Ingin Membatalkan Puasa, Bisa Batal Puasanya?

Pertanyaan: Apakah berubah niat ketika puasa, bisa menyebabkan puasa kita batal? Meskipun belum sampai makan atau minum? * Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, …

5666 14

Hukum Berniat Berbuka Di Siang Hari Ragu Puasa Berpuasa Tapi Bimbang Berubah Niat Saat Puasa Sunah Jika Membatalkan Puasa Syawal

Pertanyaan:

Apakah berubah niat ketika puasa, bisa menyebabkan puasa kita batal? Meskipun belum sampai makan atau minum?

*

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

  • PERTAMA, terkait masalah keinginan hati, ada 2 hal yang perlu dibedakan,

1. Lintasan batin

Ketika seseorang sedang beribadah, terkadang terlintas berbagai macam keinginan. Misalnya, seseorang puasa. Ketika melewati makanan, terlintas keinginannya untuk mencicipi makanan itu.

Munculnya lintasan semacam ini, bagian dari was-was setan untuk mengganggu manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan, bahwa Allah ta’ala tidak akan memperhitungkan lintasan batin semacam ini. Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا وَسْوَسَتْ، أَوْ حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ بِهِ أَوْ تَكَلَّمْ

Sesungguhnya Allah memaafkan was-was batin yang terjadi pada umatku atau lintasan hatinya, selama tidak diamalkan atau diucapkan.” (HR. Bukhari, no. 6664; Ibnu Majah, no. 2040; dan yang lainnya)

Imam An-Nawawi mengatakan,

الخواطر وحديث النفس إذا لم يستقر ويستمر عليه صاحبه فمعفو عنه باتفاق العلماء؛ لأنه لا اختيار له في وقوعه ولا طريق له إلى الانفكاك عنه

”Lintasan dan bisikan hati selama tidak keterusan bersarang pada pemiliknya, statusnya dimaafkan, dengan sepakat ulama. Karena dia tidak memiliki pilihan untuk menghindarinya, dan tidak ada jalan lain untuk terlepas darinya.”

Kemudian Imam An-Nawawi menyebutkan hadits Abu Hurairah di atas.

2. Tekad kuat

Keinginan yang sudah menjadi tekad kuat, termasuk niat. Ketika manusia telah memiliki tekad kuat untuk melakukan sesuatu, maka dia dianggap telah berniat. Oleh sebab itu, dia berhak mendapatkan pahala niat jika isi tekadnya baik atau mendapat dosa niat, jika keinginannya buruk.

Ketika menjelaskan hadits Abu Hurairah di atas, Imam Ibnu Baz mengatakan,

لكن إذا استقر في القلب، وصار عملاً يؤاخذ به الإنسان، إذا استقر في قلبه، من المنكر، ومن الكبر والخيلاء أو نفاق أو غير هذا من أعمال القلوب الخبيثة يؤخذ به الإنسان، أما إذا كان عوارض تخطر في البال ، ولا تستقر ، فالله لا يحاسبه عليها

”Hanya saja, apabila keinginan itu telah menetap dalam hati, dan menjadi amal hati, maka di sinilah manusia berhak mendapat hukuman (jika niatnya buruk, pen.). Apabila dalam hatinya menetap keinginan untuk berbuat kemunkaran, rasa sombong, kemunafikan, atau amalan hati yang buruk lainnya. Manusia akan dihukum dengan adanya niat semacam ini. Akan tetapi, apabila keinginan itu hanya lintasan dalam pikiran, tidak mengendap, Allah tidak menghisabnya.” (Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/11400)

  • KEDUA, para ulama menegaskan, apabila seseorang telah berniat (baca: tekad) untuk memutus puasanya, maka puasanya dianggap batal, meskipun dia belum makan atau minum atau melakukan pembatal puasa apa pun lainnya.

