Hisab bagi Amalan Hati

Ulama sepakat, bahwa iman terdiri dari 3 unsur: keyakinan dalam hati, ikrar di lisan, dan amalan anggota badan. Karena itu, ketiga hal ini adalah posisi keberadaan amalan manusia: hati, lisan, dan anggota badan. Konsekuensinya, ketiganya yang akan dihisab di hari kiamat

2550 1

Unsur Na Ya Allah Unsur Yang Ada Dalam Keimanan Adalah Hadis Kiamat Hisab Dan Maknaya Hadis Hisab Amalan Hati

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ulama sepakat, bahwa iman terdiri dari 3 unsur: keyakinan dalam hati, ikrar di lisan, dan amalan anggota badan. Karena itu, ketiga hal ini adalah posisi keberadaan amalan manusia: hati, lisan, dan anggota badan. Konsekuensinya, ketiganya yang akan dihisab di hari kiamat.

Hisab Bagi Amalan Hati

Kita fokuskan pembahasan pada bagian ini. Mengingat amal lisan dan anggota badan, selama dilakukan dengan sengaja, kita sepakat akan dihisab. Sehingga tidak kita singgung. Allah berfirman di ayat ketiga terakhir surat al-Baqarah,

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Hanya milik Allah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Baqarah: 284)

Ayat ini salah satu diantara dalil yang menunjukkan bahwa Allah mengetahui segala isi para hamba-Nya. Allah juga mengabarkan bahwa Dia akan menghisab apa yang disembunyikan dalam hati manusia. Hanya saja, ulama berbeda pendapat dalam dua hal:

  1. tentang status hisab ini, apakah masih berlaku ataukah sudah dihapus.
  2. batasan amal hati yang akan dihisab. Apakah semua amal hati, ataukah amal hati tertentu.

Kira-kira, dua inilah yang akan menjadi inti pembahasan kita.

Sikap Sahabat

Sebelum melangkah lebih jauh, terlebih dahulu kita akan membaca sebuah hadis yang menceritakan bagaimana sikap para sahabat ketika turun ayat ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, ‘ketika turun surat al-Baqarah ayat 284, para sahabat merasa sangat keberatan dalam mengamalkannya. Merekapun mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَيْ رَسُولَ اللهِ، كُلِّفْنَا مِنَ الْأَعْمَالِ مَا نُطِيقُ، الصَّلَاةَ وَالصِّيَامَ وَالْجِهَادَ وَالصَّدَقَةَ، وَقَدِ اُنْزِلَتْ عَلَيْكَ هَذِهِ الْآيَةُ وَلَا نُطِيقُهَا

Ya Rasulullah, kami mendapat beban amal yang mampu kami kerjakan, seperti shalat, puasa, jihad dan sedekah. Sementara, telah turun kepada anda ayat ini, yang kami tidak mampu mengamalkannya”.

Mendengar aduhan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,

أَتُرِيدُونَ أَنْ تَقُولُوا كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا؟ بَلْ قُولُوا: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Apakah kalian ingin berkomentar seperti yang dikatakan ahli kitab sebelum kalian, ’Sami’na wa ’ashainaa?’ (kami dengar, namun kami tidak mau taat). Seharusnya kalian mengatakan, ’Sami’na wa atha’naa.’ (kami dengar dan kami taat). Kami mengharap ampunan-Mu yang Allah, dan hanya kepada-Mu tempat kembali.

Mendengar nasehat ini, para sahabatpun menirukan apa yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengulang-ulang kalimat,

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Hingga akhirnya Allah menurunkan ayat lanjutannya,

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (al-Baqarah: 285).

Abu Hurairah melanjutkan, ‘Setelah para sahabat mengikuti pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk siap tunduk dan taat, Allah menghapus kandungan ayat itu (al-Baqarah: 284), dengan menurunkan firman-Nya,

لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tidak sengaja”.

Allah menjawab doa ini dengan berfirman, ”Ya, Aku Kabulkan.” Hingga akhir ayat. (HR. Muslim no. 125)

Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadis ini adalah bagaimana karakter para sahabat yang sangat tunduk terhadap semua titah syariat. Sekalipun itu berat bagi mereka. Mereka tetap menyatakan, ‘Kami dengar dan kami taat.’ Sejauh kemampuan yang mereka miliki. Ini berbeda dengan karakter ahli kitab. Setiap mereka mendapatkan tugas yang dirasa berat, mereka mengatakan, ’sami’na, wa ’ashaina.’ Kami dengar dan kami tidak taat.

Karena itu, Allah beri keringanan bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Allah bebankan tugas syariat yang berat bagi umat sebelumnya.

Beda Pendapat tentang Tafsir Ayat?

