Donasi Web Donasi Web

Nasehat bagi Para Peminta Jabatan

Nasehat bagi Para Peminta Jabatan

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad serta keluarganya dan orang-orang yang mengikuti sunnah-nya hingga yaumul akhir.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : [ إنكم ستحرصون على الإمارة وستكون ندامة يوم القيامة ] رواه البخاري

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan berambisi merebut jabatan, dan nanti pada hari kiamat jabatan-jabatan itu akan menjadi penyesalan.” (HR. Bukhari)

Maha benar Allah dan Rasul-Nya, fenomena ini nampak jelas di hadapan kita. Masih terekam jelas di dalam ingatan kita saat Pemilu dilaksanakan beberapa saat yang lalu. Sejak pemilu dilaksanakan secara langsung nampaklah orang-orang yang berambisi terhadap dunia memperebutkan suatu kedudukan yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Mereka tidak sadar akan hal tersebut, bahwa jabatan adalah sebuah amanat yang sangat berat. Tidak hanya di dalam Pemilu, saat ini banyak sekali jabatan yang diperebutkan melalui sistem pemilihan. Mulai dari bupati, walikota, rektor universitas, kepala desa atau bahkan sekedar ketua BEM sebuah fakultas.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang memintanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,

عن أبي سعيد عبد الرحمن بن سمرة رضي الله عنه قال قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم : [ يا عبد الرحمن ابن سمرة لا تسأل الإمارة فإنك إن أعطيتها عن غير مسألة أعنت عليها وإن أعطيتها عن مسألة وكلت إليها ] متفق عليه

Dari Abu Sa’id ‘Abdurrahman bin Samurah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada saya, “Hai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan karena apabila kamu diberi jabatan tanpa meminta, maka kamu akan ditolong dalam melaksanakannya dan apabila kamu diberi karena meminta maka pelaksanaan jabatan itu sepenuhnya diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)

Dari hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa Allah Ta’ala tidak akan menolong orang-orang yang mendapatkan jabatan karena meminta, jadi bagaimana mungkin mereka dapat menjalankan amanat tersebut, kalau Allah telah berlepas diri darinya, maka takutlah wahai para peminta jabatan!

Juga telah diriwayatkan dari Abu Dzar,

قلت : يا رسول الله ألا تستعملني ؟ فضرب بيده على منكبي ثم قال : [ يا أبا ذر إنك ضعيف وإنها أمانة وإنها يوم القيامة خزي وندامة إلا من أخذها بحقها أدى الذي عليه فيها ] رواه مسلم

Saya berkata, “Wahai Rasulullah kenapa engkau tidak memberi jabatan kepada saya?” Beliau langsung menepukkan tangannya di atas pundakku, kemudian bersabda, “Ya Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini lemah dan jabatan itu amanah, pada hari kiamat ia akan menjadi penghinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan hak jabatan yang menjadi kewajibannya.” (HR. Muslim)

Hal lain yang membuat mata ini sesak ketika keluar rumah adalah terpampangnya gambar para peminta jabatan dimana-mana, di masa-masa kampanye. Di setiap penjuru jalan yang selalu terlihat dimata adalah foto para peminta jabatan dengan aksi yang bermacam-macam, padahal kalau kita ingat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar makhluk, maka bagaimana kita mengharapkan kebaikan untuk negara kita kalau kita masih sangat jauh dari jalan Islam yang sesungguhnya.

Kemudian yang lebih menyedihkan adalah para wanita ikut ramai di dalamnya, mereka tidak mau kalah ingin memperebutkan jabatan itu. Padahal para wanita mempunyai tugas tersendiri yang sesuai dengan fitrah dan kemampuannya, yaitu melakukan perbaikan terhadap bangsa ini dari balik tembok (di dalam rumah mereka), yaitu dengan mendidik anak-anaknya, mempersiapkan mereka sebaik mungkin untuk menjadi generasi penerus bangsa. Karena seorang ibu adalah madrasah (sekolah) yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Itulah tugas mulia yang diemban para wanita, semoga kita diberi taufik untuk bisa melakukannya.

