Kiat menjadi wanita yang berkah
Bermanfaat terutama bagi keluarga (suami dan anak)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji wanita Quraisy karena dua sifat utama yang menjadi sumber keberkahan mereka,
خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ، أَحْنَاهُ عَلَى طِفْلٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي يَدِهِ
“Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita-wanita Quraisy yang salehah: paling penuh kasih sayang kepada anak di masa kecilnya, dan paling pandai mengurus serta menjaga harta suaminya.” (HR. Bukhari no. 5082 dan Muslim no. 2527)
Kisah latar belakang hadis (Ummu Hani`)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melamar sepupunya, Ummu Hani’ binti Abi Thalib radhiyallahu ‘anha. Namun, Ummu Hani’ menyampaikan uzurnya secara jujur, “Wahai Rasulullah, sungguh aku telah tua dan memiliki anak-anak yang masih kecil yang membutuhkan pengurusanku. Aku khawatir tidak bisa menunaikan hak suami sekaligus mengurus anak-anakku.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan alasannya dan memujinya dengan hadis di atas. Ummu Hani’ rela mengorbankan kesempatan menjadi Ummul Mu’minin demi mencurahkan perhatian kepada pengasuhan anak-anaknya.
Berperan aktif dan sabar dalam mendidik anak
Mengasuh dan mendidik anak memerlukan kesabaran ekstra. Ibu yang berkah tidak akan menelantarkan anaknya demi kesibukan media sosial atau pergaulan sosialita semata.
Teladan kasih sayang seorang ibu tampak dalam kisah yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
دَخَلَتْ عَلَيَّ امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا تَسْأَلُ، فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ، فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا، فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا، ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ
“Seorang wanita miskin datang kepadaku memboyong dua putrinya untuk meminta makanan. Aku tidak memiliki apa pun selain sebutir kurma, lalu aku berikan kepadanya. Wanita itu membelah kurma tersebut menjadi dua bagian untuk kedua putrinya, sementara ia sendiri tidak memakannya sedikit pun. Kemudian ia berdiri lalu keluar…” (HR. Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 2629)
Ketika ‘Aisyah menceritakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda bahwa tindakan ibu tersebut dalam menyayangi dan mendidik anak-anaknya menjadi benteng baginya dari api neraka.
Amanah dan bijak mengelola harta suami
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mensifati wanita salehah,
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
“Maka wanita yang salehah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An-Nisa’: 34)
Memelihara diri ketika suami tidak ada mencakup menjaga kehormatan diri dan mengelola harta suami secara amanah, hemat, serta tidak konsumtif (hedon).
Keberkahan seorang wanita juga diukur dari kemudahan mahar dan biaya hidup yang tidak memberatkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَئُونَةً
“Wanita yang paling besar keberkahannya adalah yang paling ringan biaya (penghidupan dan maharnya).” (HR. Ahmad no. 24595 dan Ibnu Hibban no. 4034)
Berkhidmat dan bersabar dalam mengurus rumah tangga
Para shahabiyat terbiasa bekerja keras mengurus rumah tangga mereka:
Asma’ binti Abi Bakar radhiyallahu ‘anhuma: Berjalan kaki sejauh beberapa kilometer untuk memikul biji kurma dan merawat kuda milik suaminya, az-Zubair bin al-‘Awwam.
Fatimah binti Rasulillah radhiyallahu ‘anha: Menggiling gandum sendiri hingga tangannya kapalan, memikul tempat air hingga lehernya berbekas, dan menyapu rumah hingga pakaiannya penuh debu.
Ketika Fatimah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta seorang pembantu dari tawanan perang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat dengan bersabda kepada Fatimah radhiyallahu ‘anha,
أَلاَ أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَا إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا أَنْ تُكَبِّرَا اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ وَتُسَبِّحَاهُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَتَحْمَدَاهُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ
“Akan aku ajari kalian sesuatu yang lebih baik dari pada yang kalian minta. Jika kalian hendak tidur, bacalah takbir [Allahu akbar] 34 kali, tasbih [Subhanallah] 33 kali, dan tahmid [Alhamdulillah] 33 kali. Itu lebih baik bagi kalian dari pada seorang pembantu.” (HR. Muslim no. 2727)
Beliau mengajarkan zikir sebelum tidur yang memberikan kekuatan fisik dan jiwa lebih baik daripada memiliki seorang pelayan.
Pelayanan seorang istri kepada suami memiliki nilai ibadah yang agung. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang wanita,
أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوهُ إِلَّا مَا عَجَزْتُ عَنْهُ، قَالَ: فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Apakah engkau memiliki suami?” Wanita itu menjawab, “Ya.” Beliau bertanya, “Bagaimana sikapmu terhadapnya?” Wanita itu menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali terhadap apa yang aku tidak mampu melakukannya.” Beliau bersabda, “Perhatikanlah di mana kedudukanmu di hatinya, karena sesungguhnya suamimu adalah surgamu atau nerakamu.” (HR. An-Nasa’i dalam Sunan al-Kubra no. 8967)
Juga riwayat tentang keridaan suami,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ
“Wanita mana saja yang meninggal dunia dalam keadaan suaminya rida kepadanya, niscaya ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 1161 dan Ibnu Majah no. 1854)
Perintah bagi wanita untuk menjaga kehormatan dengan menetap di rumah,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” (QS. Al-Ahzab: 33)
Menjaga ibadah pokok dan kehormatan diri
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا؛ قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita menjaga salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kemaluan (kehormatan), dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.'” (HR. Ahmad no. 1661 dan Ibnu Hibban no. 4163)
Menuntut ilmu syar’i untuk membekali diri dan keluarga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224)
Maka termasuk dalam hadis ini adalah muslimah, apalagi ia bertanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya. Demikian juga dalam firman Allah Ta’ala,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Kesimpulan
Keberkahan seorang wanita tidak diukur dari barang mewah yang dikenakan, banyaknya pengikut di media sosial, atau pujian dari komunitasnya. Wanita yang berkah adalah wanita yang mulia di sisi Allah: ia senantiasa bermanfaat bagi suami dan anak-anaknya, mengelola rumah tangga dengan amanah, sabar mendidik generasi penerus, semangat dalam menuntut ilmu syar’i, serta menjaga ibadah dan kehormatan dirinya demi meraih keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
[Selesai]
***
Penulis: Nurur Rohmah Azzahra
Artikel Muslimah.or.id
Catatan kaki:
Disarikan dari faedah kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., MA, hafidzahullah dengan beberapa tambahan penjelasan dari penulis.



