III. Mentarbiyah Mereka dan Memperhatikan Perkara-perkara Keimanan
Memulai dengan menanamkan secara kokoh keimanan kepada jiwa sebelum belajar hukum syariat. Hal itu dilakukan dengan mengenalkan murid tentang Rabbnya, nama, sifat dan perbuatan-Nya sehingga tertanam dalam jiwanya pengagungan, penghormatan, pengharapan dan rasa takut kepada Allah serta kecintaan kepadaNya. Juga ia selalul ingat kepada kematian, kengerian hari kiamat, surga dan neraka serta hari perhitungan (hisab). Memulai dengan sisi pendidikan ini akan mempersiapkan jiwa-jiwa untuk dapat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta istiqamah di atasnya. Inilah jalan bijak yang disampaikan al-Qur’an dalam pendidikan generasi pertama dan kedua. Hal ini dijelaskan secara gamblang oleh Ummu al-Mukminin ‘Aisyah dalam pernyataan beliau,
إنَّما نَزَلَ أوَّلَ ما نَزَلَ منه سُورَةٌ مِنَ المُفَصَّلِ، فِيهَا ذِكْرُ الجَنَّةِ والنَّارِ، حتَّى إذَا ثَابَ النَّاسُ إلى الإسْلَامِ نَزَلَ الحَلَالُ والحَرَامُ، ولو نَزَلَ أوَّلَ شَيءٍ: لا تَشْرَبُوا الخَمْرَ، لَقالوا: لا نَدَعُ الخَمْرَ أبَدًا، ولو نَزَلَ: لا تَزْنُوا، لَقالوا: لا نَدَعُ الزِّنَا أبَدًا، لقَدْ نَزَلَ بمَكَّةَ علَى مُحَمَّدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وإنِّي لَجَارِيَةٌ ألْعَبُ: {بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ} [القمر: 46]، وما نَزَلَتْ سُورَةُ البَقَرَةِ والنِّسَاءِ إلَّا وأَنَا عِنْدَهُ، قالَ: فأخْرَجَتْ له المُصْحَفَ، فأمْلَتْ عليه آيَ السُّوَرِ
“Sungguh yang pertama kali turun daninya adalah satu surat dari al-Mufashshol (surat-surat pendek) yang berisi penjelasan tentang surga dan neraka hingga apabila manusia telah mantap dalam Islam maka turunlah halal dan haram. Seandainya yang pertama kali turun adalah perintah, ‘Jangan minum Khamr (miras)!’. Tentulah mereka menjawab, ‘Kami tidak akan meninggalkan Khamr selama-lamanya’. Seandainya yang pertama turun adalah perintah, ‘Jangan berzina!’. Tentulah mereka akan menjawab: ‘Kami tidak akan meninggalkan zina selama-lamanya’. Sungguh telah turun di Makkah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku waktu itu masih anak kecil yang bermain-main firman Allah, ‘Sebenarnya hari kiamat Itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.’ (QS. al-Qamar: 46) Dan belum turun surah al-Baqarah dan an-Nisaa’ kecuali aku sudah berada di sisinya.” (HR. al-Bukhari no. 4993)
Demikianlah para sahabat dibina dengan iman sebelum belajar al-Qur’an sebagaimana dijelaskan Jundub radhiallahu ‘anhu dalam pernyataan beliau,
فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا
“Kami belajar iman sebelum belajar Al Qur’an kemudian belajar Al Qur’an sehingga bertambah dengannya iman.” (Syu’abil Iman 1/76)
Oleh karena itu anak-anak hendaknya dididik mengetahui iman dan cabang-cabangnya yang telah dijelaskan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الإيمانُ بِضعٌ وستون أو سبعون بابًا. أدناها إماطةُ الأذى عن لطريقِ، وأرفعُها قولُ لا إله إلا اللهُ، والحياء شعبةٌ من الإيمان
“Iman ada enam puluh lebih atau tujuh puluh lebih cabang, yang terendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan dan yang paling utama adalah ucapan syahadat dan malu cabang dari iman.” (HR al-Bukhari)
1. Mendidik mereka untuk menjaga dan memperhatikan kewajiban-kewajiban Islam, contohnya adalah shalat sebagaimana firman Allah,
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thahaa: 132)
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَعَلَيْكُمْ بِالصَّلاَةِ فِي بُيُوْتِكُمْ فَإِنَّ خَيْرَ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ
“Shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya kecuali yang wajib.” (HR Muslim)
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أهْلَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا – أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيعاً ، كُتِبَا في الذَّاكِرِينَ وَالذَّاكِرَاتِ
Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ ، فَصَلَّى وَأيْقَظَ امْرَأَتَهُ ، فَإنْ أبَتْ نَضَحَ في وَجْهِهَا المَاءَ ، رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ ، فَصَلَّتْ وَأيْقَظَتْ زَوْجَهَا ، فَإن أبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ المَاءَ
“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun malam lalu shalat dan membangunkan istrinya lalu iapun shalat. Apabila istrinya tidak mau maka ia memercikkan air di wajahnya dan semoga Allah merahmati wanita yang bangun malam lalu shalat dan membangunkan suaminya lalu suaminyapun shalat. Apabila suaminya enggan maka ia memercikkan air ke wajahnya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Al Nasa’i dan Ibnu Majah dan dishahihkan Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim dan disetujui Al Dzahabi)
