Ucapan “Shadaqallahul ‘Azhim” setelah membaca Al Quran?

Bacaan “shadaqallahul ‘azhim” setelah membaca Al Qur’an merupakan perkara yang tidak asing bagi kita tetapi sebenarnya tidak ada tuntunannya, termasuk amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah shalallahu’alaihi …

709 106

Bacaan “shadaqallahul ‘azhim” setelah membaca Al Qur’an merupakan perkara yang tidak asing bagi kita tetapi sebenarnya tidak ada tuntunannya, termasuk amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya, bahkan menyelisihi amalan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam ketika memerintahkan Ibnu Mas’ud untuk berhenti dari membaca Al Qur’an dengan kata “hasbuk”(cukup), dan Ibnu Mas’ud tidak membaca shadaqallahul’adzim.

Dalam Shahih Al Bukhari disebutkan:
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam telah berkata kepadaku, “Bacakan kepadaku (Al Qur’an)!” Aku menjawab, “Aku bacakan (Al Qur’an) kepadamu? Padahal Al Qur’an sendiri diturunkan kepadamu.” Maka Beliau menjawab, “Ya”. Lalu aku membacakan surat An Nisaa’ sampai pada ayat 41. Lalu beliau berkata, “Cukup, cukup.” Lalu aku melihat beliau, ternyata kedua matanya meneteskan air mata.

Syaikh Muhammad Musa Nashr menyatakan, “Termasuk perbuatan yang tidak ada tuntunannya (baca: bid’ah) yaitu mayoritas qori’ (orang yang membaca Al Qur’an) berhenti dan memutuskan bacaannya dengan mengatakan shadaqallahul ‘azhim, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan bacaan Ibnu Mas’ud dengan mengatakan hasbuk (cukup). Inilah yg dikenal para salaf dan tidak ada keterangan bahwa mereka memberhentikan atau mereka berhenti dengan mengucapkan shadaqallahul ‘azhim sebagaimana dianggap baik oleh orang-orang sekarang”. (Al Bahtsu wa Al Istiqra’ fi Bida’ Al Qurra’, Dr Muhammad Musa Nashr, cet 2, th 1423H)

Kemudian beliau menukil pernyataaan Syaikh Mustafa bin Al ‘Adawi dalam kitabnya Shahih ‘Amal Al Yaumi Wa Al Lailhlm 64 yang berbunyi, “Keterangan tentang ucapan Shadaqallahul’azhim ketika selesai membaca Al Qur’an: memang kata shadaqallah disampaikan Allah dalam Al Qur’an dalam firman-Nya,

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah:’Benarlah (apa yang difirmankan) Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs Ali Imran:95)

Memang benar, Allah Maha Benar dalam setiap waktu. Namun masalahnya kita tidak pernah mendapatkan satu hadits pun yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhiri bacaannya dengan kata “Shadaqallahul’azhim.”

Di sana ada juga orang yang menganggap baik hal-hal yang lain namun kita memiliki Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam sebagai contoh teladan yang baik. Demikian juga kita tidak menemukan satu atsar, meski dari satu orang sahabat walaupun kita mencukupkan pada hadits-hadits Nabi shallallanhu’alaihi wa sallam setelah kitab Allah dalam berdalil terhadap masalah apa pun. Kami telah merujuk kepada kitab Tafsir Ibnu Katsir, Adhwa’ Al Bayan, Mukhtashar Ibnu katsir dan Fathul Qadir, ternyata tak satu pun yang menyampaikan pada ayat ini, bahwa Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam pernah mengakhiri bacaannya dengan shadaqallahul ‘azhim.(Lihat Hakikat Al Maru Bil Ma’ruf Wa Nahi ‘Anil munkar, Dr Hamd bin Nashir Al ‘Amar,cet 2)

Bila dikatakan “Cuma perkataan saja, apa dapat dikatakan bid’ah?” Perlu kita pahami,bahwa perbuatan bid’ah itu meliputi perkataan dan perbuatan sebagaimana sabda Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam,

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR Muslim)

Sehingga apa pun bentuknya, perkataan atau perbuatan yang dimaksudkan untuk ibadah yang tidak ada contohnya dalam agama, maka ia dikategorikan bid’ah. Bid’ah ialah tata cara baru dalam agama yang tidak ada contohnya, yang menyelisihi syariat dan dalam mengamalkannya dimaksudkan sebagai ibadah kepada Allah.

