Ratu Tanpa Singgasana: “Ia Hanyalah Hari-hari yang Cepat Berlalu”

Ia hanyalah hari-hari yang cepat berlalu. Siapa kehilangan sesuatu hari ini, maka ia tidak menemukannya esok hari.

361 0

Zajlah adalah wanita yang baik dan rajin beribadah. Diriwayatkan dari Salim bin Abdullah dan selainnya. Shadaqah bin Khalid dan selainnya juga menceritakan tentang dia. Zajlah adalah seorang yang memerhatikan persoalan iman dan ia terlalu menekan dirinya untuk melaksanakan hal tersebut, sampai Allah memberinya rezeki berupa hati seorang ratu meski tanpa singgasana, dan jiwa yang kaya tanpa tumpukan harta.

Sekelompok ulama pernah mengingatkannya ketika mereka melihatnya memaksa dirinya untuk beribadah. Mereka berkata, “Kasihanilah dirimu!”

Tetapi ia malah menjawab, “Mengapa saya harus kasihan padanya. Ia hanyalah hari-hari yang cepat berlalu. Siapa kehilangan sesuatu hari ini, maka ia tidak akan menemukannya esok hari. Demi Allah, aku akan shalat karena Allah sampai jasadku mati, aku akan berpuasa sepanjang hidupku, dan aku akan menangis karena Allah selama mataku bisa mengucurkan air mata.”[1]

Inilah semangat membara yang dimiliki Zajlah –radiyallahu ‘anha– . Semangat itu mendorongnya untuk mendirikan shalat, berpuasa dan menangis. Semua itu atas dasar sebuah kaidah: Ia hanyalah hari-hari yang cepat berlalu.

Barangsiapa hidup dengan membawa perasaan ini, ia akan termotivasi untuk mendekat kepada Allah Ta’ala dan akan menyesuaikan diri untuk memanfaatkan waktu dengan baik.

Perlu diketahui, kewajiban itu lebih banyak daripada waktu tersedia. Barangsiapa yang menyia-nyiakan waktunya, maka ia telah durhaka kepada harinya dan menzhalimi dirinya.

Adapun teladan kita di zaman ini ialah Sayidah Syamsu Al-Barudi. Ukhti Asma Al-Juhaini mengisahkan tentangnya dan tentang semangatnya serta pemanfaatan waktu yang ia lakukan. Asma mengisahkan tentang hari-hari yang Syamsu Al-Barudi jalani, yaitu:

“Ketika malam tiba, biasanya beliau tidak tidur. Beliau menghabiskan malam untuk beribadah, membaca Al Quran, membaca buku-buku agama yang bermanfaat hingga adzan fajar tiba, lalu shalat. Kemudian beliau membangunkan anak-anaknya untuk shalat. Menyiapkan anak-anaknya berangkat ke sekolah. Dan beliau mengawasi semua itu sendirian.” [2]

Inilah salah satu sisi pemanfaatan waktu malam untuk meningkatkan iman. Kami memohon kepada Allah agar berkenan memberi rezeki pemahaman tentang pemanfaatan waktu ini kepada putri-putri kita; dan agar Dia membimbing mereka untuk melaksanakannya. Berangkat dari sebuah kaidah:

Ia hanyalah hari-hari yang cepat berlalu. Siapa kehilangan sesuatu hari ini, maka ia tidak menemukannya esok hari.

Siapa yang mempraktekan kaidah ini, ia akan mendapatkan semangat dan tidak akan mendapat toleransi untuk beristirahat kecuali istirahat yang memang diperlukan secara manusiawi.

 

———————————————————————–

[1] Siyar A’lam An-Nubala` (IV: 278)

[2] Min ‘Alam Asy-Syuhrah ila Ruhab Al-Iman, Asma` Al-Juhaini

 Diketik ulang dari buku “Aplikasi Manajemen Waktu Wanita” karya Dr. Jasim Muhammad Badr.

Artikel muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

Shares