2. Menjauhkan mereka dari orang kafir dan yang menyimpang dan mendidik anak untuk mencintai orang mukmin.
Sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menyatakan,
كانوا يعلمون أولادهم محبة الشيخين كما يعلمونهم السورة من القران
“Mereka mengajari anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakar dan Umar sebagaimana mereka mengajari anak-anak mereka satu surat dari Al Qur’an.” (al-Kholaal dalam Sunnahnya)
Mengagungkan dan menghormati ilmu dan menjadikannya sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagai konsekuensinya adalah memuliakan dan menghormati para ulama dan para guru serta bersopan santun bersama mereka; karena mereka adalah pewaris para nabi sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga merendahkan suara di hadapan mereka, tidak melangkahi mereka, berlemah lembut dalam berbicara dengan mereka serta baik dalam berbicara kepada mereka. Dengan itu semua mereka akan dengan senang hati menyerahkan ilmunya dan memberikan faidah yang dimiliki mereka kepada para muridnya.
3. Mengagungkan larangan Allah dan hal-hal yang diharamkan.
Hal ini dapat dilihat pada riwayat berikut ini, Dari Ibnu Umar beliau berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تَمْنَعوا نِساءَكُمُ المَساجِدَ. قال: فقال ابنٌ لعبدِ اللهِ بنِ عُمرَ: بلَى، واللهِ لَنَمْنَعُهُنَّ! فقال ابنُ عُمرَ: تَسمَعُني أُحَدِّثُ عن رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وتَقولُ ما تَقولُ؟
“‘Janganlah kalian melarang wanita untuk shalat di masjid.’ Lalu anaknya menjawab, ‘Demi Allah, kami pasti akan melarangnya.’ Maka beliaupun marah besar dan berkata, ‘Aku sampaikan hadits dari Rasulullah dan kamu bantah dengan menyatakan kami akan melarang mereka!'” (HR. Ibnu Majah)
4. Mendidiknya untuk terbiasa dengan doa-doa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semangat melakukan doa dan dzikir di waktu pagi dan petang atau waktu-waktu tertentu dan mengajari para sahabatnya untuk berbuat demikian. Demikian juga para sahabat semangat mengulangi dzikir dan mengajari anak-anak mereka.
5. Mendidik mereka untuk sabar dalam ketaatan.
Sebagaimana dalam wasiat Luqman kepada anaknya:
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)
6. Mengajari mereka hukum-hukum Islam.
Para ulama mewajibkan seorang belajar tentang kewajiban Islam dan mengajarkannya kepada keluarganya. Apabila suami tidak mampu mengajari istrinya maka berilah kemudahan pada mereka sebab-sebab ta’lim agar mengetahui semua yang Allah wajibkan dan larang bagi mereka.
7. Mengajari dan menjadikan mereka hafal Al Qur’an.
Hendaknya orang tua memperhatikan dan menyemangati anak-anaknya menghafal Al Qur’an sejak kecil sehingga ketika remaja hati mereka dipenuhi kecintaan kepada Allah dan pengagungan Al Qur’an. Lalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya Dahulu para salaf umat ini pertama kali bertanya, bertanya tentang hafalan Al Qur’an. Kisah Umar bin Abi Salamah menjadi dalil cepatnya hafalan anak-anak dan anjuran bersegera menghafalkan Al Qur’an pada anak-anak.
