Donasi Web Donasi Web

Jagalah Keluargamu dari Neraka (1)

بسم الله الرحمن الرحيم

Banyak orang yang mendambakan kebahagiaan, mencari ketentraman dan ketenangan jiwa raga sebagaimana usaha menjauhkan diri dari sebab-sebab kesengsaraan, kegoncangan jiwa dan depresi khususnya dalam rumah dan keluarga.

Urgensi Pembinaan Rumah Tangga Islami

Diantara hal yang terpenting yang mempengaruhi terwujudnya kebahagian pada individu dan masyarakat adalah pembinaan keluarga yang istiqamah diatas ajaran Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah telah menjadikan rumah tangga dan keluarga sebagai tempat yang disiapkan untuk manusia merengkuh ketentraman, ketenangan dan kebahagiaan sebagai anugerah terhadap hambaNya.

Untuk itulah Allah berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar-Rum [30]:21)

Dalam ayat yang mulia ini Allah firmankan: (لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا) bukan (لِّتَسْكُنُوا مَعَهَا). Hal ini menunjukkan pengertian ketentraman dalam prilaku dan jiwa dan merealisasikan kelapangan dan ketenangan yang sempurna. Sehingga hubungan pasutri itu demikian dekat dan dalamnya seakan-akan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Allah jelaskan hal ini dalam firmanNya,

“Mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (Qs. Al-Baqarah [2]:187)

Apalagi bila hubungan ini ditambah dengan pembinaan dan pendidikan anak-anak dalam naungan orang tua yang penuh dengan rasa kasih sayang. Adakah nuansa dan pemandangan yang lebih indah dari ini? Hal ini menjadi penting karena perintah Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ ناراً وقودها النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عليها مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدادٌ لاَّ يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At-Tahrim [66]:6)

Ini semua menjadi tanggung jawab kita semua, sebab kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّت) متفق عليه

“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)

Dalam hadits diatas, jelaslah Allah telah menjadikan setiap orang menjadi pemimpin baik skala bangsa, umat, istri dan anak-anaknya. Setiap orang akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan Allah. Ingatlah tanggung jawab anak dan istri adalah tanggung jawab besar disisi Allah, hal ini dengan menjaga mereka dari api neraka dan berusaha menggapai kesuksesan didunia dengan mendapatkan sakinah, mawaddah dan rahmat dan di akherat dengan masuk kedalam syurga. Inilah sesungguhnya target besar yang harus diusahakan untuk diwujudkan.

Oleh karena itu agama Islam memberikan perhatian khusus dan menetapkan kaedah dan dasar yang kokoh dalam pembentukan keluarga muslim. Islam memberikan kaedah dan tatanan utuh dan lengkap sejak dimulai dari proses pemilihan istri hingga memberikan solusi bila rumah tangga tidak dapat dipertahankan kembali.

Pembinaan keluarga ini semakin mendesak dan darurat sekali bila melihat keluarga sebagai institusi dan benteng terakhir kaum muslimin yang sangat diperhatikan para musuh. Mereka berusaha merusak benteng ini dengan aneka ragam serangan dan dengan sekuat kemampuan mereka. Memang sampai sekarang masih ada yang tetap kokoh bertahan namun sudah sangat banyak sekali yang gugur dan hancur berantakan. Demikianlah para musuh islam tetap dan senantiasa menyerang kita dan keluarga kita. Allah berfirman,

وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Al-baqarah [2]:217)

Hal ini diperparah keadaan kaum muslimin dewasa ini yang telah memberikan perhatian terlalu besar kepada ilmu-ilmu dunia, namun lupa atau melupakan ilmu agama yang jelas lebih penting lagi. Ilmu yang menjadi benteng akhlak dan etika seorang muslim dalam hidup, dan menggunakan kemampuannya dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan gelombang ujian dan fitnah ini. Mereka lupa membina dirinya, keluarganya dan anak-anaknya dengan ajaran syari’at Islam yang telah membentuk para salaf kita terdahulu menjadi umat terbaik didunia ini.

