Donasi Web Donasi Web

Pemahaman Yang Benar Dan Niat Yang Baik

Pemahaman Yang Benar Dan Niat Yang Baik

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pemahaman yang benar dan niat yang baik termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan tidaklah seorang hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih agung setelah nikmat Islam daripada memeroleh kedua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama islam. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan dirinya agar tidak terjebak di jalan orang yang dimurkai (المغضوب عليهم) yaitu orang-orang yang memiliki niat yang rusak. Dengan keduanya pula, ia selamat dari jebakan jalan orang yang sesat (الضالين) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Sehingga dengan itulah dia termasuk orang yang meniti jalan orang yang diberi nikmat (أنعمت عليهم) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. mereka itulah pengikut shiraatal mustaqim..” (Lihat I’lamul Muwaqqi’in, 1/87, dinukil dari min washaya salaf, hal 44)

Oleh sebab itu, di sini kami katakan: hendaknya kita berusaha seoptimal mungkin untuk memahami hakikat persoalan yang kita hadapi ini dilandasi niat baik, yaitu untuk mencari kebenaran dan mengikutinya. Hal ini sangatlah penting. Tidak sedikit kita saksikan, orang-orang yang memiliki niat yang baik namun karena kurang bisa mencermati hakikat suatu permasalahan akhirnya dia terjatuh dalam kekeliruan, sungguh betapa banyak orang semacam ini.

Di sisi lain, adapula orang-orang  yang apabila kita lihat dari taraf pendidikan atau gelar akademis yang sudah di dapatkannya (meskipun hal itu tidaklah menjadi parameter pemahaman) termasuk golongan orang yang ‘mengerti’, namun teramat disayangkan ilmu yang diperolehnya tidak melahirkan ketundukan terhadap manhaj salaf yang haq ini.

Sehingga kita temui, sebagian da’i –bahkan jumlah mereka tidak sedikit- yang lebih memilih manhaj atau metode selain manhaj salaf. Padahal ia termasuk lulusan dari sebuat perguruan tinggi Islam yang bermanhaj salaf yaitu Universitas Islam Madinah di Saudi Arabia –hal ini sekaligus mengingatkan bahwa tempat sekolah seseorang memang bukanlah ukuran kebenaran setiap orang yang berada di dalamnya. Bahkan, di antara mereka ada yang berhasil mendapatkan predikat cum laude di sana. Namun, tatkala pulang ke Indonesia, kembalilah dia ke pangkuan hizbiyyah (kepartaian) dan larut dalam kancah politik ala yahudi, ikut berebut kursi dan memperbanyak acungan jari. Wallaahu musta’aan. Semoga Allah mengembalikan mereka kepada kebenaran.

Marilah, kita ingat sebuah ayat yang sangat indah dan menunjukkan jalan untuk memecahkan segala macam masalah. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Ulil Amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu urusan maka kembalikanlah pemecahannya kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu pasti lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasilnya.” (QS. An-Nisaa’: 59)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa ulil amri mencakup umara’ (penguasa/pemerintah) dan juga ulama (ahli ilmu agama). Beliau juga menjelaskan bahwa makna taatilah Allah artinya ikutilah Kitab-Nya (al-Qur’an). Sedangkan makna taatilah Rasul adalah ambillah ajaran (Sunnah) beliau. Adapun makna ketaatan kepada ulil amri adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah bukan dalam hal maksiat.

Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إنما الطاعة في المعروف

Sesungguhnya ketaatan itu hanya boleh dalam perkara ma’ruf (bukan kemungkaran).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Makna kalimat ini adalah kembali merujuk kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, demikian tafsiran Mujahid dan para ulama salaf yang lain.

Kemudian Ibnu Katsir berkata, “Ini merupakan perintah dari Allah ‘azza wa jalla agar segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia yang berkaitan dengan permasalahan pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya hendaknya dikembalikan kepada al-Kitab dan as-Sunnah. Ini sebagaimana yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala,

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

Dan apa saja yang kalian perselisihkan maka keputusannya kembali kepada Allah.” (QS. Asy-Syura: 10).

Ini artinya, segala keputusan yang diambil oleh al-Kitab dan as-Sunnah serta dipersaksikan keabsahannya oleh keduanya itulah al haq (kebenaran). Dan tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan..” (Lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, II/250).

***

Disarikan dari Buku Inilah Jalanku, Jalan Rasulullaah dan Para Sahabatnya karya Abu Muslih Ari Wahyudi hal. 6-9, Terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta.

Artikel Muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Banner MPD

About Author

4 Comments

Leave a Reply