Ketika Hari Bahagia Itu Tiba

Apa cita- cita dan harapan anda dengan hadirnya bulan istimewa Ramadhan ?

3168 0

Momen indah bulan Ramadhan Insya Allah sebentar lagi akan menyapa kaum muslimin. Nuansa bahagia akan menghiasi saat –saat penuh ampunan dan bertabur pahala. Tiada terasa, serasa baru kemarin sore kita menikmati detik – detik penuh barokah yang di anugerahkan Allah Ta’ala di sisa usia yang kita semua tak pernah tahu kapan akan berakhir.

Satu pertanyaan menggelitik, apa cita- cita dan harapan anda dengan hadirnya bulan istimewa Ramadhan ?. Apakah kita menyambutnya dengan perasaan syukur, ataukah terbesit dalam benak rasa sedih lantaran harus berjuang menahan haus dan lapar serta larangan yang terkadang membuat kita menahan diri untuk melakukannya.

Seorang mukmin sejati tentunya menyambut saat – saat panen pahala ini dengan perasaan membuncah, bahkan jauh- jauh hari sebelumnya mereka merindukannya untuk bersua dengan tamu istimewa sebagaimana kecintaan dan kerinduan untuk mendalam para salaf akan datangnya hari – hari penuh kemuliaan.

Alhamdulillah negeri ini aman, tak sebagaimana di belahan bumi seperti di negeri Palestina, Yaman, Suriah, Iraq dan daerah-daerah yang dilanda konflik dan perang. Betapa berat perjuangan saudara – saudara kita dalam mempertahankan Islam ditengah orang – orang kuffar dan pihak-pihak yang memusuhi Islam yang benar. Mereka berpuasa, membaca Al-Qur’an, shalat tarawih dan melakukan berbagai amal shalih di bawah desingan peluru serangan roket, tembakan rudal bahkan diantara tetesan – tetesan darah dan air mata.

Tujuannya Surga

 Itulah motivasi puncak kenapa orang – orang luar biasa ini memiliki semangat membara dalam beriman dan beramal shalih meski ditengah situasi perang yang dahsyat. Tujuan mereka hanya satu “ surga” Allah yang dijanjikan-Nya hanya untuk kaum muslimin yang benar-benar istiqomah diatas jalan kebenaran Islam.

Dalam keadaan gawat dan serba terbatas, fasilitas hidup yang minim, justru mereka mampu memaknai keindahan Ramadhan dengan lebih baik dan memotivasinya untuk menjadi pribadi muslim yang berkualitas. Baginya segala yang dilakukan berakhir pada satu muara, ibadah pada Allah Ta’ala . Sebagaimana definisi ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah subhanallahu wa ta’ala  baik berupa ucapan atau perbuatan, yang lahir maupun yang batin, seperti mencintai Allah dan Rasulullah  Shallallaahu’alaihi wa sallam,  khouf ( takut ) kepada Allah, tawakkal ( berserah diri) kepada-Nya, memohon kepada-Nya, sholat, zakat, berbakti kepada orang tua, berdzikir kepada Allah, jihad melawan orang – orang kafir, munafik dan sebagainya. ( Pelajaran Tauhid Untuk Tingkat Lanjutan (terjemah), Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Latif, Darul Haq, halaman 20).

Di bulan penuh ampunan ini sejatinya begitu banyak amalan – amalan yang bisa mengantarkan seorang mukmin menjadi sosok yang bertaqwa, apalagi ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, lailatul qodar, ibadah zakat fitri, i’tikaf, dan juga sedekah. Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam dalam kedermawanan.

Rasulullah di Bulan Ramadhan

 Puasa dan sedekah bila dikerjakan bersama – sama termasuk sebab masuk surga. Diriwayatkan dalam hadits Ali Radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا

Sungguh di surga terdapat ruangan – ruangan yang bagian dalamnya dapat dilihat dari luar”.

Maka berdirilah kepada beliau seorang Arab Badui seraya berkata , “Untuk siapakah ruangan – ruangan itu wahai Rasulullah?,

Jawab beliau,

لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Untuk siapa saja yag berkata baik, memberi makan, selalu berpuasa dan sholat malam ketika orang – orang dalam keadaan tidur.” ( HR. Tirmidzi 2112)

Semoga kita bersama mampu menjadikan beliau sebagai uswah terdepan dalam menjalani bulan Ramadhan. Dan mampu menghiasinya dengan iman, ilmu, dan bersabar serta tetap mengharapkan pintu ampunan-Nya. Marhaban ya Ramadhan.

 

——————————————————

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Referensi :

  1. Pelajaran Tauhid Untuk Tingkat Lanjutan, Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif (terjemah ). Darul Haq, cet. IV, Jakarta 2002.
  2. Majalah Nikah, Vol.05, No. 7-8, 2006

Artikel www.muslimah.or.id

 

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?