Donasi Web Donasi Web

Surga Diliputi Perkara Yang Dibenci Jiwa, Neraka Diliputi Perkara Yang Disukai Nafsu

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)

Mengenal kosa kata
Huffat: Berasal dari kata al-hafaf (الحَفَاف) yang berarti sesuatu yang meliputi sesuatu yang lain yang berarti surga dan neraka itu diliputi sesuatu. Seseorang tidak akan memasuki surga dan neraka kecuali setelah melewati hijab terebut. Dalam riwayat Bukhari kata huffat diganti dengan kata hujibat (حُجِبَت ) yang berarti tabir, hijab ataupun pembatas dan keduanya memiliki makna sama. Hal ini ditegaskan Ibnul Arabi sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul Baari.

Al-Jannah: Kampung kenikmatan.
Al-Makarih: Perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) berupa ketaatan dan ketundukan terhadap aturan-aturan Allah Ta’ala.
An-Nar: Kampung siksaan dan adzab.
Asy-Syahawat: Nafsu yang condong kepada kejelekan-kejelekan.

Penjelasan ulama tentang hadits ini
Saudariku, semoga Allah merahmatimu. Agar lebih memahami makna hadits diatas alangkah baiknya kita simak penuturan Imam Nawawi rahimahullah berikut ini,
Para ulama mengatakan,’Hadits ini mengandung kalimat-kalimat yang indah dengan cakupan makna yang luas serta kefasihan bahasa yang ada pada diri Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Sehingga beliau membuat perumpamaan yang sangat baik dan tepat. Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang itu tidak akan masuk surga sehingga mengamalkan perkara-perkara yang dibenci jiwa, begitupula sebaliknya seseorang itu tidak akan masuk neraka sehingga ia mengamalkan perkara-perkara yang disenangi oleh syahwat. Demikian itu dikarenakan ada tabir yang menghiasi surga dan neraka berupa perkara-perkara yang dibenci ataupun yang disukai jiwa. Barangsiapa yang berhasil membuka tabir maka ia akan sampai kedalamnya. Tabir surga itu dibuka dengan amalan-amalan yang dibenci jiwa dan tabir neraka itu dibuka dengan amalan-amalan yang disenangi syahwat. Diantara amalan-amalan yang dibenci jiwa seperti halnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Ta’ala serta menekuninya, bersabar disaat berat menjalankannya, menahan amarah, memaafkan orang lain, berlaku lemah lembut, bershadaqah, berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah, bersabar untuk tidak memperturutkan hawa nafsu dan yang lainnya. Sementara perkara yang menghiasi neraka adalah perkara-perkara yang disukai syahwat yang jelas keharamannya seperti minum khamr, berzina, memandang wanita yang bukan mahramnya (tanpa hajat), menggunjing, bermain musik dan yang lainnya. Adapun syahwat (baca:keinginan) yang mubah maka tidak termasuk dalam hal ini. Namun makruh hukumnya bila berlebih-lebihan karena dikhawatirkan akan menjerumuskan pada perkara-perkara haram, setidaknya hatinya menjadi kering atau melalaikan hati untuk melakukan ketaatan bahkan bisa jadi hatinya menjadi condong kepada gemerlapnya dunia.”(Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, Asy-Syamilah).

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari berkata,
“Yang dimaksud dengan al-makarih (perkara-perkara yang dibenci jiwa) adalah perkara-perkara yang dibebankan kepada seorang hamba baik berupa perintah ataupun larangan dimana ia dituntut bersungguh-sungguh mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan tersebut. Seperti bersungguh sungguh mengerjakan ibadah serta berusaha menjaganya dan menjauhi perbuatan dan perkataan yang dilarang Allah Ta’ala. Penggunaan kata al-makarih disini disebabkan karena kesulitan dan kesukaran yang ditemui seorang hamba dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Adapun yang dimaksud syahwat disini adalah perkara-perkara yang dilakukan untuk menikmati lezatnya dunia sementara syariat melarangnya. Baik karena perbuatan tersebut haram dikerjakan maupun perbuatan yang membuat pelakunya meninggalkan hal yang dianjurkan. Seakan akan Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan seseorang tidaklah sampai ke surga kecuali setelah melakukan amalan yang dirasa begitu sulit dan berat. Dan sebaliknya seseorang tidak akan sampai ke neraka kecuali setelah menuruti keinginan nafsunya. Surga dan nereka dihijabi oleh dua perkara tersebut, barangsiapa membukanya maka ia sampai kedalamnya. Meskipun dalam hadits tersebut menggunakan kalimat khabar (berita) akan tetapi maksudnya adalah larangan.”(Fathul Baari 18/317, Asy-Syamilah)

