Menjaga lisan adalah pokok segala urusan
Menjaga lisan adalah pokok dari segala urusan, bahkan ia merupakan pondasi dari seluruh kebaikan. Sebagaimana yang ditunjukkan di dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam wasiatnya kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ألا أخبرك بملاك ذلك كله؟
“Maukah aku tunjukkan pokok dari segala urusan?”
Aku mengatakan, “Tentu, wahai Nabi Allah.” Kemudian beliau mengambil lisannya, dan berkata,
كف عليك هذا
“Engkau wajib menahan ini!”
Kemudian aku mengatakan, ”Wahai Nabi Allah, dan kami akan dihukum karena apa yang kami katakan dengan lisan itu?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
ثكلتك أمك يا معاذ وهل يكب الناس في النار على وجوههم إلا حصائد ألسنتهم
“Celaka engkau, wahai Mu‘adz! Bukankah yang menelungkupkan manusia ke dalam neraka di atas wajah-wajah mereka, tidak lain hanyalah hasil dari ucapan-ucapan lisan mereka?” (HR. At-Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 2973, disahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)
Yunus bin ‘Ubaid rahimahullah menyampaikan yang semakna dengan ini,
ما رأيت أحدا لسانه منه على بال إلا رأيت ذلك صلاحا في سائر عمله
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lisannya ia jaga dengan penuh perhatian, melainkan aku melihat hal itu menjadi kebaikan pada seluruh amal perbuatannya.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 149)
Yahya bin Abu Katsir mengatakan,
ما صلح منطق رجل إلا عرفت ذلك في سائر عمله, ولا فسد منطق رجل قط إلا عرفت ذلك في سائر عمله
“Tidaklah ucapan seseorang itu baik, melainkan aku mengetahui kebaikan itu pada seluruh amal perbuatannya. Dan tidaklah ucapan seseorang itu rusak, melainkan aku mengetahui kerusakan itu pada seluruh amal perbuatannya.” (Hilyatul Aulia karya Abu Nu’aim, 3: 30)
Al-Mubarok bin Fadhalah mengatakan, dari Yunus bin ‘Ubaid, “Engkau tidak akan mendapatkan satu pun kebaikan yang semua kebaikan mengikutinya, kecuali lisan. Maka engkau dapati seseorang yang berpuasa di siang hari, dan dia berbuka dengan hal yang haram. Dia salat malam, namun di siang hari dia bersaksi dengan persaksian palsu, (dan beliau menyebutkan hal-hal lain yang semisal dengan itu). Akan tetapi, tidak dapat engkau temukan yang dia tidaklah berbicara kecuali kebenaran, kemudian amalnya menyelisihi itu semua selamanya.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 149)
Maksudnya, orang yang diberikan taufik oleh Allah Ta’ala untuk menjaga lisannya, maka hal itu menjadi sebab terjaganya seluruh anggota badannya.
Penjagaan terhadap lisan menunjukkan kekuatan iman
Di antara buah menjaga lisan adalah, dia merupakan salah satu tanda keimanan dan tanda baiknya agama, yang menunjukkan kuatnya agama seseorang, dan kuatnya hubungannya dengan Allah Ta’ala. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)
Dan diriwayatkan dari Imam Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا يستقيم إيمان عبد حتى يستقيم قلبه, ولا يستقيم قلبه حتى يستقيم لسانه
“Tidak istikamah iman seorang hamba, sampai istikamah hatinya. Dan tidaklah istikamah hatinya, sampai istikamah lisannya.” (HR. Ahmad no. 13048, disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 2841)
Ini hanyalah sebagian buah yang bisa kita petik dari menjaga lisan. Wajib bagi seorang hamba yang beriman untuk mengingat-ingat nikmat Allah atas lisan yang Allah berikan padanya, Allah muliakan dan menganugerahkan manusia dengannya. Seandainya Allah tidak menganugerahkan sebuah lisan, maka dia tidak bisa mengucapkan satu kata maupun satu huruf pun. Maka, ingatlah nikmat Allah ini, yaitu lisan. Bersemangatlah dalam menjaga dan mengendalikan lisan dari berbagai penyakitnya. Yang penyakit ini dapat menimbulkan berbagai kerusakan yang berisiko pada kehidupan dunia dan akhirat. Berbeda dengan orang yang Allah berikan taufik untuk menjaga lisan dan mengendalikan ucapannya, maka dia akan memperoleh kebaikan yang menyeluruh dan manfaat yang banyak, baik di dunia maupun akhirat.
Berpikir sebelum berucap
Betapa banyak orang yang tidak berpikir terlebih dahulu tentang apa yang dia ucapkan. Dia mengucapkan sesuatu tanpa ia pikir panjang akibatnya. Dan siapapun yang memikirkan apa yang dia ucapkan, maka hendaklah dia tidak keluar dari tiga hal ini:
1) Jika perkara tersebut jelas kebaikannya, maka ucapkanlah.
2) Jika perkara tersebut jelas keburukannya, misalnya gibah, dusta, mengejek, adu domba, atau keburukan-keburukan yang lain, maka tahanlah lisanmu dari membicarakannya.
3) Jika perkara tersebut membingungkan, tidak tahu apakah itu kebaikan atau keburukan, maka tahanlah untuk membicarakan hal itu, sampai perkara itu jelas baik atau buruknya. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فمن اتقى الشبهات استبرأ لدينه وعرضه
“Barang siapa yang menjaga diri dari hal yang syubhat, maka agama dan kehormatannya lepas dari hal tersebut.” (HR. Muslim no. 1599)
Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
دع ما يريبك إلى ما لا يريبك
“Tinggalkanlah apa yang meragukanmu, kepada apa yang tidak meragukanmu.” (HR. Ahmad no. 12120)
Semoga Allah, Rabb semesta alam memberikan kita semua taufik untuk menjaga lisan kita. Kita tidaklah mengandalkan urusan-urusan kita kepada diri kita sendiri meskipun sekejap mata. Semoga Allah memperbaiki urusan kita semua. Aamiin.
[Selesai]
***
Penulis: Triani Pradinaputri
Artikel Muslimah.or.id
Catatan kaki:
Diterjemahkan dari Fawaidu Shiyanati Lisan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullahu Ta’ala dengan penyesuaian.



