Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Soal:
Aku mendengar bahwa orang yang puasa ketika ia berbuka puasa wajib baginya untuk memakan kurma dengan jumlah tertentu yaitu lima atau tujuh buah atau semisalnya. Apakah benar demikian?
ย Jawaban:
ููุณ ุจูุงุฌุจ ุจู ููุง ุณูุฉ ุฃู ููุทุฑ ุงูุฅูุณุงู ุนูู ูุชุฑุ ุซูุงุซ ุฃู ุฎู ุณ ุฃู ุณุจุน ุฃู ุชุณุน ุฅูุง ููู ุงูุนูุฏ ุนูุฏ ุงููุทุฑุ ููุฏ ุซุจุช ุฃู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุนูู ุขูู ูุณูู ูุงู ูุง ูุบุฏู ููุตูุงุฉ ููู ุนูุฏ ุงููุทุฑ ุญุชู ูุฃูู ุชู ุฑุงุช ููุฃูููู ูุชุฑุงูุ ูู ุง ุณูู ุฐูู ูุฅู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ูู ููู ูุชูุตุฏ ุฃู ูููู ุฃููู ุงูุชู ุฑ ูุชุฑุงู
“Itu tidak wajib dan tidak pula sunnah. Yaitu seseorang berbuka puasa dengan kurma yang ganjil, semisal tiga, atau lima atau tujuh atau sembilan. Kecuali di hari Idul Fitri. Karena terdapat dalil shahih bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam tidaklah berangkat shalat id kecuali memakan beberapa buah kurma dengan jumlah ganjil[1]. Adapun selain itu, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam tidak memaksudkan untuk memakan buah kurma dengan jumlah ganjil”
(Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman nomor 354) [2].
—
Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslimah.or.id
Catatan kaki:
[1] Sebagaimana hadits dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu,
ูุงู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ูุง ูุบุฏู ููู ุงููุทุฑ ุญุชู ูุฃูู ุชู ุฑุงุช ููุฃูููู ูุชุฑุงู
โNabi Shallallahuโalahi wa sallam biasanya tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga makan kurma terlebih dahulu, dan beliau makan kurma dengan jumlah ganjil.โ (HR. Bukhari)
Juga hadits Buraidah radhiallahu’anhu,
ูุงู ุฑุณููู ุงูููู ุตูููู ุงูููู ุนููู ูุณูู ูุง ูุฎุฑุฌู ููู ู ุงููุทุฑู ุญุชููู ููุทุนูู ุ ูููู ู ุงููุญุฑู ูุง ูุฃูู ุญุชููู ูุฑุฌุนู ููุฃููู ู ู ููุณูููุชููู
โNabi Shallallahuโalahi wa sallam biasanya tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga makan terlebih dahulu, dan tidak makan pada hari Idul Adha hingga beliau kembali dari shalat, lalu makan dengan daging sembelihannya.โ (HR. Muslim no. 1308)
[2] Fatwa ini bukan berarti larangan berbuka puasa dengan kurma dengan jumlah ganjil. Tentu boleh saja melakukan demikian. Namun tidak perlu diyakini ada keutamaan khusus dari perbuatan tersebut atau tidak diyakini sebagai sunnah Nabi. Wallahu a’lam.
salah satu sunnah yang di ajarkan Rosululloh SAW.. semoga kita bisa selalu istiqomah dalam menjalankan ajaran sunnah dari Nabi