Kita kembali fokus terhadap ayat,

وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ

Artinya: “Hanya milik Allah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya.”

Ulama berbeda pendapat terkait cakupan makna ayat ini. Berikut rincian yang disarikan dari Tafsir Zadul Masir, karya Ibnul Jauzi.

Perbedaan pendapat pertama, tentang makna ’sesuatu yang disembunyikan dalam hati’ yang akan dihisab oleh Allah. Apakah semua isi hati atau khusus menyinggung orang musyrik dan munafik?
Ada dua pendapat dalam kasus ini.

Pertama, isi hati yang disembunyikan itu bersifat khusus. Yaitu terkait penyembunyian kebenaran (kitman as-Syahadah) akan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ini dilakukan para ahli kitab, serta menyembunyikan keraguan terhadap kebenaran islam, yang ini dilakukan orang-orang munafik. Pendapat ini merupakan pendapat Ibnu Abbas dalam salah satu riwayat, ikrimah, dan as-Sya’bi.
Dengan mengacu pendapat ini, berarti ayat di atas tidak mansukh (dihapus). Hanya saja cakupannya sempit, hanya terkait isi hati orang yahudi dan orang munafik.

Kedua, pendapat mayoritas ulama, bahwa isi hati yang disembunyikan itu bersikap umum. Mencakup yang disembunyikan semua manusia dalam hatinya. Tidak dibatasi untuk kasus orang yahudi dan orang munafik.

Dan dari dua pendapat di atas, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat kedua, bahwa peringatan akan adanya hisab bagi isi hati, bersifat umum, mencakup isi hati semua manusia. Diantara dalil yang menunjukkan bahwa ini berlaku umum adalah hadis Abu Hurairah di atas, dimana para sahabat merasa resah ketika ayat ini diturunkan. Artinya, mereka memahami bahwa ayat ini juga berlaku bagi mereka. Andai ayat ini hanya berlaku bagi orang yahudi dan munafik saja, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya ketika para sahabat mengadu kepada beliau.

Selanjutnya, ulama yang berpendapat bahwa ayat ini berlaku umum, mereka berbeda pendapat, apakah hukum dalam ayat ini berlaku ataukah telah mansukh? Ada dua pendapat dalam hal ini,

Pertama, ancaman hukuman di ayat ini mansukh dengan ayat lanjutannya,

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَها

Artinya: “Allah tidak membebani jiwa di luar kemampuannya.”

Ini merupakan pendapat Ibn Mas’ud, Ibn Abbas dalam salah satu riwayat.

Kedua, ancaman hukuman ayat ini tetap berlaku. Hanya saja, Allah mengampuni siapa saja yang Allah kehendaki dan Allah menghukum siapa saja yang Dia kehendaki. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Umar, Hasan al-Bashri, dan al-Qadhi Abu Ya’la.

Setelah menyebutkan perbedaan di atas, Ibnul Jauzi mengatakan,

والذي نختاره أن تكون الآية محكمة، لأن النسخ إنما يدخل على الأمر والنهي

“Pendapat yang kami pilih, ayat ini muhkamah (tidak mansukh), karena nasakh itu hanya ada pada perintah dan larangan”. (Zadul Masir, 1/254).

Bentuk Amal Hati yang Dihisab

Setelah kita memahami bahwa ancaman hisab ini tidak mansukh, dan itulah pendapat yang lebih kuat, selanjutnya kita akan mengkaji, seperti apakah amalan hati yang akan dihisab oleh Allah?

Ibnu Asyura dalam tafsirnya – at-Tahrir wa at-Tanwir –, dan Imam Ibnu Utsaimin dalam tafsirnya surat al-Baqarah, memberikan rincian bahwa amal hati ada 2:

Pertama, Amal hati yang murni menjadi tugas hati, artinya tidak ada kaitannya dengan amal lahir, seperti iman & kufur (mencakup semua aqidah yang benar dan yang salah), kemudian hasad, sombong, suudzan, tawakkal, dst., untuk amalan jenis ini, ulama sepakat akan dihisab. Karena amalan semacam ini masuk dalam taklif (beban syariat) yang mampu dikendalikan manusia.

Kedua, Amal hati yang memiliki kaitan dengan amal lahir, seperti niat dan keinginan, ulama memberikan rincian sebagai berikut:

1. Sebatas lintasan batin dan was-was yang tidak mengendap, ulama sepakat, semacam ini tidak dihisab. Dalilnya hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa pernah datang beberapa orang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengatakan,

إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِه، قَالَ: «وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟» قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ: ذَاكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ

Artinya: ‘Kami menjumpai dalam diri kami lintasan yang sangat berat bagi kami untuk mengucapkannya.’ Beliau bertanya kepada mereka, “Benar kalian menjumpai perasaan itu?” Kata Beliau, “Itu bukti adanya iman.” (HR. Muslim 132).