Hiasai harimu dengan hadist ini !
Syaikh Abdurrazzaq hafidzahullah memberikan contoh kepada kita bagaimana cara mengaplikasikan hadits ini dalam kehidupan sehari-hari, beliau berkata,

“Kunasehatkan bagi diriku sendiri dan saudaraku sekalian. Jika engkau mendengar adzan telah dikumandangkan ‘hayya alash shalah hayya ‘alal falah’ namun jiwamu merasa benci melaksanakannya, mengulur-ulur waktu dan merasa malas. Ingatkan dirimu tentang hadits ini bahwa surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci jiwa.

Jika kewajiban membayar zakat telah tiba dan jiwamu merasa malas mengeluarkannya serta membagikannya kepada fakir miskin maka ingatkan dirimu dengan hadits ini bahwa surga itu diliputi perkara yang dibenci jiwa.

Jika waktu puasa telah tiba sementara jiwamu merasa enggan menunaikannya, ingatkan dirimu degan hadits ini. Sungguh surga itu diliputi perkara yang dibenci jiwa.

Begitu juga ketika jiwamu merasa malas untuk berbakti kepada orang tua, enggan berbuat baik kepada keduanya dan merasa berat memenuhi hak-haknya, ingatkan dirimu dengan hadits ini bahwa surga itu diliputi perkara yang dibenci jiwa”.

Beliau hafidzahullah juga berkata, “Sebaliknya ketika jiwamu condong kepada perbuatan-perbuatan keji,zina dan perbuatan haram maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diiputi perkara-perkara yang disenangi syahwat. Ingatkan pula jika sekarang engkau lakukan perbuatan ini maka kelak engkau akan masuk neraka.

Jika jiwamu tergoda dengan perbuatan riba, maka ingatkan dirimu bahwa Allah dan rasulNya telah mengharamkannnya dan pelakunya kelak akan masuk neraka.

Begitu juga ketika jiwamu sedang ketagihan minum minuman keras dan minuman haram lainnya maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diliputi perkara-perkara yang disenangi syahwat.

Ketika jiwamu merasa rindu mendengarkan musik, lagu-lagu dan nyanyian-nyanyian yang telah Allah haramkan atau ketika kedua matamu mulai condong melihat sesuatu yang Allah haramkan berupa vcd-vcd porno, gambar-gambar porno dan pemandangan haram lainnya maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diliputi perkara-perkara yang disenangi syahwat

Jika engkau selalu menerapkan hadits ini dalam sendi-sendi kehidupanmu dan berusaha menghadirkannya setiap saat maka dengan ijin Allah engkau akan bisa menjauhi perbuatan haram dan memudahkanmu menjalankan ketaatan kepadaNya.”(Muhadharah Syaikh Abdurrazzaq hafidzahullah)

Ingatlah, jiwa manusia itu condong pada kejelekan
Allah Ta’ala berfirman,


إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي

“Sesungguhnya jiwa (manusia) itu menyuruh pada kejelekan kecuali jiwa yang dirahmati Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53)
Ath-Thabari berkata tentang ayat ini, “Jiwa yang dimaksudkan adalah jiwa para hamba, ia senantiasa memerintahkan pada perkara-perkara yang disenangi nafsu. Sementara hawa nafsu itu jauh dari keridhaan Allah Ta’ala.”(Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Asy-Syamilah)

