Mahar

"Saya terima nikahnya Fulanah binti Fulan dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai..." Sungguh pernikahan adalah saat yang dinanti-nanti bagi sepasang hati yang saling berjanji untuk mengikatkan cinta dalam balutan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala. Siapa yang tidak ingin menikah? Setiap yang mengaku menjadi pengikut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentu tidak ingin meninggalkan sunnah beliau yang satu ini. Menikah bagaikan mendulang kebahagiaan yang berlimpah. Ada satu dari beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika hendak menikah, yaitu mahar atau maskawin.

10829 162

Hukum Mahar Menggunakan Uang Palsu Mahar Emas Mahar Muslim.or.id Mahar Pernikahan Sesuai Sunnah Mas Kawin Lebih Dari Yang Di Targetkan

Penulis: Ummu Asma’ Dewi Anggun Puspita Sari
Muroja’ah: Ustadz Jamaluddin, Lc

“Saya terima nikahnya Fulanah binti Fulan dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai…”

Sungguh pernikahan adalah saat yang dinanti-nanti bagi sepasang hati yang saling berjanji untuk mengikatkan cinta dalam balutan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang tidak ingin menikah? Setiap yang mengaku menjadi pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu tidak ingin meninggalkan sunnah beliau yang satu ini. Menikah bagaikan mendulang kebahagiaan yang berlimpah. Ada satu dari beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika hendak menikah, yaitu mahar atau maskawin.

Mahar adalah tanda kesungguhan seorang laki-laki untuk menikahi seorang wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

“Berikanlah mahar (maskawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang wajib. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (Qs. An-Nisa’ : 4)

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan memberikan mahar kepada wanita yang hendak dinikahi, maka hal tersebut menunjukkan bahwa mahar merupakan syarat sah pernikahan. Pernikahan tanpa mahar berarti pernikahan tersebut tidak sah, meskipun pihak wanita telah ridha untuk tidak mendapatkan mahar. Jika mahar tidak disebutkan dalam akad nikah maka pihak wanita berhak mendapatkan mahar yang sesuai dengan wanita semisal dirinya (‘Abdurrahman bin Nashr as-Sa’di dalam Manhajus Salikiin hal. 203).

Adapun mahar dapat berupa:

1. Harta (materi) dengan berbagai bentuknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An-Nisa’: 24)

2. Sesuatu yang dapat diambil upahnya ( jasa).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Berkatalah dia (Syu’aib), ‘Sesungguhnya Aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, Maka Aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang- orang yang baik’.” (Qs. Al-Qoshosh: 27)

3. Manfaat yang akan kembali kepada sang wanita, seperti:

  • Memerdekakan dari perbudakan
  • Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerdekakan Shafiyah binti Huyayin (kemudian menikahinya) dan menjadikan kemerdekaannya sebagai mahar.” (Atsar riwayat Imam Bukhari: 4696)
  • Keislaman seseorang
  • Hal tersebut sebagaimana kisah Abu Thalhah yang menikahi Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anhuma dengan mahar keislaman Abu Thalhah. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhubekata, “Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim. Maharnya keislaman Abu Thalhah. Ummu Sulaim telah masuk Islam sebelum Abu Thalhah, maka Abu Thalhah melamarnya. Ummu Sulaim mengatakan,’Saya telah masuk Islam, jia kamu masuk Islam aku akan menikah denganmu.’ Abu Thalhah masuk Islam dan menikah dengan Ummu Sulaim dan keislamannya sebagai maharnya.” (HR. An-Nasa’I : 3288)
  • Atau hafalan al-qur’an yang akan diajarkannya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menikahkan salah seorang sahabat dengan beberapa surat al-qur’an hafalannya (HR. Bukhari dan Muslim)

Mahar merupakan hak penuh mempelai wanita. Tidak boleh hak tersebut diambil oleh orang tua, keluarga maupun suaminya, kecuali bila wanita tersebut telah merelakannya. Wahai saudariku, mahar memang merupakan hak wanita. Kita bebas menentukan bentuk dan jumlah mahar yang kita inginkan karena tidak ada batasan mahar dalam syari’at Islam. Namun Islam menganjurkan agar meringankan mahar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik mahar adalah mahar yang paling mudah (ringan).” (HR. al-Hakim : 2692, beliau mengatakan “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Bukhari Muslim.”)

