Ulama dan Ramadhan, Bag. 1

Ulama dan Ramadhan, Bag. 1

Dengan nama Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah yang merupakan sayyidul mursalin (pemimpin para rasul) dan qaidul ghurril muhajjalin (pemimpin manusia yang bersinar bekas wudhunya). Wa ba’du.

Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah mengunggulkan bulan Ramadhan dengan kekhususan dan keutaman yang sangat banyak. Ramadhan merupakan bulan turunnya Al-Qur’an dan kitab-kitab samawiyyah (yang turun dari langit). Ramadhan merupakan bulan taubat, ampunan, dan penghapusan dosa. Di dalamnya terdapat pembebasan dari siksa neraka. Demikian pula, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalam Ramadhan juga terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Ramadhan merupakan bulan kedermawanan dan kemurahan hati. Ramadhan merupakan bulan terkabulnya doa.

Oleh karena itu, para salaf telah mengetahui berharganya musim yang berkah ini. Sehingga mereka giat dan bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan dalan melakukan amal shalih karena menginginkan keridhaan Allah dan mengharap ganjaran. Terdapat nukilan yang valid bahwa mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka sampai di bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdo’a selama enam bulan berikutnya agar Allah menerima amal mereka ketika Ramadhan.

‘Abdul ‘Aziz bin Abu Dawud mengatakan, “Engkau dapati mereka bersungguh-sungguh dalam beramal shalih. Ketika mereka telah selesai melakukannya, muncul rasa cemas pada diri mereka, apakah amal mereka diterima atau tidak.”

Maka, marilah saudariku yang mulia, akan kami sajikan sebagian kondisi para salaf ketika Ramadhan dan bagaimana semangat, tekad, dan kesungguhan mereka dalam beribadah supaya kita dapat menyusul rombongan mereka dan menyadari keagungan bulan ini sehingga kita giat dalam beramal.

Pertama: Teladan Salaf dalam Membaca Al-Qur’an

Ibnu Rajab berkata, “Di dalam hadits Fathimah radhiyallahu ‘anha dari bapaknya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengatakan,

أنّ جبريل عليه السلام كان يعارضه القرآن كل عام مرةً وأنّه عارضه في عام وفاته مرتين

Sesungguhnya Jibril alaihis salam biasanya menyetorkan Al-Qur’an dengan Rasulullah sekali dalam setiap tahun. Akan tetapi, ia menyetorkan Al-Qur’an dua kali di tahun wafatnya Rasulullah.’ (Muttafaqun ‘alaih). Di dalam hadits Ibnu ‘Abbas,

أنّ المدارسة بينه وبين جبريل كانت ليلاً

Sesungguhnya setoran Nabi dan Jibril dilakukan pada malam hari.’ (Muttafaqun ‘alaih).

Hadits tersebut menunjukkan dianjurkannya memperbanyak tilawah Al-Qur’an di malam bulan Ramadhan. Karena pada dalam hari terhentilah semua kesibukan, terkumpullah semangat, dan dan bersatulah hati dan lisan dalam mentadabburi Al-Qur’an sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

 إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

 ‘Sesungguhnya bangun di waktu malam itu lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.’ (QS. Al-Muzzammil: 6).

Bulan Ramadhan memiliki keistimewaan yaitu turunnya Al-Qur’an sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda.’ (QS. Al-Baqarah: 185).” (Lathaiful Ma’arif hal. 315)

Oleh karena itu, semangat salaf rahimahumullah dalam memperbanyak tilawah Al-Qur’an di bulan Ramadhan telah dijelaskan di dalam kitab Siyar A’lamin Nubala’. Di antaranya adalah sebagai berikut.

Malik bin Anas apabila memasuki Ramadhan beliau tinggalkan hadits dan majelisnya dengan ahli ilmu lalu beliau fokus membaca Al-Qur’an dengan mushaf.

Sufyan Ats-Tsauri ketika memasuki Ramadhan beliau tinggalkan semua orang dan fokus membaca Al-Quran.

Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh hari sekali. Ketika datang Ramadhan, beliau khatam setiap tiga hari sekali. Ketika tiba sepuluh hari terakhir Ramadhan, beliau khatam setiap malam.

Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan sebanyak enam puluh kali dan pada bulan selain Ramadhan sebanyak tiga puluh kali.”

Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari ketika Ramadhan khatam setiap hari sekali di siang hari dan beliau mengerjakan shalat malam setelah tarawih dengan khatam setiap tiga malam.

Faidah

Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan, “Larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari berlaku bagi seseorang yang senantiasa melakukan hal tersebut. Adapun di waktu yang utama seperti bulan Ramadhan terlebih pada sepuluh malam terakhir yang mana seseorang mencari lailatul qadar atau di tempat yang utama seperti Mekah bagi penduduk luar Mekah yang memasukinya, maka dianjurkan memperbanyak Al-Qur’an di saat itu dalam rangka memanfaatkan waktu dan tempat yang dimuliakan. Inilah pendapat Imam Ahmad dan Ishaq serta ulama yang lain.” (Lathaiful Ma’arif)

Kedua: Teladan Salaf dalam Qiyamul Lail

Mendirikan shalat malam merupakan kebiasaan orang shalih dan perdagangan orang mukmin serta amalan orang yang menang. Ketika malam, orang yang beriman bersepi-sepi dengan Rabbnya dan menghadap kepada Penciptanya lalu mereka mengadukan keadaan mereka dan meminta keutamaan dari-Nya. Jiwa-jiwa mereka berdiri di hadapan Khaliqnya dan bermunajat dengan Pencipta-Nya. Hendaknya engkau menghirup aroma harum tersebut, menyerap cahaya kedekatan dengan Allah, memohon, dan merendahkan diri kepada Dzat yang Maha Agung pemberian-Nya.