Memang muncul satu fenomena bahwa urgensi dan tugas orang tua sekarang hampir-hampir menjadi sempit hanya sekedar mengurusi masalah pangan dan sandang saja. Ditambah lagi bapak sibuk dan ibupun tidak kalah sibuknya dalam memenuhi sandang pangan dan mencapai karier tertinggi. Akhirnya anak-anak terlantar dan tidak jelas arah pembinaan dan pendidikannya.

Padahal orang tua memiliki pengaruh besar dalam pembentukan dan pembinaan pribadi anak. Lihatlah sabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam,

…. فأبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Lalu kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau Nashrani.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Karena itu diperlukan pembinaan keluarga SAMARA diatas ajaran dan bimbingan Rasululloh dan contoh para salaf sholeh terdahulu.

Mengapa Harus di Atas Ajaran Rasululloh dan Contoh Para Salaf Sholih?[ 1]

Hal ini karena itu Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk mendidik manusia menjadi makhluk yang berakhlak mulia dan lepas dari kesesatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” ( Qs. al-Baqarah [2]: 151)

Demikianlah Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam membina dan mendidik para sahabatnya sehingga mereka lepas dari kebodohan dan kesesatan dan menjadi generasi terbaik, seperti dijelaskan Rasululloh dalam sabda beliau,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baiknya manusia adalah generasiku kemudian yang menyusul mereka kemudian yang menyusul mereka.” (HR al-Bukhori 5/191 dan Muslim no. 2533)

Mereka menjadi manusia terbaik dibawah pembinaan pendidik terbaik Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga Mu’awiyah bin al-Hakam radhiallahu ‘anhu mengungkapkan kekagumannya terhadap Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang pendidik dalam ungkapan indahnya,

مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ رواه مسلم

“Aku tidak akan melihat seorang pendidik sebelum beliau dan sesudahnya yang lebih baik dari beliau.” (HR Muslim no. 836)

Demikianlah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbaik yang Allah perintahkan kita untuk mencontoh dan mengikutinya dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Qs. al-Ahzab: 21). Dalam ayat lainnya, Allah memuji beliau dengan firmanNya.

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Qs al-Qalam[68]: 4)

Sehingga beliau menjadi standar dalam pendidikan dan kehidupan seluruh manusia, oleh karenanya Sufyaan bin ‘Uyainah al-Makki menyatakan: Sungguh Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah standar terbesar. Segala sesuatu ditimbang diatas akhlak, sirah dan petunjuk beliau. Semua yang sesuai dengannya maka itu adalah kebenaran dan yang menyelisihinya adalah kebatilan. [2]

Beliau dengan bimbingan dan taufiq dari Allah berhasil mendidik generasi terbaik yang telah mencapai kejayaan dan kemulian diatas dunia ini dan akan mendapatkan kebahagian mendampingi Rasululloh disyurga, yaitu generasi sahabat yang merupakan pemuka-pemuka para salaf ash-Sholih.

