fbpx
Donasi Web Donasi Web

Salahkah Membiasakan Diri Berbahasa Arab?

Salahkah Membiasakan Diri Berbahasa Arab?

Ada sebagian orang yang mengatakan: “Islam datang bukan utk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya arab. Bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’… Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya arabnya“.

Kita katakan:

  1. Dalam masalah budaya, tidak mengapa kita menyerap budaya bangsa lain, selama budaya itu bermanfaat bagi kita dan tidak menyelisihi Ajaran Islam dan nilai-nilainya.
  2. Bahkan kita harus mengganti sebagian budaya kita, bila memang menyelisihi Islam dan nilai-nilainya, lihatlah bagaimana dahulu Rosul –shollallohu alaihi wasallam– berjuang keras untuk mengubah budaya-budaya Arab yang menyelisihi prinsip Risalah Islam yang dibawa beliau.
  3. Tentang menyerap bahasa asing, itu juga sudah sangat lazim di lisan masyarakat kita… I love you, oke, leadership, yes, no, well, sorry, problem, amazing, sorry, thank you, please, dst, adalah rentetan kata yang banyak digunakan masyarakat kita tanpa ada pengingkaran yang berarti.Jika itu TIDAK diingkari, mengapa ketika obyek serapannya Bahasa Arab diingkari?! Bukankah yg lebih pantas adalah sebaliknya, karena bahasa arab adalah bahasa yang dipilih Allah untuk kitab suci yang paling agung, dia juga bahasa yang Allah pilih utk Nabi yang paling mulia.
  4. Jika kita memperhatikan Syariat Islam secara menyeluruh, kita akan menemukan Isyarat dari Allah, bahwa Dia menghendaki agar Bahasa Arab bisa menyebar dan membumi bersama Islam.Lihatlah bagaimana Bahasa Al Quran tidak boleh diganti dengan bahasa lain, bahasa sholat tdk boleh diganti dengan bahasa lain, dan bahasa dzikir-dzikir yang sangat banyak tidak boleh diganti dengan bahasa lain.Lihat pula bagaiman Allah menghendaki sumber-sumber utama ilmu-ilmu Islam menggunakan bahasa arab, sehingga untuk mempelajarinya harus paham Bahasa Arab dengan baik.
  5. Sangat wajar bila lisan kita terbawa oleh kebiasaan, orang yang biasa belajar Bahasa Arab, atau hidup di Arab; lisannya akan terbawa dengan kebiasaannya… Begitu pula orang yang biasa belajar Bahasa Barat, atau hidup di sana; lisannya jg akan terbawa dengan kebiasaannya.Dan yang lebih mengherankan lagi, di sekeliling kita banyak sekali budaya barat yang diserap oleh masyarakat, semisal: pakaian ketat, rok mini, pacaran, dansa, dst, tapi seringkali tidak diingkari… Sebaliknya ketika ada yang bercadar, berjenggot, memakai jilbab besar, menjaga pandangan, rajin ke masjid, dst, malah diingkari, digunjing, dan dipersoalkan, wallohul musta’an.

Kesimpulannya, perkataan di atas sangat tidak obyektif, diskriminatif terhadap bahasa arab, dan sangat tidak pantas diucapkan oleh orang yang cinta kepada Islam, Al Qur’an, dan Nabi Agung Muhammad –shollallohu alaihi wasallam-.

Wallohu a’lam.

Penulis: Ust. Musyafa Ad Darini Lc., MA.

Artikel Muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khairan

🔍 Kisah Wanita Penghuni Surga, Ampuni Dosa Hamba Ya Allah, Apa Itu Sum'ah, Hadits Tentang Perpisahan, Kajian Islam Tentang Jodoh, Tata Cara Sholat Jamaah, Pengertian Khitan Menurut Islam, Dalil Solat, Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Bersetubuh, Iblis Dan Malaikat

Donasi masjid al ashri pogung rejo

Donasi Masjid Pogung Dalangan

 

Profil penulis

Musyaffa Ad Dariny, Lc., MA.

Alumni S1 Universitas Islam Madinah Saudi Arabia, Fakultas Syari’ah. S2 di Universitas yang sama, jurusan Ushul Fikih. Mahasiswa S3 di universitas dan jurusan yang sama.

View all posts by Musyaffa Ad Dariny, Lc., MA. »

Leave a Reply