Sesungguhnya berkumpul untuk berbincang mengenai ilmu agama secara umum dan momen kebaikan yang akan disambut oleh orang yang beriman ini, tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut merupakan perkara yang sangat penting yang seharusnya diberikan perhatian lebih. Terlebih di momen yang mulia, penuh dengan kebaikan dan manfaat yang tak terhitung banyaknya dan selalu terulang di setiap tahunnya.
Keutamaan majelis ilmu
Terdapat di Shahih Muslim dari Mu’awiyyah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar di suatu hari menemui para sahabatnya ketika mereka sedang duduk-duduk di masjid, saling berbincang dan berdiskusi. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bertanya,
ما أجلسكم؟
“Untuk apa kalian duduk-duduk?”
Mereka menjawab, “Kami duduk untuk berbincang mengenai Islam dan apa yang telah Allah anugerahkan kepada kami dengannya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi,
آالله ما أجلسكم إلا ذلك
“Apakah demi Allah, kalian tidak duduk-duduk kecuali untuk hal itu?”
Mereka menjawab, “Demi Allah, tidaklah kami duduk-duduk kecuali untuk itu”. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,
أما والله أني لم أستحلفكم تهمة لكم، ولكن أتاني جبريل آنفا فأخبرني أن الله يباهي بكم ملائكته
“Sesungguhnya aku bukan ingin meminta sumpah dari kalian karena adanya kecurigaan terhadap kalian semua, tetapi Jibril datang kepadaku dan memberitahukan bahwa sesungguhnya Allah membanggakan kalian di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim no. 2701)
Maka, bulan Ramadan hampir tiba di hadapan kaum muslimin. Dekatnya bulan Ramadan di hadapan kita disambut dengan kabar gembira, kebahagiaan, dan amal-amal kebaikan di waktu yang mulia dan penuh keberkahan ini. Bulan yang mempunyai kekhususan dengan kemuliaan yang membedakannya dengan bulan-bulan yang lain. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
قد جاءكم رمضان، شهر مبارك، افترض عليكم صيامه، تفتح عليه أبواب الجنة، وتغلق فيه أبواب الجحيم، وتغل فيه الشياطين، فيه ليلة خير من ألف شهر، من حرم، فقد حرم
”Telah datang bulan Ramadan, bulan keberkahan, Allah mewajibkan atas kalian puasa, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, di dalamnya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang diharamkan kebaikannya, maka sungguh telah diharamkan.” (HR. Ahmad dan An-Nasai)
Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, (قد جاءكم رمضان), “Telah datang bulan Ramadan”, maksudnya adalah hendaknya kita bersiap-siap untuk menyambut tamu yang agung ini. Bersiap-siap untuk memuliakannya dan melaksanakan hak-haknya, mempersiapkan jiwa untuknya. Karena sebagaimana ia datang dengan cepat, maka dia juga akan pergi dengan cepat. Maka bersiaplah untuknya, mempersiapkan jiwa untuk menegakkan amalan-amalan mulia, ketaatan yang baik, dan ibadah-ibadah yang menjadikan engkau bahagia ketika bertemu Rabb–mu.
Baca juga: Jika Menunda Qada Puasa sampai Ramadan Berikutnya
Ilmu sebelum amal
Tidak diragukan lagi bahwa kedudukan ilmu sangat penting di dalam agama kita. Ilmu adalah pondasi segala sesuatu dimulai, terlebih lagi dalam perkara syariat. Peribadahan, yang merupakan tujuan penciptaan makhluk, tidaklah dapat terwujud kecuali dengan ilmu.
Al-Bukhari rahimahullah mengatakan,
(باب): العلم قبل القول والعمل
“Bab: Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.”
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala
فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ
“Maka, ketahuilah bahwasanya tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah, dan beristigfarlah akan dosa-dosamu.” (QS. Muhammad : 19)
Firman Allah Ta’ala, (فاعلم أنه لا إله إلا الله) “Maka, ketahuilah bahwasanya tiada ilah yang berhak disembah selain Allah” ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mencakup umatnya. Bagian ini adalah ilmu. Sedangkan (واستغفر لذنبك) “beristigfarlah akan dosa-dosamu”; bagian ini adalah amal.
Sebagian ulama salaf berdalil menggunakan ayat ini berkenaan dengan keutamaan ilmu. Disebutkan oleh Abu Nu’aim rahimahullah di dalam Hilyatul Aulia (7: 305), dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, beliau ditanya tentang keutamaan ilmu, beliau mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar firman Allah Ta’ala yang dimulai dengan فاعلم أنه لا إله إلا الله, kemudian Allah Ta’ala memerintahkan untuk beramal setelahnya, Allah Ta’ala berfirman, واستغفر لذنبك
Sisi pendalilan keutamaan ilmu, bahwa Allah Ta’ala memulai dengannya, kemudian memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ilmu sebelum Allah Ta’ala memerintahkan untuk beramal. Hal ini menunjukkan kita kepada dua hal:
Pertama: Keutamaan ilmu;
Kedua: Ilmu lebih didahulukan daripada amal.
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftahud Daaris Sa’adah (1: 222-228) mengatakan,
العلم إمام العمل وقائد له، والعمل تابع له ومؤتم به، فكل عمل لا يكون خلف العلم مقتديا به فهو غير نافع لصاحبه، بل مضرة عليه
“Ilmu adalah imamnya amal dan terikat dengannya. Amal mengikutinya dan menyempurnakannya. Setiap amal yang tidak berada di belakang atau tidak dipandu ilmu, maka hal tersebut tidak bermanfaat bagi pelakunya. Bahkan dapat membahayakan pelakunya.”
Sebagaimana perkataan sebagian salaf,
من عبد بغير علم، كان ما يفسد أكثر مما يصلح
‘Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka apa yang dia rusak itu lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki.”
Sebagaimana kita tidak menginginkan kerusakan di dalam bulan yang penuh berkah ini, maka hendaknya kita menyambut bulan ini dengan ilmu. Mempelajari hikmah, beserta fikih ibadah yang bisa kita lakukan di bulan tersebut. Allahu a’lam.
Baca juga: Bagaimana Jika Ini Ramadan Terakhirku?
***
Penulis: Triani Pradinaputri
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Al-Badr, Abdurrazaq bin Abdil Muhsin. Wa Ja a Syahru Ramadhan. Daarul Fadhilah, tahun 1435.
Al-Badr, Abdurrazaq bin Abdil Muhsin. Tsamaratul Ilmi Al-Amal. Maktabah Malik Fahid Al-Wathoniyyah, tahun 1431.
Al-Fauzan, Abdullah bin Shalih. Hushulul Ma’mul Fii Syarhi Tsalatsatil Ushul. Daar Ibnul Jauzi, tahun 1436.