Setelah berlalu masa yang cukup panjang dan kaum muslimin sedikit demi sedikit melupakan generasi sahabat dan ajaran-ajaran Rasululloh yang pernah direalisasikan mereka dalam semua aspek kehidupan sehari-hari, maka lambat laum kemulian dan kejayaan tersebut akhirnya hilang dengan dipenuhinya hati kaum muslimin dengan cinta dunia. Akibatnya merekapun meninggalkan jihad di jalan Alllah . kemudian tampak pada mereka kehinaan dan kelemahan sehingga akhirnya kebidahan dan musuh-musuh mereka berhasil mencabik-cabik mereka sehingga realitanya dapat disaksikan dimasa kiwari ini.
Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mengetahui garis besar singkat ketentuan pendidikan di masa salaf ash-Sholih agar kita teladani di masa kita sekarang ini. Juga agar kemulian yang telah lalu dan kejayaan yang telah hilang kembali lagi kepada kita. Sebab tidak ada jalan untuk demikian kecuali dengan kembali kepada ajaran agama yang pernah difahami dan diamalkan para salaf ash-Sholih. Kembali kepada agama kita yang hanif dan ajaran-ajarannya. Inilah yang dijelaskan Rasululloh ketika menyampaikan solusi kejayaan umat ini setelah menderita kehinaan dalam sabda beliau,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Apabila kamu telah berjual beli dengan ‘Ienah (rekayasa riba), kalian memegangi ekor-ekor sapi, kalian ridho dengan pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Dia tidak akan mencabutnya hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR Abu Daud dan dinilai Syeikh al-Albani sebagai hadits shohih dengan berkumpulnya jalan-jalan periwayatannya (Shohih Bi Majmu’ Thuruqihi) dalam silsilah al-Ahadits ash-Shohihah no. 11)
Kembali kepada agama dalam hadits ini dijabarkan dan dijelaskan Rasululloh dalam hadits Abu Laits al-Waaqidi yang berbunyi,

إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ قَالُوْا وَ كَيْفَ نَفْعَلُ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ فَرَدَّ يَدَهُ إِلَى الْبِسَاطِ فَأَمْسَكَ بِهِ فَقَالَ : تَفْعَلُوْنَ هَكَذَا ! وَذَكَرَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ يَوْمًا : إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ فَلَمْ يَسْمَعُهُ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ : آلاَ تَسْمَعُوْنَ مَا يَقُوْلُ رَسُوْلُ اللهِ ؟! فَقَالُوْا: مَا قَالَ ؟ قَالَ : إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَة . قَالُوْا فكَيْفَ لنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟فَكَيْفَ نَصْنَعُ؟ قَالَ : تَرْجِعُوْا إِلَى أَمْرِكُمُ الأَوَّلِ

“Sesungguhnya akan terjadi fitnah. Para sahabat bertanya: Lalu bagaimana kami berbuat wahai Rasululloh? Lalu beliau mengembalikan tangannya ke permadani dan memegangnya lalu berkata: ‘Berbuatlah demikian!’

Pada satu hari Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka, ‘Sungguh akan terjadi fitnah.’

Namun banyak orang yang tidak mendengarnya. Maka Mu’adz bin Jabal mengatakan, ‘Tidakkah kalian mendengar perkataan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Mereka menjawab, ‘Apa sabdanya?’ Maka beliau berkata, ‘Sesungguhnya akan terjadi fitnah.’ Mereka bertanya, ‘Bagaimana dengan kami wahai Rasululloh? Bagaimana kami berbuat?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Kalian kembali kepada urusan kalian yang pertama.'” (HR Ath-Thobrani dan sanadnya dinilai Shohih oleh Syeikh ‘Ali Hasan dalam at-Tashfiyah wa at-Tarbiyah)

Alangkah butuhnya kita dizaman ini untuk kembali kepada ajaran Rasululloh dan pemahaman para sahabat, khususnya dalam pendidikan.  Kita juga butuh untuk menjalankan dan komitmen dengan adab-adabnya dan cara mereka mengajari anak-anak mereka dan menjadikannya sebagai pedoman dan metode perilaku kita. Hal ini tidak akan terealisasi kecuali setelah kita bersandar total kepada metode al-Qur’ani dan metode Nabi n dalam ilmu, belajar dan mengajar yang telah diamalkan para salaf sholih tersebut dengan menjadikannya sebagai dasar dan menerapkannya secara benar dan menyeluruh.

Pernyataan Salaf Tentang Usaha Menjaga Keluarga dari Neraka

Berikut ini sebagian pernyataan ulama salaf seputar menjaga keluarga dari neraka:

Ad-Dhohaak dan Muqaatil menyatakan, “Wajib bagi setiap muslim untuk mengajari keluarganya dari kerabat, budak wanita dan lelaki semua yang Allah wajibkan pada mereka dan yang dilarang. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Termasuk didalamnya memerintahkan anak-anak kecil untuk sholat. Sehingga dapat menjadi perisai diri dari neraka karena melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Ajarilah diri kalian kebaikan dan ajarilah keluarga kalian kebaikan dan didiklah mereka.