Maka hikmah di balik anjuran untuk meringankan mahar adalah mempermudah proses pernikahan. Berapa banyak laki-laki yang mundur teratur akibat adanya permintaan mahar yang tinggi? Bahkan ada sebagian daerah yang mensyaratkan pemberian mahar yang tergolong tinggi. Menghadapi hal semacam ini, hendaknya pihak wanita bersikap bijak. Tidak masalah jika pihak laki-laki memiliki kemampuan untuk membayar mahar tersebut, namun jika ternyata yang datang adalah laki-laki yang memiliki kemampuan materi yang biasa saja, maka tidaklah layak menolaknya hanya karena ketidakmampuannya membayar mahar. Terutama jika yang datang adalah laki-laki yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya.

Wahai saudariku, untuk apa kita memegang aturan lain jika syari’at dalam agama kita telah memerintahkan sesuatu yang lebih mudah dan mulia? Sesungguhnya sebagian wanita telah berbangga dengan tingginya mahar yang mereka dapatkan, maka janganlah kita mengikuti mereka. Berapa banyak wanita yang terlambat menikah hanya karena maharnya yang terlalu tinggi sehingga laki-laki yang hendak menikahinya harus menunggu selama bertahun-tahun agar dapat memenuhi maharnya. Alangkah kasihannya mereka yang harus menggadaikan hati padahal perkara ini amat mudah penyelesaiannya. Maka, ringankanlah maharmu, wahai saudariku!

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah.” (HR. Abu Dawud (n. 2117), Ibnu Hibban (no. 1262 dalam al-Mawaarid) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (I/221, no. 724) dshahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihihul Jaami’ (no. 3300))

Bahkan seandainya seseorang tidak memiliki harta sedikit pun untuk dijadikan mahar, maka diperbolehkan membayar mahar dengan mengajarkan al-Qur’an yang telah dihafalnya kepada wanita yang hendak dinikahi.

Mahar ada beberapa macam yang semuanya diperbolehkan dalam Islam, yaitu 1) mahar yang disebutkan (ditentukan) ketika akad nikah dan 2) mahar yang tidak disebutkan ketika akad nikah. Jika mahar tersebut disebutkan dalam akad nikah, maka wajib bagi suami untuk membayar mahar yang tersebut. Apabila mahar tidak disebutkan dalam akad nikah namun tidak ada kesepakatan untuk menggugurkan mahar, maka wajib bagi suami untuk memberikan mahar semisal mahar kerabat wanita istrinya, seperti ibu atau saudara-saudara perempuannya (mahar mitsl).

Diperbolehkan bagi laki-laki antara membayar tunai dan atau menghutang mahar dengan persetujuan si wanita, baik keseluruhan maupun sebagian dari mahar tersebut. Jika mahar tersebut adalah mahar yang dihutang baik yang telah disebutkan jenis dan jumlahnya sebelumnya maupun yang tidak, maka harus ada kejelasan waktu penangguhan atau pencicilannya. Tidak diperbolehkan seorang suami ingkar terhadap mahar istrinya, karena hal tersebut merupakan khianat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Syarat yang paling berhak kamu penuhi adalah persyaratan yang dengannya kalian menghalalkan farji (seorang wanita).” (HR. Bukhari : 2520)

Jika Suami Istri Berpisah

Jika Allah mentakdirkan suami meninggal, baik setelah dukhul (berkumpul) ataupun belum, maka sang istri tetap berhak atas mahar secara sempurna, baik dalam mahar yang telah ditentukan sebelumnya maupun dalam mahar mitsl (yang belum ditentukan). Sebagaimana ini dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Demikian juga halnya jika terjadi perpisahan antara suami istri dan telah terjadi dukhul, baik pisah dengan thalaq maupun dengan fasakh. Namun jika thalaq terjadi sebelum dukhul, jika sebelumnya mahar telah ditentukan maka istri berhak setengah dari milik keseluruhannya, dan jika sebelumnya tidak pernah ditentukan maka hak istri atas mahar gugur secara keseluruhan, dan hanya berhak mut’ah (semacam pesangon) dari suami dengan besaran yang disesuaikan dengan tingkat ekonomi suami (lihat Qs. Al-Baqarah: 236-237).