Wallahu a’lam.

***
Artikel Muslimah.or.id

Sumber:
Tanya Jawab Majalah As Sunnah ed 04/IX/1426H/2005M (dengan sedikit pengeditan)
Murajaah: Ust Abu Rumaysho M A Tausikal

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

  • Riyant Budi

    Jazakumullah ustadz ane sewkarang tahu bacaan setelah baca Al Qur’an.

  • Fatihunnada

    Kenapa semua masalah yang anda bahas, pasti menguap hadis yang sama?

    Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR Muslim)

    pemahaman terhadap Hadis ini tidak semudah membacanya.

    • http://umuwa.wordpress.com Farah

      Saya setuju

  • yudi

    “subhanakallahumma wa bihamdika..”

    Bacaan diatas biasanya juga digunakan pada saat berakhirnya kajian pada suatu ta’lim (majlis).. atau lebih dikenal dengan nama do’a penutup majlis

  • http://gmail.com dedy irawan

    jadi kalaulah memang tidak ada dalilny dalm lafads stelah membaca alquran apa harus dihilangkan. Tlong pnjelasan.ny y pak karna saya MENGAJAR DI TPQ

  • http://gmail.com dedy irawan

    jd jika kalimat stelah mmbca quran atau hal ini tetap kita lakukan apakah jlas hal ini dosa. Tlong brikn penjelasn.ny trimakasi

    • http://muslimah.or.id muslimah.or.id

      @ Dedy
      Seseorang yang “ngeyel” mengamalkan amalan bid’ah padahal ia tahu itu bid’ah maka ia berdosa.

  • Fatihunnada

    merutinkan/istiqomah dalam kebaikan dianggap salah.

    ?????? ???? ??????

    • Tasya

      @Fatihunnada, mari kita mempelajari Islam lebih dalam, dari ilmu Al-Qur’an dan Hadits, yang di contohkan Rasullulah, jangan sekedar mengikuti kebiasaan orang-orang terdahulu, kita harus lebih paham agama, karena AGAMA INI ADALAH NASIHAT

    • ronym

      logika amalan bidah itu mirip seperti ini:
      -sholat itu baik…
      -sholat sunnah ( dhuha, tahajjud ) jika dilakukan lebih banyak rakaatnya lebih baik
      -tidak ada hadits yang ( spesifik ) tidak memperbolehkan menambah rakaat shalat maghrib
      .
      maka shalat maghrib 4 rakaat, lebih baik dan boleh dilakukan
      sholat subuh 3 rokaat lebih afdol
      .
      jika itu baik tentulah akan ada muslim yang melaksanakan sholat maghrib 4 rakaat atau subuh 3 rakaat
      tapi kenyataannya tidak ada khan ?…
      ya, karena segala sesuatu yang tidak dilarang, belum tentu kita boleh melakukannya
      .
      ya kecuali… ketiduran setelah maghrib karena sangat letih… baru bangun saat subuh… sholat 4 rokaat (meng qodho shalat isya dulu)… setelah itu sholat subuhnya tetep 2 rakaat… atau ketiduran waktu sore… bangun bangun sudah isya

    • eka

      Istiqomah dalam kebaikan harus sesuai dengan sunnah Rosul

  • gan gan

    benar bahwa untuk memahami hadits perlu ilmu. karena itu coba kita dengarkan perkataan para ulama/imam ahlush shunah mengenai hal ini.

    Imam Malik bin Anas mengatakan, Barang siapa yang berbuat satu kebidahan di dalam Islam dan dia menganggapnya baik, berarti dia telah menuduh Rasulullah Muhammad telah mengkhianati risalah. Karena Allah telah menyatakan:
    Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridhai Islam menjadi agama kalian. (al-Maidah: 3)
    Maka apa pun yang ketika itu (di zaman Rasulullah n dan para sahabatnya) bukanlah sebagai ajaran Islam, maka pada hari ini juga bukan sebagai ajaran Islam.

