Parenting Islami (20): Memilih Nama Yang Baik untuk Anak (01)

Nama yang baik merupakan salah satu hak anak atas orang tua yang wajib kita tunaikan. Janganlah kita memberi nama yang nanti akan menyusahkan mereka atau membuatnya dicela oleh …

155 0

Nama yang baik merupakan salah satu hak anak atas orang tua yang wajib kita tunaikan. Janganlah kita memberi nama yang nanti akan menyusahkan mereka atau membuatnya dicela oleh orang lain. Berikanlah kepadanya nama yang baik, nama yang indah dari nama-nama orang Islam. Karena pada nama terdapat harapan dan optimisme.
Terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari jalur periwayatan Said bin Musayyib rahimahullah dari ayahnya. Ayahnya datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,

مَا اسْمُكَ قَالَ حَزْنٌ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ سَهْلٌ فَقَالَ لَا أُغَيِّرُ اسْمًا سَمَّانِيهِ أَبِي قَالَ ابْنُ الْمُسَيَّبِ فَمَا زَالَتْ حُزُونَةٌ فِينَا بَعْدُ

“Siapa namamu?” Dia menjawab, “Haznun (jalan yang susah).” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Namamu (mulai sekarang) adalah “Sahlun” (jalan yang datar atau mudah).” Lantas dia menjawab, Aku tidak akan mengganti sebuah nama yang telah diberikan ayahku [1].”
Lalu Said bin Musayyib mengatakan, Maka kesusahan tiada hentinya menimpa kami setelah itu.” (HR. Bukhari no. 6190)
Artinya, nama “Haznun” itu memberikan pengaruh, bahkan terhadap Said bin Musayyib rahimahullah [2].
Lihat pula bagaimana doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan dengan nama beberapa kabilah Arab pada masa itu.

غِفَارُ غَفَرَ اللَّهُ لَهَا وَأَسْلَمُ سَالَمَهَا اللَّهُ وَعُصَيَّةُ عَصَتِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Ghifar, semoga Allah Ta’ala mengampuni mereka. Aslam, semoga Allah Ta’ala mendamaikan (menyelamatkan) mereka. ‘Ushoyyah, mereka telah bermaksiat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari no. 3513 dan Muslim no. 2518)
Masih dalam Shahih Bukhari dari jalur periwayatan ‘Ikrimah rahimahullah. Dia mengatakan, ketika Suhail bin ‘Amr datang, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan,

قَدْ سُهِّلَ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ

“Sungguh urusan kalian telah menjadi mudah.” (HR. Bukhari no. 2731 dan 2732)
Ma’mar mengatakan, “Az Zuhri berkata, “Lalu Suhail pun datang dan meminta kertas untuk menulis perjanjian di antara mereka.”
Orang tua yang semangat mencari nama yang baik untuk anak mereka dari nama orang-orang yang memiliki keutamaan dan keshalihan (dari nama para Nabi, sahabat, dan tabiin), tentu tidak sama dengan orang tua yang mencari nama untuk anak mereka dari nama orang-orang kafir, artis, orang jahat atau pelacur. Orang tua jenis yang pertama akan mendapatkan pahala dari apa yang dilakukannya. Sedangkan orang tua jenis ke dua akan mendapatkan balasan buruk sesuai dengan kadar niatnya.
Secara umum seseorang akan condong pada nama yang dia miliki. Kita bisa melihat bahwa orang yang bernama Muhammad, maka dia akan cenderung dengan orang-orang yang juga bernama Muhammad. Demikian pula orang yang bernama Yahya, maka dia pun akan cenderung dengan orang-orang yang bernama Yahya, dan demikian seterusya [3]. Oleh karena itu, kita harus mencari dan memilih nama yang baik untuk anak-anak kita dari nama orang-orang yang memiliki keutamaan dan keshalihan. Dan demikianlah kebiasaan orang-orang shalih terdahulu.
Tidakkah kita melihat Maryam, Musa dan Harun yang merupakan anak dari ‘Imran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu tentang hal ini, lantas beliau menjawab,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ

“Sesungguhnya mereka biasa menamai (anak keturunan mereka, pen.) dengan nama para Nabi dan orang-orang shalih sebelum mereka.” (HR. Muslim no. 2135)
Berdasarkan keterangan di atas, maka hendaknya kita memilih nama untuk anak-anak kita dengan nama orang-orang shalih. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ

“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman.” (HR. Muslim no. 2132)

Beliau juga pernah bersabda,

تَسَمَّوْا بِاسْمِى وَلاَ تَكَنَّوْا بِكُنْيَتِى

“Berikanlah nama (anak-anak kalian, pen.) dengan namaku. Namun janganlah kalian berkunyah dengan kunyah-ku [4] (yaitu Abul Qasim, pen.).” (HR. Muslim no. 2132)
Demikian pula disebutkan dalam Shahih Muslim melalui sebagian jalur periwayatan dari hadits di atas, bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Anshor yang anaknya baru lahir. Dia hendak memberikan anaknya dengan nama Muhammad. Lalu dia pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau pun bersabda sebagaimana hadits di atas.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nama “Ibrahim” kepada anaknya [5]. Demikian pula beliau pernah memberikan nama kepada anaknya Abu Musa dengan nama Ibrahim.
Abu Musa ‘Abdullah bin Qais Al-‘Asy’ari radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits,

وُلِدَ لِى غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ

“Ketika aku dianugerahi seorang anak, aku pun membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau pun memberikannya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan kurma.” (HR. Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144)

(Bersambung)
***
Rantauprapat, 5 Sya’ban 1438 H | 1 Mei 2017 M
Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:
[1] Orang ini mungkin mengatakan demikian dengan nada marah.
[2] Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Ad-Dawudi mengatakan bahwa yang beliau (Sa’id bin Musayyib maksudkan adalah kesusahan (amarah) yang ada pada akhlak mereka. Namun beliau sendiri menggunakan amarahnya karena Allah.” Ulama lain mengatakan, “Beliau berisyarat pada kesusahan yang tetap ada pada akhlak mereka. Para ahli nasab mengatakan bahwa anak keturunan mereka dikenal memiliki akhlak yang buruk dan tidak pernah hilang.”
[3] Allahu a’lam. Mungkin gambarannya adalah seseorang yang bernama Muhammad akan tertarik dengan hal yang berkaitan dengan namanya. Misalnya, dia membaca sebuah kitab yang ditulis oleh orang yang bernama Muhammad. Biasanya dalam hatinya akan terdapat dorongan lebih untuk membaca kitab tersebut, karena namanya sama dengan nama penulisnya.
[4] Nama “kunyah” adalah nama julukan yang biasanya diambil dari nama anak, orang tua atau yang lainnya. Namun tidak terbatas pada hal ini. Misalnya, seseorang yang bernama Hasan dan memiliki anak bernama ‘Ali. Maka kunyahnya menjadi “Abu Ali”.
[5] HR. Bukhari no. 6194.

 

Artikel muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

Shares