fbpx
Donasi Web Donasi Web

Safar Bagi Wanita (bag. 2): Adakah Batasan Waktu yang Teranggap Safar?

Safar Bagi Wanita (bag. 2): Adakah Batasan Waktu yang Teranggap Safar?

Artikel ini merupakan bagian kedua dari serial artikel ‘Safar Bagi Wanita’. Kami sarankan pembaca untuk membaca artikel bagian pertama berjudul larangan safar tanpa mahram untuk dapat memahami artikel bagian kedua ini dengan baik.

Penjelasan Lafadz “Tiga Hari”, “Dua Hari” dan “Satu Hari”

Jika kita perhatikan hadits-hadits di atas (yaitu pada artikel bagian pertama –ed) yang melarang wanita safar tanpa mahram, ternyata terdapat perbedaan lafadz. Terdapat lafadz yang muthlaq, yaitu “Seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya” dan juga terdapat lafadz yang muqayyad (dikaitkan dengan keterangan tambahan) yaitu yang menyebutkan “tiga hari”, atau “dua hari”, atau “sehari semalam”. Bagaimana mengkompromikannya? Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan hal ini:

قال العلماء: اختلاف هذه الألفاظ لاختلاف السائلين واختلاف المواطن، وليس في النهي عن الثلاثة تصريح بإباحة اليوم والليلة أو البريد، قال البيهقي كأنه – صلى الله عليه وسلم – سئل عن المرأة تسافر ثلاثاً بغير محرم، فقال: لا، وسئل عن سفرها يومين بغير محرم، فقال: لا، وسئل عن سفرها يوماً، فقال: لا، وكذلك البريد؛ فأدى كلٌّ منهم ما سمعه. وما جاء منها مختلفاً عن رواية واحد فسَمِعَه في مواطن، فروى تارة هذا، وتارة هذا، وكله صحيح، وليس في هذا كله تحديد لأقل ما يقع عليه اسم السفر، ولم يُرِد – صلى الله عليه وسلم – تحديد أقل ما يسمى سفراً؛ فالحاصل أن كل ما يسمى سفراً تُنهى عنه المرأة بغير زوج أو محرم، سواء كان ثلاثة أيام أو يومين أو يوماً أو بريداً أو غير ذلك؛ لرواية ابن عباس المطلقة، وهي آخر روايات مسلم السابقة: ((لا تسافر امرأة إلا مع ذي محرم))، وهذا يتناول جميع ما يسمى سفراً، والله أعلم

“Para ulama mengatakan: perbedaan lafadz ini karena berbedanya orang yang bertanya kepada Nabi dan juga perbedaan tempat. Dalam hadits tidak ada larangan tegas untuk safar yang selama 3 hari, karena adanya hadits safar sehari-semalam dan satu barid. Al Baihaqi mengatakan: “seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu sedang ditanya tentang seorang wanita yang bersafar selama 3 hari tanpa mahram, maka Nabi menjawab: tidak boleh. Dan ditanya tentang wanita yang bersafar selama 2 hari tanpa mahram, maka Nabi menjawab: tidak boleh. Dan ditanya tentang wanita yang bersafar selama sehari-semalam tanpa mahram, maka Nabi menjawab: tidak boleh. Demikian juga tentang lafadz “al barid”. Nabi menjawab sesuai dengan pertanyaannya. Dan hadits-hadits yang lafadz-nya berbeda padahal satu riwayat, ini karena didengar di beberapa tempat. Sehingga diriwayatkan terkadang dengan lafadz A dan terkadang dengan lafadz B. Semuanya shahih.

Maka dalam hal ini tidak ada pembatasan hari perjalanan yang dianggap safar. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak bermaksud membatasi jumlah hari minimal perjalanan yang dianggap safar. Intinya, semua yang termasuk perjalanan safar maka wanita tidak boleh melakukan perjalanan tersebut tanpa suami atau mahram. Baik itu tiga hari, dua hari, satu hari, satu barid, atau yang lainnya berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas yang muthlaq. Dan ini adalah hadits terakhir yang dibawakan Imam Muslim (dalam bab safar), yaitu: “Seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya”. Maka hadits ini mencakup seluruh perjalanan yang termasuk safar. Wallahu a’lam” (Syarah Shahih Muslim, 9/103).

Dari penjelasan di atas, maka jelas bagi kita bahwa safarnya wanita yang diwajibkan bersama mahramnya tidak harus perjalanan 3 hari. Jika perjalanan tersebut hanya satu hari atau beberapa jam saja, namun sudah termasuk perjalanan safar, maka berlaku larangan safar tanpa mahramnya.

***

Bersambung ke artikel “Safar Bagi Wanita (bagian 3): Batasan Jarak Safar”

Penulis: Yulian Purnama

Artikel Muslimah.Or.Id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Donasi masjid al ashri pogung rejo

Donasi Masjid Pogung Dalangan

 

Profil penulis

Ustadz Yulian Purnama

Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, kontributor Muslim.or.id dan PengusahaMuslim.com

View all posts by Ustadz Yulian Purnama »

12 Comments

  1. Assalamualaikum.. saya ingin bertanya. apakah diperbolehkan jika saya ingin pergi umroh (kurang lebih 10 hari) tp tidak ditemani suami dgn alasan biaya umroh yg dikeluarkan hanya cukup untuk saya seorang dan suami saya sudah menunaikan umroh setahun sebelumnya? saya pergi bersama agen travel yg menyelenggarakan umroh tersebut dan sepengetahuan saya rombongan laki2 dan wanita dipisah. terima kasih.

  2. Assalamualaikum. Saya kuliah di luar kota dengan lama perjalanan 8 jam dan saya berangkat sendiri tanpa ada mahram. Kuliah saya hanya 2 hari, kuliah hari pertama saya di kos, selesai kuliah hari ke2 saya langsung pulang ke rumah. Begitu setiap minggunya. Apakah ini termasuk safar dan tidak diperbolehkan? Mohon jawabannya. Jazakillah khoiron

  3. Alifia Sofi Ameilia

    Bismillaah, ‘afwan lalu bagaimana jika seorang wanita yg blm memiliki (Mahram) namun bekerja di luar negeri (sebagai perawat) ataupun menuntut ilmu di luar negeri?

  4. bismillah afwan bagaimaan dengm janda yang anak nya banyak pergi kerja kelur negri??
    lalu seorang tulang punggung juga? bagaimana hukum ny

    • Tetap terlarang safar tanpa mahram. Renungkan hadits-hadits Nabi di atas. Sebaiknya cari kerja yang tidak harus safar atau menikahlah lagi.

  5. Nurul Muhlisa

    apa hanya laki2 saja yang dianggap mahram saat bersafar? seperti ayah, suami, dan kakak laki2? bagaimana dgn wanita muslimah? bukannya itu juga termasuk mahram

  6. Bismillah.

    Ana berasal dari Rangkasbitung yg selalu pergi ke Jakarta seorang diri untuk hadir kajian (Qodarullah dlm 1 hari dimasjid tsb terdapat 3 kajian), saya brangkat menggunakan kereta dari pukul 07.20 pagi hingga tiba di rangkas kembali pukul 11.00 malam, apakah ini safar. Bagaimana hukumnya?
    Syukron ✨

Leave a Reply