    Abdullah bin Umar mengatakan, Semua bidah itu adalah sesat meskipun orang menganggapnya baik. (al-Ibanah 1/339, al-Lalikai 1/92)

    tidak ada yang menghalangi rasululloh untuk dapat mengucapkan shodaqollohul adzim, namun beliau tidak mencontohkan seperti itu. Kalaulah dicontohkan pastilah akan datang haditsnya kepada kita. Beliau tidak melakukan Bukan karena beliau lupa, atau malas, tapi karena Alloh tidak memerintahkan demikian. Kalau rosul shollaohu alaihi wasallam tidak berani membuat syariat tanpa adanya wahyu, maka siapakah kita.

    wallohu ‘alam.

    • Muhlis

      Syukron ya akhi, ana setuju masukan antum

  • http://ayusaabrirreo.blogspot.com ayusaabrirreo

    bolehkah membaca do’a ini setelah membaca Al Qur’an? Thanks before :) .Allahummarhamna bil Quran
    wajalhu lana imamaw wa nuraw
    wa hudaw warahmah
    Allahumma dzakkirna minhu ma
    nasina wa allimna minhu ma
    jahilna warzuqna tilawatahu ana
    allaili wa athrafan nahar wajalhu
    lana hujjatan ya Rabbal Alamin ..

    • http://muslimah.or.id muslimah.or.id

      @ Ayusabbrieo
      Ibu Ayu yg kami hormati, doa yg ibu sebutkan tersebut mengandung makna/ arti yg baik akan tetapi yg perlu digaris bawahi adalah mengkhususkan bacaan doa tertentu setelah membaca Al-Qur’an itu membutuhkan dalil. Skrg yg mnjd pertanyaan apakah doa trsbt diperintahkan Nabi untuk dibaca stelah tilawatul qur’an??

      • http://umuwa.wordpress.com Farah

        jadi kalau blm menemukan dalil nya , bagaimana????????????????

        • http://muslim.or.id Muslimah.Or.Id

          @Farah, suatu ibadah tidak boleh diamalkan hingga jelas ada landasannya berupa dalil yang shahih

  • http://ayusaabrirreo.blogspot.com ayusaabrirreo

    Hm, mohon penjelasannya :) .

    • Tasya

      @ayusaabrirreo, telah dijelaskan sebelumnya, bahwasannya yang mengerjakan amalan yang tidak dicontohkan Rasulullah, maka amalan tersebut tertolak, Beliau telah mengajarkan yang terbaik untuk kita, jangan ditambah-tambahkan, dikurang-kurangi, sesungguhnya Islam itu mudah

  • mila

    apa benar menurut ukhti dindin contoh bidahdalam bacaan gerakan rukuk dalam sholat Subhana robbiyal adzim sering dibaca subhan robbiyal adzimi wabihamdi krn aku sll membaca subhan robbiyal adzimi wabihamdi dalam rukuk.mohon penjelasannya min.

    • http://muslimah.or.id muslimah.or.id

      @ Mila
      Yang benar kedua bacaan tersebut boleh dibaca saat ruku’ dan bukan termasuk bacaan bid’ah karena Nabi ??? ????? ???? ???? mencontohkan keduanya. Terkadang beliau membaca ini dan terkadang membaca bacaan itu. Demikian yang di shahihkan Syaikh Al Albani di kitab Shifatusholatinnabiy ??? ????? ???? ???? . Allahua’lam

  • http://www.gensyiah.com Borya Fayyena

    Sebenarnya Nabi ? telah memberikan kita tuntunan doa untuk diucapkan apabila kita selesai membaca Al-Quran? Inilah dalil yang diriwayatkan dari Aisyah
    ???? ?????????? ??????? : ??? ?????? ??????? ????? ????????? ?????? ????? ????? ????????? ????? ?????? ??????? ?????? ?????? ?????? ???????????? ???????: ????????: ??? ??????? ?????? ??????? ??? ???????? ?????????? ????? ??????? ????????? ????? ???????? ??????? ?????? ???????? ??????????? ???????????? ? ?????: ??????? ???? ????? ??????? ?????? ???? ??????? ????? ?????? ?????????? ?????? ????? ?????? ????? ???? ??????????: ( ??????????? [??????????] ????????????? ??? ?????? ?????? ??????? ?????????????? ????????? ???????? ).

