Kita Kembali Diingatkan dengan Gempa

Para ahli kegempaan berpendapat bahwa gempa itu terjadi akibat pergeseran lempeng bumi semata. Peristiwa itu hanyalah kejadian alam yang biasa. Banyaknya korban yang berjatuhan diakibatkan konstruksi bangunan tidak tahan gempa dan pemerintah kurang mempersiapkan masyarakatnya untuk menghadapi gempa besar seperti itu. Oleh karena itu, kata mereka, solusi utama masalah tersebut adalah perbaikan konstruksi bangunan dan langkah antisipasi pemerintah untuk mempersiapkan masyarakatnya menghadapi gempa. Benarkah gempa semata-mata hanya merupakan peristiwa alam biasa?

1918 3

Assunnah Doa Ketika Ada Gempa Bumi Kata" Saat Gempa

Penulis: Ummu Nabiilah Siwi Nur Danayanti
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar

Belum lekang dari ingatan kita peristiwa gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya beberapa tahun lalu, kemudian kita kembali terhenyak dengan kabar terjadinya dua gempa dengan skala yang lebih besar di Tasikmalaya dan Padang dalam selang waktu yang tidak telalu lama. Dalam waktu sekejap, banyak anak yang menjadi yatim dan istri yang menjadi janda karena kehilangan orang yang mereka cintai. Air mata dan darah seolah membasahi bumi Indonesia ini. Dan tentu saja gempa yang terjadi di berbagai negara dalam waktu yang berdekatan dalam skala yang cukup besar.


Para ahli kegempaan berpendapat bahwa gempa itu terjadi akibat pergeseran lempeng bumi semata. Peristiwa itu hanyalah kejadian alam yang biasa. Banyaknya korban yang berjatuhan diakibatkan konstruksi bangunan tidak tahan gempa dan pemerintah kurang mempersiapkan masyarakatnya untuk menghadapi gempa besar seperti itu. Oleh karena itu, kata mereka, solusi utama masalah tersebut adalah perbaikan konstruksi bangunan dan langkah antisipasi pemerintah untuk mempersiapkan masyarakatnya menghadapi gempa. Benarkah gempa semata-mata hanya merupakan peristiwa alam biasa?

Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman,

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (Qs. Asy Syuura : 30)

Dan dalam firman-Nya yang lain Allah menegaskan bahwa apapun yang terjadi di alam semesta ini adalah sesuatu yang telah ditakdirkan oleh-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. Al Hadid : 22)

Allah Ta’ala juga berfirman,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah.” (Qs. At Taghobun: 11)

Dari ketiga ayat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya musibah yang terjadi di muka bumi ini adalah disebabkan oleh manusia, namun hal tersebut telah ditetapkan terjadinya oleh Allah dalam Lauhul Mahfudz. Oleh karena itu, tidaklah gempa atau bencana alam yang lain dapat terjadi dengan sendirinya sebagaimana perkiraan para ahli yang tidak beriman pada Allah dan takdir-Nya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Hamba yang beriman kepada Allah dan kitab-Nya tentu akan merenungi secara mendalam ayat pertama di atas. Bencana yang datang hampir beruntun di negara kita tentunya juga merupakan “hasil perbuatan tangan kita”. Betapa banyak kemaksiatan yang muncul akhir-akhir ini. Baik itu kemaksiatan yang memang sudah dikenal orang awam sebagai suatu keburukan, seperti pembunuhan, perzinaan, atau korupsi yang semakin parah dan merajalela ataupun kemaksiatan yang hanya diketahui oleh orang-orang yang berilmu saja akibat kesamaran yang menutupinya.

Praktek kesyirikan, kebid’ahan, serta kemungkaran lain yang sudah menjadi tradisi masyarakat modern tumbuh subur di negeri ini bahkan hampir-hampir dikatakan sebagai bagian dari ajaran Islam. Sebaliknya, suatu sunnah atau orang yang mengamalkan sunnah dikatakan sebagai pembawa ajaran baru dan asing dalam ajaran Islam.