Amru bin Salamah berkata,
فَلَمَّا كَانَتْ وَقْعَةُ أَهْلِ الْفَتْحِ بَادَرَ كُلُّ قَوْمٍ بِإِسْلَامِهِمْ وَبَدَرَ أَبِي وَ قَوْمِي بِإِسْلَامِهِمْ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ جِئْتُكُمْ وَاللَّهِ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقًّا فَقَالَ صَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا وَصَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّي لِمَا كُنْتُ أَتَلَقَّى مِنْ الرُّكْبَانِ فَقَدَّمُونِي بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ
“Ketika terjadi penaklukan penduduk kota Makkah maka setiap kaum bersegera masuk Islam, bapak dan kaumku segera masuk Islam. Ketika datang ia berkata, ‘Demi Allah aku membawa kepada kalian dari sisi Nabi satu kebenaran.’ Lalu ia berkata, ‘Lakukanlah shalat ini pada waktu ini dan shalat itu pada waktu itu. Apabila datang waktu shalat hendaklah salah seorang kalian beradzan dan yang mengimami shalat kalian adalah yang paling banyak hafalan Al Qur’annya.’ Lalu mereka melihat dan tidak mendapati seorangpun yang lebih banyak hafalannya dariku, karena aku sering menemui orang yang datang. Maka mereka menunjukku sebagai imam shalat padahal usiaku baru enam atau tujuh tahun.” (HR. Al Bukhari)
Menghafal Al Qur’an sejak kecil telah menjadi adat kebiasaan para sahabat, seperti disampaikan ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dalam pernyataan beliau,
جَمَعْتُ المُحْكَمَ في عَهْدِ رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقُلتُ له: وما المُحْكَمُ؟ قَالَ: المُفَصَّلُ
“Aku menghafal Al Muhkam di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada yang bertanya kepadanya, ‘Apa itu al-Muhkam?’ Beliau menjawab al-Mufashshol (yaitu dari surat Al Hujurat sampai akhir Al Qur’an)
Beliaupun berkata,
سلوني عن التفسير فإني حفظت القرآن وأنا صغير
“Tanyalah kepadaku tentang tafsir karena aku telah hafal Al Qur’an ketika masih kecil.” (Al-Adab asy-Syar’iyah karya Ibnu Muflih 1/244)
8. Mendidik mereka untuk senantiasa merasa terawasi oleh Allah.
Allah menceritakan kisah Luqman ketika menasehati anaknya,
يَٰبُنَىَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
“(Luqman berkata), “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.”” (QS. Luqman: 16)
Hal ini dikuatkan dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mewasiatkan Ibnu Abbas yang masih kecil untuk merasa terawasi oleh Allah dalam hadits yang berbunyi,
عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا ، فَقَالَ : يَا غُلَامُ ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ : اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَـعِنْ بِاللهِ. وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِاجْتَمَعَتْ عَلىَ أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ ؛ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَ إِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ ؛ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيِحٌ
وَفِي رِوَايَةٍ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ : اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّ ةِ. وَاعْلَمْ أَنَّ مَاأَخْطَأَكَ ؛ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ ، وَمَا أَصَابَكَ ؛ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata, “Suatu saat saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: ‘Jagalah Allah 1), niscaya dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada di hadapanmu 2). Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering 3).'” (Riwayat Tirmuzi dan dia berkata, Haditsnya hasan shahih)
Dalam sebuah riwayat selain Tirmuzi dikatakan, “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di depanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidaklah akan menimpamu dan apa yang ditetapkan akan menimpamu tidak akan luput darimu, ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran dan kemudahan bersama kesulitan dan kesulitan bersama kemudahan.”
9. Menanamkan akhlak mulia pada mereka seperti ukhuwah, itsar, dll.
10. Menanamkan kecintaan kepada tempat-tempat yang disyari’atkan untuk dicintai seperti masjid, Makkah, Madinah dan Baitul Maqdis.