    Dari Aisyah d, beliau d,berkata, Tidaklah Rasulullah ? duduk di suatu tempat atau membaca Al-Quran ataupun melaksanakan shalat kecuali beliau akhiri dengan membaca beberapa kalimat. Aku bertanya kepada Rasulullah ?, Ya Rasulullah, aku melihat engkau tidaklah duduk di suatu tempat, membaca Al-Quran ataupun mengerjakan shalat melainkan engkau akhiri dengan beberapa kalimat?
    Beliau ? menjawab, Betul, barang siapa yang mengucapkan kebaikan maka dengan kalimat tersebut amal tadi akan dicap dengan kebaikan. Barang siapa yang mengucapkan kejelekan maka kalimat tersebut berfungsi untuk menghapus dosa. Itulah ucapan: Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (Maha Suci Engkau ya Allah dan sambil memuji-Mu, tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).

    Hadits di atas sanadnya shahih, diriwayatkan oleh An-Nasai dalam Sunan al-Kubro 9/123/1006, dan Kitab Amalul Yaumi wal Lailah, hal. 308.
    Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaniy dalam An-Nukat alaa Ibni Shalah 2/733 berkata, Sanadnya shahih. Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah 7/495 berkata, Sanad ini adalah sanad yang juga shahih menurut kriteria Muslim. Syaikh Muqbil Al-Wadii dalam al-Jami ash-Shahih mimma laisa fi ash-Shahihain 2/12 berkata, Hadits ini adalah hadits yang shahih.

  • ajib

    Aslm mba/ukhti yang terhormat saya mw bertanya.. alqur’an yg ada skrg ini apakah dulunya memang berbentuk buku ? Kalau bukan, sejak kapan dibukukan ? Dan apakah ada perintah untuk membukukannya dr Nabi SAW sehingga berbentuk seperti skrg ini ? Mohon dijawab. Terima kasih sebelumnya.

    • wie

      waalaikumsalam mba efi…
      yg saya pernah baca dan ingat dari sirah,lembaran quran mulai dikumpulkan pada masa khalifah abu bakar.pada saat itu tulisannya berupa huruf huruf tanpa tanda baca dan tanpa titik sebagai penanda ba, ta, tsa dan sebagainya. dahulu yang bisa membaca huruf alquran adalag irang-orang arab asli. pada masa khalifah umar, quran diproduksi secara massal dan dibagikan ke negara2 yang masyarakatnya memeluk Islam. Namun karena minimnya pengetahuan huruf, muslim saat itu salah dalam membaca. Akhirnya quran ditarik dan diperbaiki tanda bacanya pada masa khalifah usman. quran diberi titik sebagai pembeda huruf2 yang bentuknya mirip namun berbeda pelafalan. itulah saat disebutnya quran ustmani (lebih dikenal sebagai huruf arab gundul).
      namun kesemuanya tidak merubah isi quran sama sekali, melainkan mempermudah masyarakat muslim membaca dengan benar. mohon dikoreksi bila salah.
      Allahua’lam bishowab.

  • efi

    Assalamu’alaikum.. Ingin bertanya, apa setiap ingin membaca al-quran memulai dengan Basmallah atau Basmallah hanya ketika permulaan surat saja?
    Jazakallahu khair. Wassalamu’alaikum

  • http://vivi@123 ahmad sidiq

    yang lebih banyak lagi materinya

  • rizky

    Terdapat perbedaan pada kata Ashadu, apakah ini menjadikan berbeda do’a setelah membaca alqur’an dengan doa penutup majelis??

    doa setelah membaca alquran = tanpa ashadu
    doa penutup majelis = dengan ashadu
    mohin penjelasannya, Syukron

    • http://muslimah.or.id muslimah.or.id

      @ Rizky
      Demikianlah lafadz doa yang terdapat dalam hadits. Kita amalkan sebagaimana yang Nabi ??? ????? ???? ???? ajarkan. Doa stelah membaca Al Qur’an (tanpa lafadz asyhadu) dan penutup majlis (dengan lafadz asyhadu). Allahua’lam bishshowab

  • silverblaze

    pertanyaan: kan sekarang banyak di acara ceramah yg di tv2, setelah sang penceramah (kyai,ustad,dll) membaca ayat
    al quran-yg dengan suara dimerdu2in, menurut saya sih-terus orang2 yg hadir d acara ceramah itu mengucap lafadz “Allah”

    itu hukumnya bagaimana?
    tolong dijelaskan

    syukron…

  • wardah

    apakah bid’ah dapat membuat seseorang keluar dari islam atau kafir??