Saudariku, perhatikanlah nasehat Ibnul Jauzi rahimahullah berikut,
“Ketahuilah, semoga Allah mamberikan taufiq kepadamu. Sesungguhnya watak dasar jiwa manusia itu cinta kepada hawa nafsunya. Telah berlalu penjelasan tentang begitu dasyatnya bahaya hawa nafsu, sehingga untuk menghadapinya engkau membutuhkan kesungguhan dan pertentangan dalam diri jiwamu. Ketika engkau tidak mecegah keinginan hawa nafsumu maka pemikiran-pemikiran sesat (kejelekan-kejelekan) itu akan menyerang sehingga tercapailah keinginan hawa nafsumu.” (Dzammul Hawa, hal.36, Asy-Syamilah)

Hadits penjelas

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwassalam bersabda,
“Ketika surga dan neraka diciptakan, Allah Ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam pergi ke surga seraya berfirman, ‘Lihatlah ia dan perhatikanlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!”

Nabi shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan, “Jibril pun mendatangi, melihat dan memperhatikan segala nikmat yang Allah sediakan bagi penduduk surga. Kemudian Jibril kembali kepada Allah seraya berkata, ‘Demi kemuliaanMu, tidak ada seorangpun yang mendengar tentang berita surga kecuali ingin memasukinya’.

Kemudian Allah memerintahkan surga sehingga ia diliputi perkara-perkara yang dibenci (jiwa). Lalu Allah Ta’ala memerintahkan Jibril, ‘Kembalilah kepadanya dan lihatlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduk surga!’ Maka Jibrilpun kembali ke surga dan ia temui bahwasanya surga telah diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa manusia. Kemudian Jibril menadatangi Allah Ta’ala seraya berkata, ‘Demi kemuliaanMu sungguh aku khawatir tidak ada seorangpun yang bisa memasukinya!’

Lalu Allah memerintahkan,’Pergilah ke neraka, lihatlah dan perhatikanlah siksaan yang Aku sediakan bagi penghuninya kelak!’ Maka ketika dineraka terdapat api yang  menyala-nyala dan bertumpuk-tumpuk , Jibril kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, ‘Demi kemuliaanMu tidak ada seorangpun yang ingin memasukinya.’ Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan agar neraka dipenuhi dengan perkara-perkara yang disukai syahwat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kembalilah padanya!’ Jibrilpun kembali ke neraka dan berkata, ‘Demi kemuliaanMu, aku khawatir tidak ada seorangpun dari hambaMu yang bisa selamat dari siksaan neraka.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits ini hasan shahih” . Begitupula Syaikh Al-Albani menilai hadits ini hasan shahih.(Sunan At-Tirmidzi, Asy-Syamilah)

Saudariku, akhirnya kami hanya bisa berdoa semoga kita semua dimasukkan Allah Ta’ala menjadi golongan penghuni surgaNya yang tertinggi dan dijauhkan dari segala jalan yang mengantarkan kita ke nerakaNya.


اَللّهُمَّ إِنِّى أَ سْئَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَ عَملٍ وَ أَعُوْ ذُبِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَ عَمَلٍ

Ya Allah…aku memohon kepadamu surga dan segala sesuatu yang bisa mendekatkanku dengannya baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Dan aku berlindung kepadamu dari siksaan neraka dan segala sesuatu yang bisa mendekatkanku dengannya baik berupa perkataan ataupun perbuatan.” (Musnad Imam Ahmad)

Washallahu’ala nabiyyina Muhammadin wa’ala alihi washahbihi wasallam

Penulis : Ummu Fatimah Umi Farikhah

Murojaah : Ust. Aris Munandar hafidzahullah

Maraji‘ :
Dzammul Hawa, Ibnul Jauzi, Maktabah Asy-Syamilah
Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Maktabah Asy-Syamilah
Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, Maktabah Asy-Syamilah
Muhadharah Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr, www.radiorodja.com
Sunan At-Tirmidzi, Abu ‘Isa Imam At-Tirmidzi, Maktabah Asy-Syamilah
Syarhun Nawawi ‘Ala Muslim, Imam Nawawi, Maktabah Asy-Syamilah

***

Artikel muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Banner MPD

About Author

25 Comments

  1. Judul di atas bagi ana sangatlah tendensius, maksud ana adalah justru kebalikannya, jalan ke Nerakalah yang berliku sedangkan jalan ke surga tidak berliku dan mulus. Pemahaman yang ukhti tulis sangat bertentangan dengan hadist Rasululloh, yaitu bahwa agama islam itu mudah, dan barang siapa yang mempersulit dia tidak termasuk golonganku (mohon dikoreksi kalau ana salah).

