Bersemilah Ramadhan

Musim semi merupakan musim dimana suasana akan tampak indah dan menawan. Bunga-bunga bermekaran harum mewangi, buah-buahan tampak ranum menguning, burung-burung akan berkicau riuh menyambut datangnya musim semi. Hati …

1777 1

Musim semi merupakan musim dimana suasana akan tampak indah dan menawan. Bunga-bunga bermekaran harum mewangi, buah-buahan tampak ranum menguning, burung-burung akan berkicau riuh menyambut datangnya musim semi. Hati pun akan bahagia menyambut datangnya musim semi. Bagaimana dengan kita, apakah kita akan diam saja menyambut datangnya musim semi ibadah kita?

Ramadhan merupakan musim semi ibadah kita. Pada waktu yang sebentar itu akan dibelenggulah setan, diturunkan banyak sekali rahmat dari Yang Maha Pengasih, dan Allah akan melipatgandakan pahala untuk hamba-Nya serta mengampuni dosa-dosa. Pada bulan itu pintu surga dibuka lebar-lebar sedangkan pintu neraka ditutup rapat-rapat.

Nabi Shallāllāhu‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِيْنُ

“Ketika datang Ramadhan, dibukalah pintu surga dan ditutuplah pintu neraka serta dibelenggulah setan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dibukanya pintu surga karena banyaknya pintu-pintu kebaikan dan banyaknya amal ibadah yang dilakukan, dan ditutuplah pintu neraka karena sedikitnya perbuatan maksiat yang dilakukan.

Ramadhan, Bulan Istimewa

Keistimewaan bulan Ramadhan yang paling utama adalah bahwa pada bulan ini diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk yang menerangi jalan hidup manusia. Allah ta‘ālā berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan ramadhan, bulan yang diturunkan di dalamnya al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan pejelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)…” (Qs. Al-Baqarah: 185).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa Allah ta‘ālā memuji bulan puasa –yaitu bulan Ramadhan- dari bulan-bulan lainnya, karena Allah telah memilih bulan ini untuk menurunkan al-Qur’an. Sebagaimana Allah telah menurunkan kitab-kitab-Nya yang lain kepada para nabi di bulan Ramadhan.

Keistimewaan yang lain di bulan Ramadhan adalah adanya malam Lailatul Qadr. Malam Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yang hanya terdapat di sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Allah ta‘ālā berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١)وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢)لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur’an) pada lailatul qadr (malam kemuliaan). Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (Qs. Al-Qadr:1-3)

Malam tersebut adalah malam yang sangat mulia. Pahala akan dilipatgandakan, doa-doa yang dipanjatkan akan dikabulkan.

Bulan Ramadhan, Hanya Sebentar Saja

Ada suatu ungkapan, ‘Masa yang paling jauh adalah masa lalu, karena ia tidak akan kembali. Sedangkan masa yang paling dekat adalah yang akan segera datang’. Masa depan yang akan segera datang itu pun akan segera berlalu dengan berputarnya bumi ini pada porosnya. Begitu juga dengan Ramadhan, dia datang sngan segera dan itu berarti dia akan segera berlalu juga.

Allah ta‘ālā berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣)أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan terhadap orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. Hari-hari yang berbilang…” (Qs. Al-Baqarah: 183-184).

Setelah menjelaskan kewajiban untuk berpuasa Allah ta‘ālā menjelaskan jumlah hari yang diwajibkan untuk berpuasa. Bukan setiap hari, karena hal tersebut sangat berat untuk jiwa dan melemahkan badan. Akan tetapi hanya pada hari-hari yang berbilang saja, hanya sebentar saja. Sebentar dalam kesabaran untuk mendapatkan kemenangan dan kebahagiaan.

Saudariku…Allah tidak menghendaki kesusahan dengan memerintahkan hamba-Nya untuk berpuasa. Allah ta‘ālā berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menginginkan kemudahan dan tidak menginginkan kesusahan” (Qs. Al-Baqarah: 185).

Puasa bukanlah keletihan, tetapi puasa adalah kenikmatan penghambaan kepada Allah ta‘ālā. Ramadhan tidak akan berlangsung lama, hanya satu bulan saja. Sungguh sayang bila bulan itu berlalu begitu saja, sedangkan kita tidak mendapatkan satupun bingkisan yang dibagi-bagikan pada bulan itu. Maka bersegeralah menuju kebaikan itu.

Bulan Ramadhan, Bulan Ibadah

Ibadah adalah semua hal yang dicintai oleh Allah serta diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin. Ibadah meliputi ibadah zhāhir yang berupa amalan-amalan zhāhir seperti shalat, membaca al-Qur’an bersedekah dan lainnya, sedangkan ibadah batin yaitu amalan-amalan yang berkaitan dengan hati, seperti rasa takut, harap, dan cinta kepada Allah.Bulan Ramadhan merupakan suatu kesempatan untuk kita meningkatkan kualitas ibadah kita. Baik ibadah yang bersifat zhāhir maupun batin.

