Bismillah.
Para ulama dari masa ke masa menjadi lentera dan pembuka jendela petunjuk bagi umat manusia. Melalui tulisan dan nasihat mereka, para ulama menyadarkan hati yang lalai untuk menemukan jati diri dan hakikat hidupnya. Keberadaan para ulama menjadi pertanda kebaikan bagi suatu zaman dan cahaya untuk sejarah peradaban manusia.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)
Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau menafsirkan para ulama adalah orang-orang yang mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sa’id bin Jubair menambahkan bahwa yang dimaksud rasa takut kepada Allah di sini adalah yang menghalangi dari berbuat kemaksiatan.
Berbagai bentuk kerusakan di atas muka bumi ini tidak lain adalah dampak dari kemaksiatan. Bahkan maksiat itu sendiri adalah kerusakan. Oleh sebab itu, Allah menyebut perbuatan orang munafik yang merusak agama sebagai bentuk perusakan. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang munafik), ‘Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka justru berkata, ‘Sesungguhnya kami ini hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.’…” (QS. al-Baqarah: 11)
Untuk bisa melawan berbagai bentuk kerusakan dan kezaliman, maka seorang hamba harus memahami perkara yang menjadi pokok dan asas dari segala kebaikan. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya al-Fawa’id menerangkan, “Orang-orang yang arif (mengenal) Allah bersepakat bahwa asas dari segala kebaikan adalah karena taufik dari Allah kepada hamba. Adapun segala keburukan sumbernya adalah ketika Allah tidak berkenan menolong hamba itu. Mereka pun sepakat bahwa hakikat taufik adalah Allah tidak menyandarkan dirimu kepada dirimu sendiri…” (lihat al-Fawa’id, hal. 141)
Dari sinilah para ulama menjelaskan pentingnya peranan doa dalam menjaga kehidupan seorang muslim. Sebab doa itulah yang menjadi intisari dari segala bentuk ibadah. Orang yang tidak mau berdoa pun digelari sebagai orang-orang yang sombong. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Rabb kalian mengatakan, ‘Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permintaan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah (berdoa) kepada-Ku pasti akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60)
Baca juga: Rasa Harap Dan Takut Kepada Allah, Mana Yang Lebih Diutamakan?
Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Seorang insan selalu membutuhkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam bentuk ibadah dan isti’anah (permintaan pertolongan). Adapun kebutuhan dirinya kepada Allah dalam bentuk ibadah, karena sesungguhnya ibadah itu adalah bahan baku (sumber) kebahagiaan dirinya. Adapun mengenai isti’anah, karena sesungguhnya apabila Allah tidak memberikan bantuan dan pertolongan kepadanya, maka Allah akan menyandarkan dia (urusannya) kepada dirinya sendiri. Sehingga itu artinya Allah akan menyerahkan dirinya kepada sifat ketidakmampuan, kelemahan, dan aurat (aib). Sementara tidak mungkin tegak urusan seorang insan melainkan dengan bantuan dan pertolongan dari Allah ‘Azza wa Jalla.” (lihat Ahkam min al-Qur’an al-Karim, hal. 22-23)
Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Sesungguhnya rasa takut yang sejati itu adalah kamu takut kepada Allah sehingga menghalangi dirimu dari berbuat maksiat. Itulah rasa takut. Adapun dzikir adalah sikap taat kepada Allah. Siapa pun yang taat kepada Allah, maka dia telah berdzikir kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak taat kepada-Nya, maka dia bukanlah orang yang -benar-benar- berdzikir kepada-Nya, meskipun dia banyak membaca tasbih dan tilawah al-Qur’an.” (lihat Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 31)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sumber dari semua fitnah [kerusakan] adalah karena mendahulukan pemikiran di atas syariat dan mengedepankan hawa nafsu di atas akal sehat. Sebab yang pertama merupakan sumber munculnya fitnah syubhat, sedangkan sebab yang kedua merupakan sumber munculnya fitnah syahwat. Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan, sedangkan fitnah syahwat dapat ditepis dengan kesabaran. Oleh karena itulah, Allah Yang Maha Suci menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada kedua perkara ini. Allah berfirman,
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24)
Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan sabar dan keyakinan, akan bisa dicapai kepemimpinan dalam hal agama. Allah juga memadukan keduanya di dalam firman-Nya,
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Mereka saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 3)
Saling menasihati dalam kebenaran merupakan sebab untuk mengatasi fitnah syubhat, sedangkan saling menasihati untuk menetapi kesabaran merupakan sebab untuk mengekang fitnah syahwat…” (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 669)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap orang yang merasa takut kepada-Nya, lantas menunaikan ketaatan kepada-Nya, yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka dialah sesungguhnya orang yang alim (berilmu).” Suatu ketika, ada orang yang berkata kepada asy-Sya’bi, “Wahai sang alim (ahli ilmu).” Maka beliau menjawab, “Kami ini bukan ulama. Orang yang alim adalah orang yang merasa takut kepada Allah.” (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir, 5: 98)
Dari sini kita bisa memetik hikmah bahwa ilmu yang mendalam pada diri para ulama telah menggembleng akhlak dan perilaku mereka menjadi tawadhu’. Barangsiapa yang tawadhu’ karena Allah, niscaya Allah mengangkatnya. Sebagaimana halnya Allah mengangkat ahli ilmu di antara kaum beriman, maka Allah pun memuliakan orang yang tawadhu’ di antara umat manusia. Mereka berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan tidak sombong. Mereka tidak membalas ucapan kejahilan dengan keburukan. Mereka meninggalkan hal-hal yang sia-sia demi menjaga kehormatan dan harga dirinya.
Di tengah arus kerusakan yang begitu dahsyat, maka sudah semestinya seorang muslim menjaga ucapannya dari segala bentuk kemungkaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sudah menjadi tugas kita untuk terus belajar dan menimba ilmu agama agar kita termasuk kelompok orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Kapankah Rasa Takut itu Dilarang?
***
Penulis: Ari Wahyudi
Artikel Muslimah.or.id