Melihat urgensi pembinaan keluarga, maka dapat disimpulkan sebab perlunya kita membahas masalah ini sebagai berikut:
- Termasuk ketakwaan kepada Allah dengan menunaikan amanah dan melaksanakannya.
- Membina dan mendidik keluarga merupakan bentuk komitmen terhadap firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim/66: 6)
- Mewujudkan perintah saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.
- Besarnya peran kedua orang tua dalam merubah, membangun dan menanamkan aqidah pada anak-anak. Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
“Seluruh yang lahir dilahirkan diatas fitrah (islam) Lalu kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau Nashrani.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
- Tanggung jawab orang tua yang akan ditanyakan di hari kiamat, sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَا مِنْ عَبْدِ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً, يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ, وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ, إِلَّا حَرَّمَ اَللَّهُ عَلَيْهِ اَلْجَنَّةَ
“Tidak ada seorang hamba yang Allah berikan memimpin yang meninggal pada hari meninggalnya dalam keadaan berbohong kepada rakyatnya kecuali Allah haramkan surga atasnya.” (HR. Muslim)
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّت
“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Contoh Perhatian dan Pembinaan Anak-Anak
Untuk menjelaskan urgensi permasalahan ini dan memotivasi kita dalam memperhatikannya maka saya sampaikan beberapa contoh perhatian para nabi dan orang shalih yang disampaikan dalam al-Qur`an dan sejarah.
- Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdoa untuk anak keturunannya dengan menyatakan, “Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)
- Nabi Nuh mengajak anaknya beriman di akhir kesempatan hidupnya dengan menyatakan, “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.'” (QS. Huud: 42)
- Nabi Ya’qub ‘alaihissalam berwasiat kepada anak-anaknya hingga di tarikan nafas terakhirnya sebagaimana dikisahkan Allah dalam firmanNya, “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.'” (QS. al-Baqarah: 133)
- Nabi Isma’il ‘alaihissalam dikisahkan Allah dalam firmanNya, “Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan Dia adalah seorang Rasul dan Nabi. Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam: 54-55)
- Kisah Luqman yang menasehati anaknya dengan beberapa nasehat berharga untuk kebaikan agama dan dunia mereka yang tertulis dalam firman Allah, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu. Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”(Luqman berkata), ‘Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. ‘Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 13-19).
Marilah kita semua mengikuti petunjuk orang-orang yang bertakwa ini.
Hasil dari Pembinaan dan Penjagaan Keluarga
Di antara hasil yang didapatkan darinya adalah:
- Selamat dari api neraka.
- Tidak menjadi musuh kita dihari akhir nanti karena Allah berfirman,
ٱلْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۭ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Zukhruf [43]: 67)
- Mendapatkan dua pahala sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ثَلاَثَةٌ لَهُمْ أَجْرَانِ : … وَرَجُلٌ كَانَتْ عِنْدَهُ أَمَةٌ فَأَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا ، وَعَلَّمَهَا فَأَحْسَنَ تَعْلِيمَهَا ، ثُمَّ أَعْتَقَهَا فَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ ،
“Tiga orang yang mendapatkan dua pahala – lalu beliau menyebutkan mereka, diantaranya – dan seorang yang memiliki budak wanita lalu mendidiknya dengan pendidikan yang bagus dan mengajarkannya dengan pengajaran yang baik, kemudian membebaskannya lalu menikahinya maka ia mendapatka dua pahala.” (HR. al-Bukhari)
- Menjadi sumber pahala yang abadi, seperti dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia mati maka terputus darinya amalannya kecuali tiga: Kecuali dari shodaqah jariyah atau ilmu yang manfaat atau anak yang shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
- Masuk dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا“Siapa yang mengajak kepada petunjuk maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka dan yang mengajak kepada kesesatan maka mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)
- Keluarga yang baik dan shalih akan menjadi tonggak perbaikan masyarakat.
- Mendapatkan kebahagian dan ketenangan dalam hubungan rumah tangga.
Bagaimana Membina dan Menjaga Keluarga
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membina dan menjaga keluarga, di antaranya:
I. Peran doa terhadap pembinaan dan penjagaan diri dan keluarga dari neraka.
Lihat saja bagaimana para Nabi banyak mendoakan keturunannya. Sebagai contoh adalah:
- Nabi Ibrahim menyatakan, “Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)
- Nabi Zakariya menyatakan, “Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.'” (QS. Al-Imran: 38)
Berhati-hati dari mendoakan kejelekan kepada keluarga, anak-anak dan harta, sebab doa orang tua termasuk mustajabah sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ثَلاثُ دَعَواتٍ مُسْتَجاباتٍ، لا شَكَّ فيهنَّ: دَعْوةُ المَظْلومِ، ودَعْوةُ المُسافِرِ، ودَعْوةُ الوالِدِ على وَلَدِه
“Tiga doa yang mustajab secara pasti: Doa orang terzalimi, doa musafir dan doa orang tua atas anaknya.” (Hadits dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Shahihah 2/147, no. 596)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,
لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ
“Janganlah kalian berdoa kejelekan atas diri kalian, Janganlah kalian berdoa kejelekan atas anak-anak kalian, Janganlah kalian berdoa kejelekan atas pembantu kalian dan Janganlah kalian berdoa kejelekan atas harta-harta kalian. Jangan sampai kalian mendapatkan dari Allah satu waktu yang ia diminta satu pemberian lalu mengabulkannya untuk kalian.” (HR. Muslim)
II. Memilih Istri.
Memilih istri merupakan marhalah pertama dalam tarbiyah keluarga dan menjadi langkah awal masuk dalam kebahagian rumah tangga bila pas pilihannya. Wajib bagi seorang lelaki memilih dengan baik calon istrinya lalu memilih yang terbaik agamanya. Karena ia akan menjadi ibu anak-anaknya dan anak-anak tersebut akan menyusu dari payudaranya dan akhlaknya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hal ini dalam sabdanya,
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, martabatnya, kecantikannya dan agamanya, maka pilihlah yang memiliki agama baik niscaya kamu beruntung.” (HR. al-Bukhari)
Sepatutnya istri tersebut selain akhlak yang mulia dan ketinggian agamanya juga diambil dari keluarga yang baik dan shalih. Ini lebih utama dan sempurna. Lihatlah kaum Maryam menyatakan kepadanya,
يَٰٓأُخْتَ هَٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا
“Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (QS. Maryam: 28)
– Bersambung insya Allah –
Penulis: Ust. Kholid Syamhudi
***
Artikel muslimah.or.id
sesungguhnya menjaga keluarga dari neraka itu wajib dilakukan oleh seorang suami yang menjaga dan mendidik keluarganya,,,,,,,,,,,,,