Ibnu al-Qayyim menyatakan, “Berapa banyak orang yang menyengsarakan anak dan buah hatinya di dunia dan akherat dengan acuh dan tidak mendidiknya serta membantu mereka menumpahkan syahwatnya. Dengan itu, ia menganggap telah memuliakannya padahal ia menghinakannya dan telah memberikan kasih sayangnya padahal ia telah menzholiminya. Sehingga ia kehilangan (kesempatan) memanfaatkan anaknya (untuk bekal akhiran -ed) dan anaknya pun kehilangan bagiannya di dunia dan akherat. Apabila engkau perhatikan baik-baik kerusakan pada anak-anak maka engkau dapati umumnya dari pihak bapak (Tuhafatul Maudud Fi Ahkaam al-Maulud hal 242)

Beliau juga menyatakan, “Siapa yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya semua yang bermanfaat baginya dan meninggalkannya begitu saja, maka ia telah melakukan kejelekan yang paling besar padanya. Mayoritas anak-anak datangnya kerusakan pada mereka dari pihak bapak dan tidak perhatiannya mereka terhadap anak-anak serta tidak mengajari anak-anak kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Sehingga mereka telah menelantarkan anak-anak sejak kecil.

Mereka tidak dapat mengambil manfaat dari diri mereka dan orangtua mereka pun tidak dapat mengambil manfaatnya ketika telah tua. Sebagaimana ada sebagian orang tua yang mencela anaknya yang durhaka lalu sang anak menjawab, ‘Wahai bapakku engkau telah mendurhakaiku ketika aku kecil maka (sekarang) aku mendurhakaimu setelah engkau tua dan engakau telantarkan aku ketika aku masih kanak-kanak maka (sekarang) aku menelantarkanmu ketika engkau telah tua’. (Tuhfat al-Maudud bi Ahkam al-Maulud 229)

– Bersambung insya Allah

Penulis: Ust. Kholid Syamhudi

Footnote:

[1]Diambil dari makalah penulis di Majalah Assunnah edisi 3 th XII/ 2008

[2]Tadzkirat as-Saami’ wa al-Mutakallim, Ibnu Jumaa’ah al-Kinaani hal. 21

***

Artikel muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Banner MPD

About Author

11 Comments

  1. ya jagalah keluarga,,,ok ijin copas

  2. Ummi…aku sedih…suamiku sepertinya tidak mencintaiku…tidak ada belaian sayang dan ucapan cinta selama pernikahan (4 thn),
    Masa perkenalan kami hanya 5 bulan kemudian kami menikah
    aku merasa tersiksa dan membuatku menjadi pribadi yang keras (karena merasa tidak disayang)…mau bercerai tapi aku takut karena tidak ada pekerjaan dan aku masih mencintai suamiku..aku harus bagaimana ummi….please help me….

    • www.muslimah.or.id

      Semoga Allah memudahkan segala urusan saudariku.
      Komunikasi adalah hal yang penting di antara suami istri. Mungkin hal pertama yang perlu dilakukan adalah saling komunikasi agar masing-masing memahami keinginan dan kebutuhan masing-masing pihak. Hal ini untuk mengatasi kesalahpahaman dan jarak di antara suami istri. Karena bisa jadi suami anti memang bukan tipikal orang yang ‘romantis’ sehingga tidak mudah mengatakan cinta dan sayang.

      Cobalah anti lebih dahulu yang mengatakan, “Abang/mas…adek sayaang banget sama abang/mas.” Ketika kita senang dibegitukan, insya Allah begitu pula dengan suami. Walaupun reaksinya mungkin tidak sesuai yang kita harapkan (mungkin karena malu dan kaget dan tidak biasa). Tapi kita bisa teruskan dengan canda, “Abang/Mas juga sayang kan sama adek?” Begitu seterusnya, insya ALlah akan terjadi komunikasi dan ungkapan rasa juga tersampaikan.