Ibnu Utsaimin dalam fatwanya menjelaskan,

من المعلوم أن الصوم جامع بين النية والترك، فينوي الإنسان بصومه التقرب إلى الله ـ عز وجل ـ بترك المفطرات، وإذا عزم على أنه قطعه فعلاً فإن الصوم يبطل…

”Seperti yang kita tahu bahwa puasa adalah gabungan antara niat dan meninggalkan (pembatal puasa). Seseorang berniat dengan pusanya dalam rangka ibadah kepada Allah, dengan meninggalkan pembatal puasa. Jika dia benar-benar bertekad memutus puasanya, maka puasanya batal.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 17:137)

Keterangan yang sama juga disampaikan Dr. Abdullah Al-Jibrin. Dalam Syarh Umdatul Ahkam, beliau menjelaskan,

ذكر العلماء أن من عزم على الإفطار ولو لم يأكل بطل صومه ، فلو سافر إنسان وعزم على أنه يفطر، ولكن ما وجد ماء ولا وجد أكلاً، ولما لم يجده أكمل صيامه نقول: بطل صومه بهذا العزم

”Para ulama menyebutkan, bahwa orang yang bertekad untuk membatalkan puasanya, meskipun dia belum makan, puasanya batal. Ketika seseorang melakukan safar, dan berniat untuk tidak puasa, akan tetapi dia tidak menjumpai air atau makanan, dan dia tetap melanjutkan pusanya, maka kita katakan, puasanya batal dengan niat ini.” (Syarh Umdatul Ahkam, 38:27. Diambil dari Fatwa Islam, no. 194641)

  • KETIGA, ulama berbeda pendapat untuk kasus orang yang mengalami taraddud (keinginan yang belum pasti), antara melanjutkan puasa ataukah membatalkannya. Apakah puasanya batal ataukah tidak?

Al-Mardawi – ulama Hambali – wafat tahun 885 H., mengatakan,

وعلى المذهب؛ لو تردد في الفطر ، أو نوى أنه سيفطر ساعة أخرى ، أو قال: إن وجدت طعاماً أكلت وإلا أتممت؛ فكالخلاف في الصلاة .قيل يبطل؛ لأنه لم يجزم النية ، نقل الأثرم لا يجزئه عن الواجب ، حتى يكون عازماً على الصوم يومه كله .قلت: وهذا الصواب. وقيل : لا يبطل ; لأنه لم يجزم نية الفطر ، والنية لا يصح تعليقها

”Berdasarkan madzhab Hambali, apabila seseorang mengalami taraddud (keraguan) antara berbuka (ataukah melanjutkan puasa) atau dia berniat untuk membatalkan puasa pada saat tertentu, atau dia mengatakan, ‘Jika menemukan makanan nanti saya makan, jika tidak, saya lanjut puasa,’ perbedaan semacam ini, seperti perbedaan dalam masalah keraguan niat dalam shalat.

Ada yang mengatakan, puasanya batal, karena niatnya belum pasti. Al-Atsram menukil keterangan bahwa tidak sah untuk puasa wajib, hingga dia kuatkan tekadnya (jaga niat) untuk terus puasa sehari penuh.

Menurutku, inilah pendapat yang benar.

Ada juga yang mengatakan, ‘Puasa tidak batal. Karena dia belum berniat (bertekad) untuk membatalkan puasa. Dan niat tidak sah jika digantungkan.’” (Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih min Al-Khilaf, 3:297)

Kemudian Hanafiyah dan Syafiiyah menegaskan bahwa puasanya tidak batal dengan semata keraguan. (Badai’ Ash-Shana’i, 2:92)

An-Nawawi mengatakan,

ولو تردد الصائم في قطع نية الصوم والخروج منه أو علقه على دخول شخص ونحوه فطريقان أحدهما على الوجهين فيمن جزم بالخروج منه والثاني وهو المذهب وبه قطع الأكثرون لا تبطل وجها واحدا

”Jika ada orang yang mengalami keraguan untuk membatalkan puasanya, atau dia berniat batal jika ada seseorang yang masuk atau dikaitkan dengan syarat lainnya, maka di sana ada dua pendapat. Pertama, ada yang menegaskan puasanya batal, menurut pendapat sebagian ulama mazhab. Kedua, inilah yang menjadi pendapat Syafi’iyah, dan yang ditegaskan oleh mayoritas ulama mazhab, bahwa puasanya tidak batal.” (Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab, 3:285)

Imam Ibnu Utsaimin menguatkan pendapat mayoritas ulama, bahwa puasanya tidak batal. Beliau pernah ditanya masalah serupa, dan jawaban beliau,

وأما إذا لم يعزم ولكن تردد فموضع خلاف بين العلماء: منهم من قال: إن صومه يبطل؛ لأن التردد ينافي العزم. ومنهم من قال: إنه لا يبطل؛ لأن الأصل بقاء النية حتى يعزم على قطعها وإزالتها ، وهذا هو الراجح عندي لقوته ، والله أعلم