11. Menanamkan keimanan dengan kisah-kisah Islam seperti kisah-kisah nabi, sahabat, ulama salaf dan yang lainnya, agar mereka dapat meniru dan mencontohnya, khususnya sirah Nabi.
12. Mentarbiyah keluarga untuk melaksanakan amar makruf nahi mungkar dan mengajari mereka fikihnya.
13. Semangat meminta perlindungan Allah untuk anak-anak dan mengajari serta membiasakan keluarga melakukan wirid dan dzikir-dzikir yang sudah ada dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم يعوِّذ الحسن والحسين ويقول : إن أباكما [يعني إبراهيم عليه السلام] كان يعوذ بها إسماعيل وإسحاق : أعوذ بكلمات الله التامة من كل شيطان وهامة ومن كل عين لامة
Dari ibnu Abbas rahiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Nabi memintakan perindungan (dari Allah) untuk al-Hasan dan al-Husein dan menyatakan, ‘Sesungguhnya bapak kalian berdua (yaitu Ibrahim) memintakan perlindungan dari Allah untuk Isma’il dan Ishaaq dengan kalimat, ‘Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap syaitan dan binatang berbisa serta mata hasad yang menyebabkan penyakit.'” (HR. al-Bukhari)
Demikian juga disunnahkan untuk mendahulukan prisai anak-anak sebelum lahirnya dan itu dengan mengikuti contoh nabi dalam hal itu.
- Doa ketika menemui istri setelah pernikahan dengan memegang ubun-ubunnya dan berdoa dengan doa yang ada dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
- Doa ketika berhubungan intim dengan istri,
بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
14. Membiasakan mereka untuk beradab dan sopan santun seperti adab makan, minum, izin, salam keluar masuk rumah dll.
IV. Memperingatkan dan Menjauhkan Mereka dari Hal-hal yang Merusak dan Memerintahkan Mereka yang Baik-baik.
- Menjauhkan mereka dari teman dan sahabat yang buruk
- Mengontrol istri ketika keluar dari rumah untuk bekerja atau selainnya.
- Menjauhi mereka dari sarana ghazwul fikri dan memberikan gantinya yang bermanfaat baik media masa elektronik mauapun non elektronik.
- Mendidik keluarga dan anak-anak untuk mengerti urgensi menjaga waktu dan menggunakan waktunya dalam perkara yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya. Hal ini dapat dengan menyibukkan mereka dan mengarahkan kemampuan mereka dengan memberikan program edukatif yang ilmiyah atau daurah-daurah yang bermanfaat dan lain-lainnya
- Mendidik keluarga untuk tidak menyebarkan rahasia dalam rumah.
- Terkadang sengaja menyelisihi kemauan mereka
- Memberi mereka makanan dan minuman yang halal, karena hal itu memiliki pengaruh besar terhadap keshalihan anak.
V. Menyiapkan Kondisi dan Lingkungan yang Kondusif untuk Pembinaan dan Penjagaan Keluarga. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa hal di bawah ini.
1. Memilih tetangga sebelum membuat rumah.
2. Qudwah yang baik. Para salaf umat telah sadar dengan perkara ini dan urgensinya sehingga Amru bin ‘Utbah memperingatkan pendidik anaknya akan hal ini, beliau menyatakan,
ليكن اول اصلاحك لولدي اصلاحك لنفسك، فان عيونهم معقودة بعينك، فالحسن عندهم ما صنعت والقبيح عندهم ماتركت
“Hendaknya pertama pendidikanmu untuk anakku adalah perbaiki dirimu, karena mata mereka terikat dengan matamu. Yang baik menurut mereka adalah yang kamu kerjakan dan yang buruk menurut mereka adalah yang kamu tinggalkan.”