      Semoga Allah memberikan kesabaran kepada anti dan teruslah berdoa semoga Allah menjadikan segala sesuatunya menjadi lebih baik.

  3. Ukhti Hale…
    Semoga Alloh merahmatimu…
    Janganlah ukhti bersedih hati dengan kondisi seperti ini.
    Janganlah ukhti bertindak gegabah memutuskan ‘khulu'(menuntut cerai kepda suami) hanya gara2 suami kurang romantis.
    Coba Ukhti teliti lebih mendalam, kira2 apa penyebab suami ‘pasif’ dan tidak ada ekspresi cinta dan sayang. Mungkin saja beliau capek, ada masalah diluar rumah atau mungkin saja sikap kita yang kurang enak di depan suami, kita tidak pernah tersenyum, atau bermuka datar2 saja. bahkan ada seorang suami yang mengatakan menikah dengan patung, karena si istri kaku, tidak bisa membawa suasana menjadi ‘indah’,tidak bisa diajak bercanda dsbnya.
    Sehingga suami merasa bosan dirumah dan terbawa suasana hampar dan datar2 saja.
    Coba Ukhti renungkan kembali hal ini…
    Ukthi, saya nasehatkan untuk saya pribadi dan kalian semua…bertaqwalah kepada Allah, sungguh tidak pantas bagi kita melihat suami hanya sisi negatifnya saja…
    Tidakkah kita takut ancaman bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita?
    Atas alasan apa mereka menjadi penghuni moyoritas?
    Apakah mereka kufur terhadap Rabbnya?
    Tidak ukhti…
    Sekali-kali tidak…
    Mereka memenuhi neraka karena kebanyakan wanita kufur terhadap suaminya…
    Mereka tidak bersyukur dan tidak berterimakasih atas kebaikan suami kepada dirinya…
    Yang ada hanya cela dan cercaan kepada suami…
    Tidakkah kita malu wahai ukhti…
    Suami kita bekerja keras, membanting tulang, berkeluh keringat demi menafkahi anak istrinya. Sementara kita dirumah duduk2 saja, menikmati makanan dan minuman tanpa merasakan penderitaan yang dialami suami…kadang malah ada istri yang mengisi waktu dirumah dengan ngobrol sana sini dengan Ibu2 lainnya, nggosip kanan kiri. Wal ‘iyyadzubillah…
    Ukhti…
    Bersyukurlah kita sudah dikarunia seorang suami yang bertanggungjawab…
    Berbahagialah wahai ukhti…
    Justru yang bisa membuat suami bercanda, bisa senyum, bisa mengekspresikan cinta itu adalah kita sebagai istri. Itulah tanggungjawab kita…
    Bukan malah kita menunut suami…
    Jadi ukhti…
    Bersabarlah…
    Semoga Alloh menjadikan kalian pasangan keluarga yang bahagia di dunia hingga bertemu disurgaNya kelak. Amin

  4. Rabiatul ikhram

    saya punya tiga putra umi, untuk menyuruh anak2 yang masih kecil untuk mengerjakan shalat bukanlah suatu hal yang mudah, karena mereka belum mengerti dan memahami apa mamfaat dari shalat, apalagi kami sebagai orang tua belum sempurna juga untuk mendirikannya, saya mau tanya bagaimanakah caranya agar ayah (bisa jadi imam), ibu dan anak bisa melakukan shalat berjamaah dengan baik, selama ini kami belum pernah melakukannya, bagaimama cara mengawalinya umi , supaya kami bisa menuju syurga. mohon pejelasannya, terima kasih umi, wassalam

  5. Ummu fatheema,

    Wahai saudari, janganlah berburuk sangka terhadap sesama perempuan. Pertanyaan hale menurut saya pertanyaan yang wajar, dan saya yakin bukan hanya ukhti hale saja yang mengalami-nya. Saya memiliki sepupu yang menikah dikarenakan perjodohan. Mereka hanya bertemu dua kali sebelum pernikahan.