Demikian juga hak mahar akan gugur secara keseluruhan jika thalaq dan fasakh terjadi atas pengajuan istri, atau fasakh terjadi atas pengajuan suami lantaran cacat istri yang belum pernah ia ketahui sebelumnya misalkan, lalu pengajuan itu dikabulkan oleh hakim. Wahai Saudariku, murahkanlah maharmu, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi pernikahanmu. Akhirnya Saudariku, teriring do’a untukmu: baarakallahulaki wa baraka ‘alaiki wa jama’a bainakumaa fii khair…

Maraaji’:
Manhajus Saalikiin wa Taudhlihul Fiqhi Fiddiin, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashr as-Sa’diy
Untukmu yang Merindukan Keluarga Sakinah
, Abu Zahroh al-Anwar, Pustaka Al-Furqon

Saran Mahar Yg Menentukan Mahar Wanita Atau Orang Tua Wanita Siapa Yang Menentukan Mahar Nikah Siapa Yang Paling Pantas Mnentukan Mahar Siapakah Yang Berhak Menggunakan Perhiasan Di Dalam Agama Islam

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?

  • Zeyki Ardhika

    Assalammualaikum , Saya ingin bertanya , SAH kah sebuah pernikahan jika mahar nya palsu ? Dan pihak wanita mengetahui dan menyetujui , akan tetapi pihak dari keluarga wanita tidak mengetahui , mohon penjelasan nyaa .. Terima kasih sebelum nya :)

    • Wa’alaykumussalam warohmatulloh wabarokatuh.

      Bisa tolong dirinci maksud “maharnya palsu”?

      • himawan kresna

        Mungkin yg dimaksud sdr Zayki Ardhika, uang palsu.
        Sekarang kan banyak mempelai yg menggunkan uang 14rupiah. Karena 14 rupiah skg tidak diproduksi dan mereka mencari ke kolektor uang. Tetapi yg didapat itu bukan uang “asli” 14 rupiah cetakan bank jaman dulu, melaikan uang “14rupiah” palsu cetakan baru dan bukan cetakan bank resmi.
        Karena uang dulu tdak menggunakan teknologi canggih seperti sekarang (cth:benang pengaman). Maka membedakan “asli” “palsu” pun sangat sulit
        Nah pertanyaanya
        Bagaimana jika maharnya menggunakan uang palsu tersebut?

  • fitri

    Assalamualaikun.
    Sah tidak pernikahan jika mahar Dari calon suami ditambahin oleh orang tua mempelai wanita dengan tujuan gengsi ataw Malu sama warga jika mahar yg diberikan calon pengantin pria jumlahnya sediki??

  • vergie13

    assalamualaikum ukhti.. saya ingin bertanya, apakah boleh sekiranya cincin lamaran dijadikan sebagai mahar? cincin lamaran ini sbg tanda jadi.. saya jadi bingung,,di satu sisi tdk ingin memberatkan calin suami.. mohon dibalas ya ukhti.. terima kasih :)

    • Wa’alaikumussalam,
      Yang diajarkan dalam Islam adalah mahar bukan cincin tanda jadi. Saran kami tidak perlu ada “cincin tanda jadi” simpan cincin tersebut untuk mahar nantinya.

  • susilloo

    assalammualaikum,.
    aku mau tanya,. saya menikah waktu itu dikasi maharnya emas 10gr berupa gelang,. tetapi surat emasnya tidak diberikan kepada saya hanya emasnya aja,. bagaimana ustadz atw ustadzah,. apakah pernikahan saya syah & beritahu saya sebenarnya dlm syari’at islam mempelai laki-laki dosa atau tidak.?

    • @ Susilo
      Wa’alaikumussalam,
      Insyaallah sah. Mahar itu tdk harus emas. Mahar emas itu tdk harus ada suratnya.

  • eka

    assalammualaikum

    saya mau tanya waktu sblm nikah qt sepakat mas kawinnya 10 gram emas murni
    tapi setelah menikah ternya emas yg dikasih itu emas muda…jujur pd saat iti saya merasa ditipu… pertanyaannya apakah pernikahan saya sah?

    terima kasih

  • Rachim

    Assalamu’alaikum
    Sahkah jika mahar itu seperangkat alat shalat??? mohon jawabannya, Syukron.

    • @ Rachim
      Wa’alaikumussalam
      Sah insyaallah.

      • Rachim

        Jazakallahu khoyron atas jawabannya.

