Dewan Fatwa Islamweb
Soal:
Apakah dengan menyesali saja cukup agar dosa diampuni? Atau harus memenuhi syarat-syarat taubat? Jazakallah Khairan
Jawab:
وَإِنَّ النَّدَمَ، مَعَ أَنَّهُ رُكْنٌ وَشَرْطٌ مُهِمٌّ مِنَ التَّوْبَةِ، فَلَا يَكْفِي وَحْدَهُ، وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ يَتَبَعَهُ الشُّرُوطُ الأُخْرَى، لِكَي تَكُونَ التَّوْبَةُ صَالِحَةً وَمُتَقَبَّلَةً
Menyesal (an-nadam), meskipun ia merupakan rukun pokok dan syarat yang penting dari taubat, belumlah cukup. Namun selain menyesal, harus disertai dengan syarat-syarat lainnya sehingga taubat yang dilakukan menjadi sah dan benar.
Al-Akhdhary rahimahullah berkata:
شُرُوطُ التَّوْبَةِ هِيَ: [1] النَّدَمُ عَلَى مَا فَاتَ، [2] العَزْمُ عَلَى أَلَّا يَعُودَ إِلَيْهِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ، وَ [3] تَرْكُ الذَّنْبِ الَّذِي كَانَ فِيهِ
“Syarat-syarat taubat adalah [1] menyesali dosa yang telah lalu, [2] berniat untuk tidak mengulangi dosa itu lagi di waktu mendatang, serta [3] meninggalkan maksiat yang saat itu dilakoni.”
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata dalam kitab Madariju as-Sakilin,
فَأَمَّا النَّدَمُ، فَإِنَّهُ لا تَتَحَقَّقُ التَّوْبَةُ إِلَّا بِهِ، فَإِنَّ مَنْ لَمْ يَنْدَمْ عَلَى الْقَبِيحِ الَّذِي فَعَلَهُ فَذَلِكَ دَلِيلٌ عَلَى رِضَاهُ بِهِ وَإِصْرَارِهِ عَلَيْهِ، وَقَدْ جَاءَ فِي الْمُسْنَدِ: «النَّدَمُ تَوْبَةٌ». وَأَمَّا الإِقْلَاعُ فَهُوَ شَرْطٌ لا تَصِحُّ التَّوْبَةُ إِلَّا بِهِ، فَكَيْفَ يَتُوبُ مَنْ لا يَزَالُ مُصِرًّا عَلَى الذَّنْبِ؟!
“Adapun menyesal, taubat tidak dapat terwujud tanpanya. Jika tidak menyesali perbuatan jelek yang dilakukan, maka hal itu menunjukkan bahwa pelakunya ridha terhadap perbuatan jelek tersebut. Dalam sebuah hadits yang musnad: “Penyesalan (an-nadam) adalah taubat”. Kemudian syarat selanjutnya adalah al-iqla’ (berhenti melakukan maksiat yang ditaubati). Karena mustahil taubat apabila masih terus melakukan dosa tersebut.”
Oleh karenanya, wajib -dengan menyesali- menjauhi perbuatan dosa dan meninggalkan maksiat serta bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut sehingga terpenuhi lah syarat-syarat taubat.
Wallahu a’lam.
***
Penerjemah: Fauzan Hidayat
Artikel Muslimah.or.id
Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/262651