

  37. ummu abdirrahman

    hanya ingin meluruskan saja atas jawaban pertanyaan ttg BANK ASI. Pernah membaca di sebuah web, bahwa BAnk Asi tidak disarankan karena kita tidak tahu latar belakang si pendonor Asi tersebut dan juga ini berhubungan dengan nasab si anak persusuan dengan saudara persusuanya nanti. Kemungkinan di Bank Asi juga disusui tidak dengan 1 ibu persusuan yang sama selama 5x bukan?

    Wallahu’alam…
    semoga kita bisa lebih berhati2.

  38. Assalamu’alaikum…ukhti saya ingin bertanya tentang masalah makhram, saya mempunyai kakek buyut yang sama dengan seorang laki-laki, dalam artian “kakek saya” adalah “kakak dari kakek buyutnya”,namun dalam adat masyarakat jawa kami dikatakan makhram karena antara keturunan kakek saya dan kakek buyutnya hingga ayah kami adalah laki-laki sehingga nasabnya belum terputus. Yang ingin saya tanyakan apakah dalam hukum islam sebenarnya kami masih makhram atau bukan?? terimkasih, Wsslmlkm…

  39. saya ingin menyalin artikel ini untuk blog saya. tapi bolehkah saya menghilangkan kata “tiri” pada pon ke 3 di atas?
    “Saudara laki-laki tiri yang merupakan anak kandung dari bapak saja atau dari ibu saja termasuk dalam kategori mahram bagi wanita.”
    karena saya khawatir teman2 saya yang membacanya salah mengartikannya

  40. bismillah
    afwan mau tanya
    ibu ana punya saudara laki2 seibu (tidak sebapak), apakah saudara laki2 ibu saya tsebut adalah mahrom saya?

  41. Afwan,

    jaman sekarang ini tidak jarang juga saya mendengan bahwa ada seorang ayah yang menghamili anak perempuannya, atau paman menghamili keponakannya, dan hubungan antar mahrom yang sejenis ini (nauzubillah). sehingga sering muncul juga kekhawatiran dalam diri saya untuk meninggalkan mereka (Istri & Anak). Mohon Saran dan Masukannya agar hati saya menjadi tenang melihat masalah ini. Sukron

  42. Assalamu’alaikum,

    Sy ingin bertanya… sy ingin adopsi anak laki2 spy anak adopsi sy mjd mahram sy apakah bs disusukan sm kakak ipar sy? karena kakak2 perempuan(saudara kandung) sy sdh tdk mengeluarkan ASI lg begitupun dg sy tdk keluar ASI’a.
    Atau kl memang kakak ipar sy tdk bs mjd ibu susu utk anak adopsi sy siapa lg yg bs mjd ibu susu anak adopsi sy?

    Terima ksih.
    Wassalam

  43. assalamu’alaikum
    afwan
    ijin copaz untuk wawasan ilmu syar’i
    jazakumullahu khaira …
    wassalamu’alaikum

  44. maaf sy mau tany?…..klw sepupu itu bkn mahram kita ya?

  45. Assalamu’alaikum. Jika sepupu dari keluarga ibu, bukan mahram atau mahram? Jazakumullah khair.

  46. Wiwin Winarsy

    Assalamu’alaykum.. jadi jika tante (adik bapak) menyusui kita, itu berarti suami tante termasuk mahram ya? Mohon jawabannya, hatur nuhun. Jazaakumullaahu khayran katsiiraa

  47. Fatihdaya Khoirani

    Jika kakek atau nenek dari pihak istri adalah ayah dari ayahnya istri (kakek mertua)…atau ibu dari ibunya istri (nenek mertua), maka itu menjadi mahram Anda.

  48. Istri paman apakah mahrom bagi keponakannya ?

  49. Kalau anak angkat dari anak perempuan adik ipar mahram ngga

  50. Terima kasih atas ilmunya, sangat bermanfaat

Leave a Reply