Bulan Ramadhan, Bulan Bersedekah

‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallāhu‘anhuma berkata, “Rasulullah Shallāllāhu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan, beliau lebih dermawan lagi ketika Ramadhan, ketika Jibril menjumpainya setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu beliau Shallāllāhu ‘alaihi wa sallam mengulang Al-Qur’an dengannya.” ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata, “Rasulullah Shallāllāhu ‘alaihi wa sallam tatkala ditemui oleh Jibril lebih dermawan dari angin lepas.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bulan Ramadhan, Bulan al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dengan berbagai keutamaannya. Al-Qur’an adalah kitab mulia yang diturunkan di bulan tersebut. Rasulullah Shallāllāhu ‘alaihi wa sallam mengulang hafalan beliau kepada Jibril, satu kali khatam setiap malam Ramadhan, begitu juga dengan para sahabat dan para pengikutnya.

Allah ta‘ālā berfirman, yang artinya,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (٢٩)لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (٣٠)

“Sesungguhnya orang-orang yang membaca kitab Allah, mendirikan shalat dan berinfaq dari apa yang Kami anugerahkan kepada mereka secara diam-diam dan terang-terangan, mengharapkan perdagangan yang tidak pernah merugi, untuk memenuhi ganjaran mereka dan menambah keutamaanNya untuk mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Bersyukur” (Q.S. Fathir: 29-30).

Membaca Al-Qur’an terbagi dua. Pertama, membaca secara makna, yaitu dengan membenarkan semua yang dikabarkan di dalamnya dan menunaikan semua perintah yang terkandung di dalamnya. Kedua, membaca secara lafaz yaitu dengan membacanya (mengucapkan dengan lisannya). Keutamaan amalan membaca al-Qur’an ini telah banyak diterangkan dalam nash, salah satunya adalah dari ‘Aisyah radhiyaallāhu‘anhā, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang mahir membaca Al-Qur`an, maka kedudukannya di akhirat bersama para malaikat yang mulia lagi baik. Sementara orang yang membaca Al-Qur`an dengan tertatah-tatah dan dia sulit dalam membacanya, maka dia mendapatkan dua pahala.” (HR. Muslim no. 798)

Bulan Ramadhan, Bulan Perjuangan

Manusia terbagi ke dalam tiga golongan, orang yang dikalahkan oleh hawa nafsunya, orang yang berjuang melawan hawa nafsunya, dan orang yang dikalahkan oleh hawa nafsunya.Dari Abu Hurairah radhiyallāhu‘anhu bahwa Rasulullah Shallāllāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan nafsu), sedang surga dikelilingi hal-hal yang tidak disenangi (nafsu).”

Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk berjuang melawan hawa nafsu dengan membiasakan diri dengan amalan shalih dan berusaha membersihkan jiwa dari penyakit hawa nafsu. Pada siang hari melakukan ketaatan dengan puasa dan pada malam hari melakukan ketaatan dengan melakukan shalat sunnah tarawih. Dengan demikian hawa nafsu itu akan lebih mudah untuk ditundukkan.

Luruskan Niat

Sebuah hadits yang mulia yang datang dari Rasulullah Shallāllāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Segala amal itu bergantung pada niatnya dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya….” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika sudah berletih-letih dalam beramal, sungguh sayang jika semuanya harus musnah dan hanya menyisakan keletihan saja karena niat yang tidak ikhlas.

Rasulullah Shallāllāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang berpuasa dengan iman dan mengharapkan (pahala dari Allah), maka diampunkan baginya dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka tiada pendorong bagi kita untuk melaksanakan puasa dan seluruh amalan kebaikan di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya kecuali ikhlas hanya untuk Allah ta‘ālā semata.

Saudariku… siapkan bekal yang cukup, selagi masih ada waktu. Mari kita manfaatkan musim semi ini untuk menanam benih-benih bunga dan buah keimanan dan ibadah, hingga nanti kita akan menikmati manisnya hasil panen ibadah kita. Marhaban ya Ramadhan…

Wahai engkau yang tidak cukup melakukan dosa pada bulan Rajab…

Lalu engkau sambung kembali pada bulan Sya’ban…

Telah datang bulan puasa kepadamu setelah keduanya…

Janganlah engkau jadikan lagi bulan itu bulan dosa…

Bacalah al-Qur’an dan bersungguh-sungguhlah dalam bertasbih…

Karena bulan itu bulan al-Qur’an dan tasbih…

Berapa banyak yang engkau kenal mereka berpuasa di masa terdahulu…

Di antara keluarga, tetangga, dan saudara…

Kematian itu telah memusnahkan mereka dan menyisakan dirimu…

Betapa dekatnya yang sekarang dengan yang terdahulu…

***

Muslimah.Or.Id

Penulis: Rinautami Ardi Putri

Murajaah: Ustadz Adika Minaoki

Referensi :

  • Naro, Armen Halim. 2012. Bersemilah Ramadhan. Bogor: Darul Ilmi Publishing
  • Tuasikal, Muhammad Abduh. 2010. Panduan Ramadhan. Yogyakarta: Pustaka Muslim
  • Al-Hilaliy, Salīm Ibn ‘Id dan ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid. 1997.Ṣifatu Ṣaumi Nabī fī Ramadhān. Beirut: Dāru Ibni Jauzi
  • Majālisu Syahri Ramadhān, Syaikh Utsaimin (Maktabah Syamilah)
  • Tafsir Ibnu Katsir (Maktabah Syamilah)

Sebarkan!
0 0 0 0 0 0
In this article

Ada pertanyaan?