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Tidaklah aku jumpai satu pun ibadah yang lebih berat dibandingkan shalat di tengah malam.”

Abu ‘Utsman An-Nahdi berkata, “Aku bertamu ke rumah Abu Hurairah selama tujuh  hari. Aku jumpai bahwa Abu Hurairah, istrinya, dan pelayannya membagi malam menjadi tiga bagian. Salah satu dari mereka shalat lantas membangunkan yang lain. Demikian seterusnya.”

Thawus loncat dari kasurnya lantas berwudhu dan shalat menghadap kiblat sampai subuh. Beliau berkata, “Mengingat neraka Jahannam akan menghilangkan keinginan ahli ibadah untuk tidur.”

Dari As-Saib bin Yazid beliau berkata, “Dahulu ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari radhiyallahu ‘anhuma untuk mengimami manusia di bulan Ramadhan. Para qari’ biasa membaca 200 ayat sampai-sampai kami bertumpu pada tongkat karena lamanya berdiri. Dan tidaklah kami pulang kecuali ketika menjelang terbit fajar.” (HR. Baihaqi)

Dari Malik, dari ‘Abdullah bin Abu Bakar beliau berkata, “Aku mendengar bapakku mengatakan, ‘Kami dahulu pulang dari qiyamul lail Ramadhan lantas kami meminta agar segera disiapkan makanan karena khawatir datangnya fajar.’.” (HR. Malik di kitab Al-Muwatha’)

Tingkatan Salaf dalam Qiyamul Lail

Ibnul Jauzi mengatakan, “Ketahuilah bahwa keadaan salaf dalam melakukan qiyamul lail terbagi menjadi tujuh tingkatan.”

  1. Mereka hidupkan seluruh malam. Di antara mereka ada yang shalat subuh dengan wudhu isya’
  2. Mereka qiyamul lail di separuh malam
  3. Mereka menghidupkan sepertiga malam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أحب الصلاة إلى الله عز وجل صلاة داود كان ينام نصف الليل ويقوم ثلثه وينام سُدسه

Shalat yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla adalah shalatnya Nabi Dawud. Ia tidur separuh malam lalu melakukan qiyamul lail di sepertiga malam berikutnya lalu tidur di seperenam sisanya.” Muttafaqun ‘alaih.

  1. Mereka qiyamul lail di seperenam atau seperlima malam
  2. Mereka tidak memperhatikan kadar qiyamul lail. Salah seorang dari mereka shalat hingga rasa kantuk menyerang lantas ia tidur. Apabila ia bangun, ia kembali melan jutkan shalatnya
  3. Mereka shalat empat atau dua rakaat di malam hari
  4. Mereka menghidupkan waktu antara maghrib dan isya’ dan mereka shalat di waktu sahur sehingga mereka mengumpulkan dua ujung malam. Di dalam Shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن في الليل لساعة لا يوافقها عبد مسلم يسأل الله فيها خيراً إلا آتاه وذلك كل ليلة

Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu yang mana tidaklah seorang hamba yang muslim mendapatinya lantas ia memohon kebaikan kepada Allah melainkan Allah memperkenankannya. Demikian itu terjadi pada setiap malam.

Sebab-Sebab yang Membantu Seseorang Qiyamul Lail

Abu Hamid Al-Ghazali menyebutkan beberapa sebab dzahir dan bathin yang dapat memudahkan seseorang untuk shalat malam

Sebab-sebab dzahir:

  1. Tidak banyak makan dan minum karena akan menyebabkan seseorang banyak tidur dan sulit untuk bangun malam
  2. Tidak membuat badannya lelah di siang hari dengan aktivitas yang tidak bermanfaat
  3. Tidak meninggalkan qailulah (tidur siang) karena akan membantu bangun di malam hari
  4. Tidak melakukan maksiat di siang hari sehingga menyebabkan ia terhalang dari bangun malam

Sebab-sebab bathin

  1. Bersihnya hati dari rasa dengki kepada kaum muslimin. Demikian pula dari bid’ah dan cinta dunia secara berlebihan
  2. Rasa takut yang mendominasi hati ditambah dengan pendek angan-angan
  3. Mengetahui keutamaan shalat malam
  4. Faktor pendorong paling agung yaitu rasa cinta kepada Allah dan kuatnya iman yakni ketika ia shalat malam, tidaklah ia mengucapkan satu huruf pun kecuali ia menyadari bahwa ia sedang bermunajat dengan Rabbnya.

Bersambung, insyaalllah…

 

Diterjemahkan secara ringkas dari: https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=82697

Penerjemah : Deni Putri K

Artikel Muslimahh.or.id

About Author

Leave a Reply