    Mudah dalam pengertian tidak meremehkan apalagi mendustakan, untuk itu tulisan yang ukhti upload kurang pas dalam memaknai qaidah-qaidah islam itu sendiri.

    • @ Akh Abu Arum

      wallohu a’lam. mungkin yang penulis maksudkan dengan judul artikel tsb adalah bahwa berbuat kebaikan itu membutuhkan perjuangan, adapun berbuat dosa itu begitu mudah. insya Alloh yang dipahami oleh akh abu arum, maupun judul yang dibuat oleh penulis, tidaklah bertentangan dengan kaidah-kaidah islam yang ada.

      di satu sisi, islam itu mudah. di sisi lain, di balik kemudahan itu, ada saja hal-hal yang bisa menggelincirkan kita ke dalam perbuatan dosa, bisa jadi godaan setan atau hawa nafsu yang buruk. dengan demikian, jalan menuju surga sebenarnya telah terpampang dengan luas di depan mata, namun mungkin ketergelinciran bisa melencengkan kita pada jalan menuju neraka, padahal langkah kita ke surga itu sebenarnya lebih mudah untuk ditempuh.

      semoga Alloh beri kita semua taufik di atas Islam, setelah kita berada di dalamnya. aamiiin

    • @ Abu Arum
      Jazakumullah khaira atas kritiknya. Yang kami maksudkan dengan judul diatas adalah jalan ke surga bukan jalan di surga…mohon dibedakan. Kalau jalan di surga sudah barang tentu semua yang didalamnya serba terbaik. Memang Islam adalah agama yang mudah bukan berarti bermudah-mudah bukan? Kita tahu mengingat Allah setiap saat adalah sesuatu yang mudah, berpahala yang besar bagi yang ikhlas melakukannya, bahkan Allah janjikan baginya kehidupan yang tenang, hati yang lapang. Tapi adakah orang yang sadar dengan kemudahan ini? bahkan kita sendiri merasa berat dengan kemudahan ini, lalai dengan kemurahan yang Allah berikan, kecuali hamba yang dirahmati Allah. Semoga bisa dipahami..
      kalau dirasa judul diatas tendensius kami sangat menerima saran judul yang lebih baik. Kami berharap pembaca tidak berhenti melihat judul saja tapi lebih mendalami hadits Rasululullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam artikel diatas. Kami sekedar mennyampaikan hadits dan penjelasan ulama tentang makna yang benar tentang haits tersebut. Karena hadits tersebut termasuk hadits shahih riwayat Muslim dan Bukhari sehingga kita berkwajiban meyakini hadits tersebut sebagai aqidah islam. Allahu a’lam

      -ummu fatimah-

  2. ana izin copas y

    • @ Ibnu Ali
      Silahkan semoga bermanfaat

      @ Abu Faalih
      Wa’alaikumussalam, jazakumullah khaira atas tambahannya.

