Ulama dan Ramadhan, Bag. 2  

Ulama dan Ramadhan, Bag. 2   

Tiada teladan yang lebih pantas untuk diikuti selain mereka para ulama terdahulu, yang memang sudah diakui keilmuan dan amalan mereka. Begitu juga dengan amalan mereka dalam menghidupkan bulan Ramadhan adalah sesuatu yang patut kita teladani. Sebagaimana telah disampaikan pada artikel yang telah lalu, kita akan lanjutkan pembahasan Ulama dan Ramadhan mereka..

Ketiga: Teladan Salaf dalam Kedermawanan

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس بالخير، وكان أجود ما يكون في شهر رمضان، إنّ جبريل عليه السلام كان يلقاه في كل سنة في رمضان حتى ينسلخ فيعرض عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم القرآن، فإذا لقيه جبريل كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود بالخير من الريح المرسلة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan manusia paling dermawan dengan kebaikan dan beliau lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan. Sesungguhnya Jibril menemui beliau setiap tahun di bulan Ramadhan hingga berlalulah bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetorkan bacaan Al-Qur’an kepada Jibril. Apabila beliau berjumpa dengan Jibril, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dengan kebajikan melebihi angin yang berhembus.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Rajab berkata, “Syafi’i mengatakan, ‘Dianjurkan bagi seseorang untuk menambah kedermawanannya di bulan Ramadhan dalam rangka meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga karena kebutuhan manusia untuk kemaslahatan mereka dan karena sibuknya mayoritas manusia untuk melaksanakan puasa dan shalat sehingga mereka meninggalkan pekerjaan mereka.’”

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma puasa dan tidak berbuka kecuali bersama orang miskin. Apabila keluarganya melarangnya, maka ia tidak makan malam itu. Jika datang pengemis kepadanya ketika ia sedang makan, maka ia akan mengambil jatah makanannya lantas berdiri dan menyerahkannya kepada pengemis tersebut. Kemudian ia kembali dan keluarganya telah menghabiskan sisa makanan di piring sehingga esok paginya beliau berpuasa tanpa makan sedikit pun.

Hammad bin Abu Sulaiman ketika bulan Ramadhan memberikan makanan berbuka untuk 500 orang dan setelah ‘Idul Fitri beliau memberikan 500 dirham kepada masing-masing orang.

Keempat: Teladan Salaf dalam Mempersedikit Makan

Ibrahim bin Abu Ayyub mengatakan, “Muhammad bin ‘Amr Al-Ghazi ketika bulan Ramadhan hanya makan dua suap.”

Abul ‘Abbas Hasyim bin Qasim berkata, “Aku berada di rumah Al-Muhtadi di suatu malam pada bulan Ramadhan. Lalu aku berdiri untuk pulang lantas ia berkata, ‘Duduklah!’ Aku pun duduk. Lalu kami pun shalat dan ia mengajakku untuk makan. Lantas ia menyuguhkan piring yang berisi roti dan wadah yang berisi garam, minyak zaitun, dan cuka. Kemudian beliau memanggilku untuk makan. Aku pun  makan seperti makannya orang yang sedang menunggu hidangan masakan. Lantas beliau berkata, ‘Bukankah engkau puasa?’ Aku menjawab, ‘Tentu.’ Beliau pun menimpali, ‘Maka makanlah dan puaslah karena tidak ada makanan selain yang engkau lihat.’”

Kelima: Teladan Salaf dalam Menjaga Lisan, Sedikit Bicara, dan Menjauhi Dusta

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجةٌ في أن يدع طعامه وشرابه

Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya yang mana ia tinggalkan makan dan minumnya.’” (HR. Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا أصبح أحدكم يوماً صائماً فلا يرفث ولا يجهل فإن امرؤٌ شاتمه أو قاتله فليقل: إني صائمٌ إني صائمٌ

Apabila salah seorang dari kalian berpuasa pada suatu hari, maka janganlah ia berkata-kata kotor dan berbuat sia-sia. Jika ada seseorang yang mencaci atau menyerangnya, maka hendaknya ia katakan, ‘Sesungguhnya aku sedang puasa.’

‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Puasa bukanlah sekadar menahan diri dari makan dan minum. Namun juga menahan diri dari berbicara dusta, bathil, senda gurau dan sumpah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Thalaq bin Qais berkata, “Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Jika engkau sedang berpuasa, maka jagalah lisanmu sesuai kemampuanmu.’” Thalaq ketika sedang berpuasa masuk rumah dan tidaklah ia keluar kecuali untuk shalat.

Mujahid berkata, “Dua hal yang barangsiapa menjaganya, maka akan selamatlah puasanya: ghibah (menggunjing orang lain) dan dusta.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Abul ‘Aliyah berkata, “Seseorang yang berpuasa senantiasa berada dalam ibadah selama ia tidak melakukan ghibah.”

Keenam: Teladan Salaf dalam Menjaga Waktu

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Wahai anak keturunan Adam, sesungguhnya engkau adalah hitungan hari. Jika hilang 1 hari, maka hilang pula sebagian dirimu.”

Beliau juga berkata, “Wahai anak Adam, waktu siangmu adalah tamu bagimu, maka berbuat baiklah kepadanya. Karena jika engkau berbuat baik kepadanya maka ia akan pergi dengan menyanjungmu. Sebaliknya, jika engkau berbuat buruk kepadanya maka ia akan pergi dengan mencelamu. Demikian pula waktu malammu.”

Beliau juga berkata, “Hakikat dunia hanyalah tiga hari. Hari kemarin telah berlalu dengan apa yang telah terjadi. Hari esok boleh jadi engkau tak akan menjumpainya. Hari ini adalah milikmu maka beramallah.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Tidaklah aku menyesali sesuatu sebagaimana aku menyesali hari yang matahari telah terbenam dalam keadaan jatah usiaku berkurang sedangkan amalku tak bertambah.”

Ibnul Qayyim berkata, “Menelantarkan waktu lebih buruk dibandingkan kematian karena menelantarkan waktu akan memutusmu dari Allah dan kampung akhirat sedangkan kematian hanyalah memutusmu dari dunia dan penduduknya.”

As-Sari bin Muflis berkata, “Jika engkau merasa gundah dengan hartamu yang berkurang, maka tangisilah jatah umurmu yang semakin sedikit.”

Penutup

Kita memohon kepada Allah agar Dia menyampaikan kita pada bulan Ramadhan dan agar Dia menerima amal kita, puasa kita, shalat malam kita serta agar Dia menjauhkan kita dari api neraka. Allahumma amin. Wa akhiru da’wana anil hamdu lillahi rabbil ‘alamin. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, istrinya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

 

Diterjemahkan secara ringkas dari: https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=82697

Penerjemah : Deni Putri K

Artikel Muslimah.or.id

About Author

Leave a Reply