Era disrupsi adalah periode perubahan masif di mana inovasi teknologi digital masuk ke dalam berbagai sendi kehidupan, menciptakan efek disrupsi kuat yang menggantikan sistem, struktur, dan tatanan lama dengan cara-cara baru yang lebih efisien.
Kita melihat bagaimana teknologi berkembang begitu pesat dalam beberapa tahun terakhir. Munculnya kecerdasan buatan (AI) yang begitu canggih, internet yang mempengaruhi dan mengubah hampir setiap aspek kehidupan; menimbulkan perubahan yang begitu cepat dan menuntut kita beradaptasi dengan sigap.
Kendati demikian, beradaptasi bukanlah berarti menanggalkan prinsip hidup sebagai seorang muslim. Karena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya bersifat mutlak dan absolut tanpa negosiasi.
Lantas, bagaimana kiat agar tetap kokoh dan tangguh pada prinsip-prinsip keislaman di zaman modern ini?
Bersemangat menuntut ilmu
Di era digital saat ini, informasi dan ilmu pengetahuan membanjir dan dapat diakses dengan begitu mudah. Sayangnya, tidak semua informasi dan ilmu yang beredar itu benar, bahkan banyak yang berisi pemahaman keliru dan bertentangan dengan fakta. Di sinilah pentingnya kurasi dan verifikasi. Dan keduanya tidak dapat terealisasi jika kita tidak memiliki ilmu yang memadai.
Dengan kemajuan yang diselimuti oleh berbagai kekeliruan dan keburukan, wajib bagi seorang muslim yang menginginkan kebaikan untuk dirinya agar membentengi diri sendiri dan keluarga dengan benteng ilmu yang kuat, yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah dengan pemahaman salafus shalih. Karena merekalah yang mendapatkan jaminan keimanan yang benar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنْ ءَامَنُوا۟ بِمِثْلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهْتَدَوا
“Jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 137)
Dan tidaklah ilmu didapat kecuali dengan semangat dan perjuangan yang maksimal, sebagaimana para ulama mengatakan,
العلم إذا أعطيته كلك أعطاك بعضه، وإذا أعطيته بعضك لم يعطك شيئاً
“Ilmu itu: Jika engkau memberikannya seluruh upayamu sepanjang hidup, dia akan memberimu sebagiannya. Dan jika engkau hanya memberikan sebagian, ia tidak akan memberimu sedikit pun.”
Dalam mempelajari ilmu agama, hendaklah seseorang memulai dengan perkara yang paling penting dalam merealisasikan penghambaannya kepada Allah Ta’ala. Dikatakan dalam sebuah sya’ir,
ما حوى العلم جميعاً أحد لا ولو مارسه ألف سنة
“Tidaklah seseorang mampu menjangkau seluruh ilmu, walaupun ia tekun seribu tahun lamanya.”
إنما العلمُ كبحرٍ زاخرٍ فاتخذ من كل شيءٍ أحسنه
“Ilmu itu seperti lautan luas tak bertepi, maka ambillah yang paling penting dari setiap cabangnya.”
Guru kami, Syekhah Dr. Barakah binti Mudhaif Ath-Thalhi hafizhahallah berpesan untuk senantiasa memperkuat pondasi keilmuan. Dimulai dengan menghafalkan Al-Qur’an, kemudian mempelajari kitab-kitab akidah seperti Tsalatsah Al-Ushul, Qawa’id Al-Arba’, Al-Ushul As-Sittah, Kitab At-Tauhid, dan Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah. Lalu mempelajari kitab-kitab tafsir seperti At-Tafsir Al-Muyassar, Tafsir As-Sa’di, dan Tafsir Ibnu Katsir. Juga mempelajari kitab-kitab hadis seperti Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Riyadush Shalihin, Umdatul Ahkam, Al-Lu’lu wal Marjan, dan Kutub As-Sittah. Selain itu juga mempelajari kitab-kitab fikih seperti Umdatul Ahkam dan Al-Mulakhash Al-Fiqhi karya Syekh Shalih Fauzan. Adapun kitab-kitab raqaiq (kitab-kitab nasihat dan tazkiyatun nufus) sungguh sangat banyak. Yang terpenting adalah kitab-kitab yang telah disebutkan di atas.
Baca juga: Keutamaan Menuntut Ilmu Agama
Kontinu dalam berbuat kebaikan
Membiasakan diri untuk berbuat baik dapat mendatangkan kebaikan yang banyak dan mencegah terjadinya kemungkaran. Oleh sebab itu, Allah berfirman mengenai salat,
إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Awalnya, mungkin akan terasa berat; menjaga salat wajib yang lima untuk dilakukan di awal waktu, merutinkan ibadah-ibadah sunah walaupun sedikit, serta bersabar dan berbuat baik dalam muamalah sehari-hari.
Namun yakinlah, sesuatu yang sukar akan menjadi ringan untuk dilakukan jika dibiasakan. Dan Allah akan memudahkan niat-niat baik hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ
“Sesungguhnya ilmu hanya didapatkan dengan mempelajarinya dan sikap bijak didapatkan dengan terbiasa melakukannya. Barang siapa yang bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kebaikan, maka dia akan diberikan kebaikan tersebut. Dan barang siapa yang berusaha untuk menjauhi keburukan, maka ia akan dilindungi dari keburukan tersebut.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath no. 2663)
Ketahuilah bahwa ibadah yang paling dicintai Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah ibadah yang dilakukan secara kontinu, walaupun sedikit. Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ أدْومُها و إن قَلَّ
“Amal yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 783)
Berteman dengan orang-orang saleh
Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial yang secara naluriah tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan interaksi kepada sesama untuk bertahan dalam kehidupan. Hanya saja, selektif dalam memilih orang-orang terdekat patut untuk dilakukan. Hal ini karena tabiat manusia adalah bagaikan sekawanan burung merpati yang cenderung saling mengikuti satu sama lain.
Oleh karena itu, pilah pilihlah dalam berteman. Kelilingi dirimu dengan orang-orang yang dapat membantumu lebih dekat dengan Rabb-mu, yang mendorongmu untuk meraih hal-hal yang mulia dan menjauhkanmu dari kehinaan. Karena sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الرجلُ على دينِ خليلِه
“Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud no. 4833)
Demikian beberapa kiat yang dapat penulis sampaikan. Kita memohon kepada Allah keteguhan di atas agama-Nya hingga datang ketetapan-Nya (ajal). Hanya kepada Allah kita memohon taufik.
Baca juga: Menjaga Kehormatan Wanita Muslimah
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
- Webinar Membangun Kekuatan Mental Anak di Era Disrupsi, dr. Aisah Dahlan, CCHt., CM. NLP., CI.
- Al-’Utsaimin, Muhammad bin Shalih. 2024. Syarah Hilyah Thalibil ‘Ilmi. (Mohammad Faris, S.S., edisi terjemahan). Jakarta: Penerbit Griya Ilmu.
- Al-Wadi’iyyah, Ummu ‘Abdillah. 2005. Nashihati Lin Nisa’. Shan’a: Darul Atsar.