”Apabila dia tidak bertekad, dan masih ragu, kasus ini masih diperselisihkan ulama. Sebagian mengatakan, puasanya batal. Karena munculnya keraguan, menghilangkan tekad. Sebagian berpendapat, puasanya tidak batal. Karena pada asalnya, niat tetap ada, hingga dia memastikan untuk membatalkan niatnya. Inilah pendapat yang lebih kuat menurutku. Allahu a’lam.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 17:137)

Demikian, semoga bermanfaat.

Allahu a’lam.

Penyusun: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel www.muslimah.or.id

Sudah Niat Membatalkan Puasa Sunah Kemudian Niat Lagi Mau Puasa Batal Puasa Syawal Secara Sengaja Apakah Ada Lintasan Mau Sholat Sudah Tetmasuk Niat Niat Puasa Dan Tidak Jadi Puasa Hukum Berniat Buka Puasa

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

  • mama dewi

    ?????????? ??????????… Pak Ustadz, apa hukumnya niat puasa sunah yg dituliskan di status sosial media? Terima kasih, Wassalam

    • Amal ibadah sunah selayaknya dirahasiakan, agar lbh sempurna ikhlasnya. Jk niat saja sdh dipajang, bgmn dg amalnya?
      Semacam ini tidak selayaknya dilakukan.

  • Assalamu’alaykum
    Mohon izin untuk share di Web kami

  • Azzam2912

    Assalamualaikum . Ustadz mau tanya ,apa hukumnya ustadz orang yang ragu puasanya sudah batal atau tidak ?

    • @Azzam2912
      Wa’alaikumussalam, kaidah mengatakan “al yaqin laa yazuulu bisyakk”, sesuatu yang yakin tidak bisa digugurkan dengan keraguan. Jadi selama anda masih ragu maka puasa anda masih sah.

  • fickar

    Apakah hal ini berlaku juga dalam wudhu dan sholat? Begini, terkadang saya ketika akan wudhu atau akan takbir muncul lintasan memutus niat? Apakah hal tersebut benar batal atau tidak?

    • @fickar, jika baru lintasan di benak belum menjadi niat yang bulat, maka tidak batal

  • faiza

    Assalamualaikum
    Sy mau tanya, kalau puasa sunah yg tidak sempat sahur dan ragu dalam hatinya, kemudian berkata didalam hati utk membatalkannya setelah itu kembali utk melanjutkan puasany, apakah puasanya sah atau tidak?

    Terima kasih

    • @faiza, jika hanya sekedar bisikan hati maka tidak batal, namun jika sudah bulat niatnya maka batal.

  • Hilmy

    Assalamualaikum,
    Saya ingin bertanya. Apakah minum setelah adzan shubuh boleh jika orang itu tidak yakin sudah terbit fajar shodiq atau belum?

    • @Hilmy, jika ketidak-yakinannya didasari alasan yang benar, maka boleh minum hingga diyakini fajar shadiq telah terbit.

  • fajar

    Assalammualaikum.
    saya ingin bertanya jika saya melaksanakan puasa terkadang di hati terlintas untuk pembatalan puasa.tetapi setelah terlintas untuk pembatalan puasa saya istigfar.klo begitu kejadiannya hukumnya bagaimna? dan tolong di beri penjabarannya.terima kasih

  • Ahmad Sutanto

    Pak ustadz.saya puasa sunah syawal.pada hari ke-5 mao ada acra kantor makan2.saya sudah bilang saya lagi puasa.kemudian tmn2 menunda acranya.tetapi mencari hari yg tepat susah bisa kumpul semua.krn pd hari ke-5 puasa saya itu yg tepat bisa lengkap kumpul.kemudian sy bilang ke ke temen2,gpp kalo hari ini saya batalkan puasa saya.tapi ada salah satu teman yg ga mau,krn saya lg puasa.saya bilang gpp..kalo bisanya hari ini bs kumpul smua kan jadi guyup.ttp salah satu tmn saya ga mau krn sy lagi puasa.dan akhrnya ga jadi,cari hari lg.dan saya teruskan puasa saya.bagaimana hukumnya puasa saya itu ustadz?????