***

Penulis: Ummu Muhammad Anik Rahmawati
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar

Artikel muslimah.or.id

Sahabat muslimah, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Banner MPD

About Author

14 Comments

  1. sangat representatif dengan kondisi saat ini,semoga pemimpin di negeri ini benar benar amanah amiiiiiiiiiiiiiin

  2. subhanallah.. smoga semua diberi petunjuk oleh Nya

  3. assalamualaikum
    izin copas..
    syukran

  4. Emang bener bahawa jabatan itu mestinya merupakan amanah (pesan, kepercayaan) yang diberikan oleh orang lain. Tapi penomena menyatakan bahwa, jabatan bisa dibeli asalkan uang setor besar masuk kantong bos. Jika itu yang terjadi sungguh-sunguh pemegang jabatan akan dimintakan pertanggungjawaban di dunia dan akhirat. Di dunia sih bisa bohong, tapi di akherat nanti tiada pengadilan Tuhan yang bis dibeli dan disogok seperti maraknya kini jual-beli jabatan. Sehingga ketika ia menjabat, bukan benih kebaikan yang disemai tapi ambisi yang maha serakah yang timbul, karena merasa uang amanah itu adalah uang miliknya sendiri. Semuanya digerogoti, semua diraup, dan tidak bisa disindir dengan kata atau kalimat yang mengandung peringatan dari Tuhan. Benar-benar peminmpin yang bejat. Lebih bejat dari seorang pelacur !
    Semoga Alloh membukan jalan untuk bertobat sebelum ajal menjemput.
    Wassalam……

  5. “……..Dan serahkanlah segala urusan itu pada ahlinya……..”
    -entah hadis atau QS-

    Tapi yg terjadi saat ini, Artis2 yang notabene tidak punya riwayat perpolitikan pun ikut terjun memperebutkan jabatan – dan sialnya terpilih lagi (entah karena tak ada pilihan atau pemilihnya yang kurang bijak-kalau tidak mau disebut bodoh).

    Sungguh suatu kekeliruan zaman!

  6. ratna ekawati

    mau tanya yah…kalau misalnya kita merasa kompeten dalam suatu pekerjaan, lalu menanyakan pada seseorang yang punya ‘link’ ttg kesempatan kita untuk mengisi jabatan tersebut (tanpa pake uang, tp dg koneksi) dan kebetulan tidak ada tes khusus untuk jabatan tersebut, termasuk meminta jabatan bukan ya?
    Jazakumullah khair untuk jawabannya

  7. Semoga Allah swt melindung kita darh ambisi dunia yg berlebihan.Amiien

  8. MENARIK UNTUK DIBACA DAN DIHAYATI UNTUK PERENUNGAN DIRI.
    BAGAIMANA CARA MENULIS BAHASA ARAB DALAM TULISAN INI ?

  9. Assalamu’alaikum. Syukrn, artkelnya sgt bmnfaat. Izn copas y! Jazakumullah khairn.

    • @ ukhti yessy

      wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh
      alhamdulillah jika bermanfaar, ukhti. silakan di copas. wa jazakillahu khayran.

  10. ya segala sesuatunya akan di mintai pertanggung jawaban. semoga Allah membimbing hati kita utk senantiasa terarah dalam bercita2, apalagi mengemban tnggung jwab sbg seorang pemimpin kelak.

  11. terus kenapa sekarang banyak yang mencalonkan menjadi pemimpin !!!

  12. Terima kasih telah berbagi, walaupun singkat tapi cukup lengkap dan tepat sasaran dalam konteks kekinian.
    Kita telah berhasil dijejali dengan apa yang dikatakan demokrasi, atas nama demokrasi semua jadi dibebaskan, mau-maunya para pemimpin kita dicekokin demokrasi, apalagi dengan buanyak partai, kita didikte tapi ga merasa, anak bangsa ribut melulu soal jabatan, kapan negara ini mau maju, padahal potensi begitu besar, tapi sampai detik inipun semua dibeli dari luar negeri, sungguh memprihatinkan. Di era seperti ini jelas orang yang baik dan lurus tidak akan dapat bertahan ditengah kebobrokan. Coba tanyakan kepada para anggota DPR, Presiden, menteri, gubernur bupati, walikota, apa yang diinginkan pasti mengemban amanah untuk rakyat, tapi kenyataanya bisa kita lihat sendiri, betapa dari kalangan mereka tekena kasus korupsi. Rasanya tidak banyak yang bisa diharapkan dalam kondisi seperti ini. Petunjuk Islam telah sangatlengkap kembali kepada pilihan dan keyakinan kita ikut main atau jadi penonton yang baik, terlalu besar taruhannya terhadap peminta jabatan, sungguh menakutkan pertangungjawaban yang harus kita hadapi khususnya di akherat nanti. Wassalam

Leave a Reply