    • http://muslim.or.id Muslimah.Or.Id

      @wardah bid’ah itu bertingkat-tingkat, ada bid’ah yang termasuk kekufuran ada yang tidak.

  • lidya

    kalau membaca hamdalah setiap selesai baca Qur’an, hukumnya gmana?

    • http://muslim.or.id Muslimah.Or.Id

      @lidya, kami belum mengetahui amalan tersebut ada dalilnya

  • Pingback: Ucapan “Shadaqallahul ‘Azhim” setelah membaca Al Quran? | Catatan Kecil()

  • Pingback: Ucapan “Shadaqallahul ‘Azhim” setelah membaca Al Quran? | Catatan Kecil()

  • bHell

    Dalil yang shohih tidak bisa dilawan dengan dalih walaupun dianggap shohih.
    Sami’na wa atha’na (kami mendengar dan taat)
    Bukan Sami’na wa ‘ashoina (kami mendengar dan menentang)

    Alasan pembenaran atas sesuatu yg di perbuat dengan menepiskan kebenaran yg sesungguhnya.

    buat apa Allah menurunkan al quran dan juga sunnah, kalo semuanya mempunyai alasan yg sama seperti ini “ngeyel”

  • Fitri Alif

    sebelum membaca artikel ini dan belum tau kalau ucapan shodakallahul adzim tidak dianjurkan atau tidak ada dalil maupun hadis yang memerintahkannya sy sllu mengucapkannya setelah selesai membaca al quran. lalu untuk mengakhiri bacaan quran yang kita baca dengan mengucapkan apa ? mohon penjelasan.

  • Yamanaka

    Dari Ummul Muknin Aisyah RA,Rasulullah SAW bersabda

    “Barangsiapa yg melakukan suatu Amalan yg tidak Ada Dasar Hukumnya dalam Perkara Agama,Maka Ia tertolak”

    dalam Hadist tersebut jelas memang Bahwa Amalan mengada2 yg dilakukan maka Tertolak,

    menurut pandanganku Tertolak bukan Berarti Harus Dosa jika Hal itu tidak menjurus kepada Syirik..

    Lantas apa yg harus disebutkan setelah membaca Al-Qur’an yg merupakan Kalam Allah.?
    Buat yg membaca jgn salah Paham dengan Kata Hasbuk, itu kata2 yg diucapkan Rasul kepada Ibnu Mas’ud bukan kata2 Ibnu Mas’ud selaku pembaca Al-Qur’an..

    Setelah Shalat saja kita mengucap salam,lantas setelah membaca Al-Qur’an kita begitu saja.?

    • http://muslim.or.id Muslimah.Or.Id

      @Yamanaka, perbuadan bid’ah atau membuat cara baru dalam ajaran agama itu tidak hanya tertolak namun juga berdosa. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
      “Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)

      Perkataan anda: “Setelah Shalat saja kita mengucap salam,lantas setelah membaca Al-Qur’an kita begitu saja?”
      Tata cara ibadah tidak boleh dengan logika atau qiyas, melainkan harus meneladani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

  • ADNAN KAMAL SARAGIH

    Menikah adalah perbuatan baik, dan di anjur kan,, dan dalil nya banyak, baik dari AL-QUR’AN maupun HADITS,,

    jika kita menikah harus dengan contoh yg dilakukan RASULULLAH SAW agar tidak di anggap bid’ah,,
    maka MENIKAHLAH pertama kali dengan seorang JANDA KAYA, yg luhur budi pekertinya seperti KHADIZAH,, jika tidak ada yg seperti Beliau, lalu kamu menikahi selain dari yg seperti beliau, berarti itu BID’AH,,

    • http://muslim.or.id Muslimah.Or.Id

      @ADNAN KAMAL SARAGIH, menikah adalah perkara muamalah. Hukum asal muamalah adalah mubah. Termasuk muamalah adalah duduk, berdiri, berjalan, berjualan, tidur, naik kendaraan, dll. Ini semua hukum asalnya mubah saja dan tidak ada tuntunan harus sama persis dengan Rasulullah.

      Adapun dalam perkara ibadah, hukum asal ibadah adalah haram kecuali ada contohnya dari Rasulullah. Shalat, wudhu, haji, puasa, tayamum, baca Al Qur’an ini semua harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah.