Pendahuluan: Barometer keterbaikan diri
Banyak wanita di zaman sekarang berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, namun standar terbaik yang mereka kejar acap kali berpatokan pada pandangan manusia, seperti penilaian netizen, komunitas, grup perpesanan, hingga lingkungan alumni. Mereka berlomba-lomba melakukan penataan citra (personal branding) dengan mengenakan atribut dan barang-barang mewah demi mendapatkan pengakuan sosial.
Secara tabiat, manusia kerap memandang dan menghormati orang lain hanya dari sudut pandang duniawi: menghormati orang kaya, pejabat, atau orang berbaju mewah dan berkereta mahal, sementara cenderung meremehkan orang yang berpenampilan sederhana. Padahal, standar keterbaikan yang hakiki bukanlah penilaian manusia yang dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu, melainkan keterbaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hakikat hari kiamat: Penyingkap kemuliaan yang hakiki
Pada hari kiamat kelak, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membongkar seluruh rahasia dan menyingkap hakikat kedudukan manusia yang sebenarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala meyakinkan hal ini dalam Al-Qur’an,
يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ
“Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (QS. At-Thariq: 9)
Juga dalam firman-Nya,
إِذَا وَقَعَتِ ٱلْوَاقِعَةُ )١( لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ )٢( خَافِضَةٌۭ رَّافِعَةٌ)٣)
“Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorang pun dapat mendustakan kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).” (QS. Al-Waqi’ah: 1–3)
Para ahli tafsir menjelaskan makna khafidhatur rafi’ah (merendahkan dan meninggikan) yaitu bahwasanya pada hari kiamat, hakikat setiap orang akan terungkap. Ada orang-orang yang di dunia tampak tinggi, terpandang, dan hebat, tetapi di akhirat direndahkan oleh Allah. Sebaliknya, ada orang-orang yang di dunia dianggap biasa, berpakaian lusuh, dan diabaikan manusia, tetapi di akhirat memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah.
Teladan kemuliaan wanita dari generasi sahabat
Wanita berkulit hitam yang sabar menjaga aurat
Diriwayatkan dari ‘Atha bin Abi Rabah, ia berkata bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata kepadanya,
قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ: أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي. قَالَ: «إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ». فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ. فَدَعَا لَهَا
“Ibnu Abbas berkata kepadaku, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga?’ Aku menjawab, ‘Tentu.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Wanita hitam inilah yang pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Sesungguhnya aku dihinggapi penyakit sara’ (epilepsi/gangguan jin) hingga auratku terbuka (saat kambuh). Berdoalah kepada Allah untukku.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika engkau mau bersabar, bagimu surga. Namun jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.’ Wanita itu berkata, ‘Aku memilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan, ‘Namun auratku tersingkap saat kambuh, berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka Nabi pun berdoa untuknya.” (HR. Bukhari no. 5652 dan Muslim no. 2576)
Wanita ini memilih menanggung penyakit yang menahun demi mendapatkan surga, dan kekhawatiran utamanya adalah tersingkapnya aurat. Walaupun penampilannya secara duniawi tidak dipandang oleh manusia, ia sangat tinggi kedudukannya di sisi Allah karena kesabaran dan kehormatan dirinya.
Wanita pembersih masjid
Dalam hadis lain diceritakan tentang seorang wanita berkulit hitam yang mendedikasikan dirinya untuk membersihkan Masjid Nabawi,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ، فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَ عَنْهَا، فَقَالُوا: مَاتَتْ. قَالَ: «أَفَلَا آذَنْتُمُونِي؟» فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا، فَقَالَ: «دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا»، فَدَلُّوهُ، فَصَلَّى عَلَيْهَا
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ada seorang wanita berkulit hitam yang biasa membersihkan masjid. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan dirinya, lalu beliau bertanya tentang keberadaannya. Para sahabat menjawab, ‘Ia telah meninggal dunia.’ Beliau bersabda, “Mengapa kalian tidak memberitahuku?” Seakan-akan para sahabat memandang remeh urusan wanita tersebut. Beliau lalu bersabda, “Tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!” Mereka pun menunjukkannya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyalatkan jenazahnya di atas kuburnya. (HR. Bukhari no. 458 dan Muslim no. 956)
Kedudukan wanita ini begitu istimewa di mata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena khidmatnya kepada rumah Allah, meskipun di mata sebagian manusia, tugasnya terlihat sederhana.
Makna berkah (al-barakah)
Secara etimologi (bahasa Arab), kata barakah diambil dari dua kata:
Pertama: Al-birkah (البركة): Penampungan air atau danau kecil tempat air berkumpul dalam jumlah banyak dan menetap.
Kedua: Al-buruk (البروك): Posisi unta yang menderum dan menetap di suatu tempat.
Para ulama menyimpulkan bahwa sesuatu dikatakan berkah apabila padanya terdapat banyak kebaikan dan kebaikan tersebut menetap (terus berlanjut) (katsratul khair wa tsubutuh).
Contoh keberkahan dalam nash
Air zamzam
إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ، إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ وَشِفَاءُ سُقْمٍ
“Sesungguhnya air zamzam itu diberkahi; ia adalah makanan yang mengenyangkan dan penawar bagi penyakit.” (HR. Muslim no. 2473)
Nabi Isa ‘alaihissalam
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ
“Dan Dia menjadikan aku seseorang yang diberkahi di mana saja aku berada.” (QS. Maryam: 31)
Di dalam Tafsir Mujahid dan Ibnu Katsir disebutkan bahwasanya makna “diberkahi” pada ayat ini adalah mu’alliman lil-khairi wa qadhiyan li ḥawa‘ijin-nas (yang mengajarkan kebaikan dan orang yang selalu membantu memenuhi kebutuhan manusia).
Pohon kurma
إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ الْمُسْلِمِ
“Sesungguhnya di antara jenis pohon ada yang keberkahannya seperti keberkahan seorang muslim (yaitu pohon kurma).” (HR. Bukhari no. 61 dan Muslim no. 2811)
Pohon kurma diberkahi karena seluruh bagiannya—daun, pelepah, batang, buah, hingga bijinya—bermanfaat bagi kehidupan manusia dan ternak.
Maka, seorang muslimah yang berkah adalah wanita yang kehadirannya selalu mendatangkan kebaikan dan kemanfaatan bagi lingkungan sekitarnya, serta terus produktif dalam melakukan hal-hal yang berguna untuk dunia dan akhiratnya. Lalu bagaimana menjadi wanita yang berkah? Simak di seri berikutnya
[Bersambung]
***
Penulis: Nurur Rohmah Azzahra
Artikel Muslimah.or.id
Catatan kaki:
Disarikan dari faedah kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., MA. hafidzahullah dengan beberapa tambahan penjelasan dari penulis.