      @ Abu Arum
      Wa’alaikumussalam,
      jazakumullah khaira atas saran dan masukan yang diberikan.
      Sedikit yang bisa kami sampaikan sebagai penegasan sekaligus klarifikasi agar tidak ada lagi pembaca yang salah paham dengan judul diatas,
      1. Judul tersebut bukan bermaksud untuk mencerminkan islam adalah agama susah dan ribet. Bukan demikian saudaraku! Tentu kita semua tahu islam adalah agama yang mudah, Allah menciptakan syariat ini penuh dengan kemudahan, penuh dengan hikmah dan mashlahat. Namun yang kami tegaskan disini adalah manusianya itu sendiri dalam meyikapi syariat bahwa manusia itu cenderung untuk menuruti hawa nafsu sehingga ia merasa berat dengan kemudahan yang Allah berikan, bahkan ia merasa lebih baik dari Allah dengan membuat-buat syariat sendiri dengan mempersulit dirinya sendiri. sehingga seandainya dirinya ingin memasuki surga ia harus melawan berbagai rintangan dalam dirinya baik bisikan syaithan ataupun syahwat yang senantiasa menyuruhnya untuk berbuat maksiat, bidah dan syirik.Dan ini adalah sesuatu yang berat! inilah yang kami maksud dengan berlikunya jalan ke surga!. seseorang senantiasa melawan segala godaan yang datang agar ia bisa membuka tabir surga dengan amalan ketaatan yang dirasa berat oleh jiwa. Padahal kita tahu syairiat islam itu mudah! Nammun kenapa masih ada saja orang yang berbuat masksiat, berbuat dzalim?!
      Tidakkah Anda tahu bahwa dengan kemudahan islam ini masih ada orang yang enggan masuk surga!! apakah Anda mengira dengan kemudahan islam ini semua manusia bisa masuk surga? apakah Anda yakin dengan kemudahan yang jelas-jelas mudah semua manusia mau beriman?
      sebagaimana Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengkhabarkan kepada kita bahwa ada orang yang enggan masuk surga? tahukah engakau saudaraku siapakah dia? dialah orang yang tidak menaatii (bermaksiat) kpd perintah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam!
      dengan kenikamatan yang luar biasa dalam surga namun masih ada juga orang yang enggan memasukinya?! Lantas adakah orang yang merasa aman dan merasa dirinya pasti masuk surga dengan enaknya tanpa usaha keras setelah Nabi khabarkan bahwa surga diliputi dengan perkara yang dibenci jiwa??

      2. Tentang kisah pelacur yang masuk surga
      Tahukah anda kenapa Allah memasukkannya kedalam surga? padahal dia adalah seorang pezina?
      apakah seseorang boleh beralasan dengan kisah ini untuk seenaknya melacurkan diri karena nantinya dirinya pasti masuk surga?
      yang pertama kami akan menjawab, bahwa wanita (yahudi) tersebut seorang pelacur tapi dirinya masih memiliki kadar tauhid dalam hatinya. sehingga denga ketauhidannya kepada Allah dan dengan rahmat dan kasih sayang Allah, Allah masukkan dirinya kedalam surga. ini bukan berarti semua pelacurpun dengan mudahnya memasuki surga! karena tidak semua pelacur itu bertauhid dan tidak semua pelacur diberi rahmat oleh Allah untuk memasuki surga!

      3. Tentang saran judul yang Anda bawakan..Apakah sesuai denga isi hadits yang kami bawakan?
      Tolong saudaraku dalami hadits tersebut dan penjelasan ulama tentang nya. Apakah saudara sudah membaca artikel diatas dengan tuntas? Insya Allah jika Anda membaca dengan seksama tidak ada lagi kerancuan dan salah paham. Demikian wallahu waliyyuttaufiq

  3. Assalamu’alaikum,

    Hadit dalam tulisan ini saya lihat riwayat Muslim, dan ketika diberikan catatan oleh penulis di kolom komentar “Karena hadits tersebut termasuk hadits shahih riwayat Muslim dan Bukhari”, oleh karenanya Saya hanya ingin menambahkan dari tulisan di atas tentang redaksi hadits riwayat Bukhari. Imam Bukhari rahimahullah mengatakan di dalam Shahihnya di kitab ar-Riqaq: Bab. Neraka itu diliputi dengan berbagai perkara yang disukai oleh hawa nafsu/syahwat.

