Nasihat Syaikh ’Abdul ’Aziz bin ’Abdullah bin Baaz kepada Seluruh Kaum Muslimin (Bag. 04)

Saya ingin tutup nasihat ini dengan 5 hal yang mencakup seluruh kebaikan

32 0

Saya ingin tutup nasihat ini dengan 5 hal yang mencakup seluruh kebaikan,

Mengikhlaskan Agama kepada Allah

Pertama, mengikhlaskan diri kepada Allah dalam seluruh aktivitas ibadah, baik ucapan maupun perbuatan dan menjauhkan diri dari kesyirikan, baik yang besar maupun yang kecil. Inilah kewajiban yang paling penting dan masalah yang paling utama serta merupakan makna syahadat Laa ilaaha illallah (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, pent.). Amal perbuatan dan perkataan seorang hamba tidaklah sah kecuali dengan sah dan terpenuhinya pokok masalah ini. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

”Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ’Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar [39]: 65)

Mempelajari Al Qur’an dan As-Sunnah

Kedua, mempelajari Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, berpegang teguh dengan keduanya dan bertanya kepada para ulama tentang masalah-masalah agama yang masih belum jelas. Inilah kewajiban setiap muslim. Kewajiban ini tidak boleh ditinggalkan, tidak boleh berpaling darinya serta berjalan mengikuti pendapat sendiri dan hawa nafsunya tanpa mengikuti petunjuk. Inilah makna syahadat ”anna Muhammad Rasulullah, shallallahu ’alaihi wa sallam” (sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, pent.).

Persaksian ini mewajibkan setiap hamba untuk beriman bahwasannya Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam adalah benar-benar sebagai utusan Allah, berpegang teguh dengan ajaran agama yang beliau bawa, membenarkan yang beliau kabarkan dan tidak beribadah kepada Allah Ta’ala kecuali dengan yang beliau syari’atkan melalui ucapan-ucapannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

”Katakanlah, ’Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Ali ’Imran [3]: 31)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

”Apa yang diberikan Rosul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.(QS. Al Hasyr [59]: 7)

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berabda, ”Barangsiapa yang mengada-adakan hal yang baru dalam urusan (agama) ini dengan sesuatu yang tidak diajarkan, maka pasti tertolak.(Muttafaq ’alaihi)

Rasulullah juga bersabda, ”Barangsiapa beramal dengan amalan yang tidak diajarkan, maka amalan tersebut tertolak.(HR. Muslim)

Setiap orang yang berpaling dari Al Qur’an dan As-Sunnah dan lebih mengikuti hawa nafsunya maka dia telah bermaksiat kepada Tuhannya, berhak untuk dibenci dan mendapatkan hukuman. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ

”Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.(QS. Al Qashash [28]: 50)

Allah Ta’ala berfirman tentang karakter orang-orang kafir,

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى

”Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka. Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.(QS. An-Najm [53]: 23)

Mengikuti hawa nafsu –kita memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari hal itu- akan mematikan cahaya dalam hati dan menyesatkan kita dari jalan kebenaran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

”Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.(QS. Shaad [38]: 26)

Maka jauhilah sikap mengikuti hawa nafsu dan berpaling dari kebenaran, semoga Allah merahmati kalian semua. Dan berpegang teguhlah dengan kebenaran, mendakwahkannya dan mengingatkan setiap orang yang berpaling darinya. Sehingga Engkau akan berbahagia dengan mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat.

Menjaga dan Menegakkan Shalat Lima Waktu

Ketiga, menegakkan shalat lima waktu serta menjaganya dengan menunaikannya secara berjamaah (di masjid bagi laki-laki, pent.). Karena sesungguhnya hal itu merupakan kewajiban yang paling penting dan paling pokok setelah dua kalimat syahadat. Shalat adalah tiang agama dan rukun Islam yang kedua. Shalat juga merupakan amalan seorang hamba yang akan pertama kali dihisab pada hari kiamat. Maka barangsiapa yang menjaganya, maka dia telah menjaga agamanya. Dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah memisahkan diri dari Islam. Alangkah besar kesedihannya dan betapa jelek akibatnya pada hari ketika dia berdiri di hadapan Allah!

Maka wajib atas kalian -semoga Allah merahmati kalian semua- untuk menjaganya, saling menasihati tentangnya dan mengingkari orang-orang yang menyelisihinya serta memperingatkannya. Karena sesungguhnya hal tersebut termasuk saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Perjanjian yang membedakan kita dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.(HR. Ahmad dan Ahlus Sunan dengan sanad yang shahih)

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda, ”Batas antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.(HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Barangsiapa yang melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangan. Jika dia tidak mampu maka dengan lisan. Jika dia tidak mampu juga maka dengan hati. Namun yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.(HR. Muslim)

[Bersambung]

***

Diselesaikan setelah tarawih, Rotterdam NL 14 Ramadhan 1438/8 Juni 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

Shares