Beriman Pada Kalamullah

Dan termasuk iman kepada Allah dan kitab-kitab-Nya yaitu beriman bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamulllah yang diturunkan, bukan makhluk

774 0

Setiap mukmin wajib meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang berisi petunjuk kepada jalan keselamatan hidup. Dia termasuk dasar agama yang harus dipahami sebagai bagian esensial dari rukun iman. Dan sejak turunnya Al-Qur’an hingga zaman fitnah saat ini selalu saja ada orang atau pihak – pihak entah dari luar Islam maupun dari kalangan kaum muslimin sendiri yang melecehkan kitab Allah Al-Qur’an.

Orang jahiliyah yang menganut paganisme / menyembah berhala mereka sangat membenci Al-Qur’an hingga mereka berlomba-berlomba membuat ayat-ayat untuk menandinginya. Dan terbukti usaha nyata mereka gagal total. Begitu pula generasi setelahnya berpolemik hebat hingga terpecahnya beberapa aliran yang membahas seputar Al-Qur’an. Akhirnya tercetuslah pendapat kontraversi bahwa Al-Qur’an adalah makhluk sebagaimana firqah mu’tazilah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Dan termasuk iman kepada Allah dan kitab-kitab-Nya yaitu beriman bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamulllah yang diturunkan, bukan makhluk. Dari-Nya dan kepada-Nya akan kembali, bahwasanya Alloh berkata secara hakikat dan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah kalamullah yang sebenar-benarnya bukan perkataan orang lain dan tidak boleh memutlakkan perkataan bahwasanya Al-Qur’an adalah hikayat (ungkapan dari) firman Allah atau ibarah (terjemah) dari kalamullah. Bahkan, jika Al-Qur’an dibaca oleh manusia atau mereka menulisnya dalam mushaf, maka tidak keluar dengan hal itu bahwa ia (Al-Qur’an ) adalah Kalamullah yang sebenarnya, karena kalam (perkataan) itu disandarkan secara hakikat kepada yang mengatakannya pertama kali, bukan kepada yang mengatakannya sebagai penyampai atau perantaranya. Al-Qur’an adalah Kalamullah, huruf-hurufnya dan maknanya, dan bukan hanya hurufnya saja tanpa makna serta bukan maknanya saja tanpa huruf.

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah عزّوجلّ kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan perantaraan malaikat jibril, dari-Nya dimulai dan kepada-Nya akan kembali, dan ia merupakan mukjizat oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan kebenaran orang yang membawa Risalah-Nya dan akan dijaga sampai hari kiamat” (Lihat Mujmal Ushul Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah Fil ‘Aqidah).

Pembahasan masalah Al-Qur’an sebagai firman Allah sangat penting diketahui siapa mukmin. Kesalahan fatal yang bisa menjerumuskan pada kekafiran tatkala menganggap Al-Qur’an adalah makhluk terutama ketika mengingkari sesuatu dari Al-Qur’an bahkan satu huruf sekalipun.

Imam Ibnu Abi Hatim Ar Razi dalam kitabnya ‘Ahlus Sunnah Wa ‘Itiqaduddin berkata : “barangsiapa yang beranggapan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia telah kafir terhadap Allah Yang Maha Agung”.

Kekufuran yang mengeluarkan dari millah (Islam) dan barangsiapa yang ragu terhadap kekafirannya sedangkan ia paham, maka ia juga kafir. Beliau berkata : “Barangsiapa yang ragu terhadapa Kalamullah, kemudian ia tawaquf (diam) karena ragu – ragu, maka ia berkata :” Aku tidak tahu apakah ia makhluk atau bukan, maka ia adalah Jahmi (mengikuti faham Jahamiyah ) serta barangsiapa yang bertawaquf (diam) karena bodoh, maka ia harus diajari dan dinyatakan telah berbuat bid’ah, namun ia tidak dikafirkan”.

Dalam kitab Al-Aqidah Ath- Thohawiyah dinyatakan : “kita tidak membantah Al-Qur’an dan kita bersaksi bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah Rabbul’alamin, dibawa oleh Ruhul Amin (malaikat Jibril) diajarkan sayyidul mursalin Muhammad صلى الله عليه وسلم dan Al-Qur’an adalah kalam Allah عزّوجلّ yang tidak diserupai perkataan makhluk, kita tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk juga kita tidak menyelisihi jama’atul muslimin”.

Dan para pembela kebenaran dari imam-imam terkemuka terus mendakwahkan bahwa Al-Qur’an bukan makhluk, hingga mereka disiksa karena teguh mempertahankan keimanannya. Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Al-Bukhari dengan penuh percaya diri mengatakan: “Al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk, sedang perkataan hamba dan suara mereka adalah makhluk. Seorang hamba yang membawa Al-Qur’an, suaranya adalah suara orang yang membaca dan perkataannya adalah firman Allah”.

Dari penjelasan diatas semoga keimanan kita semakin mantap dan termotivasi untuk memahami Al-Qur’an. Tidak boleh menafsirkannya dengan akal atau mentakwilkannya sebagaimana perkataan orang-orang sufi dengan perkataan Al-Qur’an ada yang zahir dan dan ada yang batin.

Semoga Allah mengokohkan keyakinan kita diatas kebenaran dan memudahkan langkah kita untuk memahaminya sebagaimana para salaf dahulu mempelajarinya. Saat ini zaman Al-Qur’an dijadikan ajang polemik dengan penafsiran yang mengikuti hawa nafsu. Semoga Allah عزّوجلّ menyelamatkan kaum muslimin dari cobaan ini.

***

Referensi :

  1. Syarah Aqidah Wasithiyah (terjemah), Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Penerjemah Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Media Tarbiyah, Bogor 2009.
  2. Kitab Al-Aqidah Ath – Thohawiyah (terjemah), Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath-Thohawi, Tibyan, Solo, 2006.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Artikel Muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?