Dunia dengan gemerlap pernak pernik yang menghiasinya senantiasa menawarkan janji-janji manis kepada manusia yang mendamba bahagia. Janji-janji manis berupa “sensasi kebahagiaan” merupakan komoditas yang selalu laris diserbu mereka yang tergoda. Tergoda oleh pesona fatamorgana dunia yang membuat mereka rela mengorbankan segalanya, mulai dari harta benda hingga keimanan yang ada di dalam dada.
Begitu banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan apa yang disebut-sebut bisa mendatangkan “bahagia” dari tawaran makhuk fana bernama dunia. Padahal apa yang selama ini dunia tawarkan hanyalah kepuasan sementara bukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Bagaikan candu, kenikmatan yang ditawarkan dunia justru membuat semakin dahaga. Ketahuilah bahwa kebahagiaan semu tak akan pernah bisa mengisi ruang hampa dalam jiwa.
Sebab-sebab kebahagiaan
Kebanyakan manusia terjebak dalam kebahagiaan semu karena salah jalur dalam memahami apa yang sebenarnya menjadi sebab dari kebahagiaan itu sendiri. Tidak sedikit manusia yang berusaha mati-matian mengejar kenikmatan demi kenikmatan di dunia ini, bahkan sampai tak lagi peduli dengan perkara halal dan haram. Mengapa? sebab mereka mengira bahwa letak kebahagiaan yang menjadi puncak dari segala tujuan hidup ada pada apa-apa yang berada di luar diri seperti kenikmatan dunia. Padahal, kebahagiaan tak melulu harus dikejar, tetapi ia bisa diundang untuk hadir dengan sebab-sebab yang kita usahakan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
الذين ءامنوا وعملوا الصلحت طوبى لهم وحسن مئاب
“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra’d: 29)
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Abddurrahman bin Nashir bin Abdullah As-Sa’di dalam kitabnya Al-Wasaail Al-Mufiidah Lilhayaati As-Sa’iidah di antara sebab-sebab kebahagiaan itu ada tiga yakni sebab diniyyah (agama), thabi’iyyah (karakter), dan ‘amaliyyah (perbuatan/usaha). Tiga sebab yang beliau sebutkan merupakan garis besar atau rangkuman dari berbagai sebab yang memengaruhi kebahagiaan manusia. Barangsiapa yang mendambakan meraih kebahagiaan sejati, hendaknya ia bersemangat untuk mengamalkan tiga sebab ini. Insyaallah kebahagiaan sejati akan segera menghampiri dan memenuhi relung hati.
Sebab diniyyah (agama)
Sebab diniyyah (agama) merupakan sebab yang paling agung, paling jelas dan paling mendasar untuk meraih kebahagiaan yang sejati. Sebab diniyyah (agama) yang menjadi poros utamanya adalah iman dan amal saleh. Dua hal ini akan selalu berkaitan karena keimanan yang benar akan mendorong pemiliknya untuk selalu melakukan amal saleh.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينّه حيوة طيّبة ﺻﻠﮯ ولنجزينّهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Kebahagiaan sejati tidak akan memasuki hati orang-orang yang tidak mau beriman kepada Allah, sebab Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka. Ketahuilah bahwa petunjuk Allah hanya diberikan kepada orang-orang yang Allah kehendaki kebaikan kepadanya. Jika keimanan mendorong pemiliknya untuk beramal saleh, maka ketiadaan iman kepada Allah tidak akan mendorong seseorang kepada sesuatu kecuali untuk bermaksiat dan tiada balasan yang setimpal dari perbuatan ini kecuali azab yang pedih.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
إنّ الذين لا يؤمنون بئايت الله لايهديهم الله ولهم عذاب أليم
“Sesunnguhnya orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al-Quran). Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS. An-Nahl: 104)
Baca juga: Kiat-Kiat Menggapai Kebahagiaan Sejati