  • DwikiHBK

    Assalamualaikum :)
    saya dwiki.saya ingin mengajukan pertanyaan.
    saya mau menikahi calon isteri saya,, namun permintaan Mahar yg diajukan calon isteri saya agak memberatkan saya.. yaitu sebuah Pisau dengan ganggang berbentuk kepala rajawali yang dilapisi emas putih dengan mata mutiara.. jujur saya agak keberatan dengan mahar tersebut.. saya sudah mencoba mengutarakan.. namun dia bersikukuh dan nampak agak kecewa.. bagaimana saya harus menyikapi ini? mohon penjelasannya,, terima kasih sebelumnya

    • @ Dwiki
      Wa’alaikumussalam,
      Saran kami bermusyawarahlah dengan pihak keluarga istri. sampaikan kondisi Anda sebenarnya. berikanlah pengertian mahar yang baik itu justru yang murah, mudah didapat dan tidak memberatkan. Barakallahufik

  • Nani Marlina

    ???????????????????? ?????????? ????? ?????????????

    Saya mau tanya, jika saya berpisah dengan suami, apakah wajib mengembalikan mahar? Saya mengajukan pisah dengan suami di bulan oktober 2013, lalu suami menyetujui perpisahan secara Sms (walaupun secara pengadilan belum saya urus), apakah ini sah apabila saya belum mengembalikan maharnya?

    ?????? ????? ??????

  • betty nurhayati

    Assalamualaikum, saya bingung dan mau menikah…
    Bingung dalam penyebutan gram emas, kan mahar dari calon suami adalh gelang emas dan cincin, tp setelah dihitung totalnya 14,9 gram, apakah perlu di sebut 14.9gram atau disebut 14 gram saja ataukah boleh disebut maskawin perhiasan saja tanpa di sebut gram?
    mtrnwn atas jawabnya
    Wassalam

  • syukri

    Assalamualaikum
    Ap benar basicly mahar itu permintaan dari calon istri ukhti??..dan berdua mendiskusikannya bisa/tdknya mahar tsb.
    Satu lagi, misalnya mahar sepasang cincin (beratcincin cew 3gram emas22 and cow 4gram mas22). Yg dijadiin mahar/disebut waktu akad= 3 gram aj/punya cew?? Ato 7gram/keduanya KRN MAHAR 100% NANTIK HAK ISTRI, padahal ntik mungkin sang suami pakai juga cincin nikah/cincin mahar dia…
    Wassalam….

    • WIDYA

      aku juga mau menanyakan ini ukhti mohon penjelasannya sekiranya bias membantu .. terima kasih

  • info yang menarik nih :)

    Begitu Islam memulyakan wanita dengan pernikahan

    cincin kawin murah

  • Rony

    Assalamualikum,

    Saya Mau bertaanya, bolehkah Memberikan Mahar dengan Menggunakan Campuran Beberapa Matauang Asing, Misalnya 1 Euro, 1 Dolar, 2000 Rupiah, 15 Riyal. (01_01_2015).. ??
    Mohon Penjelasanya ?
    Terimakasih.

    • @Rony, wa’alaikumussalam, yang demikian tidak mengapa

  • Pingback: Seperangkat Perhiasan Nikah - Fashion dan Belanja Jadi Satu()

  • wardah jamilah

    Assalamualaikum
    Bolehkah mengganti mahar ketika sudah menikah?
    Contoh semisal menikah dengan menggunakan mahar seperangkat alat sholat. Dalam perjalanan pernikahan, suami baik istri belum dapat menunaikan ibadah sholat 5 waktu. Bolehkah mengganti mahar pernikahan tersebut? Terima kasih

    Wassalamualaikum

    • @wardah jamilah, setelah akad nikah maka mahar adalah harta istri. Jadi tidak ada keperluan untuk menggantinya.
      Dan ketahuilah, shalat 5 waktu itu wajib dan merupakan rukun islam. Dan setiap orang pasti mampu menunaikannya. Sebagian ulama berpendapat orang yang meninggalkan shalat bisa keluar dari Islam. Maka bertaqwalah kepada Allah, dan jangan tinggalkan shalat 5 waktu.

  • Assalamu’alaikum,

    Bolehkah mengganti mahar dengan yang baru?

    Sebagai contoh seseorang memberikan mahar berupa benda kepada istrinya. Seiring berjalan waktu mahar tersebut menjadi usang dan timbul keinginan dari sang suami mengganti maharnya dengan yang baru dan senilai.

    Terima kasih atas jawabannya.

    Wassalam

    • Sa’id Abu Ukkasyah

      Tidak usah dikaitkan dengan niat mengganti mahar, karena Anda sudah selesai akad nikah dan mahar sudah menjadi milik istri Anda. Cukup niatkan memberi hadiah barang yang sejenis dengan mahar, niatkan untuk menyenangkan hati istri agar semakin berkasih sayang, Anda mendapatkan pahala jika ikhlas.