    Sepupu saya merasakan kalau suaminya kurang perhatian, dan juga tidak mencintainya. Suaminya adalah duda yang didesak lagi oleh ibunya untuk menikah lagi. Atas dasar iman, dikarenakan suami-nya adalah pria yang sholeh, sepupu saya menerima pinangannya. Sepupu saya mencoba untuk berfikiran positif, berasumsi kalau suaminya hanya kelelahan sepulang dari bekerja. Namun setelah dua tahun pernikahan, dan setelah memiliki anak, suaminya tetap tidak perhatian, dan sering berkata ketus.
    Sepupu saya sudah melakukan intropeksi diri, dia mulai berdandan untuk suami, belajar memasak, mencucikan baju dan mensetrikanya dan tidak lupa mengasuh anak dengan baik. Wahai ummu Fatheema, Sepupu saya merasa kalau yang salah itu adalah dirinya. Sebagai perempuan dirinyalah yang harus berkaca dan merubah diri menjadi lebih baik. Namun bagaimana dengan suaminya wahai ummu, apakah sepupu saya tidak boleh mengemukakan perasaannya dan berharap kalau suaminya juga memperbaiki diri?

    Jika suami bekerja, itu adalah kewajiban, suami tidak boleh menjadikan alasan pekerjaan yang membuat dia tidak memperlakukan istrinya dengan baik. Istri juga memiliki banyak permasalahan. Apalagi kalau dia memiliki anak, merawat anak, kepasar, memasak, mencuci. Pekerjaan yang dilakukan istri adalah pekerjaan mulia yang harus dihargai sama dengan pekerjaan suami.

  6. ??????????? ?????????? ?????????? ????? ????????? ????
    Umi.rumah tangga kami sudah berjalan 16 thn, mulai dari awal perkawinan sampai g 15 th,hanya kezoliman g $ rasakan sampai memiliki 1 putra 3 putri,?? $ ceritakan bentuk-bentuk kezolimannya,$ takut dosa umi..
    Umi..kami tidak memiliki sosok seorang imam di keluarga kami,suami $ tidak pernah sholat,atau mengajari,menuntun kami tentang agama,ataupun ajaran2 Rosululloh
    $ sangat ? sekali membayangkan 1 keluarga masuk neraka semua..
    Saat ini $ tidak tahu harus bagaimana, minta cerai atau pertahankan rumah tangga ini, padahal memasuki thn 16 suami sudah mulai belajar berubah tidak menzolimi lg..
    g $ lakukan saat ini hanya menyerahkan segalanya kpd ??????? Azza wa Jalla..

    ???????????? ?????????? ?????????? ????? ?????????????

  7. Ust M. Hary Al - Ghifari

    Assalamualaikum wrwb.ana minta izin mencopas artikel yang bermanfaat tuk sebagai sarana dakwah. syukran

  8. Ipan Firmansyay

    Ana ijin copas

  9. lessya angelin

    Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarolatuh
    Umi..saya mau bertanya bagsimana hukum orang tua yg tidak merawat anaknya…Saya dilahirkan tetapi mereka bercerai setelah saya lahir…kemudian saya d rawat sama alm kakek dan nenek..dan belau membenci ayah saya…jadi saya bingung dan sayapun pernah brtemu ayah saya1xdan saya tidak mengenalinya…dan saya mulai membencinya karena beliau menelantarkan saya begitu pula ibu saya karna wlawpun rumah ibu saya dekat ttapi beliau cuek tdk pernah menayakan kabar dan saya dr kecil memanggil bibi terhadapnya krna kakek yg minta…lantas apa yg harus saya lakukan

  10. Izin share

Leave a Reply