    Ismail menuturkan kepada kami. Dia berkata: Malik menuturkan kepadaku dari Abu Zinad dari al-Araj dari Abu Hurairah -radhiyallahuanhu- bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, (yang artinya):Neraka itu diliputi oleh perkara-perkara yang disukai oleh hawa nafsu, sedangkan surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disukai -oleh nafsu-. (Shahih Bukhari cet. Maktabah al-Iman, hal. 1317. Hadits no. 6487)

    Maka tidak ada pertentangan dari judul yang diberikan penulis dengan maksud dari pembaca, karena penulis telah menyampaikan penjelasan tentang isi hadits tersebut. Semoga Allah memberikan kita kefahaman dan tunduk terhadap Hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam . Wallahu alam

  4. Ralat wallahu a’lam bukan wallahu ‘alam

  5. Assalamu’alaikum.

    Firman Alloh Taala :
    Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (QS. 2:185, memang ayat ini berkaitan dengan puasa ramadhan, namun disini Alloh Taala memberikan keringanan/kelonggaran (rukhsah)bagi umat ini. Seluruh syari’at islam yang diturunkan oleh Alloh Taala melalui Rasul-Nya telah terukur sehingga umat islam tidak merasa terbebani dengan syari’at ini. Adapun judul tulisan di atas mengesankan kalau islam ini sulit dan ribet, hal ini tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan pemahaman yang justru kontra produktif. Sebagai contoh mudahnya jalan menuju ke Surga antara lain (Mohon maaf) : seorang pelacur yang menolong seekor anjing yang kehausan, diapun dimasukkan surga oleh Alloh Taala.

    Yang pertama mempengaruhi kita membaca adalah Judul tulisan/buku, yang kedua adalah Siapa Penulisnya, yang ketiga adalah daftar isi, dan yang keempat adalah ringkasan. Banyak tulisan/buku yang mem-blow up judulnya namun justru judul tersebut tidak mempresentasikan isinya, sebagai contoh (mohon maaf) buku yang berjudul ” KUPAS TUNTAS MASALAH TAKDIR” buku ini jelas-jelas tidak mendidik, karena masalah takdir hanya Alloh Taala yang mengetahui, ini ana ungkapkan agar kita tidak mudah terjebak pada sisi bisnis saja. Untuk itu kepada Ukhti Admin yang ana hormati, agar memberi judul yang tidak membuat mainset orang khususnya umat islam bahwa seakan-akan islam ini sulit dan ribet, mungkin judulnya bisa ” BETAPA INDAHNYA JALAN MENUJU SURGA”

    Subhaanka Allohumma Wa Bihamdika Asyhadu Allaa Ilaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa Atubu Ilaika

  6. ummu afifah

    jazaakillah khoyron ya Umm….wa baarokallohu fiyk

  7. Assalaamu ‘alaykum,
    Ikut komentar tentang judul.
    Menurut saya, judulnya sudah tepat. Karena penekanan hadits yang ingin disampaikan oleh penulis memang seperti itu. Coba baca hadits tersebut lebih teliti dan baca juga hadits penjelas yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Kalau mau diganti dengan saran Abu Arum, itu malah tidak tepat. wallahu a’lam
    Wassalaam

  8. Assalamu’alaikum.

    Alhamdulllah, itulah kata yang tepat dan paling tinggi dalam mensyukuri nikmat Alloh Taala. Ana sendiri kagum dengan antum-antum yang ada di blog ini karena kedewasaan antumm sekalian dalam ber-hujjah, semoga hal ini tetap terjaga dan marilah kita bersama-sama menjaga apa yang sekarang sudah baik ini.

    Dan Judul di atas yang dinukil dari sabda Rasululloh shallallahualaihi wa sallam sangatlah pas dalam memaknai tulisan tersebut. Ana ucapkan Jazakumulloh khairan katsira.

    Subhaanka Allohumma Wa Bihamdika Asyhadu Allaa Ilaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa Atubu Ilaika

    • assalamualaikum, saya ingin menanggapi komentar dari abu arum. begini Allah memang memberi kemudahan bagi makhluknya untuk melaksanakan perintah-Nya tapi ketaqwaan tiap makhluk ini yang berbeda, belum lagi ada godaan dari syaitan untuk tetap mengikuti hawa nafsu.
      sayapun jika lelah dengan aktifitas kadang menjadi berat untuk melaksanakan sholat.
      hadits satu dengan yang lain saling berhubungan. dan satu lagi, didalam islam tidak mengenal debat. adanya hanya musyawarah sekian

  9. ijin copas ya ukh…
    artikelnya sgt bermanfaat jazakillah

  10. Alhamdulillah.

    sungguh artikel yg sangat bermanfaat ,terus posting artikel tntang Islam,krna bnyk manfaatnya.

