Bismillahi walhamdulillahi wasalatu was salamu ‘ala nabiyyina muhammadin salallahu ‘alaihi wa sallam.
Surah An-Nas yang artinya “Manusia” merupakan surah ke-114 yang terdiri dari enam ayat dan termasuk surah Madaniyah. Surah ini diturunkan saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkena sihir orang Yahudi, yaitu Labid bin Al-A’sham.
Ayat pertama
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ
“Katakanlah, (wahai Muhammad) aku berlindung pada Rabb manusia.”
Pada ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar Nabi berlindung pada Rabb-nya manusia, yaitu Allah, dari godaan setan. Rabb maknanya adalah pencipta dan pemelihara manusia, serta Rajanya manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah yang menjaga dan memelihara manusia, dengan memberikan berbagai kenikmatan baik dari segi duniawi ataupun akhirat. Seperti memberi manusia makanan, memenuhi kebutuhannya, menurunkan wahyu untuk bekal kehidupan manusia, memberikan ilmu yang bermanfaat, dan lain sebagainya.
Ayat kedua
مَلِكِ النَّاسِۙ
“Rajanya manusia.”
Ayat ini menunjukkan bahwa hanya Allah yang merajai manusia, baik di dunia ataupun di hari akhir nanti. Serta mengingatkan kita bahwa tidak ada yang dapat menyaingi ataupun menyamai Allah dalam merajai manusia. Kekuasaan manusia ada batasannya, tetapi kekuasaan Allah tidak ada batasannya.
Ayat ketiga
اِلٰهِ النَّاسِۙ
“Sesembahan manusia.”
Para ulama menafsirkan bahwasanya makna kata ilaah adalah ma’bud, yaitu sesembahan. Dan sesembahan terbagi menjadi dua macam,
Pertama: Sesembahan yang berhak disembah, yaitu Allah.
Kedua: Sesembahan yang disembah dengan batil, yaitu sesembahan selain Allah. Baik itu patung, manusia, kuburan, ataupun yang lainnya.
Adapun ilaah yang dimaksud pada ayat ini, tentunya adalah sesembahan yang berhak disembah, yaitu Allah. Sebagaimana Allah menegaskan pada banyak ayat di Al-Quran mengenai hal ini, seperti,
شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًا ۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Allah menyatakan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat dan orang berilmu. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18)
Ayat keempat
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ
“Dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi.“
Kata waswas pada ayat tersebut maksudnya adalah setan yang membisikkan pada manusia, bukan rasa was-was. Adapun was-was dalam bahasa Arab adalah wiswas (وِسْوَاسٌ), yaitu dengan mengkasrahkan huruf waw yang pertama, bukan fathah.
Lafal khannas menunjukkan bahwasanya setan akan bersembunyi dan menjauhi manusia yang berzikir dan mengingat Allah. Lafal ini secara bahasa artinya adalah rajjaa’ (رَجَّاعٌ) yaitu “yang selalu kembali”. Maksudnya adalah setan yang membisikkan kejahatan atau kemaksiatan kepada manusia akan selalu bersembunyi saat manusia berzikir kepada Allah, dan akan kembali saat manusia lalai dari mengingat Allah.
Ayat kelima
الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ
“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.”
Setan akan selalu membisikkan hal-hal buruk dan juga rasa was-was pada hati manusia. Syekh Shalih Al-Fauzan memberikan nasihat bagi siapa saja yang terkena rasa was-was ataupun pikiran buruk, untuk bisa melakukan dua cara berikut agar menghilangkan godaan setan tersebut, yaitu:
Pertama: Ber-isti’adzah (mengucapkan a’udzubillahi minasy-syaitanirrajim, yang artinya: aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).
Kedua: Tidak mengatakannya, serta tidak mengamalkannya, melainkan ia menolaknya dan membenci bisikan tersebut.
Ayat keenam
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
“dari (golongan) jin dan manusia.”
Ada dua tafsir dari para ulama mengenai maksud dari kata jin dan manusia pada ayat ini, yaitu:
Pertama: Penggoda (yang membisikkan) adalah setan dari golongan jin yang merupakan keturunan iblis, dan dari golongan manusia. Setan dari golongan jin membisikkan ke dada manusia, dan setan berwujud manusia membisikkan lewat perkatannya kepada orang lain.
Kedua: Yang digoda (yang dibisikkan) adalah jin dan manusia. Hal ini karena jin sama seperti manusia, yakni sama-sama dibebankan syariat.
Kesimpulan
Pertama: Pada ayat satu sampai tiga, Allah memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berlindung kepada Allah dengan tiga sifat-Nya, yaitu pencipta dan pemelihara, Rajanya manusia, dan sesembahan manusia.
Kedua: Surah ini menunjukkan penjelasan mengenai tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa sifat.
Ketiga: Pelaku keburukan, baik dari golongan jin dan manusia, keduanya disebut setan.
Keempat: Surah ini merupakan surah yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai usaha untuk terlepas dari sihir.
Allahu Ta’ala a’lam bis sawab, washallallaahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in.
***
Penulis: Evi Noor Azizah
Artikel Muslimah.or.id
Referensi
Andirja, F. (2019). Tafsir Juz ‘Amma. Halo Ustadz.
At-Tibyan fi Bayani Ma’ani Kalimatil Quran. Riyadh, 2023.
Murid-murid Syekh Shalih Al-Fauzan. (2015). Al-Qabul Al-Ajmal fi Tafsir Al-Mufadhal Tafsir Juz ‘Amma wa Ma’ahu Fatawa Hammah. Darasah: Ad-Dar Al-‘Amiyah.
Ulama Tafsir. (2015). Al-Mukhtasar fi Tafsiril Quranil Karim.