Sebab thabi’iyyah (karakter)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam kitabnya Makaarimu Al-Akhlaq menyebutkan bahwa karakter/tabiat manusia atau yang sering kita sebut sebagai akhlak adalah keadaan jiwa sebagai tempat lahirnya berbagai macam perbuatan (gambaran jiwa). Karakter ini dibagi menjadi dua macam, yakni karakter bawaan dan karakter bentukan. Berbeda dengan karakter bawaan yang sudah melekat sebagai identitas seseorang, karakter bentukan memerlukan usaha yang lebih, latihan yang banyak dan kesungguhan tekad untuk mendapatkannya. Bersemangatlah untuk memiliki akhlak yang mulia, sebab tidaklah seseorang dikatakan beriman dengan sempurna jika tidak memiliki akhlak yang mulia.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم جلقا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Abu Dawud no. 4682 dalam Kitabu As-Sunnah dan At-Tirmidzi no. 1162 dalam Kitabu Ar-Radha’)
Akhlak mulia dibagi menjadi dua yakni akhlak terhadap Allah dan akhlak terhadap kepada sesama makhluk. Akhlak mulia terhadap Allah menghimpun tiga hal yakni; menerima segala yang bersumber dari Allah dengan membenarkannya, menerima hukum-hukum Allah dengan cara melaksanakannya serta menerima takdir dari Allah dengan penuh kesabaran dan keridaan. Sedangkan akhlak mulia terhadap sesama makhluk adalah bermuamalah dengan baik kepada mereka dan tidak membuat hati mereka merasa sempit dengan perbuatan maupun ucapan kita. Di antara poros muamalah terhadap sesama makhluk yakni; tidak menyakiti/tidak berbuat zalim, bermurah hati, dan senantiasa bermuka manis. Semoga Allah memudahkan kita untuk meraih akhlak yang mulia ini. Aamiin.
Sebab ‘amaliyyah (perbuatan atau usaha)
Sebab ‘amaliyyah (perbuatan/usaha) ini adalah segala hal yang tidak bertentangan dengan syariat yang membuat jiwa nyaman ketika melakukannya. Tentu saja amal saleh/segala perbuatan baik masuk ke dalam pembahasan ini. Selain itu masih banyak lagi perbuatan baik yang seringkali tidak disangka-sangka termasuk bagian dari amal saleh yang bisa mendatangkan kebahagiaan bahkan bernilai pahala di sisi Allah.
Contohnya: melakukan kegiatan positif yang disukai meskipun sederhana seperti hobi yang tidak bertentangan dengan syariat, seperti membaca, menulis, memasak, bersih-bersih, berolahraga, berkuda, memanah, dll. Selain mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermakna, kita juga bisa mengasah keahlian dan mengurangi kejenuhan dari aktivitas harian yang padat. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من حسن إسلام المرء تركه مالا يعنيه
“Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah (dia) meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.)
Di antara perbuatan lain yang dapat mendatangkan kebahagiaan yaitu berekreasi, quality time bersama keluarga, beristirahat, melakukan refleksi (muhasabah) diri, dll. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menasihati sahabat Hanzhalah radhiyallahu ‘anhu yang merasa dirinya munafik karena disibukkan oleh urusan duniawi seperti istri dan anak-anaknya.
ولكن يا حنظلة ساعة وساعة
“Wahai Hanzhalah sesaat untuk beribadah dan sesaat untuk urusan dunia.” (HR.Muslim no. 2750)
Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.
Baca juga: Bahagianya Menjadi Perempuan yang Terjaga
***
Penulis: Putri Idhaini
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Al-Wasaail Al-Mufiidah Lilhayaati As-Sa’iidah, Syaikh Abddurrahman bin Nashir bin Abdullah As-Sa’di. https://www.noor-book.com/كتاب-الوسائل-المفيدة-للحياة-السعيدة-pdf
Makarimu Al-Akhlak (diterjemahkan dengan judul Rahasia Hidup Bahagia), SyaikhMuhammad Shalih Al-‘Utsaimin, cetakan Al-Qowam, Solo.
Masing-masing Memiliki Haknya, Fauzan Hidayat, 2020, https://muslim.or.id/37903-memanfaatkan-waktu-luang-untuk-hal-hal-yang-bermanfaat.html
Mencari Kebahagiaan Sejati, M. Saifudin Hakim, 2024, https://muslimah.or.id/17881-mencari-kebahagiaan-sejati.html