An-Nawawi menjelaskan, “Makna hadis, kalian merasa berat untuk mengucapkannya merupakan bukti adanya iman. Karena dia merasa berat mengucapkan kalimat semacam ini, disertai perasaan sangat takut untuk mengucapkannya. Lebih-lebih dia dia yakini. Sikap semacam ini hanya ada pada orang yang imannya kokoh dan teruji, sehingga hilang darinya segala keraguan dan bimbang.” (Syarh Shahih Muslim, 2/154).

Inilah makna hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي مَا وَسْوَسَتْ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَكَلَّمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah memberi ampunan kepada umatku, apa yang menjadi bisikan dalam hati mereka, selama tidak dikerjakan atau diucapkan”. (HR. Ahmad & Bukhari)

2. Keinginan untuk melakukan sesuatu yang terlarang, kemudian dia tinggalkan karena Allah. Orang semacam ini mendapatkan pahala. Terdapat banyak dalil tentang hal ini, diantaranya,

– Hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ

Artinya: ”Siapa yang bertekad untuk melakukan maksiat, lalu dia tidak mewujudkannya, maka dicatat untuknya sebagai amal soleh.” (HR. Bukhari 6126)

– Hadis tentang 3 orang bani israil yang terperangkap di dalam gua. Kemudian ketiganya berdoa, dengan menggunakan wasilah amalnya masing-masing. Salah satunya adalah lelaki yang hendak menzinai dengan kekasihnya, namun dia diingatkan si wanita untuk takut kepada Allah, dan langsung dia tinggalkan wanita itu, sekaligus uang yang dia berikan kepadanya. Allah memberikan pahala bagi orang ini, dengan bukti, Allah kabulkan permintaannya. (HR. Bukhari 5517)

3. Terpikir untuk melakukan maksiat, namun dia tinggalkan karena dia bukan tipe pelaku maksiat semacam ini. misalnya, seorang muslim yang baik terbayang untuk menegak khamr, atau muslimah yang menjaga kehormatan terbayang untuk lepas jilbab, atau terbayang untuk berpacaran karena melihat teman sekitarnya, dan dia sama sekali tidak berharap bisa melakukannya. Keinginan semacam ini sama sekali tidak ada dosa dan tidak berpahala. Karena lintasan ’terpikir’ semacam ini belum disebut niat. Sementara seseorang baru mendapat sesuatu sesuai yang dia niatkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: “Sesungguhnya amal itu berdasarkan niat, dan sesungguhnya yang diperoleh seseorang sesuai apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim)

4. Keinginan untuk melakukan maksiat, dan bertekad untuk melakukannya. Hanya saja, dia tidak punya fasilitas untuk melakukannya. Orang ini mendapatkan dosa niat. Dalilnya, hadis dari Abu Kabsyah al-Anmari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat permisalan 4 tipe manusia, diantaranya adalah orang yang Allah beri harta namun tidak diberi ilmu agama. Sehingga dia habiskan hartanya untuk yang bukan haknya (maksiat). Dan orang yang tidak diberi harta maupun ilmu, kemudian dia berangan-angan, andai saya memiliki harta, akan dia gunakan hartanya seperti yang dilakukan si tukang maksiat itu. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi komentar,

فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Artinya: “Dia karena niatnya, dosanya sama dengan temannya“. (HR. Turmudzi 2325 dan dishahihkan al-Albani)

5. Keinginan untuk melakukan maksiat, dan dia telah mewujudkan semua sebab untuk melakukannya, namun gagal karena situasi tidak mendukungnya. Orang ini mendapat dosa sempurna. Dalilnya, hadis dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا التَقَى المُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالقَاتِلُ وَالمَقْتُولُ فِي النَّارِ»، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا القَاتِلُ فَمَا بَالُ المَقْتُولِ قَالَ: «إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

Artinya: “Apabila ada dua muslim datang dengan membawa pedang masing-masing, maka yang membunuh dan yang dibunuh, keduanya di neraka. Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, si pembunuh di neraka wajar. Tapi mengapa korban juga ikut di neraka?’ Jawab beliau, “Karena dia sudah berusaha untuk membunuh saudaranya.” (HR. Bukhari 31 dan yang lainnya)

Allahu a’lam

***

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel www.muslimah.or.id

Amalan Hati Dalam Islam Amalan Ilmu Abu Makhsar Apakah Allah Mengampuni Dosa Dosa Yang Di Ucapkan Hati Arti Bismillah Was Shalatu Was Salamu Ala Rasulillah Ayat Hati Yg Akan Di Hisab

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

Shares