  11. ummu yasmin subrata

    assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh…

    alhamdulillaah…jazakallohu khoyron. blog ini merupakan salah satu sumber ilmu yang dapat ana akses dimana saja dan kapan saja. ana begitu terbantu dengan adanya blog ini.

    ana ingin menambahkan pendapat,
    1. tentang judul,
    ana rasa tidak ada masalah dan judulnya cukup menarik. namun dengan adanya masukan dari pembaca, alangkah bijaksananya jika akhi dan ukhti admin blog muslimah.or.id ini mempertimbangkannya lagi, karena pembaca merupakan sasaran dari artikel ini bukan?

    selain itu judul juga merupakan salah satu media “penarik minat” pembaca, sehingga memang harus dibuat menarik. namun tentu saja dengan judul yang sesuai dengan isinya.

    misalnya dapat ditambahkan “mengkaji hadits tentang surga diliputi oleh perkara-perkara yang dibenci jiwa…dst”

    2. tentang kemudahan
    pendapat ana, Islam memang agama yang mudah, karena begitu banyak perkara-perkara yang dimudahkan oleh Allah untuk hamba-hambaNya.
    misalnya : Allah memaafkan dosa-dosa seorang hamba yang dilakukannya karena ketidaktahuan, Allah memperbolehkan orang yang sedang safar untuk menjama’ dan atau meng-qoshor sholatnya, Allah membolehkan wanita hamil, orang sakit, musafir, untuk membatalkan puasanya karena khawatir memberatkannya, dan masih banyak lagi kemudahan-kemudahan lain yang Allah berikan untuk kita.
    bahkan Rasululloh shollallahu ‘alaihi wasallam pun memberi beberapa kemudahan bagi kita, misalnya dalam hal bersiwak dan shalat Isya.

    namun ketahuilah saudaraku, tidak semua orang dapat merasakan kemudahan itu, benarlah apa yang dikatakan oleh ummu fatimah (semmoga Allah merahmatinya) bahwa orang yang gemar bermudah-mudahan tidak akan bisa merasakan kemudahan-kemudahan tersebut, karena memang mereka selalu menuntut agar segala sesuatu menjadi lebih mudah, lebih simpel, bahkan tanpa ragu2 mereka membuat syariat sendiri. subhaanalloh…

    ingatlah firman Allah subhaanahu wa ta’ala dalam surah al-Baqarah ayat 45 “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,”

    kita tahu bahwa jumlah bilangan raka’at sholat juga merupakan salah satu kemudahan yang Allah berikan kepada Rasululloh dan seluruh umat Islam. Imam Al-Bukhari meriwayatkan, pada saat peristiwa Miraj, Nabi Muhammad SAW berada di Baitul Mamur, Allah SWT mewajibkannya beserta umat Islam yang dipimpinnya untuk mengerjakan shalat limapuluh kali sehari-semalam. Nabi Muhammad menerima begitu saja dan langsung bergegas.

    Namun Nabi Musa AS memperingatkan, umat Muhammad tidak akan kuat dengan limapuluh waktu itu. Aku telah belajar dari pengalaman umat manusia sebelum kamu. Aku pernah mengurusi Bani Israil yang sangat rumit. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mitalah keringanan untuk umatmu.

    Nabi Muhammad kembali menghadap Sang Rabb, meminta keringanan dan ternyata dikabulkan. Tidak lagi lipapuluh waktu, tapi sepuluh waktu saja. Nabi Muhammad pun bergegas. Namun Nabi Musa tetap tidak yakin umat Muhammad mampu melakukan shalat sepuluh waktu itu. Mintalah lagi keringanan. Nabi kembali dan akhirnya memeroleh keringanan, menjadi hanya lima waktu saja.

    Sebenarnya Nabi Musa masih berkeberatan dengan lima waktu itu dan menyuruh Nabi Muhammad untuk kembali meminta keringanan. Namun Nabi Muhammad tidak berani. Aku sudah meminta keringanan kepada Tuhanku, sampai aku malu. Kini aku sudah ridha dan pasrah.