Hal inipun telah diisyaratkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah Abdullah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu yang berbunyi,
دعتْني أُمي يومًا ورسولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلم قاعدٌ في بيتِنا فقالتْ : ها تعالَ أُعطيكَ فقال لها رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وما أردتِ أنْ تعطيهِ ؟ قالتْ : أُعطيهِ تمرًا، فقال لها رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : أما إنك لو لمْ تُعطيهِ شيئًاكُتبتْ عليكِ كَذِبةٌ
Dari Abdullah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu beliau berkata, “Ibuku satu hari memanggilku sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk di dalam rumah kami. Lalu ibuku berkata, ‘Mari kesini aku beri kamu sesuatu!’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, ‘Nampaknya kamu tidak ingin memberinya?’ Ibuku menjawab, ‘Saya akan memberinya sebuah kurma.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, ‘Adapun kamu bila tidak memberinya sesuatu maka ditulis atasmu satu kedustaan.'” (HR. Abu Daud dan Ahmad dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 748 hal 2/384)
3. Jadikan rumah sebagai tempat berdzikir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ البَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ، وَالبَيْتِ الَّذِي لا يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ، مَثَلُ الحَيِّ والمَيِّتِ
“Permisalan rumah yang digunakan untuk berdzikir dan rumah yang tidak digunakan untuk berdzikir seperti yang hidup dan mati.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اقرؤوا سورةَ البقرةِ في بيوتِكم، فإنَّ الشيطانَ لا يدخلُ بيتًا يُقرأُ فيه سورةُ البقرةِ
“Bacalah surat al-Baqarah di rumah-rumah kalian, karena syaitan tidak masuk rumah yang dibacakan surat al-Baqarah.” (HR al-Hakim dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Shahihah no.1521)
4. Memilih madrasah yang bagus
5. Membantu mereka memilih teman yang baik.
6. Memilah-milah yang baik dan yang buruk.
7. Menyediakan alat bermain yang edukatif.
8. Keluarga membutuhkan dalam seluruh umur mereka kepada sentuhan kasih sayang dan ucapan lembut yang menyentuh perasaan dan tabiat mereka. Disamping juga canda dan gurau yang baik bagi mereka.
VI. Tinggal Bersama Keluarga dan Tidak Putus Komunikasi.
Sudah seharusnya seorang dekat dengan keluarganya. Rasulullah pernah berwasiat untuk orang yang bepergian dengan wasiat,
السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ سَفَرِهِ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ
“Safar (bepergian) adalah sepotong adzab, ia mencegah salah seorang dari kalian dari makan, minum dan tidur. Apabila selesai keperluannya maka hendaklah segera pulang ke keluarganya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
VII. Tidak Menjadikan Keluarga Sebagai Penghalang Ketaatan dan Dakwah
Keluarga dapat menjadi musuh dalam selimut yang menghalangi kita melakukan ketaatan. Allah Ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taghabun: 14)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa keluarga menjadi hujjah orang munafikin untuk meninggalkan jihad seperti dalam firman-Nya,
“Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: “Harta dan keluarga Kami telah merintangi Kami, Maka mohonkanlah ampunan untuk kami,” mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Fath: 11)
VIII. Mendamaikan Antar Keluarga Bila Terjadi Perselisihan dengan Ajaran Islam
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 35)
IX. Membangun Pribadi yang Kuat dan Kokoh di Rumahnya Sehingga Dapat Melaksanakan Kewajiban Dakwah dan Pengarahan Dalam Keluarga,
X. Kecemburuan Kepada Keluarga
XI. Memiliki Pengetahuan Tarbiyah yang Cukup dan Berakhlak Dengannya Dalam Mengarahkan Anak-anak dengan Pengarahan yang Tepat dan Baik
Demikianlah sebagian cara yang dapat dikemukan dalam makalah ini mudah-mudahan bermanfaat.
Abu al-Abaas Kholid Syamhudi.
Assalaamu’alaikum….
saya ingin bertanya… (maaf agak menyimpang dari pembahasan di atas)…apakah memang benar bahwa setiap manusia ada jin/syaitan yg selalu menemaninya???
seperti hadits ‘Aisyah…(maaf sy tdk terlalu hapal redaksinya)
ketika itu ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengganggu Rasulullaah, dan Rasulullaah berkata, “wahai ‘Aisyah, apakah syaitan mu telah datang?” maka ‘Aisyah bertanya, “Apakah engkau juga memiliki syaitan, ya Rasulullaah? Rasulullaah menjawab “ya, tetapi Alloh melindungiku dengan menjadikannya seorang muslim.?
mohon penjelasannya disertai dgn hadits yg saya sampaikan selengkapnya… (mohon secepatnya di jawab, karena sangat penting buat saya)
jazaakumulloh khoir…
Baarokallahu fika
Salam wbt..
mohon kebenaran di salin ke blog ya !
jazakumullah khair