  • lestari

    mau bertanya, apakah mahar kawin berupa perhiasan boleh untuk tidak di pakai oleh istri

    • Sa’id Abu Ukkasyah

      jika sudah selesai akad , maka mahar sudah jadi milik istri, terserah istri mau dipakai atau tidak.

  • Mahar dari suami anda adalah harta anda. Maka anda berhak membelanjarkan harta anda untuk apa saja selama itu mubah. Termasuk boleh juga jika anda berikan untuk anak anda.

  • Fatihdaya Khoirani

    Wa’alaikumussalaam warahmatullaah…

    Allaah ‘Azza wa Jalla berfirman,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

    “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Qs. At-Tahrim: 6)

    Salah satu dari konsekuensi adanya perintah ini, bahwa seorang suami sekaligus ayah memiliki tanggung jawab untuk mendidik istri dan anak-anaknya dalam perkara syariat, memperhatikan ibadah mereka, mengingatkan dan menjauhkan mereka dari perbuatan maksiyat. Hal ini tidak ada hubungannya dengan bentuk mahar yang diberikan seorang lelaki kepada istrinya dalam pernikahan seperti yang saudara katakan tadi. Jadi, baik mahar suami dalam bentuk seperangkat alat shalat atau bukan -misalnya-, seorang suami memang berkewajiban mendidik istrinya dalam perkara syariat semisal perkara shalat fardhu, memperhatikan istrinya dalam perkara shalat fardhu…jika istrinya malas, sang suami pun harus menasihati dan menegur istrinya.

  • Fatihdaya Khoirani

    Wa’alaikumussalaam warahmatullaah. Mahar boleh untuk tidak disebutkan, atapun boleh juga disebutkan secara tidak rinci

  • putra

    Assalamualaikum, saya mau tanya apa benar kalau orangtua yg mau menikahi puterinya harus tidak pernah tinggal shalat 5 waktu selama 3 Bln, terima kasih.fr.putra

    • Fatihdaya Khoirani

      Wa’alaikumussalaam warahmatullaah. Apakah yang Anda maksud, “bagaimana hukum orangtua yang menikahkan (bukan menikahi) putrinya, harus tidak pernah tinggal shalat 5 waktu selama 3 bulan?” ==> karena kata “menikahi” itu maksudnya orangtua yang akan menjadi pasangan putrinya sendiri.

  • Sa’id Abu Ukkasyah

    Wa’alaikumus salam, tentu boleh, mahar itu hak wanita. Hanya saja, mudahkanlah dan jangan mempersulit calon mempelai putra

  • prihatini

    Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh,

    Dlam sebuah pernikahan, tentu ada kesulitan dalam keluarga, seandai nya istri menjual cincin pernikahan apa blh,
    WalaU suami mengetahuinya, klw blh d jual, seandainya uang cincin itu d beli untuk mkan apa blh.

    Terimaksih

    • Sa’id Abu Ukkasyah

      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh, mahar itu adalah hak istri dan miliknya, maka terserah istri mau menjual atau memberikannya kpd suaminya, asal bukan untuk kemaksiatan dan tidak dengan paksaan. Bahkan jika niatnya adalah untuk membantu sang suami, maka itu adalah terhitung amal shaleh. Hanya saja, jika sang istri adalah orang yang pendek pandangannya, sedangkan ada gelagat dari suami hendak menipu muslihat istri yg akhirnya ingin menceraikannya setelah dapat maharnya dari istri, maka sebaiknya istri musyawarah dengan orang tuanya, untuk menghindari adanya bahaya yg tidak diinginkan.

  • Fatihdaya Khoirani

    Wa’alaikumussalaam warahmatullaah. Akad nikahnya tetap sah. Adapun kekurangan mahar, suami bisa istihlaal (minta dihalalkan saja,yakni istri diminta meridhai maharnya hanya 10 gram lebih dan tidak usah digenapkan mencapai 11 gram, sebagaimana jumlah gram emas yang diberikan ketika akad dahulu) atau istri minta suami tersebut menggenapkan kekurangan jumlah gram emasnya.

  • hery

    Assalamualikum, apa boleh calon suami memintaa uang mahar kembali ketika tdk jd menikah dgn si wanita yg akan di nikahinya? P

  • Fatihdaya Khoirani

    Wa’alaikumussalaam warahmatullaah. Mahar tidak disyaratkan harus murni 100% hasil kerja calon mempelai pria, sehingga jika ada pihak yang mau membantu pria tersebut dalam menyediakan mahar, itu boleh-boleh saja.