    Nabi Muhammad memang mengakui bahwa pendapat Nabi Musa AS itu benar adanya. Lima kali shalat sehari semalam itu masih memberatkan. Namun lima waktu itu bukankah sudah merupakan bentuk keringanan?!

    lihatlah, untuk perkara yang telah dimudahkan-NYA saja Allah azza wa jalla mengatakan hal itu berat (kecuali bagi orang-orang yang khusyuk), apalagi perkara-perkara yang lain yang tidak diberi kemudahan, tentu akan lebih berat, terlebih lain manusia diciptakan cenderung kepada kejelekan, jelas sudah bahwa “kemudahan dalam Islam (yang memang merupakan agama yang memiliki syariat-syariat yang mudah jika dijalani dengan ikhlas)” di sini hanya akan dirasakan oleh orang-orang yang khusyuk saja.

    sementara orang-orang yang gemar bermudah-mudahan akan mengatakan Islam itu sulit atau ribet.

    Allah Subhanahu wa Taala berfirman :
    Apa yang dikatakan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. (QS. Al-Hasyr : 7)
    maka sudah sewajibnyalah kita menerima dan mengimani hadits di atas, karena sudah jelas keshohihannya.

    kepada penulis, ana ucapkan jazakillahu khoyron. semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang khusyuk dan ikhlas dalam menjalankan syariat Islam yang mulia ini sehingga kelak dapat memasuki surga bersama orang-orang yang kita cintai, amiin yaa robbal ‘aalamiin.

  12. santi warsodoedi

    ijin copas ukh…
    syukron

  13. Rabbanagdirlii waliwawlidayya walil mu’minina yauma yaqumul hisaab,
    ijin copas ukh..

  14. assalamu’alaikum, sekedar menanggapi tulisan anda di atas. bagaimana seandainya seseorang ladang mencari nafkahnya justru sebagai pemusik atau penyanyi? apakah seseorang itu harus pindah jalur ke yang lain, sementara hal yang ia kuasai justru tentang musik? lantas untuk apa ia dikaruniai bakat peka terhadap nada? mohon dijelaskan alasannya, karena dari sekian banyak tanggapan belum ada yang memuaskan penjelasannya.

    • www.muslimah.or.id

      wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
      iya…jawaban ringkasnya pindah ke lain.
      Ini sama halnya anda menanyakan, bagaimana jika seseorang memiliki bakat melakukan sesuatu yang haram (misalnya membuat minuman keras), tentu saja ia harus meninggalkan pekerjaan itu.

      Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah niscaya Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik darinya. (HR. Ahmad)

      Ini juga sebagaimana harta (atau kenikmatan dan kelebihan yang Allah berikan kepada seorang hamba) bisa jadi ujian maupun berkah.
      Ketika kelebihan itu digunakan untuk melakukan hal yang bertentangan dengan hukum Allah, maka kelebihan itu tiadalah berguna untuk seseorang di akhirat walaupun kelihatannya berguna untuknya di dunia.
      Wallahu a’lam

    • waalaikum salam.. tolong lihat lagi Qs. Yasin :69
      dan ada hadits yang menyatakan “lebih baik lambung seseorang dipenuhi nanah daripada dipenuhi oleh musik”
      ada lagi “diakhir zaman nanti manusia akan menghalalkan 3 perkara. minuman keras, berzina, dan musik”

  15. Bagus sekali artikelnya ummi, jujur saya tersentuh sekali membacanya, semoga ummi mendapat balasan surga dari allah swt…

  16. Musik tentu tidak bisa dianalogikan dengan petir, halilintar, air, dll.

    Kebenaran dinilai dari dalil, bukan dari person. Manusia tidak maksum dari kesalahan, adapun dalil pasti benar.

  17. Nurjannah

    Assalaamu’alaikum.subhaanallaah artikelnya sangat bermanfaat.syukron wa jazaakumullooh.ijin mengikuti.

Leave a Reply