Sungguh benar apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keadaan umat Islam di akhir zaman,

إِنَّ الإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْباً وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (Hadits riwayat Muslim 2/175-176 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Sedangkan makna al-ghuraba’ dijelaskan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“أُنَاسٌ صَالِحُوْنَ فِيْ أُنَاسِ سُوْءٍ كَثِيْرٍ مَنْ يَعْصِيْهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيْعَهُمْ”

“Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang menaatinya.” (HR. Ahmad (II/177, 222), dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam tahqiq Musnad Imam Ahmad (VI/207 no. 6650)).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda mengenai makna al-Ghuraba’,

“الَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ”

“Yaitu orang-orang yang senantiasa memperbaiki (ummat) di tengah-tengah rusaknya manusia.” (HR. Abu Ja’far ath-Thahawy dalam Syarh Musykilul Atsaar (II/170 no. 689), al-Laalika-iy dalam Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah no.173 dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu’anhu. Hadits ini shahih li ghairihi karena ada beberapa syawahidnya. Lihat Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah no. 1273)

Apakah gempa dan bencana alam yang lain itu merupakan siksaan Allah karena kita sudah melupakan Allah Ta’ala dengan segala perintah dan larangan-Nya padahal di sisi lain, banyak nikmat yang telah Allah karuniakan pada kita?

Allah Ta’ala berfirman,
p class=”arab”>
وَلَقَدْ أَرْسَلنَا إِلَى أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ * فَلَوْلا إِذْ جَاءهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُواْ وَلَـكِن قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُواْ يَعْمَلُون*
فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُواْ بِمَا أُوتُواْ أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ*

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Qs. Al An ‘aam: 42-44)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al A ‘raf : 96)

Gempa dan bencana alam yang lain juga termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah untuk menakut-nakuti para hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالآيَاتِ إِلاَّ تَخْوِيفاً

“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (Qs. Al Israa’: 59)

Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjatkan doa ketika turun ayat dalam surat Al An’am ayat 65. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia (Jabir) berkata, “Saat firman Allah ‘Azza wa Jalla قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِّن فَوْقِكُمْ ((Katakanlah (Wahai Muhammad), Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu)) turun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, ‘Aku berlindung dengan wajah-Mu’. Lalu beliau melanjutkan (membaca) أَوْ مِن تََََحْتِ أَرْجُلِكُمْ , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa lagi, ‘Aku berlindung dengan wajah-Mu’. ” (HR. Bukhari)

Diriwayatkan dari Abu Syaikh Al Ashbahani dari Mujahid tentang tafsir ayat قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِّن فَوْقِكُمْ. Beliau mengatakan yaitu halilintar, hujan batu, dan angin topan dan أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ yaitu gempa dan tanah longsor.

Betapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu khawatir terhadap azab tersebut sampai-sampai beliau memohon perlindungan pada Allah! Tentulah kita sebagai pengikutnya seharusnya melakukan hal yang semisal itu.

Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran dari berbagai bencana alam yang menimpa negeri ini dan di belahan dunia yang lain? Adakah orang yang mau kembali kepada Allah? Ataukah kita akan termasuk dalam golongan orang munafik yang tidak memperhatikan dan tidak mau bertaubat ketika diuji Allah berkali-kali?

أَوَلاَ يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لاَ يَتُوبُونَ وَلاَ هُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran.” (Qs. At Tauba : 126)

Hendaknya kita kembali menelaah perjalanan hidup kita. Apakah kita sudah benar dalam memahami agama ini? Apakah kita telah memahami Islam dengan pemahaman yang diridhoi Allah yaitu pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya ridhwanullah ‘alaihim? Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua. Wallahu Ta’ala A ‘ lam.

Referensi:
Bayan Az Zilzal, Syaikh Muqbil bin Hadi al Wad’i, e-book dalam Maktabah As Sahab As Salafiyah.
Lubabut Tafsiir Min Ibni Katsir (Terj. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4), DR. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor, 2007.
Nasihat Seputar Gempa dan Bencana Alam, Syaikh ‘Abdul ‘Azis bin Baz, artikel Tazkiyatun Nufus dalam Majalah As Sunnah edisi 04/Tahun X/1427 H/2006 M.
Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka At-Taqwa, Bogor, 2004.

***

Artikel muslimah.or.id

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

  • semoga semua kejadian musibah yg menimpa negeri kita tercinta dan negeri-2 lain pada umumnya dapat menyadarkan kita akan kelalaian dan dosa-2 yg telah kita perbuat, untuk segera kembali dan bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala

  • ummu mufidah

    izin share..jazakillah khoir

  • mulyana djajusman

    secepatnya tobat nasuha kita sudah di warning dg Alam semesta !!!